NovelToon NovelToon
Tergoda Janda Kembang

Tergoda Janda Kembang

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Romansa pedesaan / CEO
Popularitas:90.8k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.

Tapi, nasib justru mempermainkannya. Malam itu, Rayyan menyelamatkan Lilis yang hendak di lecehkan seseorang, tapi Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang membuat warga desa salah paham, hingga mengharuskannya menikahi Lilis, seorang janda kembang.

Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?

Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ulat Bulu

#6 

Motor milik Nanang berhenti di dekat ladang cabai yang luas membentang, sejauh mata memandang, hanya hamparan pohon cabe yang Rayyan lihat. 

Beberapa ibu membawa bakul di punggung, benda itu akan mereka pergunakan sebagai wadah penampungan untuk cabai yang akan mereka petik nanti. 

Rayyan berkeliling ladang, dan Nanang setia menemani hingga Rayyan puas melihat-lihat. “Ray, itu Pak Noto yang punya ladang.” 

Rayyan menatap ke arah yang ditunjuk oleh Nanang, “Ayo, kita temui beliau.” 

“Pak,” sapa Nanang. 

“Eh, kamu, Nang. Ada perlu apa?” 

“Ini, Pak. Lagi menemani kawan saya survey perkebunan cabai,” kata Nanang menjelaskan. 

“Iya, Pak. Saya berencana membuka usaha sambal, jadi lagi survey-survey untuk rasa cabai yang saya inginkan,” dusta Rayyan, walau sebagian benar. 

“Ow, iya, iya. Silahkan, barangkali cocok langsung saja ke Ratri, biasanya dia yang mengurus pengiriman.” 

“Siap, Pak,” jawab Nanang dan Rayyan bersamaan. Kemudian Pak Noto pun kembali melanjutkan pekerjaannya menjadi mandor yang mengomando para pekerja yang menyemai bibit cabai baru. 

“Nang, Ratri itu siapa?”

“Anak bungsu Pak Noto.” 

Rayyan manggut-manggut, “Cantik, tidak?” 

“Cantik, ups—” Nanang buru-buru membungkam mulutnya. 

Melihat Nanang yang salting mendadak, Rayyan menyipitkan mata karena curiga. “Kamu suka sama anaknya Pak Noto?” 

“Eh, i-itu anu, tak seperti yang kamu bayangkan,” elak Nanang semakin grogi. 

“Memang aku membayangkan apa? Kenapa wajahmu seperti udang kepanasan?” 

Nanang semakin grogi hingga ia pun berjalan cepat menelusuri pematang ladang cabai, “Nang, tunggu aku! Kenapa kamu lari dariku?!” pekik Rayyan jahil. 

“Karena kamu sedang kumat,” jawab Nanang, sambil menoleh ke belakang, hingga—

Bruk! 

“Ahs! Ya, tumpah, deh,” keluh orang yang Nanang tabrak. 

“Ups!” Rayyan berdiri diam di tempatnya. Sementara Nanang terpaku sejenak, lalu buru-buru membantu orang itu mengumpulkan cabai rawit yang berserakan di tanah. 

“Maaf, aku tak sengaja,” ucap Nanang, sedikit gugup karena yang ia tabrak adalah Ratri anak Pak Noto. 

“Eh, Mas Nanang, toh. Nggak papa, Mas. Masih bisa diambil lagi, kok,” tukasnya dengan suara lembut, namun mampu membuat jantung Nanang jumpalitan tak karuan. 

Rayyan tak tinggal diam, di tengah suasana kikuk yang melanda Nanang, pria itu ikut membantu Nanang dan Ratri mengumpulkan cabai. 

Hingga beberapa saat kemudian, semua cabai kembali berpindah ke bakul yang berada di tangan Ratri. “Sekali lagi maaf, ya,” ucap Nanang. 

“Iya, Mas,” jawab Ratri, namun tatapan gadis itu mengarah pada Rayyan. 

“Kenalkan, ini temanku dari kota, namanya Rayyan.” 

Rayyan hanya mengangkat telapak tangan menyapa, “Hai, aku Rayyan.” 

Tak disangka diam-diam Ratri tersipu. “Ya, sudah kami berkeliling lagi,” pamit Nanang. 

“Silahkan, Mas.” Ratri sedikit menepi, agar Nanang dan Rayyan bisa lewat, tapi diam-diam gadis itu menatap Rayyan dengan penuh kekaguman. “Rayyan, nama yang bagus, orangnya juga tampan,” gumam Ratri seorang diri. 

•••

Setelah puas berkeliling, dan mencicipi beberapa cabai dari ladang, mereka pun kembali ke Desa Kembang Turi. 

“Gimana? Cocok dengan rasa cabainya?” 

“Hampir, sedikit lagi, apa masih ada ladang cabai lain?”

Mereka terus berbincang sementara motor melaju perlahan. “Di sekitar sini, hanya ladang Pak Noto. Kalau mau ladang yang lain letaknya cukup jauh, butuh 40 menit perjalanan, karena harus melewati lebih dari enam desa.” 

“Apalah artinya enam desa, aku sudah terlanjur jauh-jauh datang dari kota.” 

“Kamu bilang, mau liburan?” 

“Ya, nggak papa, kan, sambil membereskan urusan pekerjaan.” 

“Ya, sudah, besok saja kita lanjutkan lagi.” 

Ketika hampir masuk ke perbatasan desa, ban motor Nanang tiba-tiba kempes, “Perasaan tadi baik-baik saja,” gerutu Rayyan. 

“Biasa, jalanan di desa kan gak mulus seperti jalanan di kota, batu tajam, atau paku juga bisa menjadi penyebab ban motor cepat rusak.” 

Tak ada pilihan selain pasrah mendorong kendaraan roda dua tersebut. Karena tambal ban agak masuk ke dalam jalan desa. 

“Nang, dari mana?” sapa seorang bapak yang hendak pergi mencangkul di sawah. 

“Dari desa sebelah, Pak. Sekarang ban motor minta jajan,” jawab Nanang sambil bergurau. 

Tak hanya bapak itu saja, tak lama berselang, beberapa warga yang juga menyapa Nanang dan Rayyan dengan ramah, semuanya tersenyum tulus, meski hanya sekedar bertanya. Benar-benar lingkungan yang menyenangkan, semua orang saling kenal, dan saling sapa tanpa rasa curiga. Hal yang kini jarang di jumpai di perkotaan. 

Tiba di tempat tambal ban, mereka pun masih harus mengantri, karena Nanang bukan pelanggan pertama, dan hanya disitu saja tempat untuk menambal ban. 

Rayyan mulai berkeringat, karena matahari semakin terik, “Panas, Nang,” keluhnya. 

“Tuh, ada warung, beli es atau air putih sana.” 

“Sendiri?”

“Kayak anak perawan aja minta di antar,” cibir Nanang, namun begitu ia tetap menemani Rayyan menghampiri warung milik Lilis. 

Warung belum ramai, karena belum jam istirahat orang-orang yang bekerja di sawah, dan Lilis juga masih menyiangi sawi sebagai teman mie rebus dagangannya. 

“Lis, sudah ada es?” 

“Belum, Mas, tadi aku minta tolong si Yanto beli, tapi sampai sekarang belum kembali,” jawab Lilis. 

Rayyan mengamati sekeliling isi warung, sebuah meja melingkari tempat Lilis, ada rak berisi bungkusan mie instan berbagai rasa dan merek. Ada jajanan renceng yang tergantung di beberapa sisi dinding dalam warung, sudah seperti hiasan di dalam toko tersebut. 

“Ray— ya elah, dia malah bengong. Woi, Rayyan anaknya Tuan Ulet. Jadi mau nunggu es, atau mau minum air putih.” 

Ucapan Nanang membuyarkan lamunan Rayyan. “Eh, kamu ngomong apa barusan?” tanya Nanang kaget. 

“Mau nunggu es, atau mau air putih saja?” 

“Air mineral ada?”

“Ada, sebentar, belum di keluarin dari kresek.” Lilis yang menjawab ucapan Rayyan. 

“Air mineral dua, ya?” pesan Nanang.

Lilis mengangkat beberapa tumpukan kresek hasil belanjanya, kemudian mengeluarkan kresek yang cukup berat untuk diangkat seorang wanita. Namun, Lilis tetap melakukannya tanpa bantuan siapapun. 

“Silahkan ambil sendiri, Mas. Aku mau melanjutkan menyiangi sayur.” Lilis mempersilahkan Nanang dan Rayyan untuk merogoh kresek hitam berisi air mineral kemasan, karena dia harus melanjutkan bersih-bersih sayuran. 

Nanang yang kasihan dengan Lilis justru mengeluarkan semua botol tersebut, kemudian menatanya di tempat seharusnya. “Lho, nggak usah, Mas. Nanti biar aku yang tata.” 

“Nggak papa, Lis.” Nanang tetap melanjutkan kegiatannya, sambil menyodorkan sebuah botol yang masih bersegel rapat untuk Rayyan. 

Tapi— 

“Huwaaaaa! Apa itu? Kenapa kamu memberikannya padaku?!” jerit Rayyan segera naik dan berdiri di kursi paling pojok, wajah tampannya langsung pucat ketakutan, sambil memejamkan mata. 

Lilis dan Nanang langsung menoleh, agak lucu dan menggelikan saja tingkah Rayyan, badan tinggi menjulang, postur tegap, tapi meringis ketakutan, dan penyebabnya adalah seekor ulat bulu. 

😅🤧

•••

Sementara itu, di tempat lain. 

Seorang wanita tua tengah duduk diam, membisu di tengah tatapan anak dan menantunya. “Terserah kalian,” katanya dingin. 

“Syukurlah, jika Ibu mengizinkannya, kasihan anak mereka bila Dio dan Monica tak segera menikah,” ucap Pak Rasyid lega. 

“Iya, Bu. Terima kasih karena sudah merestui hubungan Dio dan Monica,” sambung Bu Fatma. 

Mbah Nuning berdiri tiba-tiba dari kursinya. “Bukan hubungan, tapi perselingkuhan memalukan. Mereka bergumul seperti binatang tanpa ikatan pernikahan, dan anak mereka nanti tidak bernasab padamu Rasyid Erlangga, tapi pada keluarga Monica! Jadi jangan harap aku akan memberikan hak waris pada anak hasil hubungan kotor mereka.” 

“Tidak apa-apa, Bu. Itu masih lama, kita pikirkan nanti bagaimana solusinya. Iya, kan, Pa?” Bu Fatma mencoba mencairkan suasana. “Yang penting kita sah kan dulu hubungan Dio dan Monica.” 

Betapa bahagianya Bu Fatma, senyumnya lebar, karena impiannya memiliki menantu berpendidikan tinggi akhirnya terkabul. 

Disamping itu dirinya pun kenal baik dengan orang tua Monica, jadi makin tak sabar rasanya mengadakan pesta besar merayakan pernikahan anak dan menantunya kelak. 

1
Rahmawati
dulu lilis makan asal kenyang, gk peduli ada gizinya ato tidak.
cepet pulih ya lis
ardan
bagus ceritanya seru nih
Bunda Aish
wes cari yang lain saja Nang, yang gak menilai dari fisik dan materi.... makan hati kalau dpt yg begituan mah
Bunda Aish
habis itu lihatlah mukanya anaknya Monica ya Dio biar semakin menyesal kau memilih wc umum 😏
Esther
Makan yang banyak Lis supaya cepat pulih kesehatanmu
Shee_👚
nah Nanang kenapa ini, ngasih kabar kah kalau ibu nanang harus op
Shee_👚
😭😭😭😭
pantes lah kalau kurang gizi, lilis banting tulang buat nyari uang kebutuhan emak tiri
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh ada apa tuh 🤔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
🥺😭😭😭
Nar Sih
makan yg banyak ya lis,biar sehat dan sgra bisa hamil lgi ,kira,,ada apa dgn nanang ,lanjut kakk moon👍🥰
Patrick Khan
eh kenapa q ikut bukak mulut mw makan juga😂
moon: ngarep ada yang nyuapin, ternyata cuma nyuapin harapan palsu
total 3 replies
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
sabar ya Lis,nanti bisa hamil lagi...
Meliandriyani Sumardi
bawa emaknya nanang ke rsnya tuan ulat bulu biar diobatin dengan maksimal..kasian nanang kalau gitu
Netty Siska Rondonuwu
lanjut dong
Bunda Aish
tunjukkan pesona mu Lis.... Dio,semoga dikau segera dirambati perasaan menyesal 😏
Dew666
💎💎💎💎💎
ardan
wkwkwk🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga cepet diganti ya 😭😭😭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Hebatnya lagi
Rahmawati
nanti kasih mereka anak kembar Thor biar rumah tuan gusman rame
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!