NovelToon NovelToon
DxD : Phenex Rebirth

DxD : Phenex Rebirth

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Terlahir kembali sebagai Riser Phenex—bangsawan iblis paling dibenci dengan reputasi sampah—bukanlah pilihan yang buruk bagi seorang pemuda dari dunia modern. Dengan sistem "Yui" yang bermulut tajam namun setia, serta kekuatan terlarang dari masa lalu yang terkubur (Meliodas), Riser memutuskan untuk berhenti mengejar wanita yang tidak menginginkannya. Di hari Rating Game yang seharusnya menjadi kehancurannya, dia justru membakar naskah takdir. Dia membatalkan pertunangan, melepaskan gelar "pecundang", dan mulai membangun "keluarga" sejatinya sendiri. Dari pedang Saeko Busujima hingga kesetiaan Yasaka, Riser tidak hanya ingin bertahan hidup; dia ingin mendominasi dunia supranatural dengan gaya yang elegan, sarkastik, dan tak terbantahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Intervensi Sang Gagak

Suara dentingan logam antara Excalibur Rapidly dan katana milik Saeko menciptakan gema yang menyakitkan telinga di dalam aula gereja yang dingin. Freed Sellzen kini tampak seperti binatang buas yang terpojok. Rambut putihnya berantakan, dan jubah pendetanya compang-camping akibat sabetan angin es dari teknik Ayaka yang tak henti-hentinya mengurung ruang geraknya.

"Sialan! Sialan! Sialan!" Freed meraung gila. Matanya merah padam, menatap Saeko dan Ayaka yang berdiri tenang dalam posisi mengepung. "Kenapa kalian tidak mati saja?! Aku adalah algojo Tuhan! Aku pemegang pedang suci!"

Ayaka mengayunkan kipasnya, menciptakan embusan hawa murni yang membekukan darah yang menetes dari luka-luka kecil di tubuh Freed. "Pedang itu memancarkan cahaya, namun tanganmu penuh dengan kegelapan. Tidak ada Tuhan yang memberkati tangan seorang pembunuh yang tidak memiliki kehormatan."

"Tutup mulutmu, jalang es!" Freed menggenggam gagang Excalibur Rapidly dengan kedua tangannya. Cahaya keemasan dari pedang pendek itu tiba-tiba berdenyut liar, memancarkan gelombang energi suci yang tidak stabil. "Jika aku harus mati di sini, aku akan membawa kalian dan seluruh gereja ini ke neraka bersamaku! Resonansi Suci: Maximum Burst!"

[ Peringatan: Lonjakan Energi Suci Terdeteksi. ]

[ Status Senjata: Overload. ]

[ Risiko: Ledakan Area dalam radius 50 meter. ]

Saeko menyipitkan matanya, kakinya bergeser untuk mengambil posisi bertahan yang paling kokoh. "Ayaka, buat penghalang es sekarang!"

Namun, sebelum Ayaka sempat menghentakkan kakinya, sebuah tekanan berat yang luar biasa jatuh dari langit-langit aula. Suasana yang tadinya penuh dengan energi suci yang tajam mendadak berubah menjadi sunyi, seolah-olah seluruh oksigen di ruangan itu tersedot keluar.

BUM!

Riser Phenex mendarat tepat di tengah, di antara Freed dan kedua srikandinya. Hantaman kakinya ke lantai batu menciptakan kawah retakan yang menghancurkan lapisan es Ayaka. Riser berdiri tegak, api biru gelap berkobar di bahunya, melahap energi cahaya yang terpancar dari pedang Freed seolah-olah itu hanyalah camilan kecil.

"Sudah cukup dramanya, Freed," ucap Riser. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang mampu membuat jantung siapa pun yang mendengarnya seakan berhenti berdetak.

"K-kau... Riser Phenex!" Freed gemetar hebat. Cahaya dari Excalibur Rapidly meredup saat berhadapan dengan aura dominasi Riser.

Riser melangkah maju perlahan. Setiap langkahnya membuat api biru di tubuhnya semakin membesar, membentuk bayangan sayap burung Phoenix yang menakutkan di dinding gereja. "Kau pikir kau bisa meledakkan diri di depanku? Di wilayahku? Kau terlalu menghargai nyawamu yang tidak berharga itu."

Riser mengulurkan tangan kanannya secepat kilat, mencengkeram wajah Freed dan mengangkatnya ke udara dengan satu tangan. Energi suci dari pedang Freed mencoba membakar tangan Riser, namun api biru Phenex yang telah disinkronkan dengan kekuatan kegelapan Meliodas justru memadamkan cahaya suci tersebut dengan paksa.

Krak!

"Aaagh!" Freed menjerit saat jarinya patah karena Riser merampas Excalibur Rapidly dari genggamannya.

[ Sinkronisasi Jiwa: 86%. ]

[ Objek Didapat: Excalibur Rapidly (Fragmen). ]

[ Catatan Yui: Pedang ini menolakmu, tapi dengan kekuatan 'Full Counter', kau bisa menekan egonya sampai dia tunduk. ]

"Tuanku," Saeko dan Ayaka segera berlutut dengan satu kaki, memberikan penghormatan kepada pemimpin mereka yang baru saja mengakhiri pertempuran dalam hitungan detik.

Riser membuang tubuh Freed yang sudah lemas ke sudut ruangan seperti membuang sampah. Dia menatap pedang suci di tangannya dengan pandangan menghina. "Senjata yang menarik, tapi berada di tangan yang salah."

Namun, saat Riser hendak memerintahkan timnya untuk mengamankan lokasi, pintu utama gereja meledak hancur dari luar. Bukan oleh api atau es, melainkan oleh kekuatan sihir merah keunguan yang sangat dikenal oleh Riser.

Dari balik debu reruntuhan, Rias Gremory muncul bersama seluruh Peerage-nya. Akeno Himejima, Kiba Yuuto, dan Koneko Toujou berdiri di belakangnya dengan posisi siap tempur. Mata Rias melebar saat melihat Riser berdiri di tengah altar dengan Excalibur di tangannya, sementara Freed Sellzen terkapar tak berdaya.

"Riser?" Rias bertanya, suaranya penuh dengan ketidaktahuan dan kecurigaan. "Apa yang kau lakukan di sini? Dan kenapa kau memegang pedang suci itu?"

Riser menoleh perlahan, bibirnya membentuk senyum tipis yang memprovokasi. "Oh, lihat siapa yang datang terlambat. Rias Gremory... apa kau baru saja bangun dari tidur siangmu? Aku sedang membersihkan kota ini dari hama yang kau biarkan berkeliaran di halaman belakangmu sendiri."

Ketegangan di aula itu kini berubah. Bukan lagi antara iblis dan pengusir setan, melainkan antara dua pewaris klan besar Underworld yang memiliki agenda berbeda di Kota Kuoh.

Debu dari ledakan pintu gereja masih melayang di udara, tertangkap oleh cahaya lilin yang temaram dan pendaran api biru di bahu Riser. Rias Gremory melangkah maju, sepatunya beradu dengan lantai batu yang retak, suaranya menggema penuh otoritas yang dipaksakan. Di belakangnya, Kiba Yuuto menatap Excalibur Rapidly di tangan Riser dengan tatapan yang sangat kompleks—perpaduan antara kebencian mendalam, trauma, dan keinginan untuk menghancurkan.

"Riser, serahkan pedang itu," ujar Rias, suaranya rendah namun tajam. "Urusan pedang suci dan pengusir setan di kota ini adalah tanggung jawabku sebagai penguasa wilayah. Kau adalah tamu di sini, jangan melampaui batasmu."

Riser tertawa pelan, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam yang dingin. Dia memutar Excalibur pendek itu di jemarinya seolah itu hanyalah mainan murah. "Tanggung jawabmu, Rias? Jika aku menunggu tanggung jawabmu, pengusir setan gila ini sudah akan meledakkan setengah dari distrik ini dengan energi suci yang tidak stabil. Aku tidak melampaui batas, aku hanya sedang memperbaiki kegagalanmu."

"Kau...!" Rias menggeram, tangannya mulai diselimuti energi kehancuran merah pekat.

Tiba-tiba, Kiba Yuuto melesat maju tanpa perintah. Matanya tampak kosong namun penuh amarah. "Berikan... pedang itu... padaku..."

[ Analisis Target: Kiba Yuuto. ]

[ Status: Ketidakstabilan Mental. ]

[ Variabel: Kebencian terhadap Excalibur memicu lonjakan mana. ]

Kiba memanggil pedang iblisnya dan mengayunkannya ke arah Riser dengan kecepatan yang luar biasa. Namun, sebelum bilah pedang Kiba menyentuh jubah Riser, Saeko Busujima sudah berada di sana. Dengan satu gerakan parry yang sempurna, Saeko membelokkan serangan Kiba, membuat ksatria Gremory itu terhuyung ke samping.

"Mundur, ksatria," ucap Saeko dingin, matanya menatap tajam ke arah Kiba. "Kau tidak memiliki izin untuk mendekati Tuanku."

"Minggir!" Kiba berteriak, kembali menyerang dengan membabi buta.

Ayaka, yang sedari tadi mengawasi, bergerak dengan keanggunan yang kontras dengan kegilaan Kiba. Dia menghentakkan kaki kirinya, dan seketika sebuah pilar es muncul tepat di jalur lari Kiba, memaksanya berhenti mendadak.

"Ketidaksabaran hanya akan memperpendek umurmu, Ksatria Gremory," ucap Ayaka tenang, kipasnya terbuka menutupi sebagian wajahnya.

Riser melihat kekacauan kecil itu dengan bosan. Dia menatap Rias yang kini tampak sangat tersinggung. "Lihatlah pelayanmu, Rias. Tidak memiliki disiplin. Apakah ini hasil didikanmu? Pantas saja kau hampir kehilangan segalanya jika aku tidak memutuskan untuk 'bermain' sedikit."

Riser kemudian menatap Excalibur Rapidly di tangannya. Dia menggenggam bilah pedang suci itu dengan telapak tangannya langsung. Suara mendesis terdengar saat energi suci mencoba menolak kulit iblisnya, namun api biru-gelap Riser justru menelan cahaya keemasan itu.

"Kiba Yuuto," panggil Riser. Suaranya mengandung tekanan gravitasi yang membuat Kiba berlutut secara paksa. "Kau membenci pedang ini karena masa lalumu, bukan? Kau ingin menghancurkannya?"

Kiba mengertakkan gigi, mencoba melawan tekanan aura Riser. "Ya... aku akan menghancurkan setiap kepingan pedang terkutuk itu!"

"Kalau begitu, jadilah cukup kuat untuk mengambilnya dari tanganku," Riser menyeringai, sebuah seringai yang penuh dengan provokasi dan dominasi. "Untuk saat ini, pedang ini adalah aset klan Phenex. Aku tidak akan menyerahkannya pada klan Gremory yang bahkan tidak bisa menjaga keamanannya sendiri."

Akeno Himejima melangkah maju di samping Rias, petir kuning mulai berderak di sekitar jemarinya. "Ara ara, Riser-kun... kau benar-benar menjadi sangat sombong belakangan ini. Apa kau ingin kami mengingatkanmu kembali pada posisi sebenarnya?"

Riser menoleh ke arah Akeno, matanya berpendar ungu gelap sesaat. "Mencobalah, Akeno. Aku penasaran apakah petirmu bisa menembus kulitku sebelum suhuku mengubahmu menjadi uap."

Suasana di aula gereja itu mencapai titik didih. Dua kelompok iblis paling berpengaruh di Kuoh kini berada di ambang pertempuran internal. Rias tahu bahwa jika mereka bertarung di sini, kerusakannya akan menarik perhatian pihak Gereja pusat dan Fraksi Malaikat.

[ Sinkronisasi Jiwa: 88%. ]

[ Hubungan Variabel: Rias Gremory (Konflik Meningkat). ]

[ Catatan Yui: Bagus, tunjukkan pada mereka siapa pemegang kendali yang sebenarnya. Tapi ingat, jangan bunuh mereka dulu. Mereka masih berguna untuk skenario Kokabiel nanti. ]

Riser menurunkan tangannya, tekanan gravitasi yang menekan Kiba menghilang seketika. "Aku akan membawa kepingan ini ke kantorku. Jika kau menginginkannya kembali, Rias, datanglah padaku secara pribadi... dengan sikap yang lebih pantas sebagai seorang bangsawan yang meminta bantuan."

Riser berbalik, memberi isyarat pada Saeko dan Ayaka. "Kita pergi. Biarkan mereka membersihkan sisa sampah di sini."

Dengan satu kepakan sayap api biru-hitamnya yang megah, Riser menghilang ke dalam lingkaran sihir Phenex, diikuti oleh Saeko dan Ayaka yang memberikan tatapan peringatan terakhir pada tim Gremory.

Rias hanya bisa berdiri mematung, menatap reruntuhan altar dengan amarah yang tertahan. Dia menyadari satu hal yang menakutkan: Riser Phenex yang dia kenal telah mati, dan makhluk yang sekarang berdiri di depannya adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya dan tak terkendali.

1
SR07
plot nya kok kaya mundur ya?
SR07
bukannya udh gabung sama rias ya? atau di episode awal gue salah baca?
SR07
esdeath kemana dah?
SR07
cemburu Ama bocah🤣
SR07
intinya cemburu
SR07
awokawokawok 🤣
SR07
ada yang cemburu nih🤣
SR07
Yui cemburu 🤣
SR07
up lagi bro
mutia
sistemnya agak serem ya😂
SR07
jir galaknya 🤣
SR07
ngobrol Ama bantal guling gak tuh wkwkwk 🤣
SR07
system nya galak amat dah🤣
Muhd Zulfitri
thor buat anime cheined Soldier /Pray/
RavMoon: saya akan mempertimbangkan nya setelah proyek ini berjalan setengahnya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!