NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Istri Buta Sang CEO

Transmigrasi Ke Istri Buta Sang CEO

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / CEO / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam / Orang Disabilitas / Dokter Genius / Tamat
Popularitas:5.7M
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Nova Spire, seorang ahli medis dan racun jenius, tewas tragis dalam ledakan laboratorium saat mencoba menciptakan obat penyembuh paling ampuh di dunia. Tapi kematian bukan akhir baginya, melainkan awal dari kehidupan baru.

Ia terbangun dalam tubuh Kaira Frost, seorang gadis buta berusia 18 tahun yang baru saja meregang nyawa karena dibully di sekolahnya. Kaira bukan siapa-siapa, hanya istri muda dari seorang CEO dingin yang menikahinya demi tanggung jawab karena membuat Kaira buta.

Namun kini, Kaira bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak seenaknya. Dengan kecerdasan dan ilmu Nova yang mematikan, ia akan membuka mata, menguak kebusukan, dan menuntut balas. Dunia bisnis, sekolah elit, hingga keluarga suaminya yang penuh tipu daya, semua akan merasakan racun manis dari Kaira yang baru.

Karena ketika racun berubah menjadi senjata tak ada yang bisa menebak siapa korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Delon dan Deilin

"Siapa kau gadis kecil?" tanya Delon dengan suara dingin tanpa basa-basi.

Kaira terlihat santai, lalu berkata. "Halo Delon! Deilan, apa kabar kalian?" sapanya.

Kedua saudara kembar itu terkejut, namun itu hanya sesaat mereka langsung kembali berwajah dingin.

Pria itu, dengan suara berat dan datar, kembali bertanya. "Bagaimana mungkin seorang gadis muda sepertimu bisa menghubungiku dengan kode rahasia itu?"

Mata elangnya menatap Kaira dengan tajam.

Wanita di sebelahnya juga menatap penuh kecurigaan. "Hanya ada tiga orang yang mengetahui kode itu," lanjut pria tersebut. "Aku, Delon, dan ... seseorang yang sangat kami hormati."

Mendengar nada tuduhan itu, Kaira hanya tersenyum tipis. Ia bersandar santai di kursinya dan berkata dengan nada main-main, "Baru beberapa hari tidak bertemu, kau sudah menjadi sangat kasar, Delon."

Delon mengernyit. Wajahnya langsung mengeras, begitu juga dengan Deilin.

Kemarahan mereka mulai tampak, seolah merasa dipermainkan.

"Kami tidak memiliki waktu untuk lelucon, gadis kecil," sahut Deilin tajam. "Kami terbang dari Altaria ke Elyndor karena pesan itu. Jika ini hanya gurauan, kau tidak akan selamat dari tanganku."

Kaira hanya mengangkat bahu acuh. "Wah, bahkan mengancam sekarang? Dulu kalian lebih manis," ujarnya ringan, membuat Delon mengetukkan jarinya ke meja, tanda kesabaran yang mulai habis.

Delon dan Deilin mulai beranjak berdiri.

Delon bahkan sudah menoleh ke arah pintu, siap meninggalkan tempat itu.

Namun, tepat saat itu, Kaira membuka mulutnya dan berkata pelan, "Aquila non capit muscas."

Langkah keduanya langsung terhenti.

Delon menoleh cepat, matanya menyipit.

Deilin membeku di tempatnya, tangannya mengepal di sisi tubuh.

"Ulangi," perintah Delon, suaranya rendah namun bergetar.

Kaira tersenyum samar, lalu mengulangi dengan tenang, "Aquila non capit muscas."

Keheningan memenuhi ruang privat itu.

Itu adalah kalimat sandi lama mereka—hanya diketahui oleh Nova, Delon, dan Deilin.

Artinya: "Elang tidak menangkap lalat."

Kalimat itu selalu digunakan Nova untuk menenangkan kedua saudara kembar itu saat mereka terlalu gegabah.

Delon dan Deilin saling bertukar pandang.

Mereka kembali duduk perlahan, kini dengan wajah serius, bahkan sedikit gugup.

Deilin memandang Kaira dengan tatapan tajam. "Siapa kau ... sebenarnya?" tanyanya, setengah berbisik.

Kaira, masih dengan senyumnya yang tenang, mengangkat cangkir tehnya. Dengan suara lembut namun penuh keyakinan, ia menjawab, "Bukankah kalian sudah tahu jawabannya?"

Delon menahan emosinya yang semakin memuncak. Ia menggebrak meja keras hingga peralatan makan di atas meja berguncang.

Brak!

"Cukup bermain-main! Katakan siapa kau sebenarnya!" bentaknya dengan mata tajam menatap Kaira.

Namun, Kaira tetap tenang, bahkan nyaris terlihat malas merespons ledakan amarah itu. Sebelum sempat ia menjawab, seorang pelayan datang membawa nampan berisi makanan.

"Silakan, pesanan Anda," kata pelayan itu sopan, lalu meletakkan makanan di atas meja.

Delon dan Deilin secara refleks melirik hidangan yang baru disajikan. Mata keduanya langsung membelalak, di hadapan mereka terhidang makanan favorit masing-masing.

Steak lada hitam untuk Delon. Pasta carbonara untuk Deilin. Dan seporsi sup krim jamur, makanan kesukaan Nova.

Ketiga makanan itu adalah hidangan khas Elyndor yang selalu mereka nikmati bersama saat waktu luang, meskipun mereka berasal dari negara Altaria.

Kaira, si gadis buta, tersenyum kecil dan berkata dengan nada ringan, "Makanlah dahulu. Menghadapi kejutan juga butuh tenaga, bukan?"

Delon dan Deilin saling berpandangan, hati mereka bergejolak. Ada rasa marah, curiga, namun juga kerinduan yang tidak bisa ditepis.

Dengan gerakan kaku, Deilin mengambil garpu dan mulai menyuap sedikit pasta ke mulutnya. Delon pun akhirnya mengikuti, memotong sedikit steaknya lalu menyantapnya.

Begitu rasa makanan itu menyentuh lidah mereka, perasaan pahit menyeruak dalam dada.

Ingatan tentang Nova menyeruak begitu kuat.

Nova, yang selalu tersenyum saat memesan makanan ini untuk mereka. Nova, yang kini dikabarkan telah tiada.

Mata Deilin mulai memerah, tangannya gemetar memegang garpu. Sementara Delon menggertakkan rahangnya, mencoba menahan emosi yang membuncah.

Suasana hening mendominasi ruang privat itu selama beberapa menit. Hanya suara sendok garpu yang sesekali bersentuhan dengan piring terdengar.

Akhirnya, Deilin meletakkan garpunya dengan keras, menatap Kaira dengan mata berkaca-kaca.

"Mengapa ... mengapa kau tahu semua ini?" bisiknya, suaranya bergetar menahan isak.

Delon juga menatap Kaira penuh amarah dan rasa sakit. "Jika ini semua hanya lelucon ... aku bersumpah akan—"

Belum sempat Delon menyelesaikan ancamannya, Kaira menengadahkan wajahnya sedikit, seolah memandang mereka dengan mata butanya.

Dengan suara tenang namun menggetarkan hati, ia berkata, "Karena aku adalah Nova Spire."

Deg!

Kata-kata itu jatuh begitu saja, namun berat bagaikan petir yang menyambar dada keduanya.

Deilin menutup mulutnya, air matanya mulai tumpah. Delon terdiam membeku, seluruh tubuhnya kaku.

"Kalian ... pergi saat aku butuh bantuan," lanjut Kaira atau Nova dengan suara datar. "Tapi aku tidak menyalahkan kalian. Aku tahu ... ada misi yang harus kalian selesaikan."

Emosi Delon dan Deilin memuncak.

Mata Deilin berkilat tajam penuh kemarahan. Dengan gerakan secepat kilat, ia menghunus belati kecil dari saku jaketnya dan meluncurkannya lurus ke arah Kaira.

Grep!

Cukup satu detik, Kaira dengan refleks menangkap pergelangan tangan Deilin.

Ujung tajam belati itu kini hanya berjarak beberapa milimeter dari mata Kaira.

Jika sedikit saja terlambat, mungkin mata butanya sudah tertusuk.

Namun, Kaira tetap tenang, seolah ancaman itu bukan apa-apa. Ia menahan tangan Deilin dengan kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh.

Delon, yang melihat itu, langsung berdiri dan berteriak, "Siapa kau sebenarnya, hah?! Jangan mempermainkan kami!"

Kaira melepaskan tangan Deilin dengan satu hentakan ringan, membuat wanita itu terdorong mundur satu langkah. Ia lalu duduk kembali dengan santai, tangannya perlahan mengusap lengan bajunya seolah membersihkan debu imajiner.

"Aku sudah mengatakan, aku adalah Nova Spire," ujar Kaira dengan suara tenang, hampir tanpa emosi.

Delon mengepalkan tinjunya, matanya memerah menahan amarah. Deilin masih memegangi belatinya, tatapannya penuh ketidakpercayaan.

"Mustahil," gumam Deilin. "Itu ... itu hanya terjadi di dalam novel, bukan dunia nyata. Jiwa berpindah? Kau pikir kami akan percaya omong kosong itu?"

Kaira hanya tersenyum kecil. Ia lalu berkata pelan namun tegas, "Kalau aku bukan Nova, bagaimana aku tahu bahwa Deilin pernah kehilangan anting kembarannya di bawah jembatan Altaria, tepat pada ulang tahun kalian yang ke-18? Dan bagaimana aku tahu bahwa Delon pernah menangis diam-diam karena takut jarum suntik, namun berbohong kepada semua orang bahwa ia hanya terkena debu?"

Kedua saudara kembar itu membeku.

Tidak seorang pun tahu tentang rahasia kecil itu, kecuali mereka bertiga—Nova, Delon, dan Deilin.

Suasana menjadi sangat hening.

Hanya suara napas berat keduanya yang terdengar di ruangan itu.

Kaira menyilangkan tangannya di dada dan menambahkan, "Aku tahu ini sulit diterima. Tapi percayalah ... aku masih Nova, hanya saja di tubuh yang berbeda."

Delon perlahan menurunkan bahunya yang tegang. Deilin menjatuhkan belatinya ke meja, matanya mulai berkaca-kaca.

"Nova ... ini benar-benar kau?" bisik Deilin, suaranya gemetar.

Kaira mengangguk pelan, senyuman tipis tersungging di bibirnya.

"Sudah kubilang, bahkan dunia sekalipun tidak akan mampu memisahkan kita. Kalian pikir hanya kematian yang bisa mengakhiri segalanya?"

Delon menunduk, menggenggam erat ujung meja. Deilin akhirnya tak kuasa menahan air matanya yang mengalir di pipinya.

"Nova ... maafkan kami ... kami tidak berada di sisimu waktu itu," ucap Delon dengan suara serak.

Kaira menghela napas panjang. "Aku tidak pernah menyalahkan kalian. Tapi sekarang ... aku butuh bantuan kalian lebih dari sebelumnya."

Kedua saudara kembar itu serempak mengangguk, tanpa ragu.

"Apapun itu, kami bersamamu. Sampai mati sekalipun," ujar Delon penuh keteguhan.

1
Lrumi 07
Ya ampun Sky kamu nggak salah mau langsung lamar Kaira?
Lrumi 07
Akhirnya Sky tau kalau dalam tubuh Kaira ada Nova. Yang menarik Kaira, apakah Leonel?
Lrumi 07
Leonel buat apa kamu cemburu, bukannya kamu tak peduli sama Kaira. Kenapa sekarang kamu cemburu. Gimana kejutan dari Kaira?
Lrumi 07
Kejutan Sky udah mulai membuat semua orang begitu terkejut, tapi sepertinya ini baru permulaan. Leonel gimana kejutannya, suka?
Lrumi 07
Sky sudah mulai melakukan rencananya. Sementara Kaira masih bingung dengan sikap Sky. Apa yang akan terjadi ya di pesta nanti?
Lrumi 07
Lihatlah rencana kalian berdua gagal ibu mertua dan kekasih suaminya Kaira. Benar juga apa yang dikatakan Kaira untuk apa ia ambil pusing.
Lrumi 07
Kaira ini ada-ada aja sampai naik ke pohon segala apalagi sampai jatuh, beruntung ada sky saat kamu jatuh. Kalau nggak ada nanti kamu gimana? Kaira... Kaira...
Lrumi 07
Lolyta ini masih berani juga ya melawan Kaira. Lihatlah apa yang akan kamu dapatkan setelah ini.
Mochimolala
udh salah paham malah makin salah paham lagi🤣🤣🤣
Anna Rakhmawaty
part ini aku bacanya sampe deg deg an, seolah olah kaira itu guuee iya guueee🤣🤣
Mochimolala
Kaira kau terlalu baik sekali
Lrumi 07
Buat lah Leonel menyesal Kaira karena sudah memperlakukan kamu tidak baik dulu.
Lrumi 07
Jangan sampai kamu menyesal nanti Leonel kalau Kaira akan sama Sky.
Mochimolala
bodo kali orang tua satu ini, kau nyesel udah ga ada harapan lagi jiwanya Kaira udh metong baru di cari hadehhh hadehhh😒😒
Qillah julyan
secsaa garis besar,perpindaham nova,lebh kpd memang itu takdirnya,jd tdk ada alasann yg spesifik
Mochimolala
kurang ajar Sky baru juga ibunya nanya malah di putus dasar anak durhaka🤣🤣🤣🤣🤣
Mochimolala
racun cinta🤭
zz
ada juga orang yang bermuka tembok kayak maura
zz
ceritanya sangat menarik semoga sampai akhir macam tu
zz
jalan ceritanya takat ni cukup menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!