Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.
Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.
Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.
Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.
Selamat membaca. Jangan kaget kalau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 Libur Desember
Libur Desember datang tanpa permisi. Biasanya aku nunggu libur. Biasanya aku senang. Tapi kali ini rasanya beda. Bukan lega, tapi kosong.
Sekolah mendadak sepi. Grup rame jadi sunyi. Chat yang biasanya masuk tiap jam sekarang cuma sesekali. Aku bangun pagi tanpa alarm, tapi badan tetap capek. Bukan capek fisik. Lebih ke capek mikir.
Hari pertama libur, aku bangun jam tujuh. Kebiasaan. Padahal nggak ada yang harus dikejar. Aku bengong di kasur beberapa menit, nunggu rasa “oh, libur” itu datang. Tapi nggak datang.
Aku ambil HP. Nggak ada pesan penting. Grup pramuka terakhir bahas jadwal pulang. Itu pun udah dua hari lalu. Aku scroll ke atas, baca ulang chat-chat lama. Yang bercanda, yang ribut soal tugas, yang rame. Rasanya kayak baca arsip. Aku taruh HP lagi.
Di rumah, semuanya jalan normal. Ibu masak, bapak nonton TV. Mereka senang aku libur. Aku bilang aku juga senang. Bohong kecil yang nggak ada yang sadar. Hari itu aku nggak ke mana-mana. Cuma di rumah. Duduk di ruang tamu, pindah ke kamar, balik lagi.
Kepalaku muter tapi nggak jelas muter ke mana. Aku nyoba ngerjain hal kecil. Beresin tas. Nyusun ulang buku. Cuci sepatu. Semua aku lakuin pelan-pelan, kayak orang lagi ngulur waktu.
Malamnya, aku tidur cepat. Tapi tetap kebangun. Jam dua, jam tiga. Pikiran isinya potongan-potongan kecil. Pos satpam. Tatapan orang. Nada suara yang dingin.
Aku kesel sama diriku sendiri. Kenapa sih dipikirin terus? Kenapa nggak bisa berhenti? Hari kedua libur, Tara ngechat.
Tara : Lu ngapain?
Aku balas agak lama.
Aku : Di rumah. Lu?
Tara : Sama. Gabut.
Biasanya obrolan lanjut panjang. Tapi kali ini berhenti di situ. Aku nunggu. Tara juga kayaknya nunggu. Akhirnya nggak ada yang ngetik lagi. Aku taruh HP. Rasa bingung makin jelas. Aku nggak berantem sama siapa-siapa. Tapi jaraknya kerasa.
Siang itu aku keluar rumah. Bukan ke mana-mana, cuma jalan ke warung depan. Beli es. Duduk di bangku plastik, liat orang lewat. Aku mikir, mungkin aku lebay. Mungkin semua ini cuma di kepalaku.
Tapi kenapa rasanya konsisten? Kenapa sikap mereka berubah pelan-pelan tapi jelas? Aku pulang bawa es yang udah hampir cair.
Di kamar, aku buka buku catatan pramuka. Isinya coretan jadwal, daftar perlengkapan, catatan kecil. Banyak tulisanku sendiri. Hampir semuanya. Aku baca satu-satu. Ada rasa aneh. Campur bangga sama capek. Aku nanya ke diri sendiri: Kalau aku berhenti, ada yang sadar nggak? Pertanyaan itu bikin dada aku nggak enak. Aku tutup bukunya.
Hari ketiga libur, aku mimpi soal sekolah. Mimpi biasa, tapi rasanya nyata. Aku bangun dengan napas agak berat. Aku mulai ngerasa libur ini bukan istirahat. Ini jeda yang kepanjangan.
Aku kepikiran buat chat Rara. Nanya kabar. Basa-basi. Tapi jariku berhenti di layar. Aku takut jawabannya dingin. Atau lebih parah, cuma dibaca. Aku batal.
Sore itu hujan. Aku duduk di teras, denger suara air jatuh. Biasanya aku suka hujan. Tapi hari itu aku cuma ngerasa dingin. Aku sadar, sekolah boleh kosong. Tapi kepalaku nggak. Semua kejadian muter ulang.
Aku nyoba nyari kesalahan paling awal. Dari proposal. Dari keputusan kecil. Dari aku ngajak Tara. Dari aku diem waktu seharusnya ngomong. Tapi nggak ada satu titik jelas.
Semuanya kayak benang kusut. Ditarik satu, yang lain ikut ketarik. Hari keempat libur, Bu Santi ngechat di grup kecil.
Bu Santi : Naya, nanti sebelum rapor kamu bisa datang pagi, ya. Ada yang mau dibantu.
Aku baca pesannya beberapa kali. Kata-katanya biasa. Tapi dadaku langsung berat. Aku balas.
Aku : Iya, Bu.
Nggak ada emot. Nggak ada tambahan. Setelah itu, aku duduk lama. Libur ini ternyata cuma sebelum babak lain. Aku cerita ke ibu kalau aku harus ke sekolah sebelum rapor. Ibu bilang nggak apa-apa. Katanya, “Yang penting kamu tanggung jawab.” Aku cuma ngangguk.
Malam itu aku nyiapin tas. Bukan karena disuruh, tapi karena kebiasaan. Aku cek bolak-balik. Takut ada yang ketinggalan. Padahal belum tentu dipakai. Aku sadar satu hal: aku nggak pernah benar-benar lepas dari tanggung jawab itu.
Bahkan di libur. Aku capek, tapi juga bingung kenapa aku masih mau.
Hari-hari libur berikutnya aku lewatin dengan pola yang sama. Bangun, bengong, mikir, ngerasa greget sendiri. Kadang aku ketawa sendiri, ngerasa lucu kenapa aku segini kepikirannya. Kadang aku pengen marah. Tapi nggak tahu marah ke siapa.
Libur Desember itu harusnya jadi jarak. Tapi buat aku, jarak itu malah bikin semuanya makin kelihatan jelas. Siapa yang masih nyapa. Siapa yang cuma ingat kalau butuh. Dan di tengah rumah yang tenang, aku sadar. kadang capek itu bukan karena kerjaan, tapi karena ngerasa sendirian di tempat yang dulu rame.
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
semangat trs utk berkarya, yah..
🤭🤭🤭