When Gods Grow Bored berlatar di sebuah benua kuno "Nirenva" yang dilanda perang tanpa akhir, tempat kerajaan-kerajaan saling membantai atas nama para dewa yang pernah turun dan meminjamkan kekuatan mereka kepada umat manusia. Di dunia di mana nilai hidup diukur dari restu ilahi, Kai Jhoven: seorang anak tanpa berkah dan tanpa asal-usul tumbuh sebagai sosok terbuang, dipaksa bertahan di tengah kekacauan yang tidak pernah ia pilih. Ketika sebuah kekuatan asing akhirnya menjamah dirinya, Kai Jhoven terseret ke dalam pusaran konflik yang jauh lebih besar dari perang antar manusia: intrik ilahi, kekuasaan yang dipinjam, dan kebenaran kelam di balik mukjizat yang disembah dunia. Dalam perjalanan dari medan perang hingga jantung kekuasaan, takdir, kepercayaan, dan kemanusiaan diuji; sementara langit yang selama ini dipuja perlahan mulai retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jhoven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Astraezas
Valhalla, aula megah para dewa/i.
"HAHAHA! Lihatlah Itu Astraezas! Pewaris Berkah Elythra telah tumbang!" —Khae’Thuun, Sang Awal dan Akhir Keheningan: Dewa eksistensi pasif dan kejenuhan abadi/ Pemimpin para Dewa/i.
"Benar tuanku, pertarungan yang cukup berat sebelah." —Astraezas, Sang Pelipat Langit, Dewa Distorsi Ruang dan Jarak: Anggota Fraksi Dewa Primordial/ Bawahan Khae’Thuun.
"Tch"
Seorang Dewi nampak kesal dan pergi dari Aula Valhalla.
"Berhenti." Khae’Thuun memerintahkan Dewi itu untuk berhenti dan seketika tubuhnya terhenti.
"Ada apa Elythra? Kenapa kau tampak kesal begitu..? Apa jangan-jangan, kau sudah muak denganku?" Tanya Khae’Thuun.
Ternyata Dewi itu bernama Elythra, Sang Penjaga Takdir Berlapis: Dewi ramalan dan kemungkinan yang tak terhitung. Ia adalah Dewi yang memberi berkah pada keluarga leluhur Garo Jhoven.
"Tidak.. Yang Mulia. Saya hanya terlupa sedang ada keperluan mendesak ditempat lain. Saya tidak menyimpan rasa muak pada anda." Balasnya.
"Hoo.. Benarkah?"
Khae’Thuun mulai berjalan keluar dari singgasananya.
"Keperluan apa yang bisa membuatmu sampai mengeluarkan ekspresi mengesalkan pada atasanmu itu?"
*tap tap
Khae’Thuun berjalan semakin mendekat.
Sial, tamatlah sudah riwayat Elythra..
Ya! Sudah pasti, membuat Khae’Thuun marah sama dengan mempercepat kematianmu..
Bisikan tidak menyedapkan datang diantara para dewa/i yang berkumpul diaula saat itu. Karena mereka semua tahu apa akibat dari membuat Khae’Thuun murka.
*tap!
Khae’Thuun tiba didepan Elythra, Ia mengangkat tangannya, seolah hendak menghancurkan kepala sang dewi itu.
"Tunggu. Tuanku." Ucap Astraezas dari kejauhan.
"Astraezas? Kenapa kau menghentikanku?"
"Saya hanya merasa tidak baik mengotori aula suci ini dengan darah yang kotor."
"Lalu? Apa yang akan kau lakukan?"
"Izinkan saya yang melakukannya. Saya yang akan membunuh Elythra.. Jauh dari Aula Valhalla ini. Anda.. Percaya pada saya bukan?" Tanya Astraezas dengan tatapan tajam.
Khae’Thuun sebenarnya ragu namun melihat tatapan seperti itu, ia pun menerima permintaan Astraezas untuk membunuh Elythra dengan tangannya sendiri.
"Baiklah. Cepat bawa jalang ini keluar dari aulaku. Aku tidak ingin melihatnya lagi.."
"Siap, tuanku."
Begitu Astraezas membawa Elythra hampir keluar dari Aula. Khae’Thuun menambahkan;
"Oh! Astraezas! Aku bisa merasakan energi kehidupan setiap dewa/i disini. Jika.. Sampai energi kehidupan Elythra masih tersisa dipenciumanku.. Maka aku sendiri yang akan membunuhmu."
Astraezas tidak berbalik ke arah Khae’Thuun dan hanya menjawab, "Baik. Saya permisi."
Jauh dari Valhalla, Astraezas berdiri dihadapan Elythra.
"Apa yang kau lakukan Elythra?! Kau hampir membuat rencana kita berantakan!" Ucap Astraezas marah.
"Maafkan aku.. Aku hanya.. Keluarga Jhoven itu sudah seperti keluargaku sendiri, dan melihatnya mati sangat menyayat hatiku.." Balas Elythra dengan wajah sedihnya.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang Elythra, tolong bersabarlah sembari kita mengumpulkan kekuatan untuk mengalahkan dia. Aku pun sudah muak melihat dia mempermainkan manusia. Bagaimana dia bisa sekejam itu.." Lanjut Astraezas.
Elythra menangis dan Astraezas pun memeluknya.
####
Yang sebenarnya terjadi: Khae’Thuun adalah dalang dibalik peperangan 1500 tahun. Ia memerintahkan berbagai macam dewa untuk mengadu domba antar manusia pewaris berkahnya. Dan semua itu hanya untuk hiburan.
Selama ribuan tahun itu, para Dewa/i terbagi menjadi 2 kubu, walau tidak secara formal dibagi, tapi kubu itu dapat dirasakan. Ada yang setuju dengan ide hiburan gila Khae’Thuun dan ada yang tidak setuju. Semua dewa/i yang tidak setuju dan menunjukkan perlawanannya secara terang-terangan pasti dibunuh. Oleh karena itu selama 500 tahun belakangan ini Astraezas; anggota dewa primordial bawahan Khae’Thuun yang juga telah muak dengan hiburan gila ini, mulai mengumpulkan kekuatan. Mengajak dewa/dewi yang tidak setuju untuk bersatu dan merencanakan pemberontakan besar. Namun semuanya masih jauh dari kata "mampu" untuk menumbangkan Khae’Thuun dan seluruh Dewa pendukungnya.
####
"Elythra, aku akan memindahkanmu ke dimensi lain, aku telah berjanji akan membunuhmu.. jadi, jika Khae’Thuun masih merasakan energimu, maka kita akan tamat. Tenang saja didalam dimensi itu ada banyak rekan kita yang selama ini aku kumpulkan. Dan rencananya akan tetap sama.. Sebentar lagi giliranku akan tiba, waktuku tidak banyak. Bersiaplah untuk perpindahan dimensi."
"Jadi..? Kau akan memberikan kekuatanmu pada bocah bernama Kai itu?" tanya Elythra.
"Ya. Bukankah penglihatan takdirmu mengatakan bahwa dia adalah kuncinya?"
Elythra mengangguk, "Benar.. Bocah itu akan tumbuh menjadi sosok yang mengerikan Azas (Astraezas). Itulah sebabnya aku yang menyuruh Garo untuk melindungi dan memperhatikan Kai, agar moralnya tetap baik dan kemanusiaannya tetap utuh. Sejak awal nasib bocah itu cukup malang, tidak punya orangtua dan dikucilkan.. Aku harap didikan Garo padanya tidak sia-sia."
"Tidak akan sia-sia. Aku melihat manusia murni dalam diri bocah itu, Aku percaya dia akan bisa mengakhiri permainan gila ini. Sembari aku meracik Kai, tolong siapkan juga rekan untuknya.. Masih ada bukan? Cucu dari Garo yang selamat?" tanya Astraezas.
"Ya.. Umurnya masih 10 tahun, beda tipis dengan Kai. Aku akan mewariskan berkah padanya."
"Baiklah yang terakhir, Elythra.. Didalam dimensi itu ada 8 Dewa/i yang ku percaya. Mereka juga telah menerima misi yang sama yaitu mencari manusia yang mungkin bisa menjadi kunci. Tolong bantu mereka dengan penglihatan takdirmu, apakah manusia yang mereka pilih cocok atau tidak. Karena jika saatnya telah tiba, kita akan sangat membutuhkan kekuatan dari mereka yang terpilih." Lanjut Astraezas.
"Baiklah, serahkan padaku. Semoga beruntung Azas!"
Dengan begitu Astraezas mengirim Elythra menuju Dimensi berbeda dimana ia berkumpul dengan 8 Rekan Dewa/i yang lainnya untuk membangun rencana pemberontakan. Energi kehidupan Elythra pun menghilang, Astraezas masih mendapat kepercayaan Khae’Thuun. Di Asgard (Dunia para Dewa), Astraezas tetap menjadi anggota bawhaan Khae’Thuun untuk memantau situasi terkini dan melakukan rencananya secara terpisah.
#####
Kembali ke Bumi, Benua Nirenva, Kerajaan Khanox—perbatasan Vladmir, Desa Mooire.
Garo Jhoven telah tumbang di tangan Aizen Vitalii.
Vitalii turun dari langit dan berdiri dihadapan Kai.
"Apa yang akan kau lakukan bocah buangan langit? Kini pelindungmu sudah tiada. Bersikap tenang lah maka akan kuberikan kematian tanpa rasa sakit." Ucap Vitalii
"Persetan denganmu. Aku tidak akan mati disini!"
*Swingg!!
Kai melemparkan kain berisi debu dan kotoran pada Vitalii.
*Bushhh!!
Vitalii menebasnya , namun kumpalan debu itu menutupi pandangannya.
Disaat itulah Kai memanfaatkan celah yang ada untuk berlari, kabur dari Vitalii. Namun sampai berapa lama ia sanggup berlari dari kepungan prajurit Vladmir dan Vitalii dibelakangnya?