"Aku bukan sekadar asistennya, aku adalah pelarian dari melodi sunyi yang ia ciptakan sendiri."
Ghava Dirgantara adalah produser musik jenius yang memiliki segalanya: kekayaan, bakat, dan visual menawan. Namun, di balik kesuksesannya, ia adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan sang mantan kekasih di panggung penghargaan tiga tahun lalu membuatnya berubah menjadi sosok dingin yang dijuluki "Kulkas Antartika". Baginya, cinta hanyalah sampah yang merusak frekuensi musiknya.
Hingga muncul Nadine, asisten baru yang ceroboh namun memiliki telinga musik yang tajam. Nadine datang bukan dengan cinta, melainkan dengan luka yang sama dalamnya—ditinggalkan oleh tunangannya tepat sehari sebelum pernikahan.
Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas bos galak dan asisten yang tertindas. Mulai dari hukuman membersihkan studio hingga insiden "sambal maut" yang membuat Nadine harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, suasana berubah saat masa lalu mereka kembali mengetuk pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUMIS STROBERI MAS KULKAS
Ghava mengeluarkan kartu dari dompetnya, namun segera urung dan menyimpannya kembali saat melihat Nana sudah sangat bersemangat dengan ponselnya. Ia mencoba kembali fokus ke layar komputer, namun telinganya tetap tidak bisa berhenti mencuri dengar gumaman Nana.
"Nadin, coba pesenin saya Americano. Minuman buat kamu satu," ucap Ghava, nadanya tetap datar, tapi ada sedikit nada canggung di ujung kalimatnya.
Nana yang tadinya masih sibuk merapikan kertas, langsung mendongak. Matanya berbinar lebih terang dari lampu studio. "Tumben? Mas Ghava lagi dapet rezeki nomplok atau habis menang undian sabun cuci?"
"Bayaran karena kamu berhasil nanganin Elvario kemarin," tambah Ghava cepat, seolah butuh alasan logis untuk membenarkan kebaikannya. "Dan supaya kamu berhenti bahas soal traktiran mi instan itu."
Nana terkekeh, jarinya lincah menari di atas layar ponsel. "Wahhhhhhh... sebenernya gabaik itu Americano pagi-pagi, perut Mas bisa kaget tahu! Pahit banget kayak omongan Mas Ghava. Tapi karena Mas mau bayarin, ya udah, aku beliin. Lumayan, dapet asupan kafein gratis!"
Sambil membuka aplikasi pesan antar, Nana mulai berkomentar soal menu. "Mas, ini Americano-nya mau yang biji kopinya dari mana? Ada yang dari Aceh, ada yang dari Flores. Atau mau yang pahitnya pas kayak kenangan mantan?"
Ghava menghela napas, mencoba menahan senyum yang hampir lolos. "Terserah. Yang paling tidak banyak bicara."
"Berarti bukan kayak aku ya? Oke, dicatat," sahut Nana riang. "Kalau aku, aku mau Strawberry Milkshake pake topping keju yang banyak! Biar hidup aku manis, nggak kayak studio ini yang isinya cuma suara bass sama muka jutek."
"Keju? Di atas stroberi?" Ghava mengernyitkan dahi, menoleh ke arah Nana dengan tatapan tidak percaya. "Selera kamu bener-bener... eksperimental."
"Biarin! Namanya juga hidup, Kak. Harus banyak rasa," Nana menjulurkan lidahnya. "Sudah dipesan ya! Lima belas menit lagi sampai. Oh iya, Mas... makasih ya."
Suara Nana yang tiba-tiba melunak saat mengucapkan terima kasih itu membuat Ghava tertegun sejenak. Ia tidak melihat ke arah Nana, hanya mengangguk kecil.
"Sama-sama. Sekarang kembali ke karpet kamu. Saya mau mixing vokal Elvario," ucap Ghava, kembali ke mode seriusnya.
Namun, ruangan itu tidak lagi terasa kaku. Kehadiran Nana dengan aplikasi ojek online-nya, debat kecil soal keju di atas stroberi, dan aroma kopi yang sebentar lagi datang, perlahan-lahan mulai mengubah studio itu dari sekadar "kantor" menjadi sesuatu yang terasa seperti... rumah.
Beberapa menit kemudian, pintu studio diketuk. Nana dengan riang menjemput pesanan mereka dan kembali dengan dua cup di tangannya. Namun, bukannya memberikan Americano hitam pekat milik Ghava, ia justru meletakkan cup berisi cairan merah muda pucat dengan tumpukan whipped cream dan parutan keju yang melimpah di depan sang produser.
"Nih, Mas. Diminum ya," ucap Nana dengan nada tanpa dosa.
Ghava menatap minuman "ajaib" di depannya itu dengan dahi berkerut dalam. Ia kemudian melirik cup yang dipegang Nana—sebuah cup transparan berisi kopi hitam dingin tanpa gula.
"Saya kan pesan Americano," ucap Ghava datar, matanya beralih menatap Nana. "Kenapa Americano-nya kamu pegang? Bukannya kamu bilang milkshake ini buat kamu?"
Nana mengerjipkan mata, wajahnya dipasang seolah-olah ia baru saja kehilangan ingatan jangka pendek. "Apa iya? Aduh, kayaknya aku yang lagi pengen Americano deh hari ini. Salah pencet mungkin?"
Tanpa memberi kesempatan Ghava untuk protes, Nana segera menusukkan sedotan ke dalam milkshake stroberi itu dan menyodorkannya tepat ke depan bibir Ghava. "Ayo coba dulu, Mas. Jangan diliatin doang, dia nggak bakal berubah jadi kopi kalau cuma dipelototin."
Terdesak oleh paksaan halus Nana, Ghava akhirnya menyesap minuman manis itu. Rasa stroberi yang creamy bercampur gurihnya keju meledak di lidahnya. Ia terdiam sejenak, mengecap rasa yang sangat asing bagi seleranya yang biasanya serba pahit.
"Enak. Nggak seburuk yang saya kira," ucap Ghava pelan, kejujuran itu lolos begitu saja.
Nana tersenyum, kali ini bukan senyum jahil, melainkan senyum yang terasa hangat. "Aku tahu hidup Mas nggak manis. Setidaknya, harus ada perubahan rasa di hidupmu, biar nggak hambar terus," ucapnya lembut.
Setelah momen puitis singkat itu, Nana segera menyeruput Americano di tangannya dengan gaya sok keren. Namun, sedetik kemudian, wajahnya langsung berkerut hebat. Matanya menyipit dan mulutnya terkunci rapat menahan rasa pahit yang luar biasa.
"Aw! Pahit banget ternyata!" seru Nana sambil menjauhkan cup itu darinya. "Mas Bos, aku mau ambil susu dan gula dulu di pantry. Good bye!"
Ia buru-buru berbalik menuju pintu, membawa lari kopinya.
"Tadi katanya kamu yang mau Americano?" sindir Ghava, menahan tawa melihat tingkah asistennya yang gagal keren itu.
Nana menoleh sebentar di ambang pintu, memberikan cengiran lebar. "Akting!" serunya singkat sebelum menutup pintu studio dengan cepat.
Ghava menggeleng-gelengkan kepala, kembali menatap milkshake stroberi dengan topping berantakan di depannya. Ia menyesapnya lagi, kali ini dengan senyum yang tidak lagi ia sembunyikan. Benar kata Nana, hidupnya memang butuh perubahan rasa, dan sepertinya "rasa" itu baru saja lari ke pantry untuk mencari gula.
Di pantry, Mbak Yane hampir menjatuhkan sendoknya saat melihat Nana sibuk menuangkan tiga saset gula dan krimer ke dalam cup kopi hitam.
"Lho, kamu sejak kapan minum Americano pekat begitu, Na?" tanya Mbak Yane heran.
Nana menghela napas dramatis, wajahnya dibuat semelas mungkin. "Punya Mas Kulkas, Mbak. Coba Mbak bayangin, dia minum milkshake stroberiku tanpa izin!" ucapnya sambil mengaduk kopi itu dengan tenaga ekstra.
Mbak Yane meletakkan cangkirnya, matanya membelalak tidak percaya. "Yang bener? Ghava minum milkshake? Yang pakai stroberi dan keju-keju itu?"
Bagi Mbak Yane, membayangkan Ghava—pria yang hidupnya hanya berisi kopi hitam dan idealisme musik—memegang minuman berwarna merah muda adalah hal yang mustahil. Itu setara dengan melihat singa makan stroberi.
"Kalau Mbak nggak percaya, intip aja. Pura-pura nggak tahu ya," ucap Nana sambil memasang wajah pura-pura sedih, seolah-olah ia adalah korban perampasan minuman. "Aku yang beli, eh aku juga yang harus minum 'air tinta' ini."
Terdorong rasa penasaran yang luar biasa, Mbak Yane berjalan berjinjit menuju arah studio. Ia membuka sedikit celah pintu, cukup untuk mengintip ke dalam ruangan kontrol yang biasanya tegang itu.
Di dalam sana, Ghava tidak sedang bekerja. Pria itu tampak duduk bersandar, memegang cup milkshake stroberi milik Nana dengan kedua tangan. Bukannya merasa jijik, Ghava justru terlihat menikmati setiap sesapan krim manis itu sambil menatap layar monitor dengan pandangan yang jauh lebih rileks dari biasanya. Bahkan, ada sisa whipped cream tipis di ujung bibirnya yang tidak ia sadari.
Mbak Yane segera menutup celah pintu dan kembali ke pantry dengan wajah syok.
"Gimana, Mbak? Percaya kan?" tanya Nana, menahan tawa melihat ekspresi Mbak Yane.
"Na... kamu beneran ajaib," bisik Mbak Yane. "Lima tahun aku di sini, baru kali ini aku lihat Ghava nggak kelihatan kayak mau makan orang setelah minum sesuatu yang manis. Kamu apakan dia?"
Nana menyeringai lebar, menyesap Americano-nya yang sekarang sudah berubah menjadi kopi susu manis. "Nggak diapain, Mbak. Mas Ghava itu cuma butuh diingetin kalau dunia ini nggak selamanya sepahit kopi."
Mbak Yane menggeleng-geleng. "Atau mungkin dia cuma nggak tega nolak apa pun yang kamu kasih, Na."
Nana masuk kembali ke studio dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan, membawa cup kopinya yang kini sudah berubah warna menjadi cokelat terang karena timbunan susu dan gula.
Ia mendapati Ghava sedang duduk tegak, kembali menghadap monitor dengan ekspresi yang dipasang seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Namun, cup milkshake di meja Ghava sudah kosong melompong, hanya menyisakan jejak merah muda di dasar gelasnya.
Nana sengaja berdiri tepat di depan meja kontrol, menghalangi pandangan Ghava ke layar.
"Americano aja, Na... nyenyenye..." Nana mulai meledek, menirukan suara berat Ghava dengan nada yang dibuat-buat tinggi dan lucu. "Abis juga kan itu milkshake-nya? Katanya nggak doyan, katanya aneh, tapi disedot sampe bunyi 'sruk' terakhir!"
Ghava berdehem keras, berusaha tetap terlihat berwibawa meski ia sadar posisi "Mas Kulkas"-nya sedang terancam runtuh. "Itu... saya cuma nggak mau buang-buang makanan. Pamali," dalihnya asal, matanya tetap berusaha fokus ke layar monitor.
"Halah, alasan!" Nana mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit penuh selidik. "Ngaku aja, Kak. Enak kan? Seger kan? Rasanya kayak dapet pelukan di tengah musim salju?"
Ghava tidak menjawab, tapi tangannya yang sedang memegang mouse tampak sedikit ragu.
Nana tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk wajah Ghava. "Aduh, Mas Bos! Itu lho, kumis putihnya masih nempel!"
"Kumis apa?" Ghava mengernyitkan dahi.
"Itu, sisa whipped cream di bibir atas Kakak! Tuh kan, beneran dinikmatin banget sampe nggak sadar kalau udah ada kumis stroberi!" Nana tertawa makin kencang, suaranya memenuhi ruangan studio yang kedap itu.
Ghava refleks menyentuh bibir atasnya dengan ibu jari. Benar saja, ada sedikit sisa krim di sana. Wajahnya yang pucat mendadak merona merah sampai ke telinga. Dengan gerakan cepat, ia mengusap bibirnya dengan tisu, lalu membuangnya ke tempat sampah seolah-olah itu adalah barang bukti kejahatan.
"Puas tertawanya?" tanya Ghava dingin, tapi ada nada geli yang tersembunyi di sana.
"Puas banget!" Nana menyeka air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa. "Oke, oke. Karena Mas Bos sudah 'insyaf' dan mau minum stroberi, aku bakal kerja beneran sekarang. Mau track vokal Elvario yang mana dulu yang harus aku rapikan dokumennya?"
Ghava menatap Nana sejenak, lalu memberikan sebuah folder di atas meja. "Yang itu. Dan Nadin..."
"Ya, Mas Kulkas?"
"Besok... jangan beli Americano lagi buat saya," ucap Ghava pelan sambil kembali menatap layar.
Nana tersenyum sangat lebar. "Ooooh, jadi mau milkshake lagi ya besok? Dicatat, Bos!"
Ghava tidak membantah. Ia hanya membiarkan "kebisingan" Nana kembali memenuhi ruangan itu, menyadari bahwa ia mulai tidak keberatan jika studio kesayangannya ini tidak lagi sepi.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰