NovelToon NovelToon
CAHAYA DI RAHIM SUNYI

CAHAYA DI RAHIM SUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Drama
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Lima tahun pernikahan adalah pembuktian cinta bagi Haniyah Zahira dan Haris Abidzar. Tanpa tangis buah hati, mereka tetap bahagia dalam ketaatan. Namun, bagi sang ibu mertua, rahim Haniyah yang sunyi adalah sebuah kegagalan.

"Relakan Haris menikah lagi, atau biarkan dia menjadi anak durhaka karena menolak keinginan ibunya."

Ancaman itu menjadi duri yang Haniyah telan sendirian. Demi bakti sang suami pada ibunya, Haniyah mengambil keputusan nekat: Ia meminta Haris mencari wanita lain. Saat penolakan keras Haris tak kunjung luntur, Haniyah memilih cara paling menyakitkan. Ia pergi, meninggalkan surat cerai di atas bantal, dan menghilang ke pelosok desa yang jauh dari jangkauan.

Di tengah kesunyian desa dan hati yang hancur, sebuah keajaiban muncul. Di saat ia sudah melepaskan statusnya sebagai istri, Allah menitipkan detak jantung di rahimnya. Haniyah hamil. Di saat ia tak lagi memiliki sandaran, dan di saat Haris mungkin sudah menjadi milik orang lain.

Haruskah Haniyah kembali...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENCARIAN JEJAK.

Pagi itu, suasana di kantor pusat PT Abidzar Konstruksi terasa sangat mencekam. Sejak langkah pertama kakinya menghentak lantai lobi yang berkilau, aura Haris Abidzar telah berubah total. Tidak ada lagi senyum ramah yang biasanya ia bagikan kepada staf keamanan atau resepsionis. Yang ada hanyalah tatapan dingin, tajam, dan rahang yang mengeras. Sejak sang ayah meninggal, Haris memikul tanggung jawab besar atas perusahaan raksasa ini, namun hari ini ia terlihat lebih seperti seorang panglima perang daripada seorang direktur utama.

Para karyawan menunduk dalam saat ia melintas. Mereka berbisik pelan, merasa merinding melihat bos mereka yang biasanya hangat kini menjelma menjadi sosok yang sangat kaku. Haris membanting tas kerjanya ke atas meja jati di ruangannya, lalu menekan tombol interkom dengan kasar.

"Farel, masuk ke keruangan saya sekarang. Bawa semua dokumen yang perlu ditandatangani," perintah Haris singkat dan tegas.

Tak lama kemudian, Farel, asisten kepercayaan Haris, masuk dengan tumpukan berkas. Ia bisa merasakan tekanan udara yang berbeda di ruangan itu. Haris tidak langsung menyentuh pena, ia justru menyandarkan punggungnya dan menatap Farel dengan tajam.

"Bagaimana perkembangan pencarian istriku? Aku tidak butuh jawaban normatif, aku butuh hasil," tagih Haris.

Farel menarik napas dalam, berusaha tetap tenang. "Anak buah saya masih terus melacak sinyal GPS ponsel Ibu Haniyah, Pak. Namun hasilnya tetap nihil sejak ponsel itu dimatikan terakhir kali di terminal bus menuju daerah Yogyakarta. Kami sudah menyisir stasiun dan terminal di sana, bahkan menyebarkan tim ke desa-desa sekitar yang memungkinkan menjadi tempat persembunyian."

Haris mengetukkan jarinya di meja, suaranya terdengar berat. "Kerja bagus, tapi itu belum cukup. Aku ingin kamu melakukan satu hal lagi. Lacak semua pergerakan Ratih, sahabat istriku. Aku yakin dia tahu sesuatu. Kirim orang untuk mengikutinya dua puluh empat jam. Tapi ingat, jaga jarak aman. Jangan sampai ketahuan karena dia seorang pengacara, dia sangat peka terhadap pengintaian."

"Baik, Pak. Segera saya laksanakan," jawab Farel patuh sebelum pamit keluar dari ruangan.

Haris menatap ke luar jendela besar di belakang mejanya, memandangi gedung-gedung tinggi Jakarta. "Hani, sejauh apa pun kamu lari, aku pasti akan menemukanmu. Aku tidak akan membiarkanmu menanggung segalanya sendirian."

🍃

Sementara itu, jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, suasana tenang di gubuk kayu nenek Ratih sedikit terusik oleh kehadiran Ratih yang bersikeras ingin menginap. Ratih tidak tega meninggalkan Haniyah sendirian, terutama setelah mengetahui sahabatnya itu sedang mengandung. Padahal, Haniyah sudah berkali-kali meyakinkan bahwa dirinya sudah baik-baik saja semenjak meminum obat dari puskesmas.

"Ratih, kamu punya banyak klien di kota. Jangan korbankan pekerjaanmu hanya untuk menjagaku di sini," ucap Haniyah sambil mencangkul kecil tanah di halaman untuk menanam bibit cabai.

Ratih yang sedang duduk di kursi kayu tua hanya mengibaskan tangan. "Pekerjaanku sudah terselesaikan semua, Hani. Aku sengaja mengambil cuti panjang. Lagipula, siapa yang akan menjagamu kalau tiba-tiba kamu mual lagi? Sudah, jangan membantah."

Haniyah akhirnya hanya bisa menghela napas pasrah. Ia membiarkan Ratih membantunya menanam berbagai jenis sayuran baru. Setelah matahari sedikit meninggi, Ratih tiba-tiba berdiri dan menepuk debu di bajunya.

"Ayo, kita ke pasar sekarang. Kita harus beli pakaian hamil untukmu," ajak Ratih penuh semangat.

Haniyah menghentikan kegiatannya dan menatap Ratih dengan heran. "Pakaian hamil? Perutku saja masih rata, Ratih. Lagipula bajuku banyak yang longgar, tidak perlu repot-repot membuang uang."

"Ini bukan soal repot, tapi soal persiapan. Aku juga mau membelikanmu susu kehamilan yang bagus supaya bayimu sehat dan cerdas. Ayo, jangan keras kepala!" tarik Ratih tanpa memberi kesempatan Haniyah untuk menolak.

Karena Ratih yang sangat keras kepala, Haniyah akhirnya menurut. Ia mengenakan gamis gelap dan cadar hitamnya agar wajahnya tetap tersembunyi. Mereka berangkat ke pasar desa yang jaraknya lumayan jauh. Ratih memborong banyak kebutuhan, mulai dari susu kehamilan hingga beberapa kotak vitamin.

Saat mereka sedang berada di sebuah lapak penjual baju, memilih beberapa daster batik dengan kain yang dingin dan nyaman, suasana pasar yang tadinya riuh tiba-tiba berubah tegang. Haniyah melihat beberapa petugas polisi sedang berjalan berkeliling, membawa selembar kertas di tangan mereka.

Jantung Haniyah berdegup kencang saat salah satu polisi berhenti tepat di depan pemilik toko daster tersebut. Polisi itu menunjukkan sebuah foto berukuran besar.

"Permisi, Bu. Apakah Ibu pernah melihat wanita di foto ini melintas atau berbelanja di sini?" tanya polisi itu dengan nada sopan namun tegas.

Haniyah hampir saja menjatuhkan daster yang sedang ia pegang. Itu fotonya. Foto yang diambil Haris saat mereka merayakan ulang tahun pernikahan yang kedua. Tubuh Haniyah seketika gemetar hebat. Ia merapatkan cadarnya dan menunduk sedalam mungkin, bersembunyi di balik punggung Ratih.

"Ratih, ayo pulang sekarang. Aku mohon," bisik Haniyah dengan suara yang sangat ketakutan.

Ratih yang juga menyadari keberadaan polisi itu segera sadar bahwa keadaan sedang tidak aman. Tanpa banyak bicara, ia membatalkan niat membeli daster dan segera menggandeng tangan Haniyah menuju tempat parkir mobilnya. Sepanjang perjalanan pulang ke gubuk, Haniyah hanya terdiam dengan air mata yang mulai menggenang.

Sesampainya di dalam gubuk, Haniyah langsung terduduk lemas di lantai. "Ada apa ini, Ratih? Kenapa polisi juga ikut mencari aku? Aku bukan buronan, aku tidak melakukan kejahatan apa pun!"

Ratih mencoba menenangkan Haniyah, mengusap punggung sahabatnya dengan lembut. "Ini pasti ulah Nabilah, adik Haris. Dia kan seorang Polwan. Haris pasti mengerahkan segala cara untuk menemukanmu, Hani."

"Ini terlalu berlebihan, Ratih. Aku hanya ingin tenang. Kenapa mereka membuatku merasa seperti penjahat yang sedang diburu?" isak Haniyah pilu.

Ratih menatap Haniyah dengan rasa iba yang mendalam. "Hani, mungkin ini saatnya kamu memikirkan kembali keputusanmu. Haris tidak akan berhenti sampai dia menemukanmu. Dia sudah melibatkan hukum sekarang. Jika kamu tetap di sini, cepat atau lambat mereka akan sampai ke pintu rumah ini."

Haniyah menggeleng kuat, ia memeluk perutnya yang masih rata dengan protektif. "Aku tidak bisa kembali sekarang, Ratih. Tidak setelah aku tahu aku hamil. Ibu mertuaku pasti akan berpikir aku kembali hanya karena anak ini, bukan karena cinta. Aku ingin anak ini tumbuh tenang tanpa tekanan dari siapa pun."

Haniyah menatap ke jendela, melihat hamparan sayuran yang baru ia tanam. Rasa takut kini bercampur dengan tekad untuk tetap bertahan. Namun, ia tidak tahu bahwa di luar sana, jaring-jaring yang ditebar Haris mulai menyempit, dan persembunyiannya di desa yang sunyi ini mungkin tidak akan bertahan lama lagi.

"Besok aku tidak akan keluar rumah lagi, Ratih. Aku takut," ucap Haniyah lirih.

Ratih hanya bisa terdiam. Ia tahu bahwa cepat atau lambat, rahasia besar tentang rumah neneknya ini akan tercium juga oleh orang-orang suruhan Haris yang kini sedang mengawasi setiap langkahnya di kota.

1
Rara Ardani
jemput lah kebahagiaanmu farel, Haris bosmu baik, karena menganggap kalian keluarga 💖💖💖
Rara Ardani
ayo farel buka hatimu, jangan kaku gitu, kamu akan mendapatkan kebahagiaan an nanti 🤭🤭
Uba Muhammad Al-varo
kamu tidak nyaman karena pengabaian Ratih kan karena kamu ada rasa ke Ratih
Pujiastuti
sudah mulai ada rasa dihati Farel buat Ratih, tapi Farel belum menyadarinya
lanjut kak semangat 💪💪
Naufal hanifah
cerita nya bagus /Good//Good//Good/
Mira Hastati
bagus
Uba Muhammad Al-varo
farel....... akhirnya terpesona oleh Ratih karena kesederhanaannya dan merakyat 😊😊😊
Eliermswati
ayo farel kejar g ad loh cwe sbaik Ratih, yg g gengsi mkn pinggir jln itu justru lbh nikmat dan enk perut kenyang hti pun senang smga hani cpt smbh y dan bail2 sj
🤣🤣
Eliermswati
smga slmt y thor kshn Hani dah nunggu lm🙏🙏
Perempuan
Keingat dulu pernah keguguran anak pertama. membaca kondisi Niyah, perutku juga rasanya kram
Pujiastuti
semoga calon anak mereka aman dan ngak kenapa²

lanjut kak tetap semangat 💪💪
Salsa Billa
thor halunya kayak didunia sihir, masak pembangunan vila 3hr hampir siap huni,,, segaknya 6bln masih masuk akal 😁😁😁😁 tp ok lah namanya dunia halu
Uba Muhammad Al-varo
bagaimana pun keadaannya semoga Haniyah dan Ratih baik' saja dan secepatnya diketemukan dan diselamatkan oleh Haris, farel dan pasukannya
Eliermswati
ayo haris cptan tlng istrinya jngn smpe terjadi sesuatu sm mreka, thor jngn bkn hani keguguran y kshn kn dah nunggu lm 🙏🙏🙏
Wardah Saiful
romantis,sweet,ada.gemes2nya dikit,top deh❤️💪
Uba Muhammad Al-varo
tinggal sekarang Haniyah menjalani kehamilan ini dengan bahagia dan senang, semua masalahnya sudah terselesaikan dengan baik, hubungan antara ibu mertuanya sudah lebih baik lagi
Uba Muhammad Al-varo
Haris........ terus lindungi Niyah, jangan sampai Niyah terluka lagi
Perempuan
surat dokter yg menyatakan Haris mandul harus disiasati juga. Emaknya bisa saja marah krn merasa dibohongi. Emang lebih baik di desa aja dulu Ris., udaranya juga bagus utk kesehatan si Bumil tercinta
Enny Suhartini
semangat
Uba Muhammad Al-varo
ternyata Miss komunikasi yang terjadi antara Haniyah dan Haris, ayolah Niyah kalau ada sesuatu yang terjadi bicarakan dengan baik' dan terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!