NovelToon NovelToon
ORBIT TAK TERENCANA

ORBIT TAK TERENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Dosen / Pernikahan Kilat / One Night Stand
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Di Balik Meja Kayu Jati

Antares merapikan kemejanya, menarik napas panjang untuk menetralkan gairah yang masih tersisa, lalu membuka pintu.

"Ah, Pak Dekan. Silakan masuk," ucap Antares, kembali ke mode dosennya yang dingin dan tak tersentuh.

Dekan masuk dengan langkah berat, membawa sebuah map kulit berwarna emas. Ia duduk di kursi tepat di depan meja—hanya terhalang beberapa sentimeter dari tempat Zea bersembunyi. Zea bisa melihat sepatu pantofel mengkilap milik Dekan dari celah kecil.

"Maaf mengganggu waktumu, Antares. Tapi ini mendesak," ujar Dekan dengan nada sangat hormat, bahkan terlalu hormat untuk seorang atasan kepada bawahannya. "Ayahmu, Tuan Besar Bagaskara, baru saja menelepon. Beliau memutuskan untuk menghibahkan gedung laboratorium medis baru atas namamu."

Zea yang berada di bawah meja tersentak. Matanya membelalak. Ayahmu? Tuan Besar Bagaskara? Jadi gosip itu benar? Mas Antar-nya adalah pangeran dari dinasti kesehatan paling berkuasa di negeri ini?

"Saya sudah bilang berkali-kali, Pak Dekan," suara Antares terdengar datar, namun ada nada kemarahan yang tertahan. "Saya tidak ingin ada sangkut paut antara karier saya di sini dengan bisnis keluarga saya. Saya di sini sebagai ilmuwan antariksa, bukan sebagai perwakilan Bagaskara Health Group."

Dekan menghela napas. "Antares, dengar. Beliau adalah donatur terbesar kita. Beliau ingin kamu segera mengakhiri 'hobi' astronomi ini dan mulai mengambil alih posisi Direktur Utama di rumah sakit pusat bulan depan. Beliau bilang, pewaris tunggal tidak seharusnya bermain dengan teleskop sementara imperiumnya butuh pemimpin."

Zea menutup mulutnya dengan tangan agar isakannya tidak terdengar. Ia merasa seperti baru saja ditabrak satelit. Pria yang semalam merengkuhnya, yang tadi pagi ia panggil 'Mas', ternyata hidup dalam beban yang begitu besar.

"Sampaikan pada beliau," ucap Antares, kali ini suaranya lebih tajam. "Saya tidak akan pergi. Saya sudah menemukan 'pusat gravitasi' baru yang membuat saya menetap di sini. Saya tidak butuh harta itu."

"Pusat gravitasi?" Dekan mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Apa ini soal wanita? Antares, Ayahmu sudah menyiapkan perjodohan dengan putri pemilik maskapai penerbangan untuk memperkuat posisi perusahaan."

Di bawah meja, hati Zea mencelos. Perjodohan?

Tiba-tiba, tanpa sengaja, kaki Zea menyenggol kaki Antares. Antares tersentak kecil, namun dengan cepat ia menginjak pelan kaki Zea—memberi sinyal agar ia tetap diam.

"Tidak ada perjodohan," tegas Antares. "Saya sudah menentukan pilihan saya sendiri. Sekarang, tolong tinggalkan ruangan saya. Saya punya banyak pekerjaan."

Setelah perdebatan alot, Dekan akhirnya pergi dengan wajah masygul. Begitu pintu terkunci kembali, Antares langsung menarik kursi kerjanya dan membungkuk ke bawah meja.

"Keluar, Zea," ucapnya lembut namun serius.

Zea keluar dari persembunyiannya dengan mata berkaca-kaca. Ia menatap Antares seolah sedang melihat orang asing. "Mas... kenapa kamu nggak bilang kalau kamu sehebat itu?"

Antares menarik Zea ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah takut Zea akan lari setelah mengetahui identitasnya. "Itu alasan kenapa saya ingin kita segera menikah, Zea. Saya ingin kamu terikat dengan saya sebelum Ayah saya menggunakan kekuasaannya untuk menjauhkan kamu dari saya."

"Tapi... perjodohan itu?"

Antares memegang kedua pipi Zea, menatapnya dengan intensitas yang meluap-luap. "Tidak akan ada wanita lain. Di alam semesta saya, cuma ada kamu. Paham? Jangan dengerin kata Dekan tadi."

Zea terisak, menyandarkan kepalanya di dada Antares. "Aku takut, Mas... kita cuma nikah siri. Kalau Ayah kamu tahu, dia pasti benci aku."

"Dia harus melewati saya dulu sebelum menyentuh kamu," bisik Antares. "Sekarang, kita harus pulang. Saya nggak mau kamu di kampus lama-lama kalau ada mata-mata Ayah saya di sini."

Di dalam ruang dosen yang tertutup rapat, suasana menjadi semakin pekat. Zea masih duduk di atas meja jati itu, kakinya bergelayut lemas, sementara Antares berdiri di antara kedua paha istrinya, mengunci pergerakan Zea dengan kedua tangannya yang bertumpu di meja.

“Mas… kalau ada yang masuk lagi gimana?” bisik Zea, suaranya gemetar. Ia bisa melihat jakun Antares naik-turun, tanda pria itu sedang menahan gejolak yang hebat.

“Biarkan saja,” jawab Antares parau. Ia menelusupkan jemarinya ke sela-sela rambut Zea, menarik kepala gadis itu sedikit ke belakang agar ia bisa menatap mata sayu istrinya. “Panggilan ‘Mas’ tadi… itu hukuman mati buat saya, Zea. Kamu tahu itu, kan?”

Zea merona hebat. Ia baru sadar betapa besarnya efek satu kata itu bagi pria sedingin Antares. “Ya habisnya… aku nggak mau panggil Bapak lagi kalau kita cuma berdua. Rasanya aneh.”

Antares tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menunduk, mencium ceruk leher Zea yang masih menyisakan wangi parfum stroberi bercampur aroma tubuhnya sendiri sejak semalam. Zea memejamkan mata, tangannya meremas bahu kokoh Antares.

“Nghh… Mas, jangan di situ… nanti berbekas lagi,” rintih Zea pelan. “Tadi aja di kelas aku harus pakai syal biar nggak kelihatan.”

Mendengar itu, Antares justru memberikan kecupan yang lebih dalam, seolah sengaja ingin meninggalkan jejak baru. “Biar semua orang tahu kalau kamu sudah ada yang punya, Zea. Terutama mahasiswa-mahasiswa yang tadi curi-curi pandang ke arah kamu di kelas saya.”

Zea terkekeh kecil di tengah napasnya yang memburu. “Mas Antar cemburu? Padahal mereka kan cuma lihat, nggak berani deketin.”

“Saya tidak suka berbagi fokus, Zea. Apalagi soal kamu,” Antares menjauhkan wajahnya sedikit, menatap bibir Zea yang sedikit terbuka. “Di depan mereka, saya mungkin Dr. Antares yang kaku. Tapi di sini, di ruangan ini, saya cuma laki-laki yang punya obsesi berlebih pada istrinya sendiri.”

Tiba-tiba, ponsel Antares di atas meja bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun Antares tahu itu adalah protokol dari perusahaan keluarganya. Ia mengabaikannya, namun panggilan itu terus berulang.

“Mas, angkat aja. Siapa tahu penting,” ucap Zea khawatir.

Antares melirik layar ponselnya dengan tatapan dingin, lalu mematikannya sepenuhnya. “Tidak ada yang lebih penting daripada memastikan kamu aman di bawah perlindungan saya sekarang.”

Ia kemudian menarik Zea masuk ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Zea. “Maafkan saya kalau setelah ini hidup kamu nggak akan tenang, Zea. Menjadi istri saya artinya kamu harus siap menghadapi gravitasi yang sangat kuat dari keluarga Bagaskara.”

Zea membalas pelukan itu, mengusap punggung suaminya dengan lembut. “Selama ada Mas Antar yang jagain aku, aku nggak takut. Mas kan ilmuwan… Mas pasti tahu cara navigasi di tengah badai, kan?”

Antares tersenyum tipis—sebuah senyum langka yang hanya ditujukan untuk Zea. Ia mengecup kening Zea lama, seolah sedang merapal janji suci yang lebih kuat dari sekadar akad siri.

“Saya akan pastikan tidak ada satu pun meteor yang bisa menyentuh kamu, Zea. Bahkan kalau itu adalah ayah saya sendiri.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!