NovelToon NovelToon
Benih Tertukar Duren Sawit

Benih Tertukar Duren Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Single Mom / Anak Genius
Popularitas:87.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mom Ilaa

Demi tidak dijual pada pria beristri, Sienna Anindita nekat melakukan prosedur bayi tabung. Baginya, kehamilan adalah menuju kebebasan. Namun, kesalahan medis fatal mengubah hidupnya menjadi incaran maut. Benih yang tertanam di rahimnya ternyata milik Kalendra Elson, pemimpin sindikat Black Lotus yang kejam dan impoten. Sienna tidak tahu bahwa benih itu seharusnya sudah dimusnahkan. Dia juga tidak tahu bahwa bayi yang dilahirkannya memiliki kembaran yang kini berada dalam dekapan sang mafia.

"Kau pikir bisa lari setelah mencuri sesuatu dariku, Sienna?" desis Kalendra dengan tatapan membunuh.

"Aku tidak mencurinya, dan anak ini bukan milikmu!"

Bagi Kalendra, siapa pun yang membawa darah dagingnya hanya punya dua pilihan: tunduk atau lenyap. Namun, ia tidak menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukanlah menghadapi musuh bebuyutan, melainkan menghadapi Rayna, putri kecilnya yang bermulut pedas. Kontras dengan kembarannya, Rayden, yang anti bau dan takut serangga.

"Om belisik telus kayak knalpot motol Bunda. Layna sumpel ya mulutnya pakai kaus kaki Layna yang belum dicuci kalo ndak belhenti malahin Bunda!”

“Lihat mataku, Rayna. Aku adalah alasan kau ada di dunia ini. Aku ayahmu."

"Ayah Layna sudah lama pelginya. Om jangan ngaku-ngaku ya, nanti didatangi hantu Papa asli bisa bikin Om kencing di celana. Om pulang saja, mandi yang belsih, bau ikan salden tau ndak?”

Di antara bayang-bayang maut Black Lotus dan rahasia masa lalu, akankah ia berhasil menjinakkan putri kecilnya dan menaklukkan hati es Sienna? Ataukah Sienna akan jatuh ke pelukan Mahesa yang sudah siap menjadikannya istri ketiga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulut Mercon

Jemari Aluna nyaris menyentuh gagang pintu kaca Salon Jovita. Ada dorongan kuat untuk berbalik dan lari sejauh mungkin, seolah pintu itu adalah gerbang menuju penghinaan yang paling dalam. 

Namun realitas menghantamnya lebih keras daripada rasa malu. Bayangan Holland yang jatuh bangkrut bukan lagi sekadar berita buruk di koran. Sisa-sisa kemewahan yang ia kenakan kini terasa seperti kostum usang. Uang yang terkumpul selama ini telah ludes dan tersedot tanpa sisa ke dalam lubang hitam utang-utang ayahnya yang tak berujung.

Sambil mengepalkan tangan, rasa sesak menyeruak di dadanya. Ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia panggil Ayah itu begitu brengsek. Kini, Aluna tidak punya pilihan. Datang menemui Jovita bukan lagi soal harga diri, melainkan menyambung nyawa untuk hari esok.

Baru saja ia ingin mendorong pintu, sebuah suara dingin dari belakang menghentikan gerakannya.

"Wah, lihat siapa ini?”

Aluna tersentak. Ia memutar tubuh dan mendapati Jovita sudah berdiri di sana, melipat tangan di dada dengan tatapan yang memindai Aluna dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada keramahan di wajah itu. Hanya ada binar kemenangan yang tipis namun menyakitkan.

"Ada angin apa salah satu idola kampus berdiri di depan pintu salonku?" 

Jovita melangkah maju, memaksa Aluna mundur satu langkah. Sudut bibir terangkat membentuk senyum sinis yang sarat akan dendam lama. "Apa kau sudah begitu menganggur sampai-sampai tidak ada kerjaan lain selain datang dan mengganggu ketenangan orang lagi, Aluna?"

Bagi Jovita, Aluna bukan sekadar teman kampus. Aluna adalah memori buruk. Si gadis populer yang dulu kerap menggunakan pengaruhnya untuk merendahkan orang lain.

Aluna menunduk sambil memandangi ujung sepatunya yang tak lagi berkilat. Kata-kata Jovita menghantamnya tepat di ulu hati, namun ia tak punya kekuatan untuk membalas dengan ketajaman yang sama.

"Aku tahu... aku salah, Jov," bisik Aluna parau, menarik napas panjang dan mencoba mengusir sesak yang menghimpit. "Tapi demi Tuhan, aku benar-benar tidak tahu soal utang Ayahku. Semuanya hilang begitu saja. Aku... aku kesini karena tidak tahu harus ke mana lagi. Tolong aku, Jov. Beri aku pekerjaan apa saja. Aku butuh makan."

Jovita tertegun sejenak, namun rasa iba itu segera digantikan oleh ingatan tentang betapa angkuhnya Aluna dulu. Ia tertawa kecil. Suara tawa yang kering dan penuh penghinaan yang membuat bulu kuduk Aluna meremang.

"Bekerja di sini? Kau?" Jovita melangkah mendekat, membisikkan kata-kata yang tajam tepat di telinga Aluna. "Kenapa repot-repot memegang sapu atau mencuci rambut orang? Bukankah kau masih punya tubuhmu? Jual saja itu. Manfaatkan kecantikan yang dulu kau bangga-banggakan saat merendahkan kami."

Aluna mematung, wajahnya memucat. Ia teringat dulu memang pernah mengolok-ngolok Jovita yang dikira miskin sebelum ia tahu Jovita ternyata anak dari keluarga mafia.

"Atau, ke mana perginya geng elit pembully-mu itu? Kenapa tidak minta tolong pada mereka saja?" Jovita mundur selangkah, menatap Aluna dengan tatapan meremehkan. 

"Oh, jangan-jangan... si gadis sudah dibuang oleh kawanannya sendiri sekarang karena sudah miskin? Benar, kan?"

Tawa Jovita kembali pecah, lebih nyaring dari sebelumnya. Ia sangat menikmati pemandangan ini. Melihat sosok yang dulu sombongnya setinggi langit kini harga dirinya telah hancur lebur.

Tawanya pun mereda, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara mereka. Ia menatap Aluna lama, seolah sedang menimbang-nimbang sebuah lelucon baru.

"Baiklah," ucap Jovita tiba-tiba, suaranya melunak namun dengan nada yang mencurigakan. "Aku punya satu lowongan. Pengasuh."

Mata Aluna seketika berbinar. Secercah harapan menyeruak di dadanya yang sesak. Pengasuh? Ia langsung teringat pada Rayden, keponakan Jovita yang masih balita. Aluna membayangkan dirinya akan menggendong anak kecil itu, memberinya makan dan mungkin dengan begitu, Jovita akan luluh dan memaafkannya.

"Terima kasih, Jov! Aku janji akan menjaga Eden dengan baik. Aku bisa belajar, aku akan—"

"Siapa yang bilang soal Eden?" Jovita memotong kalimat Aluna dengan senyum miring yang mengerikan. Ia mengeluarkan ponsel, mengetikkan sebuah alamat, lalu menunjukkannya ke depan wajah Aluna yang memucat.

"Bukan keponakanku, Aluna. Temanku butuh pengasuh untuk anjingnya. Pekerjaanmu hanya membersihkan kotoran, memandikan, dan memastikan hewan-hewan itu tidak stres. Anggap saja ini latihan... bukankah dulu kau juga suka memperlakukan orang lain seperti binatang?"

Senyum Aluna luntur seketika. Harapan yang sempat membubung tinggi itu kini dihempaskan kembali ke tanah, hancur berkeping-keping.

"Jadi bagaimana? Mau mengambil kontrak menjadi pelayan anjing atau lanjut kelaparan di jalanan?"

Kemarahan Aluna yang sedari tadi ditahan akhirnya meledak. Bendungan harga dirinya jebol, digantikan oleh rasa frustrasi yang membakar dada.

"Kau keterlaluan, Jovita!" teriaknya melengking. "Kau senang melihatku begini, kan? Kau sengaja melakukan ini semua! Kau dalang di balik bangkrutnya Ayahku! Kau yang menghancurkan hidupku sampai aku tidak punya apa-apa lagi!"

Jovita hanya menaikkan sebelah alisnya, tenang dan seolah sedang menonton pertunjukan drama kelas teri yang membosankan. Namun, sebelum Jovita sempat membalas, sebuah suara kecil yang tajam menyambar dari balik pintu kaca.

Seorang anak perempuan kecil dengan jepitan berpita muncul. Ia adalah Rayna. Dengan tangan mungil yang bertumpu di pinggang, bocah lima tahun itu menatap Aluna dengan pandangan menghakimi.

"Ih, Bibi telalu ya! Ndak tahu dili!" seru Rayna suara cadelnya yang khas.

Aluna tertegun, amarahnya lenyap melihat bocah itu melangkah maju mendekatinya tanpa rasa takut.

"Kenapa malah-malahi Aunty Pita? Yang salah itu Bibi, tapi olang lain yang disalahin. Kenapa ndak plotes saja ke Ayah Bibi sendili?" Rayna mencibir, bibir mungilnya mengerucut. "Ayah Bibi yang utang, kenapa Aunty Pita yang dilepoti? Bibi itu... apa ya namanya, Aunty? Ah, benalu!"

Kalimat pedas dari mulut mungil yang kesulitan melafalkan huruf 'R' itu terasa lebih menyakitkan daripada makian Jovita. Rayna menatap Aluna dari bawah ke atas dengan tatapan jengah.

"Kalo mau makan, ya kelja! Jaga guguk saja ndak mau, sombong sekali. Kalo pelutnya bunyi kluyuk-kluyuk, balu tahu lasanya!"

Jovita tertawa renyah lalu mengusap puncak kepala keponakannya yang pemberani itu. Sementara Aluna mematung, wajahnya merah padam antara malu dan marah, merasa benar-benar ditelanjangi oleh logika sederhana seorang anak kecil. Namun diamati lebih lama, wajah anak itu mirip seseorang.

“Siapa dia, Jovi?” tanya Aluna.

“Ndak pelu dijawab, Aunty. Tinggalin saja Bibi Tili jahat ini. Nanti ketulalan bodohnya,” timpal Rayna.

“Bibi Tiri? Jangan-jangan kau…”

“Bunda!” pekik Rayna riang membuat Aluna lantas menoleh menatap wanita cantik yang menghampiri mereka.

“Kau… Sie… sejak kapan kau kembali?” tanya Aluna makin syok namun berusaha tetap tenang.

“Dan… apa maksudnya ini? Kenapa dia panggil kau Bunda?” tuntut Aluna.

Rayden membuka maskernya yang membuat Aluna diam mendengar pengakuannya. Apalagi bocah itu ternyata punya wajah yang sama dengan Sienna di balik maskernya selama ini.

“Kami anaknya… Bunda sama Daddy.”

“Anak Sienna dan Kalendra? Haha… lelucon apa lagi ini? Tak mungkin dia punya anak dengan Kalendra,” tawa Aluna tak percaya.

Rayna maju selangkah sambil menunjuk Aluna. “Bibi jahat ndak punya mata ya? Atau matanya udah lusak? Lihat sendili ini muka Layna sama Abang Eden milip Bunda. Matanya Bibi ini pasti ketutupan deteljen. Makanya ndak bisa lihat Layna dan Abang milip selibu pelsen Bunda.”

“Kalian memang mirip Sienna tapi bukan berarti kalian anaknya Kalendra. Tak mungkin dia punya anak dari wanita lain apalagi dari si brengsek ini! Kalian anak haram,” maki Aluna tersenyum meremehkan yang membuat Jovita mulai kesal.

“Kelas kepala sekali ini Bibi Tili. Layna halus telepon Ayah bial ndak bisa bicala lagi itu mulut melcon dia,” gumam Rayna lalu menyambar ponsel pintar Rayden dan menghubungi Ayahnya.

“Halo, Ayah. Ayah di mana?”

“Di sini.”

Deg.

Semua mata tertuju ke arah sumber suara berat itu yang membuat Aluna tak mampu berkata-kata lagi. Ditambah duda itu tak sendirian. Ada Mama Ivana yang matanya sudah tampak berapi-api.

......................

1
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
tia
lanjut thor
Heni Mulyani
lanjut
Adinda
🤣🤣🤣🤣🤣
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Putusri Martini
ceritanya menarik 👍👍
tia
thor pingi tau besar ny rayna sama boca ninja
Mom Ilaa: kalo bnyk yg mau, insya Allah author bikin versi remajanya /Smile/
total 1 replies
Iqlima Al Jazira
layna di lawan👍🤣🤣
Iqlima Al Jazira: good job layna👍🤩
total 2 replies
yumi chan
mudh2 ank cpt bsr..aku ingin bc rayna dm deva di wktu rmja
Mom Ilaa: author selesain ini dulu y /Smile/
total 1 replies
Adinda
lanjut thor
Mom Ilaa: siap kak
total 1 replies
tia
jangan keburu tamat thor
Heni Mulyani
lanjut😍😍
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mantab 👍👍👍👍👍👍
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ririen handayani
🤣🤣🤣🤣🤣 yg sebleng itu kamu layna
Iqlima Al Jazira
next thor👍..
GO.. GO.. layna🤩
tia
lanjut thor
Rian Moontero
mampiiirr/Bye-Bye/😍
Iqlima Al Jazira
layna, kami tunggu aksi mu🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!