NovelToon NovelToon
Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.

Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanah Cenderawasih

Produksi massal Corel ess Electromagnetic Generator kini menemui tembok besar. Komponen inti mesin tersebut membutuhkan Neo dium elemen tanah jarang yang berfungsi sebagai magnet permanen berkekuatan tinggi. Masalahnya, pasokan dunia sedang dikunci oleh konsorsium Nexus Group. Namun, berdasarkan data geologi lama milik Bapak, cadangan Neo dium murni dengan kualitas terbaik berada di sebuah wilayah terpencil di pegunungan tengah Papua.

"Bagas, wilayah itu adalah zona merah," ujar seorang jenderal utusan Presiden di kantor Badan Energi Nasional. "Ada kelompok separatis yang menduduki area tambang rakyat di sana. Mereka didanai pihak luar untuk memastikan sumber daya itu tidak sampai ke tangan kita."

Bagas melihat peta. Ia tahu, mengirim militer hanya akan memicu tumpah darah dan kebencian rakyat lokal. "Saya akan pergi ke sana sendiri, tanpa senjata. Saya akan bicara sebagai sesama rakyat, bukan sebagai pejabat."

Bapak sempat melarang. "Gas, itu nyawa taruhannya. Kamu itu ahli mesin, bukan diplomat perang."

"Pak, mereka marah karena merasa kekayaannya diambil tapi mereka tetap gelap gulita tanpa listrik. Saya ke sana membawa solusi, bukan janji," jawab Bagas mantap.

Bagas terbang ke Timika, lalu melanjutkan perjalanan dengan helikopter kecil menuju sebuah desa bernama Wa muka . Begitu mendarat di landasan tanah, Bagas langsung dikepung oleh puluhan pria dengan busur panah dan senjata rakitan. Pemimpin mereka, seorang pria tua bernama kepala suku kale ,menatap Bagas dengan kebencian yang mendalam.

"Kalian orang kota datang hanya untuk mengeruk tanah kami dan pergi meninggalkan lubang!" teriak Kaleb.

Bagas mengangkat kedua tangannya. Ia tidak memakai jas, hanya kaos oblong dan celana kargo, mirip saat ia masih menjadi kuli gudang. "Saya datang bukan untuk membeli tanah Anda, Bapak Kaleb. Saya datang untuk meminta izin menukar sedikit batu hitam itu dengan cahaya yang tidak akan pernah padam."

Bagas mengeluarkan sebuah tas kecil. Di dalamnya ada purwarupa generator mini yang sudah ia siapkan. Tanpa banyak bicara, ia merakit generator itu di depan balai desa menggunakan aliran air sungai kecil di samping mereka. Dalam hitungan menit, untuk pertama kalinya dalam sejarah desa itu, lampu-lampu LED menyala terang di tengah hutan Papua.

Anak-anak desa bersorak. Kaleb tertegun. Kebencian di matanya sedikit luruh oleh rasa takjub.

"Berapa harga lampu ini?" tanya Kaleb ragu.

"Gratis untuk Wa muka," jawab Bagas. "Jika kalian mengizinkan kami menambang Neo dium secara ramah lingkungan di sini, setiap rumah di pegunungan ini akan mendapatkan mesin yang sama. Anak-anak kalian bisa belajar di malam hari tanpa asap lampu minyak."

Namun, di tengah negosiasi itu, suara tembakan terdengar dari kejauhan. Kelompok tentara bayaran suruhan Nexus Group yang menyamar sebagai gerilyawan mulai menyerang desa tersebut. Mereka ingin membunuh Bagas dan merebut lokasi tambang tersebut sebelum kesepakatan terjadi.

Kekacauan pecah. Bagas terseret ke dalam perlindungan di balik pohon besar. Ia melihat desa yang baru saja merasakan cahaya kini terancam hancur oleh keserakahan global.

"Bapak Kaleb, bawa warga ke gua! Saya akan alihkan perhatian mereka!" teriak Bagas.

Bagas menggunakan keahlian logistiknya untuk membaca medan. Ia tahu pengejar mereka menggunakan sensor panas. Bagas memanipulasi generator mini tadi, meningkatkan putarannya secara paksa hingga menghasilkan gelombang elektromagnetik yang sangat kuat.

BZZZZZT!

Gelombang itu mengacaukan alat komunikasi dan navigasi para penyerang. Dalam kegelapan dan kekacauan sinyal, Bagas berhasil memandu warga desa melalui jalur rahasia yang ia pelajari dari peta kontur logistiknya.

Pertempuran itu berakhir saat pasukan elit TNI yang memantau dari kejauhan atas perintah rahasia Bagas turun dari helikopter setelah mendapatkan koordinat pasti dari Bagas. Para tentara bayaran itu diringkus.

Keesokan harinya, Kepala Suku Kaleb menjabat tangan Bagas dengan erat. "Kamu bukan orang kota biasa. Kamu orang yang punya hati. Tanah ini mengizinkanmu mengambil batunya, asalkan cahaya ini tetap tinggal bersama kami."

Bagas pulang dengan kesepakatan bersejarah. Ia tidak hanya mendapatkan bahan baku untuk produksi massal, tapi ia juga berhasil memenangkan hati rakyat Papua melalui sentuhan kemanusiaan, bukan kekerasan.

Sesampainya di Jakarta, Bagas disambut bak pahlawan nasional. Namun, saat ia masuk ke rumahnya, ia melihat Ibu sedang duduk menangis. Di atas meja, ada sebuah surat kaleng dengan foto Bapak dan Ibu yang sedang dipantau melalui lensa bidik senapan runduk (sniper).

Pesan di surat itu singkat: "Mesin itu atau nyawa mereka."

Bagas terhenyak. Nexus Group telah melintasi batas terakhir. Mereka tidak lagi menyerang bisnis atau karirnya, melainkan keselamatan orang paling berharga dalam hidupnya.

1
Theresia Sri
keren, ceritanya urut, konfliknya bagus, tidak ada kata yang hanya berfungsi untuk menambah kata memenuhi kuota, keren tor, lanjutkan dengan karya-karya baru yang konsisten mengisi jiwa pembacanya dengan hal-hal yang positif
Theresia Sri
cerita yang bagus tor, ditunggu kelanjutannya 😍
Kal Ktria
sabar ya masi dalam proses update masi panjang kok🙏
BoimZ ButoN
dah tamat ni teh 😅
BoimZ ButoN
muantabs semangat thhooor 💪
Sri Jumiati
carí kerja susah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!