"Aku bukan sekadar asistennya, aku adalah pelarian dari melodi sunyi yang ia ciptakan sendiri."
Ghava Dirgantara adalah produser musik jenius yang memiliki segalanya: kekayaan, bakat, dan visual menawan. Namun, di balik kesuksesannya, ia adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan sang mantan kekasih di panggung penghargaan tiga tahun lalu membuatnya berubah menjadi sosok dingin yang dijuluki "Kulkas Antartika". Baginya, cinta hanyalah sampah yang merusak frekuensi musiknya.
Hingga muncul Nadine, asisten baru yang ceroboh namun memiliki telinga musik yang tajam. Nadine datang bukan dengan cinta, melainkan dengan luka yang sama dalamnya—ditinggalkan oleh tunangannya tepat sehari sebelum pernikahan.
Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas bos galak dan asisten yang tertindas. Mulai dari hukuman membersihkan studio hingga insiden "sambal maut" yang membuat Nadine harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, suasana berubah saat masa lalu mereka kembali mengetuk pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMENG DIBALIK PIPI MERAH
Ghava terdiam menatap barisan kata di kertas itu. Permintaan Nana bukan sekadar perintah kerja, tapi sebuah tantangan untuk membuka kotak pandora yang selama ini ia gembok rapat.
"Saya produser, Nadin. Tugas saya membuat orang lain bernyanyi, bukan saya sendiri," kilahnya, meski jemarinya sudah mulai mencari akor yang pas di atas tuts piano.
"Coba, Mas. Nyanyiin sesuai hati pria. Jangan pakai teknik, pakai rasa aja," desak Nana lagi. Ia kini duduk menyamping di kursinya, menumpu dagu dengan kedua tangan, siap menjadi penonton paling setia di barisan terdepan.
Ghava menarik napas panjang. Ia memejamkan mata, membiarkan bayangan Selya, rasa pahit Americano, dan dinginnya studio ini bercampur dengan rasa manis es teh plastik yang baru saja ia minum.
Suara piano mulai mengalir, kali ini lebih lambat dan lebih berat. Lalu, suara rendah Ghava yang sedikit serak—jenis suara pria yang jarang bicara namun menyimpan banyak cerita—mulai mengisi ruangan.
"Di ruang kedap, kau bangun istana dari gema..."
Suaranya tidak menggelegar, namun setiap kata yang ia ucapkan terasa seperti sebuah pengakuan dosa. Saat sampai pada baris:
"Kau bilang kopi hitam itu jujur, padahal kau hanya takut rasa manis akan membuatmu hancur..."
Suara Ghava sempat bergetar tipis. Nana yang biasanya tidak bisa diam, kini terpaku. Ia melihat sisi lain dari Ghava yang tidak pernah ia duga. Pria ini tidak sedang bernyanyi; dia sedang merobek tembok esnya sendiri secara perlahan.
Hingga akhirnya, Ghava sampai pada baris terakhir yang tadi sempat ia remehkan:
"Bolehkah aku bawa segelas es teh untuk mencairkan hatimu yang keras?"
Ghava mengakhiri lagu dengan denting piano yang lembut, lalu suasana studio mendadak sunyi senyap. Ghava masih menunduk, menatap tuts piano hitam-putih di depannya, napasnya sedikit tidak beraturan.
Nana masih diam seribu bahasa. Matanya yang jernih tampak sedikit berkaca-kaca. "Mas..."
Ghava menoleh perlahan, mencoba kembali ke topeng dinginnya, namun gagal total karena sorot matanya yang telanjang. "Sudah puas? Suara saya tidak sebagus Elvario."
Nana menggeleng cepat, sebuah senyum tulus merekah di bibirnya. "Justru itu, Mas. Elvario nyanyi buat jutaan orang, tapi barusan Mas nyanyi buat diri Mas sendiri. Dan itu... jauh lebih indah daripada lagu Elvario mana pun."
Ia kemudian menepuk bahu Ghava dengan semangat, mencoba mengusir suasana melankolis yang terlalu kental. "Fix! Mas Bos jangan jadi kulkas lagi ya. Sayang suaranya kalau cuma buat bentak-bentak asisten!"
Ghava baru saja hendak membalas saat tiba-tiba... Brakk!
Pintu studio terbuka dengan kasar tanpa ketukan. Mbak Yane berdiri di sana dengan wajah pucat dan napas tersengal.
"Ghav... Selya. Selya ada di depan. Dia maksa masuk!"
Ghava seketika berdiri, wajahnya yang tadi melunak karena lagu kini berubah menjadi pucat pasi. Ketakutan yang nyata terpancar dari matanya, seolah Selya adalah hantu dari masa lalu yang siap menyeretnya kembali ke dalam kegelapan.
"Selya? Saya nggak mau ketemu," ucap Ghava tegas, namun ada nada gemetar dalam suaranya.
"Tapi dia maksa, Ghav! Satpam lagi nahan dia di depan, tapi dia terus teriak-teriak soal hak cipta lagu!" lapor Mbak Yane dengan wajah semakin panik.
Nana yang tadinya terlihat melankolis, tiba-tiba berdiri tegak. Ia merapikan kuncir rambutnya, menyingsingkan lengan kemejanya, dan menghabiskan sisa es batu di plastiknya dengan sekali kunyah. Kratak!
"Oh, maksa ya? Oke, sikat!" ucap Nana singkat sambil mulai melangkah lebar menuju pintu.
Ghava buru-buru menahan lengan Nana. "Na, mau ke mana? Selya itu nyebelin, dia nggak bisa diajak ngomong baik-baik. Dia bakal nyerang kamu secara verbal!"
Nana menoleh, memberikan kedipan mata yang sangat tenang, seolah ia sedang bersiap menghadapi preman pasar, bukan seorang penyanyi terkenal.
"Aman aja. Mas Bos diam aja di sana, jangan keluar. Kalau keluar nanti dironjok—maksud aku, ditonjok mentalnya sama dia. Biar urusan 'mantan nyebelin' ini jadi porsinya asisten serba bisa," ucap Nana dengan nada penuh percaya diri.
Nana keluar dari studio, meninggalkan Ghava yang mematung dan Mbak Yane yang bingung harus melakukan apa.
Selya tampak berdiri di depan meja resepsionis, mengenakan kacamata hitam besar dan pakaian bermerek yang mencolok. Ia sedang berdebat sengit dengan satpam studio.
"Saya cuma mau bicara sama Ghava! Dia nggak berhak nahan lagu itu! Saya yang menginspirasi dia!" teriak Selya sinis.
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki Nana yang santai terdengar mendekat. Ia berhenti tepat di samping Selya, lalu berpura-pura kaget sambil melihat kacamata hitam Selya yang super besar.
"Waduh, Mbak! Di dalam studio ini mendung ya? Kok pakai kacamata item? Takut silau lihat masa depan Mas Ghava yang makin cerah tanpa Mbak?" tanya Nana tanpa basa-basi.
Selya menoleh tajam, menurunkan sedikit kacamatanya. "Siapa kamu? Cleaning service baru?"
Nana tersenyum sangat manis, manisnya melebihi es teh plastik tadi. "Saya asisten pribadinya Mas Ghava. Pangkatnya 'Penjaga Kulkas'. Dan aturan di sini jelas, Mbak. Tamu yang nggak punya janji dan cuma mau bikin polusi suara... dilarang masuk."
"Jangan lancang ya! Kamu nggak tahu siapa saya?"
"Tahu kok! Mbak Selya kan? Yang tadi telepon terus bikin Bos aku murung?" Nana melipat tangan di dada. "Denger ya Mbak Cantik, Mas Ghava lagi sibuk bikin mahakarya baru sama aku. Jadi kalau Mbak cuma mau minta lagu lama yang katanya 'nggak punya jiwa' itu, mending Mbak cari di tempat sampah aja. Soalnya di sini, kita lagi fokus sama lagu yang ada 'ruh'-nya."
Selya memerah wajahnya karena marah. "Kamu—!"
"Ssttt! Jangan teriak, nanti pita suaranya rusak, sayang kan nyanyinya jadi sumbang kayak perasaan Mbak sekarang," potong Nana telak.
Selya tersenyum sinis, ia melangkah maju hingga ujung sepatunya yang mahal nyaris menyentuh sepatu kets Nana yang sudah agak kusam. Aura intimidasi terpancar kuat dari wajahnya yang dipoles riasan sempurna.
"Kamu tahu nggak kalau lagu yang saya minta itu memang lagu saya? Saya yang menulisnya bersama Ghava. Itu milik saya," ucap Selya dengan nada rendah yang mengancam.
Nana tidak mundur selangkah pun. Ia justru memiringkan kepalanya, menatap Selya dengan pandangan iba yang dibuat-buat. "Gatau, Mbak. Saya tahunya itu lagu Mas Ghava yang Mbak rebut bareng pacar baru Mbak buat pansos karier, kan? Duh, kasihan ya, sudah cantik tapi kreativitasnya macet sampai harus ngerampok karya mantan," balas Nana telak.
PLAK!
Suara tamparan keras menggema di lobi studio yang sunyi. Kepala Nana terlempar ke samping. Mbak Yane yang mengintip dari kejauhan memekik tertutup tangan. Keheningan mencekam menyusul seketika. Selya napasnya memburu, tangannya masih gemetar setelah mendaratkan tamparan itu.
Namun, yang terjadi selanjutnya justru membuat bulu kuduk Selya berdiri. Nana perlahan memutar kembali kepalanya. Ia tidak menangis, tidak menjerit, bahkan tidak memegang pipinya yang kini mulai membengkak dan berubah warna merah padam. Ia justru menatap Selya dengan senyum tipis yang terasa sangat dingin.
"Cuma sekali, Mbak? Enggak lagi?" tanya Nana dengan suara yang sangat tenang, meski denyut kesakitan terlihat jelas di guratan matanya. "Mumpung saya lagi baik, nih. Mau tambah di pipi kiri biar simetris?"
Selya tertegun, ia mundur selangkah, mulai merasa ada yang tidak beres dengan keberanian gadis di depannya ini. "Maksud kamu apa, hah?!" teriaknya dengan suara melengking yang mulai terdengar panik.
Nana tidak menjawab Selya. Ia justru menoleh ke arah koridor gelap di belakangnya, tempat ia muncul tadi. "Mas Rian, angle aku di kamera bagus nggak? Pipi merah aku kelihatan jelas kan?" seru Nana dengan nada santai seperti sedang berada di lokasi syuting iklan.
Dari balik tembok dekorasi studio, seorang kru muda bernama Rian muncul sambil memegang ponsel dalam posisi mendatar—menandakan ia sedang merekam video dengan kualitas tinggi. "Aman, Na! Semuanya terekam jelas. Dari Mbak ini teriak-teriak sampai adegan 'aksi' tadi. Kualitas 4K, tajam banget," sahut Rian sambil memberikan jempol.
Wajah Selya seketika pucat pasi. Ia menatap Nana dan Rian bergantian. "Kamu... kamu jebak saya?!"
Nana tertawa kecil, ia akhirnya mengusap pipinya yang terasa berdenyut panas. "Enggak jebak, Mbak. Ini cuma jaga-jaga. Mas Bos aku itu terlalu baik, makanya gampang diinjak-injak sama orang kayak Mbak. Tapi aku? Aku orang lapangan, Mbak. Aku tahu cara main di jalanan."
Nana melangkah maju, membuat Selya semakin terdesak ke pintu kaca. "Mbak sudah bikin kantor ini kacau, Mbak sudah melakukan tindakan kekerasan secara fisik di area privat, dan Mbak sudah melakukan pencemaran nama baik dengan teriak-teriak soal hak cipta yang nggak jelas. Sekarang pilihannya cuma dua, Mbak Cantik."
Nana mengangkat dua jarinya tepat di depan wajah Selya. "Pertama, Mbak pergi sekarang, jangan pernah telepon Mas Ghava lagi, jangan pernah sebut namanya di media, dan anggap lagu itu nggak pernah ada. Atau kedua, Mbak mau bareng aku ke kantor polisi sekarang juga? Aku punya bukti rekaman, saksi satpam, dan pipi merah ini sebagai barang bukti fisik. Gimana? Karir Mbak yang lagi naik daun itu kira-kira bakal gimana ya kalau besok judul beritanya 'Penyanyi Cantik Main Tangan'?"
Selya gemetar hebat. Ia menatap ponsel di tangan Rian, lalu menatap wajah Nana yang tetap tersenyum meski terluka. Ia tahu dia kalah telak. Tanpa sepatah kata lagi, Selya menyambar tasnya, berbalik, dan lari menuju mobilnya dengan langkah seribu, meninggalkan kepulan debu di depan studio.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰