"Lima tahun lalu, aku hanyalah gadis desa yang dihargai murah dalam sebuah kontrak rahim. Zhang Liang membeliku untuk pewarisnya, lalu membuangku saat misinya selesai."
Alya menghilang membawa rahasia besar: sepasang anak kembar yang memiliki darah empat pria paling berpengaruh di Jakarta.
Kini, ia kembali bukan sebagai Alya yang lemah, melainkan Alana Wiratama—sang Ratu Mineral yang memegang kendali atas harta yang paling diinginkan dunia. Saat empat naga yang dulu menindasnya kini berlutut memohon pengampunan, Alana hanya punya satu aturan:
"Aku tidak butuh pelindung. Aku datang untuk mengambil kembali takhtaku."
Akankah cinta sang miliarder mampu melunakkan hati wanita yang sudah ia hancurkan? Ataukah ini akhir dari kekuasaan para Naga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG
Gerimis di Jakarta malam itu terasa seperti ribuan jarum dingin yang menusuk kulit. Di lantai tiga puluh enam Zhang Maritime Tower, keheningan adalah sebuah kemewahan yang menyesakkan. Alya Pramesti Wiratama berdiri mematung di balik pilar marmer yang dingin. Gaun hamil putih yang ia kenakan tampak kontras dengan kegelapan koridor yang hanya diterangi lampu redup.
Tangannya yang gemetar mengelus perutnya yang membuncit. Di dalam sana, dua nyawa kecil—pewaris yang sangat didambakan keluarga Zhang—sedang tertidur lelap. Namun, jantung Alya berdegup kencang, seolah-olah ia sedang berlari menjauhi kematian.
Langkah kakinya terhenti di depan pintu kayu jati yang sedikit terbuka. Dari celah sempit itu, suara tawa rendah yang sangat ia kenali merayap keluar, menghancurkan sisa-sisa kewarasannya.
"Liang... bagaimana jika Alya tahu?"
Itu suara Chen Yiren. Sekretaris pribadi suaminya yang selalu tersenyum manis padanya, wanita yang sering membawakannya vitamin "khusus" atas perintah Mei Hua.
"Dia tidak akan tahu, Yiren. Alya terlalu bodoh untuk mengerti dunia kita. Baginya, aku adalah penyelamatnya, dan itu cukup untuk membuatnya tutup mulut dan melahirkan anak-anakku."
Suara itu milik Zhang Liang. Pria yang ia panggil 'suami' dalam doa-doa malamnya. Pria yang melunasi hutang ayahnya, namun ternyata membelinya hanya sebagai inkubator bernyawa.
Alya mengintip dengan mata berkaca-kaca. Di dalam sana, Zhang Liang sedang memeluk pinggang Yiren. Tidak ada tatapan dingin yang biasa ia berikan pada Alya. Di sana, hanya ada gairah dan kelembutan yang selama ini Alya dambakan namun tak pernah ia dapatkan.
"Tapi Mei Hua... dia istrimu yang paling berharga," bisik Yiren manja.
"Mei Hua sedang sakit, Yiren. Dia butuh ketenangan. Pernikahanku dengan Alya hanyalah transaksi bisnis untuk memuaskan orang tuaku. Setelah anak-anak itu lahir, Alya akan pergi. Dan kau... kau akan tetap di sini, di sampingku."
Dunia Alya seakan runtuh. Ia mundur selangkah, namun malangnya, punggungnya menabrak vas bunga besar di koridor. *Prang*!
Keheningan pecah. Pintu terbuka lebar.
Zhang Liang berdiri di sana, merapikan jasnya dengan wajah sedingin es. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada ketakutan. Ia hanya menatap Alya seperti menatap barang cacat yang mengganggu pemandangan.
"Alya? Apa yang kau lakukan di sini?" suaranya datar, tanpa emosi.
Alya tidak bisa berkata-kata. Bibirnya bergetar. "Mas Liang... aku... aku membawakanmu teh..."
Chen Yiren muncul di belakang Liang, merapikan rambutnya dengan senyum penuh kemenangan yang disembunyikan di balik wajah prihatin palsu. "Oh, Nyonya Muda... Anda seharusnya istirahat. Ingat, bayi-bayi itu adalah aset terpenting keluarga Zhang."
*Aset*. Bukan anak. Bukan manusia.
Alya menoleh ke arah lift, namun di sana sudah berdiri dua pria yang tak asing baginya. Wei Jun dan Han Zhihao. Dua dari "Empat Pilar Naga Timur", sahabat suaminya yang selalu menatapnya dengan binar aneh di mata mereka.
Wei Jun melangkah maju, wajahnya yang biasanya rasional kini terlihat tegang. "Liang, kau keterlaluan. Dia sedang hamil."
"Ini urusan rumah tanggaku, Jun. Jangan ikut campur," potong Liang tajam.
Alya merasa tercekik. Ia adalah gadis delapan belas tahun yang hanya tahu cara berbakti pada orang tua. Ia tidak mengerti intrik politik. Ia tidak tahu mengapa wanita selembut Lin Mei Hua—yang katanya sedang sekarat karena kanker—begitu tega membiarkan suaminya berselingkuh asalkan Alya tersingkir.
Ia berlari. Dengan sisa tenaganya, Alya menerjang hujan di luar gedung. Ia masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan untuknya. Ia tidak tahu bahwa rem mobil itu telah dimanipulasi oleh tangan-tangan halus yang ia anggap saudara.
Di dalam mobil yang melaju kencang menuju pegunungan, Alya menangis tersedu-sedu. Ia mengelus perutnya. "Maafkan Ibu... Ibu sangat bodoh... Ibu hanya ingin kalian hidup bahagia..."
Tiba-tiba, saat ia menginjak pedal rem di tikungan tajam, tidak ada tekanan. Kosong.
Mobil itu meluncur tak terkendali ke arah jurang yang menganga gelap. Di detik-detik terakhir sebelum benturan, Alya tidak melihat wajah suaminya. Ia melihat bayangan masa lalunya: fitnah di sekolah, wajah lebam ayahnya, dan kemiskinan yang membawanya ke dalam sangkar emas ini.
"Jika aku diberi kesempatan kedua..." bisiknya sebelum kegelapan menelan segalanya. "...aku tidak ingin menjadi cantik. Aku tidak ingin menjadi lugu. Aku hanya ingin mereka membayar setiap air mata ini."
Flashback: Awal dari Segalanya (18 Bulan Sebelumnya)
Hujan yang sama, namun di tempat yang berbeda. Sebuah gang sempit di pinggiran Jakarta.
Alya tersungkur di aspal yang becek. Seragam sekolahnya yang lusuh kotor oleh lumpur. Di hadapannya, Pak Toni, sang rentenir bertubuh tambun, berdiri dengan angkuh sambil memegang surat hutang ayahnya.
"Lima puluh juta, Alya! Ayahmu sudah lari. Kalau kau tidak bisa bayar, kau ikut aku. Wajah cantikmu ini laku keras di kelab malam!"
"Tolong, Pak... beri kami waktu..." Alya memohon, air matanya bercampur dengan air hujan.
*Plak*! Sebuah tamparan mendarat di pipi mulusnya.
Saat itulah, sebuah mobil Rolls-Royce hitam berhenti di ujung gang. Lampunya yang terang membutakan mata Alya. Seorang pria keluar dengan payung hitam besar. Langkah kakinya mantap, sepatu kulitnya tidak peduli pada genangan air.
Pria itu adalah Zhang Liang. Di usianya yang keempat puluh, ia memancarkan aura kekuasaan yang tak tertandingi.
Ia menatap Alya yang menggigil ketakutan. Bukan tatapan kasihan, melainkan tatapan seorang kolektor yang menemukan berlian di tumpukan sampah.
"Berapa hutangnya?" suara Liang berat dan dalam.
"Li... lima puluh juta, Tuan," jawab Pak Toni gemetar.
Liang memberi isyarat pada asistennya. Sekoper uang dilemparkan begitu saja. Lalu, ia berjongkok di depan Alya, mengangkat dagu gadis itu dengan ujung payungnya.
"Ikut aku. Aku akan memberimu rumah, pendidikan untuk adikmu, dan pengobatan untuk ibumu."
Alya menatap mata hitam itu, mengira ia telah melihat malaikat. "Kenapa... kenapa Tuan menolong saya?"
Zhang Liang tersenyum tipis—senyuman yang baru bertahun-tahun kemudian Alya sadari adalah senyuman seorang iblis yang baru saja memenangkan kontrak jiwa.
"Karena kau memiliki rahim yang sehat, Alya. Dan aku butuh seorang anak."
Hari itu, Alya Pramesti Wiratama menandatangani kontrak yang ia kira adalah jalan menuju surga, tanpa tahu bahwa itu adalah tiket menuju neraka yang paling dingin.