Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota mati
Kakinya lemas tak berdaya, menunduk termenung, pandangannya kosong membayangkan diri menggantung di atas tiang, dihadapan ratusan siluman yang siap menyantapnya.
"Raja kami sudah membawa si tumbal."
"Si tumbal?" Sura bergumam mendengar ucapan pengawal, "Benar, aku adalah tumbal yang akan kalian makan..."
Menatap lesu kaki jenjang milik Raja, perlahan menoleh ke sisi lain, pada ruang pembatas miliknya.
"Hh?!"
Sebuah tunas kecil tumbuh di dalam sana.
"Bijiku!" Sura terjingkat kegirangan,
"Apa kalian lihat bijiku?!" menoleh penuh semangat, "Ehem, maksutku biji mangga---aku berhasil menumbuhkannya."
Sura berusaha menenangkan diri, kembali memasang wajah serius meski hatinya berbunga-bunga. "Yes! Ga jadi mati!"
Dari sisi lain, Anubis melihat dengan wajah sinis, tak menyangka kalau biji itu berhasil hidup di tengah pulau penuh miasma.
"Hehe..." ejek Sura menggoyangkan alisnya ke atas dan ke bawah.
"Aku belum pernah melihat pohon mangga. Apa memang sekecil ini?"
PLAK! Ucapan itu langsung menghantam mental Sura.
"Te-tentu tidak. Ini baru tunasnya saja, jika dirawat pohon mangga bisa tumbuh lebih tinggi dari Raja."
"Benarkah? Lalu butuh waktu berapa lama?"
"Mm...1---tahun." dusta Sura dengan ragu.
Jatungnya berhenti sejenak, begitu berat menelan saliva, semoga saja Raja tak menyadari. Dia baru ingat kalau butuh waktu bertahun-tahun dalam menumbuhkan pohon mangga yang siap berbuah.
"1 tahun? Apa kamu bercanda?! Beraninya mempermainkan Raja!" bentak Anubis.
"Maafkan aku! Aku tidak bermaksud begitu!" membungkuk ketakutan,
"Mangga memang butuh waktu lama untuk tumbuh. Tapi setelah itu pohonnya akan terus berbuah meski sudah bertahun-tahun,"
"Dia manusia yang pintar membual, saya harap Raja tidak terhasut."
"Apa yang membuktikan kalau kamu tidak berbohong? Bisa saja daun kecil itu hanya sihir yang kamu ciptakan." tuduh Raja dengan nada ketus,
Raja menatap begitu dalam, mata birunya menyala membuat Sura merasa tertekan.
"Kalau Raja tidak percaya, aku akan menggali biji mangga itu...nanti kalian semua akan lihat kalau tunas ini muncul dari biji tersebut," berjalan masuk ke dalam ruang.
"Tunggu!"
Raja menghentikan Sura yang telah menunduk bersiap mengorek tanah.
"Adakah tanaman yang bisa bertumbuh dalam waktu seminggu?"
"Ada!" jawab Sura penuh semangat, melihat secercah harapan.
"Tanaman bunga sangat cepat bertumbuh. Beberapa macam bunga bisa tumbuh hanya dengan menancapkan batangnya ke dalam tanah,"
Waktu berganti ke sore hari...
Raja tampak sibuk berdikusi dengan patih Anubis.
Sedangkan disisi lain,
Sura bersandar pada batu besar, diam berpangku tangan, menatap dari kejauhan, "Kenapa kita kesini?"
"Raja memang sering berkunjung kesini." sahut Kele setia menunggu di samping, "Dulu banyak siluman yang tinggal di kota ini, tapi karena dekat dengan perbatasan...semuanya hancur waktu perang."
"Dari semua pewaris, cuma Raja kita-lah yang mau mengurus kota Shaksa."
Kota ini terletak paling jauh dari kerajaan siluman. Banyak Raja yang melupakannya karena dianggap tak memberi keuntungan, kerusakan terlalu parah sehingga membutuhkan tenaga dan dana besar dalam memulihkan Kota Shaksa.
"Oh, ternyata dia Raja yang baik." Sura mengangguk kagum, "Aku pikir dia seperti iblis yang cuma suka mengandalkan kekuatan..."
"Tapi ngapain aku ikut kesini? Dan kenapa harus pakai rantai segala?!"
Sura menggerutu, menghentakkan kedua kakinya yang terasa berat terikat oleh rantai besi.
"Itu ide patih Anubis, katanya jaga-jaga supaya kamu tidak bisa kabur."
"Ergh! Dasar anjing sialan." umpat Sura mengepalkan tangan,
"Huft, diluar panas sekali...Padahal aku lebih suka bersantai di istana." mengernyit, sibuk mengibaskan baju tipisnya.
Tak sengaja perhatian Sura teralih, kakinya beranjak pergi melihat dataran rendah berisi reruntuhan di bawah sana.
Begitu tandus tak ada tanda-tanda kehidupan, hanya tersisa bangunan hancur, tampak seperti serpihan kayu berserak.
"Hilang kemana dia?" celetuk Anubis menyadari kepergian seseorang.
"Biarkan saja...dia takkan bisa kabur, ada rantai sihir di kakinya. Kelelawar juga mengawasi,"
"Tapi---" ucapan itu terhenti, tak berani mengeluh berkat tatapan tajam yang Raja berikan.
Seolah mengatakan kalau tak ada yang boleh membantah. Tanpa kata Raja berbalik pergi meninggalkannya,
"Raja mau kemana?"
"Mencari bunga buat ditanam di istana." sahutnya tak menoleh,
Perlahan menghilang dari pandangan. Entah mengapa kaki Anubis terasa berat, seharusnya dia berjalan di belakang, namun ucapan Raja terdengar seolah enggan diikuti.
Anubis terdiam, merasakan ancaman pada perubahan kecil tadi. Tak menyangka kalau penyebabnya adalah manusia yang selama ini dia remehkan.
"Sudah bosan hidup?"
"...?" Sura menoleh mendapati Raja tiba-tiba berdiri disana.
"Ada jurang di depanmu,"
"Apa? Jurang?!" Sura terjingkat mundur,
"Kenapa kalian diam saja?!"
"Kami kira kamu sudah tahu kalau di bawah sana ada jurang."
Sura mengernyit, menatap geram dua siluman kalong disampingnya. Nyaris saja mati konyol,
"Pergi awasi sekitar, mungkin ada siluman lain di dekat sini." ucap Raja memberi perintah,
Secepat kilat mereka terbang pergi meninggalkan Sura. Suasana pun menjadi canggung,
Krik...
Krik...
Mereka berdiri menghadap tanah kosong, tanpa berbincang.
"Apa dia sadar kalau tadi aku berbohong soal pohon mangga?" batin Sura berkeringat dingin,
Kakinya bergetar gugup, perlahan mengambil langkah mundur, "Permisi, aku mau kesana...sepertinya tadi aku melihat sesuatu!"
Maksud hati hendak menjauh tapi Raja malah membuntuti. Langkah kaki itu terdengar semakin mendekat, berdiri tepat di belakang.
"Berhenti." ucap Raja dengan lantang,
"Haih, sepertinya dia benar-benar mencurigaiku."
Sura menoleh mendapati tangan Raja malah menunjuk hal lain,
"Bukankah kamu membutuhkan tanaman. Apa bisa menggunakan bunga itu?"
"Ha?" sejenak Sura tercengang, melirik ke samping, "I-iya bisa."
Bergegas memetik beberapa batang bunga yang ada disana.
"Huft..." Sura menghela nafas lega,
Ternyata Raja mengikutinya karena ada maksud lain...
Dari awal Raja kesulitan memberi tahu jika ada bunga yang tumbuh disana,
"Kenapa tidak bilang dari tadi? Bikin orang jantungan saja..." batin Sura,
Melirik singkat Raja yang tampak terpesona oleh salah satu bunga.
"Kamu mau menanamnya? Ini namanya bunga mawar," menunjuk bunga merah berduri.
"Aku tidak tertarik memilih bunga. Asal bisa tumbuh sesuai ucapanmu...tanam saja bunga itu," jawab Raja menunjuk beberapa batang yang telah Sura petik.
Padahal tadi matanya tampak terbuai oleh bunga lain, namun Sura tak mau ambil pusing. Meski ada berbagai macam bunga, dia memilih untuk menanam tanaman merambat.
Bunga krokot atau lebih dikenal sebagai bunga pukul sembilan. Salah satu tanaman yang sangat mudah dirawat, karena akan tumbuh hanya dengan menancapkan batang segarnya ke dalam tanah.
"Tak kusangka ada kebun bunga di tempat seperti ini."
"Tempat ini berada persis di perbatasan, jauh dari istana. Miasma disini tidak terlalu kuat, jadi beberapa bunga bisa tumbuh..." gumam Raja,
"Memang benar...udara disini terasa lebih segar,"
Sura menarik nafas dalam-dalam. Merasakan angin sepoi yang membelai kulitnya,
"Karena sepi di sini sering dijadikan markas bandit oleh bangsa manusia."