NovelToon NovelToon
Mustika Terkutuk

Mustika Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Abdul Rizqi

Menceritakan kisah seorang pemuda desa yang tidak bisa berbicara atau bisu... kehidupannya yang miskin secara perlahan berubah setelah menemukan sebuah batu mustika indah berwarna jingga. bisu yang di alami pemuda itu seketika sembuh tidak hanya itu batu itu juga memiliki kekuatan yang di idam idamkan kebanyakan laki-laki yaitu membuat tubuh penggunanya tak dapat terlihat atau kasat mata.. namun di balik semua keistimewan batu jingga itu menyimpan sebuah misteri dan kutukan yang secara perlahan mendorong pemuda tersebut memasuki dunia gelap yang sesungguhnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ternyata

Berita tentang Sugeng yang sudah bisa berbicara kian menyebar luas, tidak butuh waktu lama bagi Linda untuk mengetahui berita tersebut.

Di salah satu rumah mewah di desa Bojongbata, Linda duduk santai di sofa ruang tamu, ia menghisap dalam dalam rokoknya kemudian menyemburkan asapnya di depannya.

"Silahkan Nyonya..." ucap seorang nenek tua sembari menaruh minuman di meja depan Linda.

Senyuman kecil terlihat di sudut bibir Linda, "kali ini alasan apa yang kamu gunakan untuk membodohi cucumu itu, Nenek Ratmi?" Tanya Linda.

Ya! Nenek tua itu adalah Nenek Ratmi. Selama ini ia bekerja secara cuma-cuma demi melunasi hutang Sugeng dan agar Sugeng tidak di pukuli oleh para preman Linda.

"Aku izin kerumah teman..." jawab Nenek Ratmi kemudian melenggang pergi kebelakang dengan ekspresi wajah penuh kelelahan.

"Masih dengan alasan yang sama..." ucap Linda dalam hatinya.

***

Di sebuah rumah yang terbuat dari lembaran papan yang sudah terlihat mendoyong agak miring... di setiap sudut rumah itu tampak tulangan kayu reng sebagai penyangga atap genting yang mulai rapuh, dan beberapa genting yabg hilang.

Halamannya cukup luas dan di hiasi rumput jepang, di pekarangan rumah itu tampak tumpukan batako yang sudah berlumut karena lama tak kunjung di gunakan.

Tepat di bibir jalan bawah pohon nangka terdapat sebuah kursi kayu. Duduk seorang laki-laki di sana yang tak lain adalah Sugeng menatap kosong jalanan pedesaan siang itu. Ia duduk bersandar di batang pohon nangka, sembari memangku dagunya dengan satu telapak tangannya dengan sikut yang bersandar di lutut kaki.

"Ngga ada pilihan lain bagiku untuk melunasi hutang Linda selain dengan mencuri... aku ngga mungkin minjam kesana kesini untuk menutupi hutang itu yang sudah ratusan juta. Aku juga ngga mungkin jual semua kambing kambingku, percuma ngga akan bisa nutupin utang itu... kecuali kalau aku jual rumah ini, tapi ngga mungkin aku jual! Ini rumah peninggalan ayah dan ibu! Mbak Sekar jyuga ngga mungkin bisa bantu, dia sudah berumah tangga dan sudah punya anak. Sialan! Andai waktu bisa di putar ngga akan aku pinjam uang ke rentenir itu!" Batin Sugeng penuh dengan frustasi.

"Geng!"

Suara panggilan seseorang membuyarkan lamunan Sugeng.

Sugeng melirik, "Pak Drajad? Nyariin Nenek pak? Nenek dari pagi udah pergi, main kerumah temen katanya.."

Pak drajad termenung sesaat ia seolah berfikir, "enggak geng saya gak nyariin nenek kamu, saya nyariin kamu... kambing kamu mau di jual gak? Saya mau beli dua buat aqiqahan anak saudara saya.."

"Ooo... boleh pak! Mari silahkan lihat-lihat di belakang.." sugeng dan Drajad kemudian berjalan ke belakang rumah, tepatnya ke kandang kambing milik Sugeng.

"Silahkan di pilih pak.." ucap Sugeng.

Drajad mengagguk, ia mulai memilih-milih dua kambing yang gemuk.

Beberapa saat berlalu setelah memilih dua kambing dan membayarnya Sugeng dan Drajad memilih duduk di ruang tamu.

Nampak Drajad termenung, ia bingung mau mengatakan atau tidak. "Geng, maaf saya harus ngasih tau kamu, kamu tau sendirikan saya kerja di kebunnya Linda, kemarin saya setor hasil uang panen ke Linda apa kamu tau saya lihat siapa di dalem rumah Linda?"

Sugeng langsung penasaran dengan penuturan drajad, "enggak tau pak, emangnya siapa?"

"Nenekmu saya ngelihat dia lagi ngepel lantai.."

"Hah! Apa bapak gak salah lihat pak?"

"Saya beneran lihat dengan mata kepala saya sendiri geng! Nenek kamu kaya kelihatan lelah banget... ini saya nebak-nebak aja sih geng! Apa beberapa hari ini Linda gak datangin kamu buat bayar utang?"

"Iya pak.."

"Nah itu! Bisa jadi nenekmu itu rela kerja gak di bayar buat lunasin utang kamu.."

"Apa!" Sugeng tersentak kaget, ia mengepalkan tanganya sampai-sampai kuku-kuku jarinya menusuk ke telapak tangannya.

"Tenang dulu geng! Ini cuma asumsi saya lebih baik kamu cari tau sendiri kalau nenekmu sudah pulang kamu tanyakan.."

Sugeng menghembuskan nafasnya perlahan-lahan.

"Ya sudah geng, saya permisi pulang dulu.." ucap Drajad sambil membawa dua kambing yang sudah ia beli.

Sugeng mengangguk, ia mengantarkan drajad sampai depan pintu.

Setelah Drajad menghilang Sugeng langsung mengambil jaketnya, ia mengunci pintu rumahnya, setelah itu menaiki sepeda bututnya dan langsung menuju ke arah rumah Linda.

Beberapa saat kemudian Sugeng sampai di rumah Linda, sugeng memarkirkan sepedanya di dalam semak-semak.

Sugeng menatap ke arah dua penjaga yang sedang berjaga di luar gerbang, Sugeng bingung mau berbuat apa.

Lama berfikir akhirnya sugeng memiliki ide, ia langsung berjalan ke belakang rumah linda, rumah Linda sangat besar bagian luar rumahnya di batasi oleh tembok yang tinggi.

Sugeng berjalan ke belakang rumah linda, hingga akhirnya sugeng sampai di belakang rumah linda.

Nampak di bagian belakang rumah linda hanyalah kebun gersang tidak ada runah warga di sini, karena memang di sekitar rumah linda tidak ada rumah lainya bisa di bilang rumah linda berada di ujung desa.

Sugeng tolah toleh ia mencari benda yang bisa di gunakan untuk pijakan hingga akhirnya sugeng melihat batang kayu pohon nangka, Sugeng menyeretnya ke arah tembok, dan Sugeng berpijak pada batang pohon mangga itu lalu ia naik ke tembok rumah linda.

Brug!

Sugeng akhirnya bisa melewati tembok tinggi itu, Sugeng memegang kakinya yang terasa keram akibat mendarat.

Saat sugeng hendak berjalan Sugeng menepuk jidatnya, ia lupa membawa batu jingga miliknya, karena memang ia buru-buru ke rumah Linda saat itu. Mau tidak mau Sugeng berjalan mengendap-endap ke pintu belakang, Sugeng hendak memastikan perkataan Pak Drajad benar atau tidak.

Hingga Sugeng mengintip dari celah atas pintu belakang di lihatnya Neneknya sedang memotong-motong bawang bersama pembantu lainya.

Sugeng langsung geram ia tidak menyangka ucapan Pak Drajad benar adanya.

Sugeng memilih untuk pergi dari rumah Linda, tidak mungkin ia masuk dan mendengar penjelasan dari Neneknya di situ ada pembantu.

Sugeng memilih untuk pergi, tidak sulit bagi Sugeng untuk menerobos tembok tinggi itu, Sugeng memanjat pohon rindang yang ada di samping tembok dan langsung melompat ke halaman belakang rumah linda.

Sugeng menggertakan giginya rasa sakit di kakinya akibat melompat sepeti tidak terasa, ia begitu marah pada linda jika dia yang di pukuli oleh anak buahnya sugeng tidak masalah, tapi ini neneknya orang yang sudah setua itu di paksa untuk bekerja seberat itu... Sugeng sangat yakin pekerjaan neneknya juga sangat banyak di rumah Linda karena notabennya utang sugeng sangat banyak.

"Linda sudah benar-benar keterlaluan..!!! Awas kamu Linda aku pasti akan membalas perbiatanmu!" Batin Sugeng dengan geram.

1
Tini Nurhenti
se7 geng,kek Q bgt
Tini Nurhenti
lanjut thor
Tini Nurhenti
s7 geng
Tini Nurhenti
hadir thor,nyimak dlu seru thor up nya byk jdi smgat bacanya.😄😄💪💪
bedul: siap, udah 56 bab terjadwal
total 1 replies
Afri
semoga ceritanya bagus .. aku suka yg misteri gini thor
bedul: siap, baca sampe selesai ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!