Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.
Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.
Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.
Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.
Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranti Septriharaira M.T (202130073), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Muak!
Cahaya matahari pagi yang menyelinap dari celah ventilasi terasa seperti jarum yang menusuk mata Bela. Ia terbangun dengan napas memburu, jantungnya berdebar kencang seolah baru saja lolos dari kejaran maut. Hal pertama yang ia lakukan adalah meraba seluruh tubuhnya di balik selimut. Ia mengecek ritsleting celananya, kancing bajunya, hingga posisi pakaian dalamnya. Setelah memastikan semuanya masih terbungkus rapi, ia mengembuskan napas lega yang panjang.
"Napa lu? Kayak habis dikejar setan aja," suara Cika memecah keheningan pagi.
Perempuan itu sedang duduk bersimpuh di lantai dekat kasur, tampak asyik menyendok bubur ayam dari *styrofoam* sambil matanya tak lepas dari layar ponsel. Wajahnya segar, seolah aktivitas panas yang ia lakukan beberapa jam lalu hanyalah olahraga ringan.
Bela menatap Cika dengan pandangan muak. Amarahnya naik ke ubun-ubun melihat betapa santainya Cika bersikap seakan tidak terjadi sesuatu semalam. "Gak. Gue mau buru-buru nyari kosan," ucap Bela ketus. Ia mulai merapikan kasur dengan gerakan kasar, menyambar sisir, lalu menyampirkan handuk di bahunya.
"Buru-buru amat, Bel. Santai aja kali, cuma ada gue di sini," sahut Cika enteng.
Bela langsung berhenti bergerak. Ia memicingkan mata, emosinya meledak. Ia berdiri tegak, berkacak pinggang di depan Cika. Posisinya yang berdiri tinggi membuat Cika yang sedang bersimpuh tampak seperti pelayan yang sedang diamuk ratunya.
"Lu kira gue nggak denger desahan lu semalam, hah?!" bentak Bela tajam. "Gila ya lu! Orang lagi tidur, eh kasurnya malah lu gonjang-ganjing kayak gempa bumi!"
Cika tersentak hebat sampai tersedak buburnya. Matanya membelalak kaget. "Lu... lu denger???"
"Gak cuma denger! Gue nonton juga, bego!" jujur Bela tanpa tedeng aling-aling.
Cika terdiam sejenak, namun sedetik kemudian ia malah nyengir. "Hehehe... ya maaf, Bel. Namanya juga enak, mana bisa ditahan."
"Ah, tau ah! Jijik gue!" Bela hendak beranjak, namun dengan gerakan kilat Cika bangkit dan menarik lengan Bela, mendudukkannya kembali secara paksa di tepi ranjang. "Paan sih! Risi tau gak!"
"Bentar dulu," Cika memicingkan mata dengan raut penasaran yang menyebalkan. "Emang punya cowok lu yang malam itu nggak gede? Lu kan juga udah coba, Bel. Ceritalah. Lu kasih nenen nggak? Dia main di sana lama nggak?"
Pertanyaan itu membuat ingatan Bela tentang malam terkutuk itu kembali berputar. Darah Bela mendidih. Rasa mual dan hina bercampur menjadi satu. Ia menatap Cika dengan pandangan yang begitu dingin hingga membuat Cika terdiam.
"Lu mau tau rasanya, Cik? Rasanya itu jijik!" desis Bela dengan suara bergetar. "Gue nggak habis pikir sama lu. Lu itu kayak pelacur, tau gak? Tidur sana-sini sama pria hidung belang cuma demi kesenangan sampah kayak gitu. Lu itu kekurangan kasih sayang banget ya sampai harus jual diri dan murahan banget di depan cowok?"
Kalimat itu telak menghantam Cika. Sebutan "pelacur" dan "kurang kasih sayang" itu seperti tamparan keras yang mendarat tepat di wajahnya. Cika terdiam membisu, bibirnya sedikit terbuka namun tak ada kata yang keluar. Keangkuhannya runtuh seketika di hadapan kejujuran Bela yang menyayat hati.
Bela tidak menunggu reaksi Cika lebih lanjut. Ia segera bergegas masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya berkali-kali seolah air bisa menghapus noda yang menempel di jiwanya. Usai mandi, dengan gerakan cepat ia mengepak seluruh barang-barangnya ke dalam tas.
Sebelum benar-benar melangkah keluar pintu, Bela berhenti sejenak. Ia melihat Cika yang masih terduduk diam di lantai, tampak terhenyak dan terluka. Rasa iba kembali muncul di hati Bela yang terlalu baik.
"Cik... gue pamit. Maaf kalau tadi ucapan gue kasar banget ke lu," ucap Bela dengan nada rendah.
Cika tertegun. Ia merasa dadanya sesak. Selama ini, ia selalu menzalimi Bela—menjadikannya kambing hitam, menjualnya malam itu—dan Bela sama sekali tidak tahu. Tapi di sini, hanya karena satu ucapan kasar yang sebenarnya jujur, Bela justru yang meminta maaf lebih dulu.
Cika bangkit dan langsung memeluk Bela dengan erat. Ia tidak sanggup mengakui kesalahannya, lidahnya terlalu pengecut. Pelukan itu adalah satu-satunya cara Cika memohon maaf atas segala kejahatan yang telah ia lakukan pada wanita di hadapannya ini.
"Hati-hati, Bel. Kabarin gue kalau ada apa-apa," bisik Cika pelan.
---
Bela akhirnya melangkah pergi menuju kos barunya. Langkah kakinya terasa sedikit lebih ringan saat ia meninggalkan gang sempit tempat kos Cika berada. Setelah menempuh perjalanan singkat dengan ojek, ia sampai di sebuah bangunan bercat hijau muda dengan pagar besi yang cukup tinggi. Ini adalah kos khusus putri yang ia temukan setelah riset mendalam melalui aplikasi pencari kos beberapa hari lalu.
Ia butuh kesunyian untuk memulai hidup baru dan menjaga rahasia besar di rahimnya. Begitu masuk ke area halaman, suasana tenang langsung menyambutnya. Tidak ada musik keras, tidak ada aroma rokok, dan yang terpenting: tidak ada pria yang lalu-lalang dengan pandangan liar.
Kamar kos barunya terletak di lantai dua, paling pojok. Ukurannya hampir sama dengan kamar Cika, namun di sini terasa jauh lebih bersih. Dindingnya berwarna putih bersih tanpa jamur, dan ada jendela kecil yang menghadap ke arah pohon mangga di halaman belakang, membiarkan udara segar masuk dengan bebas.
Ibu kosnya, seorang wanita paruh baya bernama Bu Endang, menyambutnya dengan tulus. "Di sini peraturannya ketat ya, Nduk. Pria dilarang masuk ke kamar, paling maksimal cuma di teras depan. Jam sepuluh gerbang sudah dikunci," ucap Bu Endang sambil memberikan kunci kamar.
Bela tersenyum tulus untuk pertama kalinya sejak berhari-hari lalu. "Terima kasih, Bu. Justru itu yang saya cari. Saya butuh ketenangan."
Begitu pintu kamar tertutup, Bela menyandarkan tubuhnya ke balik pintu. Ia memejamkan mata, menghirup aroma pembersih lantai yang segar di dalam kamar itu. Ia mulai membongkar tas besarnya, mengeluarkan pakaian satu per satu dan menyusunnya di dalam lemari kayu kecil yang sudah tersedia.
Usai merapikan barang, Bela merebahkan diri sejenak di atas kasur yang masih terbungkus plastik. Tiba-tiba, ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah notifikasi pesan WhatsApp muncul di layar.
Itu adalah undangan interview.
Pesan itu datang dari kontak yang diberikan Cika semalam. 'Selamat siang, Bela. Bisa datang ke kantor kami jam 1 siang untuk interview? Alamatnya di Gedung Artha Kencana, Lantai 15.'
Bela menarik napas panjang, dadanya terasa sesak oleh campuran rasa gugup dan harapan. Ia menatap layar ponsel itu cukup lama. Ia butuh uang untuk biaya kos ini bulan depan, Ia tidak bisa hanya diam meratapi nasib atau terus-menerus merasa kotor. Satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan berdiri tegak dan menghadapi kenyataan.
Ia bangkit dari kasur, berjalan menuju cermin kecil yang terpasang di dinding. Ia melihat pantulan wajahnya yang pucat, dengan kantung mata menghitam. Namun matanya memancarkan sisa-sisa keberanian yang tidak ingin ia padamkan.
"Jangan menyerah sekarang, Bel," ia menyemangati dirinya sendiri.
Bela mulai riset rute menuju lokasi interview. Ia memastikan pakaian kemeja putihnya sudah rapi dan tidak kusut. Ia mulai memulaskan sedikit riasan tipis pada wajahnya agar tidak tampak terlalu lemah di depan calon atasannya nanti.
Dengan tekad yang bulat dan jantung yang masih berdegup kencang, Bela melangkah keluar dari kos barunya menuju lokasi yang diberikan. Ia tidak tahu rahasia apa yang menantinya di balik pintu kantor megah itu, atau siapa sosok yang akan menjadi bosnya. Namun bagi Bela, ini adalah pertaruhan terakhirnya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak bagi dirinya dan janin yang ada di rahimnya.
Sambil menatap jalanan kota dari jendela bus, Bela menggenggam erat tasnya. Ia siap bertarung, meski ia tahu jalan di depannya mungkin akan jauh lebih terjal daripada yang ia bayangkan.