Lima tahun pernikahan adalah pembuktian cinta bagi Haniyah Zahira dan Haris Abidzar. Tanpa tangis buah hati, mereka tetap bahagia dalam ketaatan. Namun, bagi sang ibu mertua, rahim Haniyah yang sunyi adalah sebuah kegagalan.
"Relakan Haris menikah lagi, atau biarkan dia menjadi anak durhaka karena menolak keinginan ibunya."
Ancaman itu menjadi duri yang Haniyah telan sendirian. Demi bakti sang suami pada ibunya, Haniyah mengambil keputusan nekat: Ia meminta Haris mencari wanita lain. Saat penolakan keras Haris tak kunjung luntur, Haniyah memilih cara paling menyakitkan. Ia pergi, meninggalkan surat cerai di atas bantal, dan menghilang ke pelosok desa yang jauh dari jangkauan.
Di tengah kesunyian desa dan hati yang hancur, sebuah keajaiban muncul. Di saat ia sudah melepaskan statusnya sebagai istri, Allah menitipkan detak jantung di rahimnya. Haniyah hamil. Di saat ia tak lagi memiliki sandaran, dan di saat Haris mungkin sudah menjadi milik orang lain.
Haruskah Haniyah kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANTARA TUGAS DAN GETARAN HATI.
Kepergian Farel dan Ratih ke pondok kayu meninggalkan keheningan sejenak di ruang tengah vila. Haris menyandarkan punggungnya, menatap adiknya yang masih duduk tegak dengan seragam polisi yang melekat gagah. Di kepalanya, kata-kata Ratih tadi terus berdengung. Sebagai kakak laki-laki satu-satunya, Haris mulai merasa bahwa kekhawatiran Ratih ada benarnya. Nabila terlalu berdedikasi pada lencana di dadanya hingga melupakan detak jantungnya sendiri.
"Nabila, pikirkan apa yang dikatakan Ratih tadi. Jangan sampai kamu terlalu fokus pada borgol dan penjahat sampai lupa kalau kamu juga seorang wanita," ujar Haris dengan nada serius namun tenang.
Nabila mendengus, ia membetulkan posisi duduknya yang kaku. "Kak, Ratih itu hanya sedang bersemangat karena dia baru saja menikah. Jangan ikut-ikutan mendesakku. Aku lebih suka hidup sendiri, bebas tanpa drama rumah tangga."
Rosita yang sejak tadi menyimak langsung menimpali dengan nada bicara khas ibu-ibu yang mulai cemas. "Kakakmu benar, Nabila. Umurmu sudah hampir dua puluh tujuh tahun. Itu usia yang sangat matang untuk berumah tangga. Jangan tunggu sampai tiga puluh tahun, Ibu takut nanti kamu sulit mendapatkan keturunan."
Mendengar kalimat sulit mendapatkan keturunan, Haniyah yang duduk di samping Haris seketika terdiam. Ada rasa perih yang sedikit menyengat di hatinya. Ia teringat masa-masa sulit saat baru menikah di usia dua puluh dua tahun, namun harus menunggu hingga lima tahun sebelum akhirnya Tuhan menitipkan dua nyawa di rahimnya. Haniyah tahu bahwa umur bukan satu-satunya penentu kesuburan, namun karena ia paham watak ibu mertuanya yang sedikit kolot, ia memilih untuk tetap diam dan tidak ikut campur dalam perdebatan keluarga itu.
Nabila yang merasa semakin terpojok akhirnya berdiri. "Cukup. Aku datang ke sini untuk melepas rindu, bukan untuk disidang. Aku harus kembali ke rumah dinas sekarang karena besok pagi ada apel luar biasa."
"Pikirkan lagi, Dek. Ini untuk kebaikanmu juga," seru Haris saat Nabila berpamitan pada Rosita dan Haniyah.
Nabila hanya mendengus kesal tanpa menoleh pada kakaknya. Ia segera melangkah keluar, di mana Bima Batara sudah berdiri tegak di samping mobil jip putih mereka. Bima dengan sigap membukakan pintu untuk komandannya. Nabila masuk ke kursi penumpang dengan wajah ditekuk, sementara Bima segera mengambil posisi di kursi kemudi.
Mobil jip itu melaju menuruni perbukitan yang gelap. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam kabin mobil terasa sangat dingin, jauh lebih dingin daripada suhu udara di luar. Nabila menyandarkan kepalanya, mencoba mengusir bayangan kata-kata ibunya. Namun, ingatannya justru melayang pada ucapan Ratih yang menyebut Bima tampan.
Secara refleks, Nabila melirik Bima dari samping. Dalam remang lampu dasbor, garis rahang Bima terlihat tegas. Pria itu tampak sangat fokus memperhatikan jalanan yang berkelok. Nabila harus mengakui dalam hati bahwa Bima memang memiliki daya tarik yang kuat, namun ia segera membuang pandangannya ke luar jendela saat menyadari arah pikirannya mulai melenceng.
"Komandan, sepertinya Anda sedang banyak pikiran," suara Bima memecah keheningan. Suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya, tidak ada nada kaku seperti saat mereka sedang bertugas di lapangan.
Nabila terkejut karena lamunannya buyar. "Bukan apa-apa, Bima. Hanya masalah keluarga yang sedikit berisik."
"Jika ini tentang perdebatan di dalam tadi, saya sarankan Anda tidak perlu terlalu memikirkannya. Fokuslah pada apa yang ingin Anda kerjakan. Saya pasti akan selalu mendukung Anda, apa pun keputusan Anda," lanjut Bima.
Nabila menoleh, menatap asistennya dengan tatapan bingung. Biasanya mereka hanya bicara tentang pasal hukum, strategi penggerebekan, atau laporan patroli. Namun kali ini, kata-kata Bima mengandung sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat perut Nabila terasa seperti diaduk.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Nabila singkat.
"Karena saya tahu dedikasi Anda pada seragam ini lebih besar dari siapa pun. Dan saya menghargai itu," jawab Bima tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.
Sesampainya di depan rumah dinas, Nabila langsung turun bahkan sebelum Bima sempat membukakan pintu untuknya. Ia berjalan cepat masuk ke rumah tanpa menoleh sedikit pun pada Bima yang masih mematung di samping mobil. Bima hanya bisa menatap punggung komandannya yang menghilang di balik pintu kayu.
Bima menghela napas panjang sambil menyandarkan tubuhnya di kap mobil. Ia menyadari bahwa suasana antara dirinya dan Nabila tidak akan pernah sama lagi setelah malam ini. Kehadiran keluarga Nabila yang mulai menjodoh-jodohkan mereka justru menciptakan dinding pembatas yang semakin tebal.
"Dia pasti merasa tidak nyaman sekarang. Bekerja dengan perasaan canggung hanya akan merusak profesionalisme kami di lapangan," gumam Bima pada kegelapan malam.
Bima sangat tertarik pada Nabila, bukan hanya karena kecantikannya, tapi karena ketegasan dan prinsip hidupnya yang kuat. Namun, Bima sadar posisinya. Ia hanya seorang bawahan. Ia tidak ingin menjadi beban bagi karier Nabila yang sedang bersinar terang. Setelah merenung cukup lama, Bima mengambil sebuah keputusan yang sangat berat.
Keesokan paginya, sebelum apel dimulai, Bima mendatangi meja Nabila dengan sebuah map cokelat di tangannya. Nabila yang sedang memeriksa berkas kasus pencurian ternak mendongak dengan kening berkerut.
"Ada apa, Bima?" tanya Nabila ketus, masih menyimpan sisa kecanggungan semalam.
Bima meletakkan map itu di atas meja. "Ini surat permohonan pemindahan tugas saya, Komandan. Saya rasa, akan lebih baik jika Anda mendapatkan ajudan baru yang bisa bekerja lebih sinkron dengan Anda tanpa ada hambatan komunikasi seperti sekarang."
Nabila tertegun. Ia meraih map itu dan membacanya dengan cepat. Jantungnya berdegup kencang, ada rasa tidak rela yang tiba-tiba muncul di dadanya. "Apa alasannya? Komunikasi kita baik-baik saja selama ini."
" Komandan tahu alasannya. Saya tidak ingin perasaan pribadi saya, atau tekanan dari keluarga Anda, mengganggu kinerja kepolisian di wilayah ini. Demi masa depan Anda yang masih panjang, lebih baik saya pergi," ujar Bima dengan tatapan mata yang sangat jujur.
Nabila terdiam membisu. Ia menatap surat di depannya, lalu menatap Bima yang berdiri tegap menanti jawaban. Di dalam hatinya, Nabila mulai bertanya-tanya, apakah egonya untuk tetap hidup sendiri lebih berharga daripada kehilangan pria yang selama ini selalu menjadi tameng dan pendukung setianya di setiap bahaya?
"Bima, ambil kembali surat ini," ujar Nabila dengan suara rendah namun bergetar.
"Tapi Komandan," sela Bima.
"Ini perintah. Aku tidak memberikan izin kepadamu untuk pergi. Sekarang, siapkan mobil. Kita harus melakukan pengecekan ke lokasi perbatasan," potong Nabila sambil berdiri, menyembunyikan wajahnya yang mendadak memerah.
Bima tertegun sejenak, namun kemudian sebuah senyum tipis muncul di bibirnya. Ia mengambil kembali map itu dan memberikan hormat sempurna. "Siap, Komandan!"
Mungkin Nabila belum siap untuk sebuah pernikahan, namun hari itu ia sadar bahwa ia juga belum siap kehilangan kehadiran Bima di hidupnya. Kisah mereka mungkin baru saja dimulai, jauh lebih rumit daripada menangkap penjahat paling licin sekalipun.