NovelToon NovelToon
Taipan Abadi: Kebangkitan Menantu Terbuang

Taipan Abadi: Kebangkitan Menantu Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Guncangan di Utara dan Ratu Emerald

​Rintik hujan turun perlahan membasahi paviliun kuno Keluarga Li di Ibu Kota Provinsi. Suasana yang biasanya dipenuhi teriakan latihan para murid bela diri, hari ini terasa sesejuk kuburan.

​Di aula utama yang megah, Tuan Besar Li duduk di kursi kebesarannya dengan wajah sekeras batu karang. Matanya menatap tajam ke lantai aula, di mana dua tandu diletakkan berjejer.

​Di atas tandu pertama, terbaring Serigala Kedua dengan bahu yang hancur berkeping-keping. Di tandu lainnya, Li Kuang, sang pemimpin kebanggaan Keluarga Li, berlutut dengan napas tersengal. Wajah Li Kuang pucat pasi, terlihat sepuluh tahun lebih tua setelah basis kultivasinya dihancurkan. Serigala Ketiga bahkan tidak dibawa pulang; tubuhnya telah menjadi abu di pelabuhan Emerald.

​"Tuan Besar..." Li Kuang bersujud, air mata penyesalan dan ketakutan menetes ke lantai kayu. "Kami gagal. Pemuda itu... dia bukan manusia."

​Tuan Besar Li mencengkeram sandaran kursinya hingga kayu jati tebal itu retak. "Hanya seorang pemuda usia dua puluhan! Bagaimana mungkin dia menghancurkan formasi Tiga Serigala? Apakah dia menggunakan senjata api tingkat militer? Atau dia menyergap kalian dengan ratusan orang?"

​"T-tidak, Tuan," suara Li Kuang bergetar hebat mengingat kengerian di pelabuhan. "Dia sendirian. Dia bahkan tidak mengeluarkan tangannya dari saku untuk membunuh Serigala Ketiga. Dia tidak memancarkan Qi sedikit pun, tapi tekanan auranya membuat tulang-tulangku remuk. Tuan... dia hanya menepuk kepalaku, dan Dantian-ku meledak."

​Udara di aula itu mendadak membeku. Para tetua Keluarga Li yang berdiri di sisi ruangan saling berpandangan dengan raut wajah ngeri. Menghancurkan Dantian seorang ahli bela diri tingkat tinggi hanya dengan tepukan ringan tanpa menggunakan Qi?

​"Ranah Bawaan..." gumam Tuan Besar Li, punggungnya mendadak terasa dingin. "Tidak, bahkan Grandmaster di Ranah Bawaan masih menggunakan Qi yang bisa dirasakan. Pemuda ini... apakah dia berasal dari Sekte Tersembunyi? Atau dia adalah seorang Kultivator dari dunia legenda?"

​Keringat dingin menetes dari dahi sang Tuan Besar. Jika pemuda itu benar-benar seorang kultivator, maka mengirim seratus ahli bela diri pun hanya akan mengantarkan nyawa sia-sia.

​"Tarik semua anggota Keluarga Li dari wilayah Selatan," perintah Tuan Besar Li dengan suara berat, mengubur dalam-dalam harga dirinya demi kelangsungan hidup keluarganya. "Mulai hari ini, Kota Emerald adalah zona terlarang. Aku akan segera melakukan retret kultivasi tertutup dan mengirim surat ke Sekte Pedang Awan. Sampai aku mendapatkan jawaban dari guru besarku di sana, tidak ada yang boleh menyinggung pemuda bermarga Arya itu!"

​Berita tentang mundurnya Keluarga Harimau Utara menyebar seperti api liar di dunia bawah tanah. Sindikat, bos mafia, dan keluarga bela diri lainnya langsung memasukkan satu aturan mutlak yang tak tertulis: Jangan pernah membuat masalah di Kota Emerald.

​Sementara dunia bawah tanah gemetar ketakutan, dunia permukaan Kota Emerald sedang merayakan kebangkitan seorang ratu baru.

​Satu minggu setelah insiden pelabuhan, Grup Kusuma mengadakan konferensi pers raksasa. Gedung pencakar langit mereka dipenuhi oleh wartawan dari seluruh penjuru negeri.

​Nadia Kusuma berdiri di atas podium, mengenakan setelan jas wanita berwarna putih gading yang elegan. Auranya begitu mendominasi, cerdas, dan dingin—mengingatkan semua orang pada kejayaan Darma Kusuma di masa lalu, namun dengan eksekusi yang jauh lebih tajam.

​"Dengan ini, Grup Kusuma secara resmi mengumumkan akuisisi penuh atas seluruh aset inti peninggalan Grup Mahendra dan Grup Atmaja," suara Nadia bergema dengan tenang dan percaya diri. "Proyek Dermaga Selatan akan dilanjutkan, dan kami berterima kasih atas dukungan penuh tanpa syarat dari Emerald Group."

​Lampu kamera berkilat tanpa henti. Saham Grup Kusuma melonjak tiga ratus persen dalam hitungan jam. Para pesaing bisnis yang dulu meremehkan Nadia kini berlomba-lomba mengirimkan buket bunga dan proposal kerja sama, memohon secuil perhatian dari sang Ratu Emerald.

​Di sudut ruangan konferensi yang tidak tersorot kamera, Arya berdiri bersandar di dinding. Ia mengenakan jaket sederhana seperti biasa, tampak sama sekali tidak cocok dengan lautan manusia berjas mahal di sekitarnya. Namun, Han Shixiong yang agung—orang terkaya di kota itu—berdiri dua langkah di belakang Arya, menunduk dengan sikap seorang pelayan setia.

​"Semuanya berjalan sesuai rencana, Guru Besar," bisik Han. "Keluarga Li telah menutup gerbang mereka. Untuk saat ini, tidak akan ada lalat yang mengganggu ketenangan Nona Nadia."

​Arya menatap istrinya yang sedang tersenyum tipis di atas podium. "Biarkan dia menikmati panggungnya. Dia pantas mendapatkannya setelah tiga tahun penderitaan."

​Malam harinya, di kediaman Kusuma.

​Nadia melepas sepatu hak tingginya dan merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah. Ia sangat kelelahan, namun hatinya terasa seringan awan. Ayahnya sudah sepenuhnya sehat dan sesekali memantau dari rumah, perusahaannya berada di puncak kejayaan, dan tidak ada lagi intrik keluarga yang menusuk dari belakang.

​Arya berjalan keluar dari dapur, membawa secangkir teh kamomil hangat, dan meletakkannya di meja depan Nadia.

​"Kerja bagus hari ini, Nona Ratu," goda Arya pelan.

​Nadia membuka matanya, menatap Arya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia bangkit dan duduk dengan benar, lalu menepuk ruang kosong di sebelahnya. "Duduklah, Arya."

​Arya menuruti permintaan itu. Aroma parfum Nadia yang lembut bercampur dengan aroma teh herbal memenuhi jarak di antara mereka.

​"Kau tahu, semua wartawan tadi bertanya apa rahasia di balik kebangkitan ajaib Grup Kusuma," ucap Nadia pelan, matanya menatap cangkir teh. "Aku menjawabnya dengan visi, kerja keras, dan strategi."

​Nadia lalu menoleh, menatap lurus ke kedalaman mata Arya. "Tapi kau dan aku tahu kebenarannya. Rahasia itu sedang duduk di sebelahku."

​Arya hanya tersenyum simpul. "Aku hanya menyingkirkan beberapa batu kerikil di jalanmu. Kaulah yang berjalan hingga ke puncak."

​"Berhenti merendah." Nadia mendesah pelan, namun ada seberkas senyum lembut di bibirnya. Tiba-tiba, ia menyadari sesuatu. "Omong-omong, kau belum memberitahuku apa yang kau lakukan di kamar belakang semalaman. Aku melihat kilatan cahaya aneh dari bawah pintu."

​Arya menyelipkan tangannya ke dalam saku jaketnya. "Aku sedang membuatkan sesuatu untukmu."

​Ia mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin batu giok berwarna hijau zamrud yang sangat jernih. Di dalam giok tersebut, jika dilihat dengan teliti, terdapat ukiran seekor naga kecil yang tampak seperti sedang tertidur, dikelilingi oleh pola cahaya keemasan yang mengalir secara alami.

​Itu adalah Giok Pelindung Jiwa, artefak pertahanan tingkat dasar yang dibuat Arya menggunakan sisa esensi dari bahan-bahan pil spiritual kemarin, dikombinasikan dengan api spiritualnya.

​"Ini..." Nadia terkesiap melihat keindahan perhiasan itu. Bahkan sebagai CEO yang sering melihat berlian miliaran rupiah, ia tahu giok ini memiliki kualitas yang tak ternilai harganya. Ada hawa hangat yang memancar darinya.

​"Berbaliklah," pinta Arya.

​Nadia menurut tanpa ragu. Arya menyingkirkan rambut panjang Nadia dari lehernya, jari-jarinya yang hangat tak sengaja menyentuh kulit dingin Nadia, membuat wanita itu sedikit gemetar. Arya memasangkan kalung itu dengan hati-hati.

​"Liontin ini terhubung dengan ener... maksudku, ini adalah jimat keberuntungan," Arya mengoreksi kata-katanya agar tak terlalu mengejutkan istrinya. "Selama kau memakainya, tidak ada kecelakaan, racun, atau niat buruk yang bisa menyentuhmu. Berjanjilah untuk tidak pernah melepasnya."

​Nadia menyentuh liontin giok yang kini bersemayam di dadanya. Rasa lelahnya mendadak lenyap tanpa sisa. Ia memutar tubuhnya, menatap Arya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

​"Tiga tahun aku mengabaikanmu, menghinamu, dan membiarkan ibu memperlakukanmu seperti pelayan," bisik Nadia, suaranya bergetar penuh penyesalan. "Kenapa kau sebaik ini padaku, Arya?"

​Arya mengangkat tangannya, menghapus setitik air mata di sudut mata istrinya.

​"Karena di saat seluruh dunia, termasuk paman dan bibimu, ingin membuangku kembali ke jalanan yang dingin tiga tahun lalu..." Arya menjawab dengan suara yang sangat dalam dan tulus. "...Kau adalah satu-satunya orang yang memberiku sebuah selimut."

​Hening merajai ruang tamu itu. Tembok es yang selama tiga tahun membatasi mereka akhirnya runtuh sepenuhnya malam itu.

1
Sofian Dzikrul Hidayah
kpn update nya
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
mlh gx update
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
up thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
up
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Dirman Ha
ih gk
Dirman Ha
hbk
Dirman Ha
hv gb bn
Dirman Ha
jg gb BBM
Dirman Ha
ig di
Dirman Ha
jg CV
Dirman Ha
ih gb np
Dirman Ha
j g bk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!