Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.
"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.
"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."
David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18
Pintu apartemen yang tertutup di belakang mereka seolah menjadi pembatas dimensi. Di dalam sana, mereka adalah sepasang manusia yang berbagi kehangatan, tawa, dan pelukan. Namun, begitu kaki mereka menginjak aspal pelataran parkir kampus yang dingin, topeng itu harus kembali dipasang.
Leonor berdiri di samping mobil Edgar, namun ia menjaga jarak setidaknya dua meter. Ia mengenakan jaket kulit hitam di atas kaos crop-nya, rambutnya ia biarkan tergerai menutupi wajahnya yang masih sedikit pucat. Ia menatap gedung fakultas bisnis dan desain di depannya dengan perasaan was-was.
"Edgar, dengar," ucap Leonor dengan suara rendah, matanya menyapu sekeliling untuk memastikan tidak ada mahasiswa lain yang melihat mereka turun dari mobil yang sama, meskipun Edgar tadi menurunkan Leonor di blok sebelumnya agar tidak terlalu mencolok.
"Di kampus, kita tidak saling kenal. Tidak ada suami-istri, tidak ada suap-suapan, dan tidak ada pelukan pagi. Kau mengerti?"
Edgar, yang sedang merapikan jam tangan Rolex-nya, menoleh dengan senyum miring yang khas. "Kenapa? Apa kau takut reputasimu sebagai Gadis Pendendam hancur karena ternyata kau luluh pada pria sepertiku?"
"Bukan begitu," Leonor menghela napas, rasa gengsinya setinggi langit. "Aku tidak ingin orang-orang berpikir aku memanfaatkan mu untuk kelulusanku. Terutama teman-temanmu yang mulutnya seperti sampah itu. Aku tidak ingin mereka punya alasan lagi untuk menghinaku. Kita ini musuh, Edgar. Semua orang tahu itu."
Edgar melangkah mendekat, mengabaikan jarak dua meter yang dibuat Leonor. Ia berhenti tepat di depan Leonor, menghalangi jalan gadis itu. Aura dominannya kembali, namun matanya memancarkan kelembutan yang hanya bisa dilihat oleh Leonor.
"Baiklah, Tuan Putri yang Gengsian," bisik Edgar. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Leonor. "Tapi sebelum kita kembali menjadi asing, aku harus melakukan tugas bahagiaku."
Leonor mengerutkan dahi. "Tugas apa?"
Edgar menatap mata Leonor dengan intensitas yang membuat jantung Leonor berdegup kencang, lalu tiba-tiba ia tersenyum sangat lebar, jenis senyum yang menurut Leonor benar-benar alay.
"Semangat untuk hari ini, Istriku!" ucap Edgar dengan suara yang cukup lantang hingga Leonor harus membekap mulut pria itu dengan telapak tangannya. "Jangan terlalu lelah menjahit. Ingat, jaga baby kita selalu. Jangan sampai dia ikut pusing memikirkan pola bajumu."
Leonor membelalakkan matanya, wajahnya memerah sempurna hingga ke telinga. "Edgar! Kau gila ya?! Kalau ada yang dengar bagaimana?"
Leonor segera menarik tangannya, merasa malu karena telapak tangannya baru saja bersentuhan dengan bibir Edgar yang hangat. Ia melihat Edgar tertawa tanpa beban, seolah-olah menggoda Leonor adalah hobi baru yang jauh lebih menguntungkan daripada bermain saham.
"Itu sangat konyol, Edgar! Benar-benar konyol," gerutu Leonor sambil memutar bola matanya, meski ia tidak bisa menyembunyikan binar bahagia di matanya. "Dan berhenti memanggilku istri. Kita bahkan belum berkencan."
"Belum," sahut Edgar dengan nada penuh janji. "Tapi kita sudah tidur bersama dengan guling yang hilang, kan?"
"Edgar!" Leonor memukul bahu Edgar dengan tasnya, lalu segera berbalik dan berjalan cepat menuju gedung desain tanpa menoleh lagi. Ia tidak ingin Edgar melihat betapa lebar senyum yang sedang ia sembunyikan sekarang.
Begitu memasuki lobi kampus, perubahan atmosfer itu sangat terasa. Leonor kembali menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh. Ia berjalan melewati koridor dengan wajah datar, seolah-olah ia adalah penguasa kesepian di dunianya sendiri.
Di sisi lain, Edgar disambut oleh Ethan, Clark, dan Jackson di depan kafe kampus.
"Yo, Ed! Ke mana saja kau semalam? Mommy-mu sampai menelpon ku bertanya kau di mana," tanya Clark sambil menyikut lengan Edgar.
Edgar kembali ke mode Pangeran Martinez, dingin, angkuh, dan penuh wibawa. "Aku di apartemen. Ada urusan bisnis yang tidak bisa ditinggal."
Saat itu, Leonor berjalan melewati mereka untuk menuju perpustakaan. Langkahnya tegas, matanya lurus ke depan. Ia tidak melirik sedikit pun ke arah meja Edgar. Bahkan saat bahunya hampir bersenggolan dengan Ethan, Leonor hanya memberikan tatapan tajam yang membuat adiknya itu menciut.
"Lihat itu," Ethan berbisik pada Edgar. "Gadis tanpa marga itu semakin sombong saja sejak proyek kolaborasi kita selesai. Dia benar-benar merasa sudah di atas angin."
Edgar melirik punggung Leonor yang menjauh. Di dalam hatinya, ia ingin sekali berdiri, mengejar Leonor, dan merangkul bahunya di depan semua orang untuk membuktikan bahwa gadis itulah yang memegang kendali atas hatinya. Namun, ia mengingat permintaan Leonor. Ia harus menghargai batasan yang dibuat gadis itu.
"Biarkan saja," jawab Edgar datar, sambil menyesap kopinya. "Dia memang punya alasan untuk sombong. Karyanya memang bagus."
Ethan dan yang lainnya tertegun. Edgar Martinez baru saja memberikan pujian meski terdengar dingin pada Leonor? Itu adalah hal yang sangat langka.
Siang harinya, Leonor membuka loker di gedung desain untuk mengambil beberapa bahan kain. Saat pintu loker terbuka, sebuah kotak kecil terjatuh dari dalamnya. Leonor memungutnya dengan bingung. Tidak ada nama pengirim, hanya sebuah nota kecil dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan maskulin:
"Makan siangmu ada di dalam kotak ini. Tadi pagi kau tidak sempat sarapan banyak. Dan jangan lupa, Daddy mengawasimu dari gedung seberang. Semangat, My Designer."
Di dalam kotak itu terdapat sandwich tuna premium dan sebotol jus delima kesukaan Leonor.
Leonor merasakan dadanya menghangat. Ia menoleh ke arah jendela besar yang menghadap langsung ke gedung fakultas bisnis. Di salah satu balkon lantai atas, ia bisa melihat sosok tinggi berdiri sendirian. Meski jaraknya jauh, Leonor tahu itu adalah Edgar.
Leonor mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat.
Leonor: Kau benar-benar alay. Jangan kirim barang-barang seperti ini ke lokerku, nanti orang curiga.
Satu menit kemudian, ponselnya bergetar.
Edgar: Aku tidak peduli. Istriku harus makan. Habiskan, atau aku akan datang ke kelasmu dan menyuapi mu di depan dosenmu. Pilih mana?
Leonor menghela napas, namun ia tidak bisa berhenti tersenyum. Ia duduk di lantai di samping lokernya, mulai memakan sandwich itu dengan lahap. Rasa lelahnya karena persiapan fashion show seolah menguap begitu saja.
Ia menyadari bahwa menjadi asing di depan publik ternyata memiliki sensasi tersendiri. Ada sesuatu yang manis dalam menyimpan rahasia besar ini sendirian. Di mata dunia, mereka adalah air dan minyak yang takkan pernah bersatu. Namun di balik pintu apartemen dan di antara baris-baris pesan singkat, mereka adalah dua jiwa yang sedang belajar untuk saling menyembuhkan.
"Dasar pangeran gila," gumam Leonor sambil mengunyah makanannya.
Ia tahu, tiga minggu ke depan akan menjadi masa-masa paling berat dalam hidupnya secara profesional. Namun, dengan Edgar yang diam-diam memantaunya dari gedung seberang, Leonor merasa ia punya kekuatan lebih dari cukup untuk menaklukkan panggung fashion show-nya, dan mungkin, menaklukkan masa depannya sendiri.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading 🥰