Ethan dan Dira berpisah karena salah paham. Semuanya di mulai dari Kara, keponakan kesayangannya jatuh ke jurang. Belum lagi saat ia melihat Dira dan Jeremy bercumbu dalam keadaan telanjang. Hubungan keduanya hancur
6 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali. Dira kebetulan bekerja sebagai asisten dari adik Damian bernama Zora. Ethan masih membencinya.
Tapi, bagaimana kalau Dira punya anak dan anak itu adalah anak kandungnya? Bagaimana kalau Dira merahasiakan sesuatu yang membuat Ethan merasa bersalah dan benar-benar hancur? Akankah Ethan berhasil mengejar cinta Dira lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebetulan macam apa ini?
Sudah hampir sebulan Dira bekerja sebagai asisten Zora. Hanya dia juga yang tahu wanita itu akhirnya sudah menikah. Menikah diam-diam dengan seorang kepala polisi tampan bernama Arsen. Bukan apa-apa, Zora hanya tidak ingin banyak kehidupan pribadinya terlalu terekspos. Jadi hanya Dira orang kantor yang tahu.
Tak lama setelah Zora menikah, ada laki-laki lain yang terus mendatangi Zora di kantor Sinogenix. Dira masih kenal, nama laki-laki itu Damian. Teman Ethan. Dia selalu bersembunyi tiap kali Damian mendatangi kantor tersebut.
Dan paling gong-nya adalah, suatu kali Damian datang ke kantor membawa bukti kalau Zora adalah adik kandungnya. Dira juga kaget. Tapi dia hanya bisa menatap diam-diam dari jauh. Takut Damian mengenalinya. Bukan kenapa-napa, hanya saja menjauh dari semua orang yang memiliki hubungan dekat dengan Ethan akan jauh lebih baik.
Suatu hari, di saat Dira ditugaskan oleh Zora mencari jenis tanaman di sebuah desa kecil untuk penelitian wanita itu, lagi-lagi Dira tidak sengaja bertemu dengan Ethan. Laki-laki itu ada di desa yang sama. Bahkan mencari tanaman yang sama dengan tanaman yang dia cari. Dira tahu dari kepala desa.
"Mari, nona Dira. Silahkan masuk." kata kepala desa ketika Dira mencapai pintu ruangan lelaki paruh baya itu.
Namun langkah Dira masih terhenti di depan pintu. Matanya terpaku pada sosok laki-laki dengan aura intimidasi yang sangat kuat sedang duduk di dalam sana. Lelaki itu menatap Dira, namun hanya sesaat. Setelah itu fokus dengan dirinya sendiri.
Sudah lebih dari sebulan terlewati setelah pertemuan terakhir mereka di supermarket. Sekarang, ketemu lagi di tempat ini. Kok bisa? Ini bukan Jakarta, apa juga yang laki-laki itu lakukan di sini.
"Nona Dira?"
Dira bergeming. Berusaha bersikap biasa, lalu masuk.
"Silahkan duduk di sana, sebelah pak Ethan."
Hufftt...
Si kepala Desa ini memangnya gak lihat apa muka Ethan dingin begitu saat natap dia? Masih di suruh duduk sebelahan pula. Mau tak mau Dira duduk. Aura Ethan yang bak kulkas enam belas pintu itu makin terasa. Saat Dira duduk, dia tidak sengaja menyenggol lutut Ethan yang membuat pria itu menatapnya tajam.
Dira bego.
"Ehem." ia berdeham untuk menutupi rasa gugupnya.
"Perkenalkan pak Ethan, ini nona Dira. Dia juga ingin mencari tumbuhan yang sama dengan yang ingin anda cari. Mungkin kalian berdua bisa bekerja sama. Mengingat letaknya cukup jauh di dalam hutan. Nona Dira datang sendirian?"
"Ya," Dira menjawab pertanyaan kepala desa lalu bertanya.
"Tanamannya ada di dalam hutan? Belum di ambil sama bapak?"
Kepala desa tersenyum.
"Belum nona. Saya lupa bilang."
Genap sudah penderitaan Dira. Ketemu mantan yang memusuhinya, eh ... Di suruh masuk hutan pula. Tapi tanaman itu penting sekali buat bos-nya. Dia bisa apa coba? Terpaksa memang harus masuk ke hutan. Tapi ...
Ia melirik sedikit ke Ethan. Entah benar atau tidak, pria itu sepertinya belum bergerak bergerak sejak tadi. Tapi mungkin hanya pikirannya saja. Tidak masuk akal kalau Ethan tidak bergerak.
"Pak Ethan, anda juga datang sendiri kan?"
"Tapi aku tidak butuh teman. Aku bisa mengambil tanaman itu sendiri. Lebih nyaman sendiri, dari pada bersama orang asing."
Dira diam. Jemarinya saling meremas. Kepala desa tersenyum sedikit salah tingkah dan tidak enak pada Dira.
"Terserah kalian saja. Nona Dira, anda punya persiapan masuk hutan? Memang jaraknya tidak begitu jauh, mungkin sekitar setengah jam anda jalan dari desa ini. Tapi anda tetap butuh persiapan."
"Ada kok pak, saya bawah persiapan." jawab Dira tersenyum tipis. Tanpa ia sadar, Ethan meliriknya sekilas dari samping.
Kepala desa kemudian menjelaskan secara singkat letak tanaman itu, jalur yang harus ditempuh, serta larangan-larangan kecil yang biasa dipercayai warga setempat.
Dira mendengarkan sambil mengangguk, meski pikirannya tidak sepenuhnya fokus. Separuhnya sibuk menenangkan diri sendiri, separuh lagi … terlalu sadar akan keberadaan Ethan di sebelahnya.
Setelah pembicaraan selesai, kepala desa berdiri.
"Kalau begitu, silakan bersiap. Lebih baik berangkat sebelum matahari terlalu turun."
Ethan ikut berdiri. Laki-laki itu keluar tanpa menatap Dira. Dira menatapi kepergiannya lalu menghembuskan nafas panjang. Dia menunggu beberapa menit, memastikan Ethan pergi lebih dulu baru dia menyusul. Akan canggung sekali kalau mereka masuk hutan di waktu yang bersamaan.
Dira keluar dari kantor kepala desa dengan langkah pelan. Ia menuruni anak tangga kayu, menyesuaikan tali ransel di pundaknya. Dari kejauhan, punggung Ethan sudah tampak menjauh menuju jalan setapak di tepi desa. Pria itu berjalan mantap, seolah sudah hafal arah yang dituju.
"Bagus," gumam Dira pelan.
"Pergi duluan. Jangan bikin aku jadi canggung."
Ia menunggu hingga sosok Ethan benar-benar menghilang di balik pepohonan sebelum akhirnya melangkah menyusul. Jarak ia jaga cukup jauh. Sepuluh… mungkin lima belas meter. Cukup untuk tidak perlu berbincang, cukup untuk tidak perlu saling menatap. Dan cukup untuk membuat pria itu tidak kesal dan emosi ketika melihat wajahnya.
Jalanan mulai menyempit. Tanah lembap, daun-daun kering berserakan. Udara hutan terasa lebih dingin, lebih sunyi. Dira fokus pada langkahnya sendiri, sesekali mencatat tanda-tanda alam seperti yang biasa ia lakukan saat penelitian lapangan.
Namun baru beberapa menit berjalan, langkah di depan tiba-tiba melambat. Dira mengerutkan kening. Ia refleks ikut memperlambat langkah, lalu berhenti sepenuhnya ketika sosok di depan berhenti total.
Ethan berbalik.
Tidak bicara sepatah katapun. Hanya menatap dengan tatapan tajam seperti biasa. Dira agak ciut di tatap seperti itu. Dia tersenyum tipis, namun tidak di balas. Akhirnya dia memilih berjalan duluan. Langkahnya cepat sekali sampai-sampai ia tidak melihat ada lubang kecil di depannya.
Dira kaget begitu masuk ke lubang kecil tersebut dan tubuhnya tiba-tiba limbung. Dia pikir dia akan jatuh, ternyata tidak jatuh. Matanya dia tutup kuat-kuat. Ia merasakan sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya.
Jangan bilang itu ...
Ketika dia membuka matanya perlahan, tatapan dan tatapan Ethan bertemu. Keduanya saling menatap lama, sebelum Ethan melepaskan Dira dan pergi meninggalkan wanita itu dengan gaya sok cool-nya.
Dira merasakan jantungnya berdegup kencang sekali. Ia jelas tahu rasa itu masih ada dalam dirinya. Dan masih amat besar. Tapi berbeda dengan Ethan, pasti.
Ia kembali berjalan. Kali ini benar-benar menjaga jarak dari Ethan. Pria itu tidak berhenti lagi seperti tadi, namun justru itu yang membuat Dira merasa lebih lega, karena tidak perlu merasa canggung.
Beberapa menit berjalan dalam diam, Dira mulai bisa mengatur napasnya. Degup jantungnya perlahan mereda, meski bayangan sentuhan tadi masih terasa nyata di pinggangnya. Ia menggeleng kecil, mencoba mengusir pikiran yang tak seharusnya kembali.
Hutan makin dalam. Cahaya matahari menipis, digantikan bayang-bayang daun. Ethan tiba-tiba berhenti di depan. Dira ikut berhenti, kemudian ia melihat tanaman yang dia cari ada di sana, tepat di depan Ethan.
Dira bernafas lega, akhirnya ketemu.