Kisah dari seorang pemuda yang di hina karena gaya kungfunya yang unik. Apakah dia bisa menjadi legenda di masa depan, atau justru menjadi aib . Mari masuk ke novel ku yuk.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon djase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: "MASALAH DI DESA BAMBU HIJAU"
Setelah kembali dari Akademi Harapan Baru dan menyelesaikan urusan di Akademi Qinglong, Luan dan teman-temannya mendapatkan surat darurat dari Desa Bambu Hijau – sebuah desa kecil yang terletak di lereng Gunung Putih, sekitar tiga hari perjalanan dari akademi.
Isi suratnya sangat mengkhawatirkan:
"Hormat kepada Pak Luan dan teman-teman sekalian,
Kami minta tolong darurat. Desa kami sedang menghadapi masalah yang luar biasa. Beberapa hari yang lalu, sumber air utama kita tiba-tiba menjadi keruh dan beracun. Banyak penduduk yang sakit setelah meminumnya, dan tanaman bambu yang menjadi mata pencaharian utama kita mulai layu dan mati. Kami sudah mencoba segala cara tapi tidak berhasil. Tolong bantu kami jika ada kesempatan..."
Dengan hormat, Kepala Desa Bambu Hijau
"Desa Bambu Hijau kan selalu membantu kita waktu ada masalah dulu kan?" ujar Zhao Tian dengan wajah serius saat membaca surat itu. "Kalau mereka ada masalah, kita harus bantu dong!"
"Bener sekali!" tambah Chen Hao. "Sumber air yang beracun dan tanaman bambu mati – itu bisa bikin desa mereka susah banget nih."
Lin Mei sudah mulai mempersiapkan tas obat dan alat penyelidikan nya. "Saya harus bawa alat untuk menguji kualitas air dan tanahnya. Kalau bisa kita cari tahu penyebabnya apa agar bisa menemukan solusi yang tepat."
Luan mengangguk dengan tegas. "Baiklah, kita berangkat besok pagi sekali. Kita harus cepat membantu mereka sebelum masalahnya semakin parah."
Mereka berangkat dengan kereta yang dilengkapi dengan segala perlengkapan yang dibutuhkan – makanan, perbekalan, obat-obatan, dan alat penyelidikan. Jalan menuju Desa Bambu Hijau tidak mudah – harus melewati jalan berliku di lereng bukit dan jalan tanah yang sering banjir setelah hujan.
Saat memasuki wilayah sekitar desa, mereka sudah bisa melihat tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Pohon-pohon bambu yang biasanya hijau segar kini mulai menguning dan beberapa sudah mati. Udara juga terasa sedikit berbeda – ada aroma yang tidak sedap yang berasal dari arah sumber air desa.
"Aku merasakan ada sesuatu yang tidak biasa di sini," ujar Luan dengan mata tertutup sejenak, merasakan energi di sekitarnya. "Ada energi negatif yang tidak kuat tapi cukup untuk merusak keseimbangan alam."
Mereka berhenti di pos penjaga kecil yang terletak di perbatasan desa. Penjaga lokal bernama Aji langsung menyambut mereka dengan wajah khawatir.
"Alhamdulillah kalian akhirnya datang Pak Luan!" ujar Aji dengan suara lega. "Masalahnya semakin parah – hari ini ada tiga anak kecil yang sakit parah karena meminum air yang tidak bersih."
"Kita harus segera ke desa!" ujar Lin Mei dengan tergesa-gesa. "Bawa kami langsung ke tempat orang sakit dan sumber airnya!"
Saat tiba di desa, suasana terasa sangat suram. Banyak rumah yang tertutup rapat, dan orang-orang yang keluar hanya berjalan dengan wajah murung dan penuh kekhawatiran. Di depan balai desa, ada beberapa orang yang sedang merawat korban yang sakit – mereka mengalami demam tinggi, mual, dan masalah perut.
Kepala Desa Bambu Hijau bernama Pak Wayan segera mendatangi mereka. "Pak Luan, terima kasih sudah mau datang! Kami sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi."
"Tenang saja Pak Wayan," ujar Luan dengan suara menenangkan. "Kita akan coba cari tahu apa penyebabnya dan mencari solusinya."
Lin Mei langsung mulai memeriksa pasien yang sakit. Dia mengambil sampel darah dan air liur untuk diperiksa, sementara juga memberikan ramuan penenang untuk meredakan gejalanya.
"Gejalanya menunjukkan keracunan ringan," ujar Lin Mei setelah selesai memeriksa. "Tapi bukan keracunan biasa dari makanan atau tanaman beracun. Ada zat asing yang masuk ke dalam tubuh mereka."
Sementara itu, Luan, Zhao Tian, dan Chen Hao pergi ke sumber air utama desa – sebuah mata air yang terletak di tengah hutan bambu yang rimbun. Saat mereka tiba di sana, kondisi nya sungguh mengejutkan. Air yang biasanya jernih seperti kristal kini berwarna keruh kecoklatan dan berbau amis. Beberapa ikan kecil mengapung mati di permukaan air.
"Ini pasti ada yang salah," ujar Chen Hao saat membungkuk untuk melihat kondisi air lebih dekat. "Mata air ini sudah ada sejak lama dan selalu bersih kok. Gimana bisa tiba-tiba jadi kayak gini?"
Luan menyentuhkan ujung jarinya ke dalam air dan merasakan energi nya. Dia mengerutkan kening karena merasakan sesuatu yang aneh. "Ada energi buatan di dalam air ini – bukan dari alam. Seperti ada zat kimia atau sesuatu yang sengaja dibuang ke sini."
Zhao Tian melihat sekeliling dan menemukan jejak bekas roda kendaraan besar di tanah lembap dekat mata air. "Lihat ini! Ada bekas roda yang cukup besar – bukan dari kereta biasa yang digunakan penduduk desa."
"Kita harus menyelidiki lebih dalam," ujar Luan dengan suara serius. "Siapa yang bisa saja melakukan hal seperti ini dan mengapa mereka melakukan itu ke desa yang damai seperti ini?"
Mereka berkumpul di balai desa untuk membahas temuan mereka. Lin Mei sudah selesai melakukan tes awal terhadap sampel air dan tanah.
"Hasil tes menunjukkan bahwa ada zat kimia buatan di dalam air dan tanah," ujar Lin Mei sambil menunjukkan hasil tesnya di atas kertas. "Zat ini tidak bisa ditemukan di alam bebas – pasti dibuat secara artifisial. Dampaknya bisa membuat tanaman mati dan membuat manusia serta hewan sakit jika terpapar dalam waktu lama."
"Tapi dari mana zat itu bisa datang?" tanya Pak Wayan dengan wajah bingung. "Kita tidak punya pabrik atau tempat pembuatan zat semacam itu di sekitar desa."
Aji, penjaga yang menemani mereka tadi, mendekat dengan ragu-ragu. "Pak, ada sesuatu yang ingin saya ceritakan. Beberapa malam yang lalu, saya melihat beberapa kendaraan besar lewat dari arah gunung, menuju arah mata air. Mereka tampak sangat tersembunyi dan tidak mau berhenti saat saya mencoba menyapa mereka."
"Arah gunung?" ujar Zhao Tian dengan mata membulat. "Ada apa sih di atas sana selain hutan dan sungai?"
"Ada sebuah tambang kecil yang sudah tidak beroperasi selama bertahun-tahun," jawab Pak Wayan. "Tapi beberapa bulan terakhir, ada kabar bahwa ada orang-orang asing yang datang dan mulai aktif lagi di sana."
"Itu pasti tempatnya!" ujar Chen Hao dengan penuh semangat. "Mereka pasti membuang limbah tambang ke mata air kita!"
Luan mengangkat tangan untuk menenangkan semua orang. "Kita tidak bisa menyimpulkan dulu. Kita harus pergi ke tambang itu besok pagi dan melihat sendiri apa yang terjadi di sana. Tapi kita harus berhati-hati – mereka yang melakukan ini pasti tidak ingin ditemukan."
Mereka semua sepakat untuk melakukan penyelidikan ke tambang pada hari berikutnya. Lin Mei mulai menyiapkan ramuan untuk membantu orang yang sakit dan juga ramuan untuk melindungi tubuh mereka dari zat berbahaya saat penyelidikan. Zhao Tian dan Chen Hao mempersiapkan perlengkapan untuk perjalanan ke gunung, sementara Luan berbicara dengan beberapa pemuda desa yang ingin membantu mereka dalam penyelidikan.
"Kita harus melakukan ini bukan hanya untuk desa kita sekarang," ujar Luan kepada para pemuda desa. "Tetapi juga untuk melindungi alam dan sumber daya kita agar bisa dinikmati oleh generasi mendatang."
Semua orang merasa semakin bersemangat dan siap untuk menghadapi tantangan besok pagi. Mereka tahu bahwa menyelamatkan Desa Bambu Hijau bukan hanya tentang menyelesaikan masalah saat ini, tapi juga tentang melindungi masa depan desa dan semua orang yang tinggal di sana.
..."PENYELIDIKAN DI TAMBANG TERSAMAR"...
Mereka berangkat pukul 05.00 pagi sebelum matahari muncul – agar bisa mencapai tambang sebelum orang-orang yang ada di sana mulai aktif. Tim penyelidikan terdiri dari Luan, Zhao Tian, Chen Hao, Lin Mei, dan tiga pemuda desa yang mengenal jalan ke tambang dengan baik: Zhang Wei, Li Ming, dan Wang Jun.
"Jalan ke tambang tidak mudah ya Luan-ge," ujar Zhang Wei yang memimpin jalan dengan membawa senter dan tongkat petualang. "Ada beberapa bagian yang harus kita tempuh dengan berjalan kaki dan melewati jurang yang dalam."
"Kita siap saja Wei," jawab Luan dengan senyum. "Yang penting kita bisa sampai sana dengan selamat dan melihat apa yang sebenarnya terjadi di situ."
Lin Mei sudah mempersiapkan semua yang dibutuhkan – dari ramuan untuk mengatasi lelah dan sakit kepala akibat ketinggian, sampai masker kain khusus yang dilapisi ramuan herbal untuk melindungi pernapasan dari debu atau zat berbahaya.
"Kalian harus selalu pakai masker ini saat kita masuk ke area tambang ya," ujar Lin Mei saat membagikan masker kepada semua orang. "Zat beracun bisa juga menyebar melalui udara, jadi kita harus berhati-hati."
Setelah sekitar dua jam berjalan, mereka akhirnya mencapai jalur utama yang mengarah ke tambang. Jalan yang dulunya sudah tertutup rerumputan kini sudah dibuka lagi dengan jelas – ada bekas roda kendaraan berat yang masih sangat segar.
"Mereka memang aktif di sini baru-baru ini," bisik Chen Hao saat menyentuh bekas roda di tanah. "Bekasnya masih basah dan tidak tertutup oleh dedaunan sama sekali."
Saat mereka semakin mendekat ke lokasi tambang, aroma yang tidak sedap semakin kuat. Udara juga terasa lebih panas dan berat dibandingkan di desa. Pohon-pohon di sekitar area tambang mulai menguning dan rontok daunnya – bukti bahwa zat berbahaya sudah menyebar lebih jauh dari yang mereka kira.
"Aku merasakan energi negatif yang semakin kuat di sini," ujar Luan dengan mata tertutup sejenak. "Ada sesuatu yang tidak hanya merusak alam, tapi juga memiliki energi yang jahat – seolah mereka sengaja melakukan ini dengan niat buruk."
Mereka berhenti di balik sebuah bukit kecil untuk mengamati area tambang dari kejauhan. Ternyata tambang yang seharusnya tidak beroperasi ternyata sedang berjalan dengan aktif – ada beberapa mesin berat yang bekerja, dan sekitar sepuluh orang yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Di sudut area tambang, mereka melihat sebuah saluran pembuangan yang mengalir langsung ke arah bawah lereng – tepatnya ke arah mata air desa!
"Itu dia sumber masalahnya!" teriak Zhao Tian dengan suara rendah agar tidak terdengar. "Mereka membuang limbah tambang langsung ke sungai yang menuju ke mata air kita!"
Lin Mei segera mengambil alat pengukur yang dia bawa dan mengambil sampel air dari aliran limbah tersebut. Setelah beberapa saat, alat tersebut menunjukkan angka yang sangat tinggi.
"Zat beracun di sini jauh lebih banyak daripada di mata air desa," ujar Lin Mei dengan wajah serius. "Jika mereka terus melakukan ini, tidak hanya mata air desa yang akan rusak – seluruh sungai hingga ke hilir akan tercemar."
Mereka memutuskan untuk mendekati tambang dengan hati-hati. Luan, Zhao Tian, dan Chen Hao pergi ke depan untuk mengamati situasi lebih dekat, sementara Lin Mei dan tiga pemuda desa tetap berada di belakang untuk mengumpulkan lebih banyak bukti dan sampel.
Saat mereka semakin dekat, mereka bisa mendengar percakapan antara pekerja tambang.
"Kapan bos kita datang ya? Aku sudah capek kerja di tempat yang bau dan panas ini," ujar salah satu pekerja dengan suara kesal.
"Sabarlah aja, kita kan dibayar mahal untuk melakukan ini," jawab pekerja lain. "Yang penting kita selesaikan pekerjaan sebelum ada orang yang menyelidiki."
"Tapi kalau desa tahu kita yang merusak mata air mereka, pasti mereka akan marah dong?"
"Takut apa? Bos kita punya hubungan dengan orang penting di kota. Selain itu, kita sudah menyembunyikan semua bukti yang bisa menyalahkan kita."
Luan mendengar percakapan itu dengan jelas. Dia tahu bahwa mereka tidak bisa hanya menghentikan pekerja biasa ini – mereka perlu menemukan siapa yang sebenarnya di balik semua ini dan menghentikan sumber masalahnya secara menyeluruh.
Mereka melihat ada sebuah gudang kecil di pojok area tambang yang tampak menjadi tempat kontrol dan penyimpanan bahan. Luan memutuskan untuk menyelinap ke dalam gudang untuk mencari bukti yang lebih jelas.
Dengan gerakan yang lincah dan tenang, Luan berhasil masuk ke dalam gudang tanpa terdeteksi. Di dalamnya, dia menemukan berbagai jenis zat kimia berbahaya yang digunakan untuk proses tambang, serta beberapa buku catatan yang berisi detail tentang operasi tambang dan nama-nama orang yang terlibat – termasuk nama bos mereka yang bernama Chen Dafu dan alamat kantornya di kota terdekat.
Saat Luan sedang mengambil catatan penting itu, tiba-tiba pintu gudang terbuka dengan tiba-tiba. Seorang pria gemuk dengan wajah kasar masuk ke dalam bersama dua orang pengawal.
"Siapa kamu?! Apa yang kamu lakukan di sini?!" teriak pria gemuk itu dengan suara marah – dia adalah Liu Qiang, manajer tambang yang bekerja langsung di bawah Chen Dafu.
Luan tetap tenang dan berdiri dengan tegak. "Saya adalah Zhao Luan dari Akademi Qinglong. Saya datang untuk menyelidiki mengapa limbah dari tambang ini dibuang ke sumber air Desa Bambu Hijau dan membuat banyak orang sakit!"
"Hahaha! Kamu berpikir kamu bisa mengganggu bisnis saya?!" tertawa Liu Qiang dengan suara mengerikan. "Pengawal! Tangkap dia sekarang juga!"
Dua pengawal langsung menyerang Luan dengan gaya pukulan yang kasar. Tapi Luan dengan mudah menghindari serangan mereka dan membungkam mereka dengan gerakan yang cepat tapi tidak menyakitkan.
"Saya tidak ingin menyakiti kalian," ujar Luan dengan suara tegas kepada pengawal yang sudah terbaring di lantai. "Kalian hanya orang yang dibayar untuk bekerja – yang harus disalahkan adalah orang yang memerintahkan kalian untuk melakukan hal yang salah ini."
Liu Qiang melihatnya dengan mata penuh ketakutan tapi tetap mencoba mengancam. "Kamu tidak akan bisa menangkap saya! Saya punya banyak teman penting!"
Sebelum dia bisa melarikan diri, Zhao Tian dan Chen Hao masuk ke dalam gudang dan menutupi semua jalan keluar. "Kita sudah mengikat semua pekerja di luar Luan," ujar Zhao Tian dengan senyum. "Sekarang giliran kamu untuk menjawab atas apa yang kamu lakukan!"
Mereka mengikat Liu Qiang dan mengumpulkan semua bukti yang ada di gudang. Lin Mei juga telah berhasil mengumpulkan berbagai sampel zat berbahaya dan dokumentasi tentang bagaimana limbah tersebut dibuang secara sembarangan.
"Kita harus segera membawa dia ke desa dan kemudian melapor ke pihak berwenang di kota," ujar Chen Hao saat mereka sedang menuju kembali ke desa dengan tahanan mereka. "Semoga pihak berwenang bisa mengambil tindakan yang tepat."
Namun perjalanan kembali tidak sesederhana yang mereka harapkan. Saat mereka berada di tengah jalan, mereka diserang oleh sekelompok orang berpakaian gelap yang tampak sengaja menunggu mereka.
"Lepaskan bos kita kalau tidak mau ada masalah!" teriak pemimpin kelompok itu dengan membawa pedang tajam – dia adalah Gao Hu, salah satu pemburu bayaran yang bekerja untuk Chen Dafu.
"Kalian tidak akan bisa menyelamatkan dia dari hukuman yang pantas!" jawab Luan dengan suara tegas. Dia siap menghadapi serangan mereka bersama dengan teman-temannya.
Pertempuran segera terjadi. Kelompok penyerang ini memiliki kemampuan kungfu yang cukup baik – jelas mereka bukan orang biasa. Tapi Luan, Zhao Tian, dan Chen Hao bekerja sama dengan sangat baik, mengalahkan mereka satu per satu tanpa harus menyakitkan mereka secara parah.
Lin Mei dan tiga pemuda desa membantu dengan memberikan dukungan – Lin Mei menggunakan ramuan khusus untuk membuat beberapa penyerang merasa pusing dan tidak bisa bergerak, sementara Zhang Wei, Li Ming, dan Wang Jun membantu mengikat penyerang yang sudah dikalahkan.
Setelah semua penyerang berhasil dikendalikan, mereka melanjutkan perjalanan kembali ke desa dengan aman. Waktu mereka tiba di desa, seluruh penduduk sudah menunggu dengan penuh harapan. Village Chief Yang yang memimpin desa segera mendatangi mereka.
"Kita sudah menangkap orang yang bertanggung jawab atas kerusakan sumber air kita!" teriak Luan dengan suara yang jelas terdengar oleh semua orang. "Kita juga punya bukti yang cukup untuk melaporkan ini ke pihak berwenang dan memastikan mereka tidak akan pernah lagi melakukan hal yang sama!"
Seluruh desa bersorak riuh dengan kegembiraan. Mereka tahu bahwa masalah mereka tidak akan selesai hanya dengan menangkap pelaku – mereka masih harus membersihkan sumber air dan tanah yang tercemar. Tapi setidaknya mereka sudah menemukan siapa yang bersalah dan mengambil langkah pertama untuk menyelesaikan masalah ini.