NovelToon NovelToon
Cincin Brondong Dosen Killer

Cincin Brondong Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam

Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.

Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.

Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Probabilitas Cinta

Dian Wulandari berusia dua puluh tujuh tahun saat itu bukan dosen, bukan pula perempuan galak yang disegani mahasiswa. Ia hanya seorang Dian—mahasiswa S3 Statistik di Bandung masih menyimpan mimpi-mimpi dan cinta pertama dengan utuh.

Nama laki laki itu Arif. Dosen muda flamboyan cerdas, sayang dan mencintainya sungguh. Dan di mata gadis naif itu, ia tampak seperti pahlawan yang turun dari novel picisan, film kacangan.

Tiga tahun mereka berdua, berjalan beriringan, makan, belajar di pustaka, bukan pacaran, begitu kata Arif. "Tunggu sampai kamu lulus S3. Fokus dulu, Dian. Cinta kita bisa menunggu."

Maka Dian menunggu dengan kesetiaan absurd yang kini ia sadari, lima belas tahun menjadi wanita bodoh.

 

Hari wisuda itu tiba. Gedung serba putih, toga yang dibayar dengan tabungan tiga bulan, dan ibu yang duduk di barisan paling belakang mata berkaca-kaca. Hari yang semestinya berlumur bahagia.

Pria tampan itu akhirnya datang. Dian melihatnya dari kejauhan, menyibak kerumunan, setangkai mawar putih di tangan—dua belas tangkai, ia hitung cepat, karena ia memang ahli menghitung. Jantungnya yang selama tiga tahun belajar sabar, tiba-tiba berlari kencang.

Arif berhenti tepat di depannya tersenyum. Tapi senyuman itu—Dian yang notabene penghitung data, tahu persis kapan sebuah senyum sampai ke mata dan kapan tidak. sampai ke mana-mana.

"Selamat, Dian," katanya jeda. Jeda terlalu panjang untuk sebuah kabar baik.

Dian menunggu dengan kesetiaan yang bodoh itu.

"Dik," suaranya turun setengah oktaf, "Mas...

" Pa Mas? Mas gak senang Dian berhasil?"

" Eh ..." Ia tergagap, wajahnya pucat, "Mas sangat senang."

" Ayo kita jumpai ibu...kaya' nya beliau sudah gak sabar."

"Dik..Mas mohon maaf..."Laki laki itu terhenti melangkah, bibirnya bergetar.

" Ada apa sih mas, jangan membuat Dian bingung."

 " Dian...mungkin ini pertemuan kita terakhir Mas ...

" Mas ? Mas memangnya mau kemana?"

Laki laki berkulit putih itu menunduk, " Mas harus menikah minggu depan."

" Apa ?"

Dunia berhenti berputar mungkin hanya tiga detik. Tapi tiga detik itu cukup lama untuk seorang perempuan melihat seluruh mimpinya runtuh dalam gerakan lambat.

"Menikah?"

"Mantan Mas sejak dari SMA..."

"Kenapa ?"

" Hamil."

Kalkulator di tangan Dian—hadiah wisuda dari ibu, dibeli dengan uang pensiun yang ditabung berbulan-bulan—mendadak seberat batu nisan. Ia memegangnya begitu erat hingga ujung plastiknya menusuk telapak tangan.

Dan di saat itu juga dunianya hancur seperti pisau yang menikam jantung, palu yang menghantam dada. Jadi selama ini dia hanya penunggu? Kata kata "aku sayang kamu" hanyalah simbol dusta. Dan bajingan itu berhubungan dengan mantan nya di belakang

Darah nya mendidih, Ia biarkan aku menunggu, sementara perut kekasihnya membuncit di kota lain?

Dian diam seribu bahasa, lidahnya membeku. mematung menatap nya, sementara ribuan mahasiswa berseliweran merayakan kelulusan dengan kegembiraan, berfoto, tertawa dan melempar toga keatas langit. Dan ia—ia sedang dikhianati di tengah pesta yang bukan pestanya.

"Saya... saya minta maaf," Arif menambahkan. Mawar putih itu masih di tangannya mengambang di antara jiwa yang bersedih dan tertekan.

Dian menunduk menatap kalkulator di tangannya, bunga mawar, dan laki laki itu —pahlawan roman picisan yang ternyata hanya karikatur.

Menangislah, bisik hatinya, menangislah di depan brengsek ini. Biar dia tahu kamu hancur. Tapi ia tidak menangis mengangkat wajah menarik napas dan menerima buket itu dengan tangan kuat tidak bergetar.

"Selamat," katanya satu kalimat, enam huruf tidak lebih.

Lalu ia berbalik meninggalkan Arif di tengah keramaian, tiga tahun yang tidak pernah diberi nama, meninggalkan semua "nanti" dan "tunggu" yang ternyata hanya penundaan.

Dian tidak tahu bagaimana ia sampai di terminal bus yang ia ingat hanyalah duduk di kursi paling belakang, buket mawar di pangkuan, kalkulator digenggam erat. Bus jurusan Jakarta mulai bergerak, lampu-lampu Bandung perlahan meninggalkannya.

Dan di situlah, di kursi paling belakang yang gelap, ditelan mesin bus yang menderu, ia akhirnya menangis. Air matanya mengalir begitu saja tanpa suara dan isak. Penumpang lain tidur atau pura-pura tidur, tidak ada yang peduli dan bertanya.

Dian menangis sepanjang perjalanan. Kadang berhenti sebentar, lalu mulai lagi ketika ingatan membayang, "tunggu mas ya dik" kamu orang spesial dihati, cinta bisa menunggu"

Bohong semua bohong.

Bus memasuki kota Jakarta, langit sudah hampir terang. Dian mengusap wajahnya, . Matanya bengkak, hidung tersumbat. Bajunya masih basah oleh air mata yang sudah mengering. Mawar putih itu mulai layu.

 ---

Di kosannya yang sempit, Ia menghapus nomor Arif. Tidak perlu konfirmasi, chat perpisahan, hapus, blokir dan selesai.

Ia membuang bunga itu ke tempat sampah. Dua belas tangkai. Berapa rupiah yang dibuang Arif untuk itu? Tidak penting. Yang penting, sejak hari itu, ia benci mawar putih.

Tapi kalkulator—kalkulator tua dari ibu—ia simpan. Karena ibu, karena sayang, satu-satunya hal yang tidak bisa dibohongi.

Dan sejak hari itu, Dian tidak pernah lagi menggunakan kalkulator untuk menghitung cinta.

 --

Cinta, ia putuskan, adalah variabel yang tak bisa diprediksi. Risikonya terlalu tinggi. Probabilitas kegagalannya mendekati satu.

Maka ia hidup dengan rumus baru: fokus pada hal-hal yang bisa dihitung. Studi. Karier. Pangkat. Ia menyelesaikan S3, menjadi dosen, lalu ketua jurusan. Dan perlahan, ia menjelma menjadi Dosen Killer—wanita yang tak pernah tersenyum pada mahasiswa, tak pernah berkencan, tak pernah lagi membuka pintu untuk siapa pun.

Mahasiswa bilang dia galak. Dosen lain bilang dia dingin. Dian tidak peduli. Dingin itu aman. Galak itu tidak perlu menjelaskan kenapa hatinya beku.

Sampai cincin murah itu datang. Dari pengirim tak dikenal. Dengan pesan yang mulai luntur termakan waktu: "Maaf, belum bisa kasih yang terbaik."

Dian menatap cincin itu sekarang. Melingkar di jari manis kirinya. Lima belas tahun setelah Arif.

"Arif juga bilang begitu," ingatannya pahit. "Tunggu mas nanti, kamu yang terbaik."

" Preeet."

Ia bohong memilih jalan, paling menyakitkan Arif memilih memberi tahu di hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya.

Dan kini—Dewa? Dewa yang bilang "cocok" tanpa pernah menjelaskan maksudnya? Dewa yang diam seribu bahasa saat melihat cincin ini?

Jemarinya mengusap kalkulator tua di meja. Benda yang sama sejak wisuda dulu. Tak pernah ia gunakan lagi untuk urusan hati.

Tapi malam ini—untuk pertama kalinya—ia tergoda menghitung. Probabilitas bahwa Dewa adalah pengirimnya. Probabilitas bahwa cinta bisa datang dua kali pada perempuan yang sama. Probabilitas bahwa di usia 38 tahun, dengan segala luka lama yang belum benar-benar kering, ia masih bisa percaya.

Hasilnya muncul di layar kalkulator, Error.

Error tidak bisa dihitung. Variabel tak lengkap. Data tak memadai.

Dian tersenyum getir tepat sekali cinta memang selalu error.

Seperti program yang tak pernah jalan mulus, rumus yang kehilangan satu variabel penting. Seperti hatinya lima belas tahun lalu mati di kursi belakang bus malam, dan sekarang—entah kenapa—berdetak lagi menanyakan hal yang sama.

Mungkin, pikirnya, ada variabel baru yang tak pernah masuk hitungan, namanya Dewa.

Tapi matanya kembali ke kalkulator. Ke tombol-tombol yang dulu ia hapal di luar kepala. Ke benda yang setia menemaninya sejak ibu pergi, sejak Arif pergi, sejak semua pria pergi karena ia terlalu kalah untuk mereka cintai.

Error lagi

Dian mematikan kalkulator memandang cincin di jarinya.

"Mungkin," bisiknya pada ruang kosong, "memang bukan untuk dihitung."

Untuk pertama kali dalam lima belas tahun, ia melepaskan kalkulator dari genggaman. Dan untuk pertama kali, ia membiarkan hatinya—yang beku dan penuh sesal—berbicara tanpa rumus.

1
anggita
salah kirim antara shasa dan dian..? 🤔
Ddie: ya mba...seharusnya untuk Sasha jatuh ke Dian...dosen killer
total 1 replies
anggita
like👍, 2iklan☝☝
Ddie: yeee ...thanks mba Anggi ....ciaat...yea...tunggu aku, Purnama !! aku ikut

Kalau mba anggi nulis keren
total 1 replies
Ddie
cinta salah kirim, lucu, koplak dan membuat hati meringis🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!