Dafsa Ramadan (30 tahun), ASN biasa aja yang siangnya sibuk urusan negara dan sorenya membuka lapak biro jodoh di Blok M. Tangannya “dingin” soal jodoh. Banyak testimoni pasangan yang ia jodohkan nyaris selalu berhasil.
Sampai satu anomali bernama Arcila Astoria (31 tahun) datang.
Seorang CEO perempuan yang cerdas, tajam, cepat bosan, dan mengalami emosi malfungsi minta dicarikan jodoh. Arcila terpaksa kesana karena Ayahnya mengancam akan menjodohkannya sama duda anak lima kalau sampai tahun ini belum menikah.
Dafsa mulai bekerja. Memasangkan dengan banyak kandidat unggulan, tapi semua pria yang ditawarkan ke Arcila gagal total. Bukan karena mereka nggak layak, tapi karena Arcila emang dari awal nggak pernah benar-benar niat cari jodoh.
Untuk pertama kalinya Dafsa merasa ini mustahil. Dan tanpa disadari malah dia sendiri yang mulai terjebak perasaan absurd itu.
Cover Ilustrasi by ig pixysoul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Selera seorang Arcila Astoria emang nggak main-main. Di mata Dafsa, Sandi udah paling oke. Masih muda terus juga kaya, tapi ternyata di mata Arcila, Sandi banyak kurangnya.
"Saya nggak suka cowok yang terlalu berlebihan sama dirinya sendiri, Mas."
Dafsa memejamkan mata, saat teringat keluhan Arcila setelah pertemuan pertamanya dengan Sandi. Dafsa simpulkan menurut Arcila, Sandi terlalu narsis dan kampungan. Oke, selera orang kaya emang beda, Dafsa nggak boleh banyak ngeluh.
"Ayo semangat, Daf, Bu Arcila janji bayar seratus kali lipat!" Dafsa menepuk-nepuk dadanya, menatap pantulan di depan cermin penuh senyum.
Pagi ini, ia akan bekerja seperti biasa. Dafsa berangkat ke kantor kecamatan, mengambil beberapa data yang dibutuhkan. Tugasnya sebagai Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial tingkat kecamatan tidaklah mudah. Ia harus berbaur dengan masyarakat luas, memberikan pelayanan terbaik pada masyarakat yang membutuhkan bantuan.
Motor kesayangannya sampai di kantor kecamatan. Dafsa hanya duduk sebentar di depan komputernya, bicara dengan sesama rekan kerja, lalu berangkat lagi membawa map berisi data-data calon penerima bantuan sosial dari pemerintah. Ia ditemani dua rekan kerja, menyusuri sebuah desa di pinggir kota.
Jalanan sedikit berliku, dan untunglah Dafsa serta dua rekannya sampai dengan selamat, kendati di tengah perjalanan harus mengalami ban bocor dan mampir sebentar ke bengkel.
Rumah pertama yang akan mereka datangi adalah rumah seorang janda tua beranak lima. Dari data yang tertera, dua anak dari janda tua tersebut menderita keterbelakangan mental, sementara tiga lainnya tidak mengalami keluhan apa-apa, tapi kesulitan mencari pekerjaan.
Dafsa dan rekannya akan memfokuskan bantuan pada janda tua dan dua anaknya. Mereka bertiga akan menerima bantuan sosial dari pemerintah mulai bulan depan.
Urusan di rumah pertama selesai, Dafsa melanjutkan lagi tugasnya mengunjungi rumah kedua. Di mana si kepala keluarga hanya bekerja sebagai buruh serabutan. Kalau ada panggilan ya kerja, kalau nggak ya diam di rumah. Sedangkan istrinya tengah hamil tua anak keenam.
Dafsa sempat membuang napas melihat keadaan rumah warga yang kedua. Rumah sudah sangat sempit, fasilitas kamar mandi terbilang kurang memadai, tapi mereka terus beranak-pinak.
"Dulu saya kerja di pabrik, Pak, gajinya tetap, makanya saya berani bikin banyak anak. Tapi hampir satu tahun setelah di PHK keadaan jadi berbalik. Ya ... siapa sih yang mau hidup begini, Pak?"
"Kena PHK-nya satu tahun yang lalu, Pak?" tanya Dafsa usai memotret beberapa bagian rumah yang tampak kumuh.
"Iya."
"Harusnya distop dulu bikin anaknya, Pak, kasihan istri sama anak-anaknya yang lain," kata Dafsa, sengaja berucap lebih tajam agar si kepala keluarga memahami lebih jauh kondisi perekonomian keluarganya sendiri.
"Banyak anak berati banyak rezeki, Pak."
Aduh, Dafsa tidak sanggup berkata lagi. Pemikiran tersebut memang tidak salah, tapi untuk membuktikannya harus dibarengi dengan kerja keras. Rezeki mana yang akan datang sendiri jika tidak dicari?
"Untuk Ibu, nanti akan ada bidan puskesmas yang datang ke sini, ya. Beliau akan memberikan rekomendasi KB setelah melahirkan."
"Saya nggak mau pasang KB, Pak," tolak si ibu memelas pasa Dafsa. Alasannya satu, katanya ia tidak cocok dengan Kb jenis apa pun.
Sama seperti tadi, Dafsa tidak berkata lagi. Soal penyuluhan KB, ia akan menyerahkannya pada bidan puskesmas yang lebih paham.
Dafsa dan rekannya hanya berada di sana kurang dari 15 menit. Bukannya tidak mau mendengar lebih banyak keluhan seperti di rumah pertama, tapi karena pemilik rumah bicara ngalor ngidul. Katanya kekurangan, tapi tidak mau bekerja. Katanya tidak betah tinggal di rumah sempit, tapi tidak mau membuang barang-barang tidak terpakai. Dafsa agak kesal, karena keluarga yang seperti inilah, yang kecil usahanya tapi selalu mengharapkan bantuan dari pemerintah.
Sayangnya Dafsa tidak bisa bicara sembarangan. Ia menahan semuanya dalam hati. Sekali lagi, hari ini tugasnya hanya satu, yakni memilih keluarga yang benar-benar layak mendapatkan bantuan sosial.
Menjelang makan siang, Dafsa mampir ke warung nasi. Ada tiga rumah lagi yang harus ia datangi hari ini, tapi sebelum merampungkan semua tugasnya, Dafsa harus mengisi tenaga.
"Hebat bener, ya, cuma punya warung nasi tapi bisa bangun rumah sampai tiga lantai."
Dafsa ikut mendongak seperti rekannya, melihat warung nasi yang mereka kunjungi menyatu dengan rumah tiga lantai. Di halamannya yang luas, ada hamparan padi yang sedang dijemur.
"Ini pegawai dari kecamatan, ya?" Seorang wanita tua bersahaja keluar dari rumah, menyambut Dafsa dan rekannya yang sudah duduk manis di warung nasi.
"Betul, Bu, kami ke sini ingin penyuluhan."
"Pasti capek sekali, ya? Silakan lanjutkan makannya, ya, ambil sepuasnya, tidak usah bayar."
"Wah, serius ini, Bu?" Satu teman Dafsa tambah semangat.
"Iya, masa Ibu bohong. Jangan sungkan-sungkan, ya, ambil apa saja yang Mas-mas mau."
Tawaran itu tidak main-main. Satu pegawai warung nasi sengaja mengeluarkan beberapa piring berisi lauk pauk dari etalase, lalu menyimpannya di atas meja. Dafsa hanya bisa nyengir usai mengucapkan terima kasih pada si pemilik warung.
Makan siang berlangsung menyenangkan. Bagaimana tidak begitu? Mereka bertiga ketiban rezeki nomplok. Usai makan siang, Dafsa dan rekannya tidak bisa melanjutkan perjalanan. Hujan besar datang, lengkap dengan angin kencang. Mereka harus berteduh, mengingat rumah warga selanjutnya cukup jauh dari warung nasi.
"Mas Biro."
Nama khusus yang sering ia dengar di kiosnya disebutkan seseorang. Menoleh sebentar, ternyata si ibu pemilik warung nasi. Tangannya melambai pada Dafsa, memintanya mendekat.
"Rezeki lagi tuh!" celetuk teman Dafsa heboh sekali.
Dafsa langsung menghampiri si ibu, masuk ke rumahnya usai dipersilakan.
"Ternyata benar, ini Mas Biro yang sering dibicarakan orang-orang. Dari tadi saya mengamati, takut salah orang," kata si ibu tampak sungkan.
Dafsa menggaruk kepala, tersenyum ramah pada si ibu. "Ibu ada perlu dengan saya?"
"Ada, Mas! Saya mau mencarikan jodoh buat anak saya, dia gak nikah-nikah, saya jadi pusing padahal dia anak satu-satunya!" Berbagai macam keluhan meluncur tanpa bisa ditahan. Ternyata, si ibu pemilik warung nasi juga memiliki sawah hektaran, yang nantinya akan diwariskan pada anak semata wayangnya. Anaknya tersebut sudah lama melajang, nggak pernah bawa perempuan ke rumah untuk dikenalkan sebagai calon istri.
"Saya nggak paham di mana letak kurangnya anak saya, Mas Biro. Dia itu pekerja keras, bisa diandalkan, hidupnya juga sederhana, nggak pernah aneh-aneh."
Wah, Dafsa langsung teringat pada Arcila. Bukannya kriteria anak si ibu, sama persis dengan yang diinginkan Arcila? Dari segala sisi, semuanya kelihatan oke.
"Bagaimana kalau anak Ibu diminta datang ke kios saya?" tawar Dafsa dengan maksud tertentu.
"Kalau disuruh datang langsung, sepertinya dia keberatan, Mas Biro. Anaknya itu pemalu."
"Ah, itu bisa diatasi, Bu. Kami bisa bertemu di sini, kok." Dafsa tambah semangat.
"Baik sekali Mas Biro ini. Anak saya pulang sebentar lagi, mohon ditunggu, ya."
Dafsa mengangguk, menatap ke luar pintu. Hujan masih mengguyur deras, tapi anak si ibu yang lekat dengan julukan Juragan Beras tetap pergi bekerja. Sungguh lelaki pekerja keras. Dafsa makin tak sabaran.
"Assalamualaikum!"
Sekitar sepuluh menit kemudian, salam terucap dari luar rumah. Masih dengan semangat penuh, Dafsa berdiri, ingin menghampiri lebih dulu. Namun, pemandangan mengenaskan terpampang nyata di depan mata. Anak baik, pekerja keras, dan pemalu yang sejak tadi disebut si ibu, rupanya adalah seorang lelaki paruh baya, yang Dafsa taksir usianya tak jauh beda dengan ibunya di rumah.
Dafsa langsung lemas. Bayangan Arcila yang melotot padanya singgah tanpa diminta.
"Ini ... lebih pantas dijodohkan sama ibuku," gumam Dafsa dalam hati, pahit dan menyedihkan.
***
Waktu tersisa dua hari lagi, dan sampai malam tiba, Dafsa tidak kunjung mendapatkan kandidat yang cocok untuk Arcila. Pulang ke rumah, pundaknya terlihat lesu. Wajahnya sarat akan rasa lelah. Seperti biasa, Dafsa tak masuk ke rumah, melainkan duduk lebih dulu di selasar seraya menikmati angin malam.
"Mas Dafsa," panggil Diva yang rupanya baru pulang. Ia menghampiri Dafsa, duduk di sebelahnya. "Aku udah punya kandidat yang cocok banget buat Mbak Arcila!" tambahnya berbinar-binar.
"Oh, ya? Dari mana asal cowoknya?"
"Masih sekitaran Jaksel, Mas, dia punya usaha barbershop di mall. Aku udah lihat sendiri tampangnya, gagah banget, ngomongnya juga sopan. Mas harus lihat!"
Amplop coklat berisi selembar data diri diterima oleh Dafsa. Ia membukanya sangat hati-hati. Semoga saja kali ini jodohnya Arcila. Dafsa berharap banyak. Dari fotonya, si lelaki memang terlihat tampan. Jauh lebih tampan darinya ataupun Sandi. Tapi ketika Dafsa membaca ke bawah, napas berat lolos dari mulutnya. Ia mengingat sesuatu yang begitu penting.
"Div, kita nggak bisa terima dia."
"Lho, kenapa, Mas? Apanya yang kurang?"
"Dia temen SMA Mas, Diva! Dia udah punya anak dan istri!" jawabnya dengan rasa kesal yang amat menjadi-jadi.
“Waduh?!”