Di pesta 1 tahun pernikahan, Reta tewas dalam kecelakaan mobil yang diatur suami dan sahabatnya sendiri.
Beruntung Tuhan memberi Reta kesempatan kedua.
Kali ini, dia berjanji akan merebut semua yang pernah menjadi miliknya.
Berencana menghubungi satu-satunya keluarga yang dipercaya, malah berakhir dalam kesalahpahaman.
"Kubeli tubuhmu seharga 3M." tegas Max menatap gadis bersetelan bikini di depannya,
Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tubuh seharga 3M
WARNING 21+ HARAP BIJAK DALAM MEMBACA!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tubuh Ana mematung, ditatapnya handuk putih yang terjatuh di atas lantai.
Persetujuan tadi masih mengejutkan, benarkah pria itu sanggup membayarnya?
DEG!
Degup jantung Ana terpacu semakin cepat saat telunjuk dingin Max membuka ikatan tali di pinggangnya.
Takut? Pasti.
Terasa keras dan dingin, pucuk batang Max menyesak masuk ke sela paha. Dia memaksa Ana membuka jalan dengan merentangkan kaki,
"Jangan---HM!" suaranya tercekat,
Max sigap membungkam mulut yang hendak berteriak, sembari memaksa benda kekarnya masuk sepenuhnya.
Dingin dan sempit, perlahan digoyangkan pinggul sambil terus menahan Ana agar tak bisa melawan.
"HM! HM!" Ana meronta,
Berusaha menarik paksa tangannya namun tak bisa. Tenaga pria itu terlalu kuat,
Ana memejamkan mata, merasakan nyeri menusuk, dirasakan batang keras Max menerobos masuk perutnya. Perih dan panas,
"Sh...ah!" Max mendesah, merasakan himpitan yang menyesakkan, tak henti memanjakan benda kekarnya.
"Ah..."
Kepalanya mendongak, menggigit bibir bawahnya sendiri. Tak menghiraukan gadis yang tengah melawan,
Gigi Ana menancap, memberi rasa sakit berharap dilepaskan, namun pria itu telah dimabuk kepayang.
"Argh, mau sampai kapan dia seperti ini?" batin Ana kewalahan,
Kakinya bergetar lemas tak mampu menahan lagi. Perlahan Max sadar, langsung berganti posisi,
Menarik mundur tubuh Ana dan membuatnya membungkuk, dengan kepala menyentuh tembok kedua tangannya di tarik ke belakang punggung.
Tanpa melepas hentakan Max terus menyerang secara brutal,
"Ah! Sudah cukup." pinta Ana mulai berkeringat,
"Sudah, Pak. Saya tidak kuat lagi,"
"Ck! Berhenti mengoceh."
PLAK!
Tegur Max menepuk bokong yang bergetar kencang dibuatnya.
"Tapi, kaki saya benar-benar sakit!" sanggah Ana mengeraskan suara,
Ucapannya membuat Max kesal, tak ingin mendengar alasan dia pun bergegas menegakkan Ana.
Berpikir jika akan dilepaskan, itu salah besar.
Max tak kehabisan akal, dia justru mengangkat kedua kaki Ana dari belakang.
Lengan kekarnya ikut bergerak dan mempercepat guncangan.
"Sh! Ah..."
"Ah!!"
"Sial! Kenapa aku ikut mendesah?!" hardik Ana dalam hati,
Meski menolak tubuhnya tetap merespon setiap serangan. Tubuh bawahnya terasa nyeri dan berkedut hebat,
"HH! Jadi kamu suka gaya seperti ini?" lugas Max tersenyum puas.
"Tidak. Saya tidak suka!" Menggeleng cepat,
"Kalau begitu, ayo kita coba gaya lain."
Max berbalik ke arah ranjang, membawa tubuh Ana berbaring tengkurap tanpa menarik pedangnya. Kini mereka beralih dalam posisi menungging,
"Aw!" pekik Ana terpaksa mendongak sebab rambutnya yang dijambak.
"Kenapa lama sekali? Padahal waktu itu dia tidak selama ini?!"
Pinggul Max menghentak keluar masuk, membuat benda gayal Ana bergoyang tak karuan. Sigap ditahan dengan satu tangan,
"Hng..." Max mengernyit kesal, langsung menepis kemana tangan Ana berada.
Mengganggu tontonannya yang asik melihat benda gayal itu bergerak.
"Sh, ah!"
"Mm..." Ana mengulum bibir, menghentikan desahan yang nyaris lolos.
Tak berdaya saat Max meremas dan memijat lembut dadanya.
BRAK!
Tubuh Ana dibanting rendah dan dimiringkan ke kiri. Diangkatnya tinggi satu kaki yang menghalangi gerakan, lalu Max sandarkan ke atas pundak.
"Hah, yang benar saja..." rengek Ana dalam hati.
Pinggulnya sakit seperti terhimpit gelondongan kayu, kewalahan menghadapi stamina pria yang tak ada habisnya.
Max tak sengaja melirik ke bawah, mendapati darah segar membasahi benda kekarnya bahkan sampai menetes mengotori ranjang.
Seharusnya dia merasa bersalah, tapi tak tahu mengapa Max malah semakin tergoda melihat Ana yang menahan diri, menolak bereaksi meski tubuhnya telah dibuat tunduk.
Kemudian Max bergeser, merubah tubuh Ana agar terbaring menghadapnya. Menunduk dan bertumpu pada kedua kaki mungil yang ditekuk ke depan perut,
"..." Ana terdiam kikuk, sedikit lega saat Max menurunkan kecepatan.
Mata mereka saling memandang,
"Jadi, gaya mana yang paling kamu sukai?"
"Saya---tidak suka semuanya," jawab Ana menurunkan pandangan.
Tak menyangka jika ucapannya justru membuat harga diri Max tertantang.
Detik selanjutnya Max kembali mempercepat hentakan, mengulurkan tangannya untuk memainkan pucuk benda gayal yang terus bergoyang.
Max membiarkan kedua kaki Ana terbuka, membuka jalan agar bisa menunduk.
"Ah!" Ana mengerang,
Reflek menjambak rambut pria yang menyesap tubuhnya seperti bayi.
Max dengan lihai mengulum pucuk benda gayal itu dan memutar-mutar dengan lidahnya,
"Sh! Ah...berhenti melakukannya," pinta Ana sambil menggeliat.
Mulutnya berkata apa dan tubuhnya bertingkah sebaliknya. Tangan Ana justru menekan kepala Max dan mengalungkan kaki ke atas punggungnya,
"Hentikan. Saya sudah tidak kuat lagi,"
"AH!!" Ana mendongak, merasakan sesuatu baru saja keluar dan memenuhi perutnya.
Max beranjak melepaskan diri, dibuat kaget oleh noda yang membasahi tubuh.
Darah yang Max lihat sebenarnya sisa mens Ana. Tadi dia ingin menjelaskan namun Max terburu-buru menusuknya,
"Apa tubuhmu baik-baik saja mengeluarkan darah sebanyak ini?"
"Saya kan sudah bilang berhenti. Ah---tubuh saya rasanya lemas sekali, bagaimana kalau saya mati kehabisan darah." gumam Ana sengaja berdusta,
Memasang wajah memelas agar pria itu luluh, dengan begitu dia takkan disentuh lagi.
"Tenang saja, aku takkan membiarkanmu mati."
Max berjalan meraih handuk guna mengusap sisa darah di batangnya.
"Aku tahu kamu kuat. Buktinya kamu sanggup menemaniku sampai klimaks," bergumam memunggungi.
"Kebanyakan wanita lain sudah pingsan,"
"Hh! Dia benar. Kenapa aku tidak pingsan?" pikir Ana mengernyit,
"Kalau tidak salah, waktu itu aku pingsan. Apa berarti dia langsung melepasku? Ah! Harusnya tadi, aku pura-pura pingsan."
"Berarti...sebenarnya, berapa banyak wanita yang sudah kau tiduri?!" Membentak dalam hati,
"Ada apa?" sontak Max berbalik,
Bingung menatap gadis yang melihatnya dengan jijik.
"Bapak ga punya penyakit menular, kan?"
"Tenang saja, aku selalu memakai kondom."
"Eh---kecuali tadi. Aku tidak tahu ada kejadian seperti ini, lain kali biar kusimpan dalam saku."
"Tidak ada lain kali! Saya tidak mau." tegas Ana menolak,
"Lho, bukannya kamu sepakat menjual diri seharga 3M?"
"Ng! Itu saya cuma asal jawab karena Bapak ga mungkin punya uang segitu."
"Tapi karena Bapak sudah memperkosa saya, mau ga mau Bapak harus bayar 3M! Saya ga mau tahu dapet uang darimana, pokoknya harus bayar sekarang juga."
"Cepat!" amuk Ana beranjak duduk, tangannya mengulur meminta bayaran.
Max tertegun, sadar jika gadis itu hanya berpura-pura lemah. Reaksinya membuat Max semakin tertarik,
"Baiklah, habis ini kuambilkan buku cekku."
"Emangnya uang sebanyak itu mau kamu buat apa?"
"Mau buat sewa gigolo. Hh!" Ana menjawab asal lalu mengernyitkan hidung.
"..." Ditatapnya raut Max yang berubah muram. Dibuat bingung, mungkinkah Max tersinggung?
Tidak, pria itu tidak tersinggung. Rautnya murung sebab teringat masa lalu,
Entah mengapa jawaban dan ekspresi Ana persis seperti yang selalu Reta lakukan,
Keponakannya dulu sering mengoceh meminta uang dan menjawab hal serupa.
Mungkin hanya kebetulan, tapi sudah ketiga kalinya Max merasakan kesamaan di antara mereka.
jangan lupa mampir juga di novel saya judul nya"Dialah sang pewaris" di tunggu yah kaka semua