"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"
Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"
Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."
Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.
"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."
Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 - MASA LALU YANG TERKUBUR
Jalan Mawar di Cikokol, Tangerang adalah area kumuh jauh berbeda dari kemewahan rumah keluarga Adisaputra. Rumah-rumah berdesakan, gang sempit, bau sampah bercampur got.
"Lenna berasal dari sini?" Regan menatap sekeliling dengan tidak percaya.
"Sepertinya begitu." Dara turun dari mobil. "Ayo kita tanya penduduk sekitar."
Mereka mendekati seorang ibu tua yang sedang duduk di depan warung kecil.
"Permisi, Bu. Kami cari seseorang yang mungkin tinggal di sini, namanya Maya. Atau mungkin ada yang kenal dengan keluarga yang punya anak bernama Lenna?"
Ibu tua itu menatap mereka curiga. "Kalian siapa? Penagih utang?"
"Bukan, Bu. Kami keluarga... teman Lenna. Mau mengunjungi keluarganya."
"Lenna?" Ibu tua itu mendengus. "Si penipu itu?"
Dara dan Regan bertukar pandang.
"Penipu? Maksud Ibu?"
"Ya, penipu! Dulu dia dan ibunya, Maya, tinggal di ujung gang sana. Rumah kecil yang sekarang sudah kosong. Maya pinjam uang ke banyak orang di sini, bilang mau buka usaha. Tapi uangnya habis entah ke mana. Terus Maya kabur, ninggalin utang bertumpuk."
"Maya kabur? Ke mana?"
"Entahlah... Katanya dia sakit keras, perlu biaya pengobatan mahal. Tapi ada yang bilang dia cuma bohong supaya orang kasihan dan minjemin uang lagi."
"Lalu Lenna?"
"Lenna waktu itu masih remaja cantik dan pintar akting. Dia yang sering nangis-nangis minta tolong ke orang-orang, bikin orang kasihan. Terus tiba-tiba satu hari Lenna menghilang. Beberapa bulan kemudian, ada yang lihat dia naik mobil mewah. Ternyata dia diadopsi keluarga kaya."
"Ibu tahu siapa yang adopsi Lenna?"
"Tidak tahu namanya, tapi katanya keluarga besar dari Jakarta. Lenna bilang dia akan bayar semua utang ibunya kalau dia sudah hidup enak. Tapi sampai sekarang..." ibu tua itu meludah, "...tidak ada sepeserpun yang dibayar!"
Dara merasakan kepingan puzzle mulai tersusun.
"Bu, apa ada yang tahu di mana Maya sekarang?"
"Coba tanya Mang Kasim, tukang becak di ujung jalan. Dia dulu dekat sama Maya, mungkin dia tahu."
Mang Kasim adalah pria tua kurus dengan kulit gelap terbakar matahari. Dia sedang memperbaiki becaknya saat Dara dan Regan mendekat.
"Mang, boleh tanya tentang Maya? Ibu dari Lenna?"
Mang Kasim berhenti bekerja, menatap mereka dengan mata tajam.
"Kalian mau apa sama Maya?"
"Kami perlu bicara dengannya, tentang Lenna."
"Lenna..." Mang Kasim tersenyum pahit. "Si anak durhaka itu, sudah lama saya tidak dengar namanya."
"Mang kenal Lenna?"
"Kenal... Bahkan terlalu kenal." Mang Kasim meludah. "Dulu Maya utang sama saya, bilang mau bayar begitu Lenna dapat pekerjaan bagus. Tapi yang terjadi Lenna malah kabur, ninggalin ibunya yang sakit."
"Maya sakit apa?"
"Kanker stadium akhir. Butuh pengobatan mahal, waktu itu Lenna baru berumur tujuh belas tahun. Dia bilang dia akan cari cara dapat uang. Beberapa bulan kemudian Maya cerita Lenna diadopsi keluarga kaya. Maya senang, pikir Lenna akan kirim uang untuk pengobatannya."
"Lenna tidak kirim uang?"
"Kirim, tapi tidak cukup... hanya sedikit-sedikit. Maya marah, datang ke rumah keluarga yang adopsi Lenna. Tapi satuan pengamanan tidak biarkan Maya masuk. Lenna keluar, bicara sebentar dengan Maya di gerbang, kasih sedikit uang, terus suruh Maya pergi dan tidak datang lagi."
Dara mengingat, ini pasti kejadian yang difoto Bi Darmi tiga tahun lalu.
"Terus apa yang terjadi dengan Maya?"
Mang Kasim terdiam lama. "Maya meninggal setahun setelah itu, kehabisan uang untuk pengobatan. Meninggal dalam kesakitan di rumah kumuh itu sendirian. Anaknya bahkan tidak datang di hari terakhirnya."
Hening.
"Lenna tidak datang ke pemakaman ibunya?"
"Tidak, bahkan tidak kirim karangan bunga." Mang Kasim menatap mereka. "Jadi kalian ini siapa sebenarnya? Kenapa tanya-tanya tentang Lenna?"
Dara mengambil napas. "Saya... istri dari anak keluarga yang adopsi Lenna."
Mang Kasim tersentak. "Jadi Lenna sekarang tinggal sebagai apa di keluarga itu?"
"Adik angkat suami saya."
"Adik angkat..." Mang Kasim tertawa pahit. "Tentu saja, Lenna selalu pintar cari posisi yang menguntungkan. Dia seperti ibunya pintar manipulasi, pintar berpura-pura jadi korban."
"Mang, apa Lenna pernah punya pacar waktu masih tinggal di sini?"
"Pacar? Banyak. Lenna cantik, banyak yang suka. Tapi ada satu yang serius anak kampung sebelah, namanya Rio. Mereka pacaran dari SMP. Rio anak baik, tapi miskin. Keluarganya cuma pedagang kecil."
Rio... Pacar yang sama dengan sekarang.
"Mereka masih pacaran sampai sekarang?"
"Entahlah. Setelah Lenna pindah ke Jakarta, saya tidak tahu lagi. Tapi Rio dulu sering datang ke sini, nanya-nanya kabar Lenna. Terakhir saya lihat dia sekitar dua tahun lalu. Sudah jadi pegawai kantoran, pakai jas rapi."
"Mang, apa ada yang bisa membuktikan cerita ini? Foto, surat, apapun?"
Mang Kasim berpikir. "Rumah Maya masih ada, tidak ada yang mau tinggal di sana katanya angker. Tapi mungkin masih ada barang-barang Maya di dalam."
"Boleh kami lihat?"
"Silakan, tapi hati-hati. Rumahnya sudah rusak."
Rumah Maya memang sudah rusak parah. Atap bocor, dinding retak, pintu hampir lepas dari engsel.
Dara dan Regan masuk dengan hati-hati.
Di dalam bau lembab dan debu tebal. Furnitur sederhana yang sudah lapuk. Tapi di sudut ruangan, ada lemari kayu tua yang masih utuh.
Dara membukanya. Di dalamnya baju-baju lusuh, beberapa foto lama, dan sebuah kotak kaleng berkarat.
Dia membuka kotak itu.
Surat-surat... Puluhan surat.
Dara membaca satu per satu. Surat dari Lenna untuk Maya ditulis tangan, penuh janji manis.
"Ibu, aku janji akan kirim uang banyak. Aku akan bayar semua utang Ibu. Tunggu saja, Ibu akan hidup enak berkatku."
Tapi tanggal-tanggalnya, surat terakhir ditulis empat tahun lalu. Setelah itu, tidak ada lagi.
Ada juga surat dari penagih utang mengancam, kasar, menuntut pembayaran.
Dan yang paling mencengangkan surat dari rumah sakit, memberitahu bahwa Maya butuh operasi segera atau akan meninggal dalam enam bulan.
Tanggal surat itu tiga tahun lalu.
Tepat sekitar waktu Maya datang ke rumah Adisaputra meminta uang pada Lenna.
"Kak, lihat ini." Regan menunjukkan foto.
Foto keluarga Maya dan Lenna, berdiri di depan rumah kumuh ini. Maya terlihat sakit, kurus, tapi tersenyum. Lenna muda, cantik juga tersenyum, tapi matanya... dingin.
Bahkan di foto keluarga, mata Lenna terlihat dingin.
"Dia sudah manipulatif sejak kecil," bisik Dara.
"Dan dia membiarkan ibunya sendiri mati tanpa pertolongan yang cukup."
Dara mengumpulkan semua surat, semua foto, memasukkannya ke dalam tasnya.
"Ini cukup... Ini bukti bahwa Lenna bukan gadis polos, dia pandai berpura-pura. Dia penipu, dia pembohong, dia bahkan membiarkan ibunya sendiri mati."
"Kak, apa kita perlu cari tahu lebih banyak tentang hubungan Lenna dan Rio?"
"Tidak perlu. Kita sudah punya rekaman mereka dari apartemen Rio. Ditambah dengan bukti masa lalu ini..." Dara tersenyum dingin, "...Lenna tidak akan punya tempat untuk sembunyi lagi."
Mereka keluar dari rumah Maya, kembali ke mobil.
Di perjalanan pulang, Dara menatap keluar jendela. Matahari mulai terbenam, langit berubah jingga.
Besok, hari Jumat hasil tes DNA keluar.
Besok, dia akan hadapi Arkan dan Nyonya Devi dengan bukti bahwa anak dalam kandungannya adalah anak Arkan.
Dan besok juga, dia akan mulai membongkar topeng Lenna.
Perlahan.
Menyakitkan.
Seperti mencabut perban dari luka yang belum sembuh.
"Regan," katanya pelan.
"Ya, Kak?"
"Terima kasih untuk semua bantuanmu."
"Sama-sama, Kak. Kita tim sekarang, tim penghancur rubah betina."
Dara tertawa... tawa pertamanya yang tulus sejak terbangun di tubuh Kiara. Karena untuk pertama kalinya, dia merasa punya harapan menang.
lupita namanya siapa ya