Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1. ANJING GILA
Di tengah lapangan luas Akademi Kesatria Kerajaan Aurelius, seorang gadis berambut hitam legam berdiri dengan pedang kayu di tangannya. Rambutnya diikat tinggi, memerlihatkan wajah tegas dengan rahang yang mengeras oleh tekad.
Namanya Elara Ravens.
Putri dari Duke Alaric Ravens dan Duchess Liora Ravens. Keturunan keluarga kesatria legendaris yang namanya tercatat dalam sejarah perang dan kemenangan.
Dan hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, ia kembali berdiri di arena.
Di hadapan Elara berdiri seorang pria bertubuh besar, bahu lebar, dan tinggi hampir satu setengah kepala darinya. Seragam latihan pria itu sudah basah oleh keringat, napasnya berat, namun sorot matanya penuh percaya diri.
"Putri Duke?" ejek pria itu pelan, cukup keras untuk didengar murid lain yang mengerumuni arena. "Aku akan berusaha tidak terlalu keras padamu."
Terdengar tawa kecil di antara para penonton.
Elara tidak menjawab. Ia hanya mengatur napas. Kakinya bergerak ringan. Jari-jarinya menggenggam gagang pedang dengan mantap. Ia tahu satu hal; ia tidak boleh kalah dalam duel satu lawan satu.
"Mulai!" Suara instruktur menggema.
Pria itu menyerang lebih dulu. Tebasan lurus dari atas, kuat dan berat, mengandalkan tenaga.
Elara menggeser tubuhnya ke samping. Debu beterbangan saat kakinya berputar cepat. Ia menangkis, lalu membalas dengan tusukan cepat ke sisi lawan.
Pria itu terkejut.
Gadis ini cepat.
Tebasan berikutnya lebih brutal. Elara melompat mundur, lalu maju kembali, memanfaatkan celah di antara pernapasan lawan. Pedangnya menghantam pergelangan pria itu.
"Argh!"
Pedang kayu pria itu terlepas.
Elara tidak memberi kesempatan. Dalam satu gerakan luwes, ia menyapu kaki lawan hingga terjatuh dan menempelkan ujung pedangnya di leher pria itu.
Hening.
Beberapa detik yang terasa panjang.
Lalu ....
"Pemenang! Elara Ravens!"
Sorak-sorai terdengar. Tidak terlalu meriah, tetapi cukup keras untuk menandakan pengakuan.
Elara berdiri tegak. Dada naik turun. Keringat mengalir di pelipisnya.
Ia menang.
Lagi.
Namun saat ia berbalik meninggalkan arena, bisikan itu kembali terdengar.
"Dia memang lumayan kalau satu lawan satu."
"Coba saja tiga orang berturut-turut, pasti tumbang."
"Tidak seperti Evan Ravens."
"Namanya juga si Putri Yang Gagal."
Nama Evan selalu datang seperti bayangan panjang di belakang langkah Elara.
Evan Ravens.
Kembaran gadis itu.
Kesatria nomor satu termuda di Kerajaan Aurelius. Jenius pedang. Anak ajaib. Kebanggaan keluarga. Putra sempurna dari Duke Alaric Ravens dan Duchess Liora Ravens.
Elara mengepalkan tangannya. Ia tahu kelemahannya.
Jika bertarung satu lawan satu, Elara masih bisa mengandalkan teknik dan kecepatan. Namun bila harus menghadapi tiga orang berturut-turut, staminanya akan habis. Tubuhnya seolah menolak untuk bertahan lebih lama.
Entah mengapa, sejak kecil, napasnya selalu lebih pendek. Tenaganya lebih cepat terkuras.
Dan dunia tidak peduli pada alasan.
Dunia hanya peduli pada hasil.
Satu jam kemudian, latihan berlanjut pada simulasi pertarungan berantai.
"Elara Ravens, bersiap."
Tiga murid pria maju bergantian.
Pertarungan pertama, Elara menang. Cepat dan bersih.
Pertarungan kedua—l, ia masih menang, meski napasnya mulai berat.
Pertarungan ketiga ... tangannya mulai gemetar.
Tebasan lawan terasa lebih berat. Kaki Elara terasa seperti terisi timah.
Satu detik lengah.
Pedang kayu menghantam bahu gadis itu.
Elara terhuyung.
Serangan berikutnya mengenai perutnya.
Dan Elara jatuh berlutut.
"Tumbang!"
Suara instruktur terdengar tanpa emosi.
Tawa kecil kembali terdengar dari pinggir arena.
"Sudah kuduga."
"Selalu begitu."
"Masih bermimpi menjadi kesatria seperti dua kakaknya. Benar-benar memalukan."
"Elara memang tidak sehebat Evan dan Tuan Rowan."
Nama itu lagi.
Nama yang seperti cambuk di punggungnya.
Elara bangkit perlahan. Bahunya sakit. Dada terasa panas. Namun yang lebih menyakitkan adalah bisikan itu.
Elara tidak pernah bisa menang lebih dari tiga orang. Ia selalu kehabisan tenaga.
Dan rankingnya di akademi tetap berada di bawah.
Padahal darah Ravens mengalir di nadinya.
Padahal ibunya adalah pendekar pedang yang pernah memimpin pasukan di garis depan perang.
Padahal ayahnya adalah Duke yang dihormati dan ditakuti.
Namun Elara?
Ia hanya bayangan redup di samping cahaya Evan dan anggota keluarga lainnya.
"Oi, pecundang."
Suara itu datang dari belakang saat Elara berlari mengelilingi lapangan latihan untuk hukuman tambahan stamina.
Seorang senior berdiri di jalur lari. Tubuhnya tinggi, wajahnya tampan dengan senyum miring yang meremehkan. Ia termasuk dalam lima besar akademi.
"Masih saja mencoba keras, ya?" kata si senior. "Tapi percuma. Kau bukan Evan. Dan tidak akan pernah bisa menjadi seperti dia."
Elara terus berlari, tidak menjawab.
Senior itu tertawa kecil lalu berjalan sejajar dengan sang gadis.
"Kasihan Duke Alaric. Punya anak laki-laki sehebat Evan, keponakan yang luar biasa, tapi anak perempuan yang satu ini malah memalukan," cemooh si senior itu dengan sengaja.
Beberapa murid lain tertawa.
"Bayangkan dilahirkan oleh Duchess Liora, tapi stamina saja tidak punya," tambah pria itu.
Kaki Elara sedikit goyah, tapi ia tetap berlari.
Lalu ...
SRET!
Kaki senior itu menyandung langkah Elara.
Elara kehilangan keseimbangan.
Tubuhnya terlempar ke depan dan menghantam tanah dengan keras.
Debu mengepul.
Tawa pecah di sekitar lapangan.
"Lihat! Putri Duke jatuh!"
"Seperti anak kecil!"
"Seharusnya perempuan bermain rumah-rumahan saja!"
Telapak tangan Elara perih. Lututnya tergores.
Elara terdiam beberapa detik.
Lalu perlahan bangkit.
Senior itu menatap sang gadis dengan senyum mengejek. "Jangan marah. Aku hanya ingin mengingatkan posisimu."
Dan sesuatu di dalam diri Elara yang selama ini ia tekan, ia telan, ia simpan, akhirnya retak.
Elara melangkah maju.
Tanpa peringatan, tinju Elara melayang.
BUGH!
Wajah senior itu terpental ke samping.
Lapangan mendadak hening.
Senior itu terhuyung, lalu menggeram. "Berani sekali kau!"
Pria itu membalas.
Namun Elara sudah bergerak lebih dulu. Ia menerjang, menjatuhkannya ke tanah. Tangannya menghantam wajah pria itu berkali-kali.
"Berani menyebut keluargaku seperti itu?!" bentak Elara. "Kau mau mati, huh?!"
Senior itu mencoba melawan, tapi Elara menindihnya dengan kemarahan yang selama ini dipendam.
"Cukup!"
Suara keras menggema.
Seorang guru berlari mendekat dan menarik Elara dari atas tubuh senior itu.
"Elara Ravens! Apa yang kau lakukan?!" seru guru tersebut.
Elara terengah-engah. Rambutnya berantakan. Wajahnya merah oleh amarah.
"Dia menyandungku," kata Elara dingin.
"Dan itu alasanmu berkelahi seperti orang barbar?" Sang guru menatap tajam Elara.
Senior itu bangkit sambil menyeka darah di sudut bibirnya. "Dia menyerang lebih dulu, Guru."
Tatapan sang guru beralih pada Elara. "Sudah cukup. Selalu saja kau membuat masalah," katanya.
Elara menegang.
"Lihat saudaramu, Evan Ravens. Sempurna dalam segala hal. Tenang. Terhormat. Tidak pernah mempermalukan akademi," ujar sang guru.
Setiap kata terasa seperti pisau.
"Sedangkan kau?" lanjut sang guru. "Putri Duke memang, tapi jika kelakuanmu seperti ini, siapa yang akan menghormatimu?"
Tawa kecil terdengar lagi dari murid lain.
Elara mengangkat dagunya. Tatapannya berubah dingin. Sombong. Menantang.
"Walau aku menjadi pecundang sekali pun," kata Elara pelan namun jelas, "aku tetap putri Duke Alaric Ravens."
Lapangan membeku.
"Dan sebagai putri Duke, aku punya hak untuk menghukum mati siapa pun yang tidak sopan pada anggota keluargaku," lanjut Elara.
Beberapa murid tersentak.
Wajah sang guru memerah oleh amarah. "Kau mengancam?"
"Jika diperlukan," balas Elara.
"Elara Ravens!" bentak sang guru. "Aku akan melaporkan ini pada Kepala Akademi!"
Elara menatapnya tanpa gentar. "Silakan."
Amarah sang guru semakin membuncah dan berkata, "Bagaimana bisa Duchess Liora yang begitu hebat melahirkan anak tidak berguna sepertimu?"
Waktu seperti berhenti.
Udara terasa membeku.
Nama itu.
Ibunya.
Orang yang selalu memeluk Elara tanpa membandingkannya dengan Evan. Orang yang sangat Elara hormati.
Dan pria ini berani menyebut ibu Elara seperti itu.
Tanpa berpikir.
Tanpa ragu.
Tinju Elara melayang.
BUGH!
Suara benturan terdengar jelas saat kepalan tangan Elara menghantam wajah sang guru.
Semua orang terdiam.
Sang guru terhuyung, tidak menyangka.
Elara berdiri di hadapannya. Napasnya berat. Matanya menyala seperti bara.
"Jangan," kata Elara lirih namun menggetarkan, "menyebut ibuku seperti itu."
Elara kembali melayangkan tinjunya ke wajah sang guru.
Tentu seluruh lapangan latihan Akademi Kesatria Kerajaan Aurelius menyadari satu hal ...
Elara Ravens mungkin lemah dalam stamina.
Mungkin kalah dalam ranking.
Mungkin selalu dibandingkan.
Namun darah kesatria legendaris itu tetap mengalir panas dalam dirinya.
Dan jika dunia ingin terus menginjaknya maka Elara Ravens akan menggigit balik, meski harus berdiri sendirian.
Mereka lupa kalau panggilan Elara adalah Mad Dog atau Anjing Gila.
Dan itu bukan hanya sekedar panggilan.
tapi lucu banget, kebayang Lala ngejar" temen temennya
bukan nya takut malah tambah makin gemes 😜🤣🤣
𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣
hyper nya 🤣🤣😜
ya anda coba aja rasakan😜