"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Perusahaan Kembali ke Tangan yang Tepat
Puisi untuk Mawar yang Mekar:
Dulu mereka melihat kelopak yang lunglai,
tertunduk di bawah bayang duri yang patah.
Mereka menyiram dengan hina, memupuk dengan tawa,
lupa bahwa mawar tak pernah mati—hanya menunggu musim.*
Kini tanah yang sama mengguncang di bawah langkahnya,
setiap duri menari dalam cahaya sorot kamera.
Mereka bertanya, "Bagaimana bunga yang layu bisa setajam ini?"
Mawar tersenyum: "Aku tak pernah layu. Aku hanya menyembunyikan duri dalam diam."
Mahkota bukan jatuh dari langit,
tapi direbut dari tangan yang lalai menjaganya.
Dan ratu yang lahir dari puing pengkhianatan,
takkan pernah kembali menjadi boneka.
---
Isi Cerita
Gedung Wijaya Tower menjulang di tengah hujan gerimis sore. Pantulan lampu kota membias di kaca-kacanya seperti ribuan permata yang menanti pemilik sah. Di lantai tiga puluh dua, ruang rapat utama yang biasanya sunyi kini berubah menjadi sarang lebah—wartawan, kameramen, dan para eksekutif berdesakan menyaksikan sejarah.
Alana Wijaya berdiri di belakang podium marmer hitam. Gaun merah darah membalut tubuhnya, sederhana tapi mematikan. Rambutnya disanggul rendah, hanya beberapa helai jatuh membingkai wajah. Di dadanya, bros berlian berbentuk mawar—peninggalan ibunya yang selama ini ia simpan dalam kotak usang.
Tiga tahun. Tiga tahun ia hidup dalam bayangan, dalam ejekan, dalam diam yang mereka kira ketakutan. Tiga tahun ia menanam duri-duri dalam sunyi. Kini, duri itu tumbuh menjadi hutan yang siap melukai siapa pun yang berani mendekat.
"Para pemegang saham yang terhormat," suaranya bulat, tenang, memantul di setiap sudut ruangan. "Dengan ini, sesuai rapat umum pemegang saham luar biasa yang telah disahkan oleh notaris dan Otoritas Jasa Keuangan..."
Ia berhenti sejenak. Matanya menyapu ruangan. Di barisan paling belakang, Richard berdiri dengan setelan abu-abu yang tiba-tiba terasa terlalu ketat. Wajahnya pucat, keringat mengucur meski AC ruangan menyala keras. Di sampingnya, Viola memegang lengan Richard erat-erat, tapi jemarinya gemetar hebat.
Alana menangkap getaran itu. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Hanya sesaat, tapi cukup untuk membuat Viola merasakan sambaran listrik dingin di tulang punggung.
"Saya, Alana Paramita Wijaya, secara sah dan resmi ditunjuk sebagai Direktur Utama baru Wijaya Group, menggantikan Saudara Richard Hartanto yang terbukti melakukan pelanggaran tata kelola perusahaan dan penggelapan dana."
Ruangan meledak dalam gemuruh tepuk tangan. Tapi tepuk tangan itu tak berarti apa-apa dibanding tatapan Richard yang hancur lebur. Ia membuka mulut, mencoba bicara, tapi suaranya tenggelam. Viola menariknya keluar, tapi kakinya seperti terpaku.
Alana melangkah turun dari podium. Tumit stiletto-nya berdetak di lantai marmer—tuk... tuk... tuk...—seperti hitungan mundur. Ia berjalan melewati para eksekutif yang membungkuk hormat, melewati Nathan yang berdiri di sudut ruangan dengan setelan hitam dan senyum tipis yang hanya ia mengerti.
Ia berhenti tepat di depan Richard.
"Pak Richard," sapanya halus. Bukan 'Mas', bukan 'Sayang'. Pak Richard. "Terima kasih atas pengabdiannya selama ini. Saya harap Anda menikmati masa pensiun dini."
Richard menelan ludah. Jakunnya naik turun. "Alana... kita bisa bicara baik-baik..."
"Oh, kita sudah bicara." Alana menyelipkan secarik kertas ke saku jas Richard. "Itu salinan laporan polisi. Selamat menikmati proses hukumnya."
Ia berbalik, meninggalkan Richard yang membeku. Viola mencoba menghadang, tapi Alana hanya melirik sekilas.
"Kau masih di sini?" tanya Alana lembut. Anehnya, nada lembut itu justru paling menakutkan. "Rumahku akan segera dijual. Kau punya waktu dua minggu untuk mengemasi barang-barangmu. Oh, kecuali pakaian-pakaian yang pernah kau pakai—karena itu milikku. Bakar saja."
Viola membuka mulut, tapi Alana sudah berlalu.
---
Di luar ruang rapat, koridor panjang berlapis marmer Italia menyambutnya. Alana berjalan sendirian, meninggalkan kerumunan yang masih riuh. Di ujung koridor, kaca besar memperlihatkan langit Jakarta yang mulai gelap. Lampu-lampu kota menyala satu per satu seperti kunang-kunang.
Ia berhenti di depan kaca itu. Menatap bayangannya sendiri.
"Selamat, Alana. Kau berhasil."
Suara itu—suara ayahnya—berbisik di ingatan. Alana memejamkan mata. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia mengizinkan air mata itu hadir. Bukan sedih, bukan lelah. Tapi semacam kelegaan yang menusuk.
"Kau menangis?"
Suara Nathan di belakangnya. Alana cepat-cepat mengusap pipi.
"Alergi AC," jawabnya datar.
Nathan tertawa pelan. Ia berdiri di samping Alana, ikut menatap bayangan mereka di kaca. Dua sosok yang sama-sama tahu bagaimana rasanya hidup dalam topeng.
"Cover majalah bisnis minggu depan sudah pesan tempat untukmu," kata Nathan santai. "Judulnya: Mawar Berduri yang Tak Lagi Layu. Aku yang kasih ide."
Alana menoleh, alis terangkat. "Kau ikut campur urusan redaksi sekarang?"
"Redaksi itu punya utang padaku." Nathan menyelipkan tangan ke saku celana. "Kupikir sudah waktunya dunia tahu siapa kamu sebenarnya. Bukan istri yang tertipu, bukan janda malang. Tapi ratu yang membangun kembali kerajaannya dari abu."
Alana diam. Hatinya berdesir—bukan karena sanjungan, tapi karena Nathan adalah satu-satunya yang melihat prosesnya, yang tahu setiap tetes keringat dan air mata di balik layar.
"Terima kasih," ucapnya akhirnya. Dua kata sederhana yang keluar dengan susah payah.
Nathan mengangguk. "Ada satu lagi."
"Apa?"
"Aku punya informasi. Tentang siapa sebenarnya yang mendanai Richard saat pertama kali dia menjatuhkan perusahaan ayahmu."
Alana menoleh cepat. Mata mereka bertemu. Di kaca, bayangan mereka seperti dua pedang yang saling beradu.
"Bukan Viola," lanjut Nathan. "Viola hanya umpan. Ada dalang lain. Seseorang yang masih bergerak bebas, dan sangat dekat denganmu."
Jantung Alana berhenti sejenak. Debar mengganti ritme.
"Siapa?"
Nathan menggeleng. "Aku belum bisa bilang sekarang. Tapi kau harus tahu—perang ini belum selesai. Yang kau rebut hari ini hanya satu benteng. Masih ada musuh yang menunggu di luar gerbang."
Alana mengepalkan tangan. Bros mawar di dadanya terasa menusuk—atau mungkin itu hanya peringatan dari dalam.
---
Di tempat parkir basement, Richard membanting setir mobilnya. Viola menjerit.
"KAU BISIKAN AKU DIAM SAJA?! KAU TAHU APA YANG TERJADI? KITA HANCUR!"
Viola memegangi dashboard. "Aku juga kaget! Aku nggak nyangka dia sekuat itu!"
"DIA ALANA! Istriku yang selama tiga tahun aku rebahkan di rumah sakit jiwa!" Richard membentak. "Kau bilang dia lemah, kau bilang dia nggak berdaya!"
"Karena dia memang lemah!" Viola membalas. "Atau... atau kita yang tertipu?"
Richard diam. Kemarahannya berubah jadi ketakutan dingin. "Kita harus pergi. Cepat. Ambil semua uang yang masih tersisa."
"Tapi rekening kita dibekukan!"
Richard tersenyum pahit. "Untungnya, aku punya satu rekening rahasia. Atas nama..." ia berhenti, "...atas nama ibuku."
Viola menghela napas lega. Tapi Richard belum selesai.
"Tapi itu artinya kita harus ke Surabaya ambil buku tabungannya. Sekarang."
Mobil melaju kencang meninggalkan basement. Di kaca spion, gedung Wijaya Tower menjulang semakin kecil. Tapi Richard tidak tahu—atau belum tahu—bahwa di dalam mobilnya, sebuah alat pelacak kecil tersembunyi di balik jok belakang. Lucas Tan tersenyum di ruang kendalinya, melihat titik merah bergerak di peta.
---
Cliffhanger:
Dua minggu kemudian.
Alana duduk di kantor baru—kantor yang dulu milik ayahnya, lalu direbut Richard, kini kembali dengan namanya di papan pintu. Ia sedang menandatangani dokumen ketika ponselnya berdering. Nomor asing.
"Halo?"
"Halo, Nona Alana." Suara perempuan tua, parau, tapi entah kenapa terasa akrab. "Saya pengurus rumah sakit jiwa tempat ibu Anda dirawat. Ibu Anda... menunjukkan perkembangan. Dia minta bertemu Anda."
Alana terdiam. Pena di tangannya jatuh.
Ibu?
Ibunya sudah meninggal dua puluh tahun lalu. Saat Alana berusia lima tahun, ayahnya berkata bahwa ibunya pergi dan takkan kembali. Ia tumbuh tanpa pernah bertanya lagi.
"Maaf, Ibu... siapa?"
Suara di seberang berdecak pelan. "Nona, ibu kandung Anda masih hidup. Dan dia sudah menunggu selama dua puluh tahun untuk melihat Anda lagi."
Alana merasakan dunia berputar. Di luar jendela, langit Jakarta yang cerah tiba-tiba terasa kelabu.
"Siapa ibu saya?" bisiknya.
"Nama beliau... Ratna Wijaya. Mantan istri pertama mendiang Hendra Wijaya."
Dan seperti itu, di tengah kemenangan yang baru ia raih, tanah di bawah kaki Alana retak. Sebuah rahasia yang lebih dalam dari pengkhianatan Richard, lebih tua dari ambisi Viola, membuka mulutnya.
---
Bersambung....(ノ゚0゚)ノ→
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄