NovelToon NovelToon
Sendiri Di Tengah Ramai

Sendiri Di Tengah Ramai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.

Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.

Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.

Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.

Selamat membaca. Jangan kaget kalau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 Sindiran Tanpa Nama

Sejak nota itu nggak ketemu, suasana berubah tapi nggak ada yang mau ngomong terang-terangan. Aku ngerasa kayak ada yang bergeser sedikit bukan dramatis, tapi cukup bikin napas nggak enak. Orang-orang masih lalu-lalang, masih bercanda, masih ngerokok, tapi tiap kali aku lewat, ada jeda aneh. Setengah detik. Kadang cuma tatapan yang keburu dibuang. Kadang senyum yang dipaksakan, terus obrolannya pindah topik. Aku berusaha pura-pura nggak nangkep.

Aku capek. Badan capek, kepala lebih capek. Jadi aku pilih fokus ke kerjaan yang kelihatan. Angkat galon. Susun kardus. Beresin meja. Hal-hal yang kalau dikerjain, orang nggak bisa bilang aku nganggur.

Pagi itu panas. Matahari belum tinggi banget, tapi aula sudah gerah. Kipas nyala, tapi cuma muter angin panas. Kaosku lengket di punggung. Aku jongkok di dekat kardus snack, nyusun ulang isinya satu-satu, ngecek tanggal kedaluwarsa, ngehitung ulang. Tanganku bau plastik dan gula. “Eh,” suara seseorang dari belakang. Nggak manggil nama. Cuma “eh”. Aku nengok.

Beberapa anak berdiri dekat pintu, botol minum di tangan. Ada yang ketawa kecil, ada yang main HP. Aku nggak yakin suara tadi ke aku atau ke orang lain. “Kalau belanja muter-muter ya wajar aja sih,” lanjut suara itu. Nadanya santai. Kayak komentar iseng. Aku diem. Tanganku berhenti sebentar, tapi cuma sedetik. Aku lanjut nyusun.

“Tapi ya… masa nota bisa ilang?” tambah yang lain. Ketawa kecil. Nggak keras, tapi cukup jelas. Aku nggak nengok lagi. Perutku agak ngenceng, tapi aku maksa fokus ke kardus di depanku. Aku bilang ke diri sendiri: jangan reaktif. Bisa jadi mereka ngomong umum. Bisa jadi bukan soal aku. Bisa jadi cuma kebetulan. Walaupun aku tahu, nggak ada yang kebetulan banget di situasi kayak gini.

Aku berdiri, angkat satu kardus, jalan ke pojokan. Punggungku pegal. Lututku kerasa ngilu pas berdiri terlalu lama. Aku taruh kardus pelan-pelan. Pas balik badan, aku lihat Rara berdiri agak jauh, ngobrol sama dua orang. Mukanya datar. Dia nggak nengok ke aku. Bahkan kayak sengaja nggak nengok. Aku ngerasa kayak orang yang lagi diuji tapi nggak dikasih soal.

Siangnya, aku ke belakang aula buat ambil air minum. Di sana lebih sepi. Ada bangku panjang dari kayu, catnya sudah pudar. Aku duduk sebentar, minum pelan-pelan. Airnya anget. Nggak nyegerin, tapi cukup bikin tenggorokan basah.

Tara datang beberapa menit kemudian. Dia duduk di sampingku tanpa banyak suara. “Kamu kenapa?” tanyanya pelan. Aku geleng. “Nggak apa-apa.”

Dia nggak langsung nanya lagi. Cuma duduk. Itu yang bikin aku agak lega. Kadang yang capek itu bukan karena ditanya, tapi karena harus jelasin. Beberapa anak lewat di depan kami. Salah satu dari mereka nyeletuk, “Yang penting jangan sampe ada yang main-main sama uang.” Nggak ada nama. Nggak ada arah jelas. Tapi kalimat itu kayak dilempar tepat ke kami.

Tara nengok. Aku bisa lihat rahangnya ngenceng. Aku berdiri. “Aku mau ambil kabel,” kataku. Alasan seadanya. Aku cuma pengin menjauh. Aku jalan ke gudang kecil. Ruangan itu sempit, bau debu dan besi. Lampunya redup. Aku berdiri di situ beberapa detik, cuma buat napas. Dada aku naik turun lebih cepat dari biasanya. Aku ulang-ulang di kepala: nota itu memang ada. Aku ingat jelas aku nerima. Aku ingat aku lipat. Aku ingat aku taruh di tas kecil. Aku ingat semuanya sampai titik tertentu. Tapi setelah itu, ingatanku kayak bolong. Dan bolong itu sekarang jadi bahan omongan.

Sore makin turun. Kegiatan jalan terus. Aku tetap kerja. Aku nggak ngilang, nggak ngeluh, nggak duduk diam. Tapi tiap kali ada obrolan lewat, kupingku jadi lebih sensitif. “Kalau orangnya jujur, pasti berani jelasin.”

“Kadang orang keliatannya baik-baik aja.”

“Capek sih kalau harus ngulang belanja.”

Semua kalimat itu bisa umum. Bisa nggak ada hubungannya sama aku. Tapi karena nggak ada satu pun yang mau ngomong langsung, semuanya jadi terasa mengarah. Aku pengin ada yang manggil aku. Dudukin aku. Nanya langsung. Aku pengin jelasin dari awal sampai akhir. Aku pengin ngomong tanpa harus nebak-nebak. Tapi itu nggak terjadi. Yang ada cuma sindiran. Lemparan kalimat. Tatapan singkat.

Malamnya, rapat kecil. Duduk melingkar. Lampu aula dinyalain semua. Suara serangga dari luar masuk lewat jendela. Rara buka pembahasan soal dana. Suaranya datar, formal. Kayak lagi baca laporan.

“Beberapa pengeluaran masih perlu dicek ulang,” katanya. “Soalnya ada yang belum bisa dipertanggungjawabkan secara tertulis.” Aku ngerasa semua mata sebentar ngarah ke aku, lalu pindah lagi. Aku angkat tangan sedikit. “Nota yang kemarin aku cari lagi,” kataku. “Aku ingat nerimanya. Aku cuma belum ketemu.”

Rara mengangguk. “Iya. Makanya aku bilang perlu dicek.” Nada suaranya nggak nyerang. Tapi juga nggak ngebela. Seseorang nyeletuk dari ujung, “Ya semoga aja ketemu.” Ketawanya kecil. Tapi cukup bikin tengkukku panas. Rapat lanjut. Topik pindah. Tapi perasaan itu nggak ikut pindah. Setelah rapat, orang-orang bubar pelan-pelan. Aku beresin kursi. Tara bantu sebentar, lalu dia disuruh ke depan. Aku sendirian lagi. Aku duduk di kursi yang belum sempat disusun. Nunduk. Lantai aula kelihatan kusam. Ada bekas sepatu, bekas tanah kering. Aku ngerasa bodoh karena mikir, apa aku terlalu ceroboh? Padahal selama ini aku hati-hati. Tapi satu celah kecil cukup buat semua orang ragu. Aku pulang malam itu dengan langkah berat. Di motor, angin dingin kena wajahku. Jalanan sepi. Lampu jalan jaraknya jauh-jauh.

Di kepala, kalimat-kalimat itu muter lagi. Bukan teriak. Bukan marah. Justru yang pelan, yang santai, yang dibungkus candaan. Yang paling susah dibantah. Karena mau bantah gimana? Orangnya nggak nyebut nama. Sampai rumah, aku nggak langsung masuk. Aku duduk di motor sebentar, helm masih kepake. Nafasku berat. Tenggorokan kering lagi.Aku sadar satu hal malam itu: diam ternyata bisa lebih nyakitin daripada dimarahin. Karena dengan diam, aku dipaksa nebak. Dan nebak itu capek.

Besoknya, aku tetap datang pagi. Tetap kerja. Tetap senyum kecil kalau ketemu orang. Tapi di dalam kepala, aku mulai nyiapin diri: kalau sindiran ini terus jalan, aku nggak bisa selamanya pura-pura nggak dengar

1
@fjr_nfs
makasih yaaa... kamu jugaa...
Zanahhan226
kamu merasa semuanya harus sempurna, tapi juga ogah ribet. mirip aku, pen ada di setiap detail spya gk ada yg kelewatan. tapi lama" emg kerasa capeknya. bukan krna kerjaannya, tp krna dianggap nggak ngaruh.
Zanahhan226
dulu juga ijut pramuka, tpi bukan siapa" dan bukan apa"..
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
Zanahhan226
aku baca ini karna agak relate sama judulnya, entah ceritanya nanti ada yg relate juga atau enggak..
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
Zanahhan226
tulisannya lebih rapi dari novel yg kubaca seblumnya..
semangat trs utk berkarya, yah..
Zanahhan226
aku tim datang mepet pokoknya..
🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!