"Cinta adalah akting terbaik, dan kebenaran adalah kemewahan yang tidak mampu mereka beli."
Di tengah gemerlapnya Paris Fashion Week dan eksklusivitas jet pribadi, Serena Rousseau Mane, sang supermodel yang beralih menjadi aktris, memiliki satu aturan emas: jangan pernah berurusan dengan Nicholas Moreau Feng.
Nicholas bukan hanya aktor papan atas dengan reputasi predator di depan kamera, tetapi juga pria yang menghancurkan hatinya di masa SMA mereka. Kembalinya Nicholas ke dalam hidup Serena lewat proyek film jutaan dolar bukan sekadar reuni profesional, melainkan sebuah permainan kekuasaan. Di balik setelan bespoke dan perhiasan berlian yang mereka kenakan, tersimpan dendam lama tentang pengkhianatan masa lalu dan ketakutan Serena akan "ciuman mematikan" Nicholas yang sanggup menghancurkan kariernya—atau lebih buruk, kembali mencuri hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hantu Masa Lalu
Pusat perbelanjaan di distrik Place Vendôme pagi itu tampak eksklusif. Serena melangkah dengan sepatu hak tinggi yang mengetuk lantai marmer dengan irama yang penuh otoritas. Di belakangnya, Marie dan Iris menjinjing beberapa kantong belanjaan dari butik-butik ternama. Berbelanja adalah satu-satunya cara Serena untuk merasa memiliki kendali atas hidupnya kembali.
Namun, kendali itu runtuh saat ia berbelok di koridor utama menuju butik Hermès.
Di sana, di bawah lampu kristal yang benderang, Nicholas sedang berdiri. Ia mengenakan mantel panjang berwarna unta, tampak sangat tampan dan tenang. Di lengannya, Valerie bergelayut mesra, menyandarkan kepalanya di bahu Nicholas sambil menunjuk sebuah tas di balik etalase.
Mata Nicholas dan Serena bertemu. Untuk sepersekian detik, udara di antara mereka seolah membeku. Namun, Serena dengan cepat memasang topeng paling sempurna yang pernah ia miliki.
"Ah, Nicholas. Kebetulan sekali," sapa Serena dengan nada suara yang begitu ringan, seolah mereka hanyalah rekan kerja yang tidak sengaja berpapasan di halte bus. "Dan Valerie, senang melihatmu lagi. Sedang memanjakan calon tunanganmu, Nick?"
Nicholas menatap Serena dengan intensitas yang sulit dibaca. Rahangnya sedikit mengeras melihat betapa mudahnya Serena bersikap biasa saja setelah malam yang mereka lalui. "Begitulah. Valerie butuh sesuatu untuk acara amal besok," jawab Nicholas dingin, suaranya sedatar aspal.
"Baguslah. Pilihan yang cantik, Valerie," tambah Serena sambil tersenyum tipis, lalu mengangguk sopan dan melewati mereka begitu saja tanpa menoleh lagi.
Hanya Serena yang tahu betapa tangannya gemetar di dalam saku mantelnya.
Begitu sampai di apartemen penthouse-nya yang sunyi, Serena melepaskan semua belanjaan mahalnya di lantai begitu saja. Ia tidak merasa bahagia. Sepatu-sepatu baru itu tidak bisa menutupi lubang di hatinya.
Ia berjalan menuju dapur island yang luas dan serba putih. Di sana, di sudut meja kayu yang dingin, memori itu menyerang tanpa ampun.
Ia teringat tujuh tahun lalu, di apartemen kecil mereka saat masih bersama. Saat itu, Nicholas belum menjadi bintang besar, dan Serena belum menjadi ratu es. Mereka sering memasak bersama dengan bahan seadanya.
Serena memejamkan matanya, dan tiba-tiba ia bisa merasakan hangatnya pelukan Nicholas dari belakang saat ia sedang memotong sayuran. Ia bisa mendengar tawa rendah Nicholas saat pria itu mencoba membalikkan pancake namun gagal total dan membuatnya berantakan di seluruh lantai.
"Jangan tertawa, Serena! Setidaknya rasanya enak," suara Nicholas di masa lalu terngiang di telinganya.
Ia ingat bagaimana Nicholas akan mengecup pundaknya dengan lembut, menatapnya dengan mata yang penuh dengan cinta yang murni, bukan tatapan penuh gairah yang merusak seperti sekarang, tapi tatapan yang mengatakan bahwa Serena adalah seluruh dunianya. Nicholas dulu selalu memastikan Serena makan dengan baik, menyuapinya dengan sendok kayu sambil membisikkan janji-janji masa depan.
Kini, dapur itu kosong. Tidak ada lagi aroma masakan rumah, hanya aroma kopi pahit dan kesepian.
Serena merosot duduk di lantai dapur, menyembunyikan wajahnya di antara lutut. Keangkuhannya di mal tadi hanyalah sandiwara. Di sini, di ruang pribadinya, ia hanyalah seorang wanita yang merindukan pria yang kini sedang menggandeng tangan wanita lain untuk membeli tas mewah.
"Kenapa kita menjadi seperti ini, Nick?" isaknya pelan. "Kenapa kau memberiku kenangan yang tidak bisa kubuang, tapi kau sendiri memilih untuk melupakannya?"
Ting.
Ponsel lama Nicholas yang tersimpan di laci terdalam meja kerjanya bergetar pelan. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun pesannya begitu spesifik hingga membuat jantung Nicholas seolah berhenti berdetak:
"Aku merindukan cara kita memasak dulu."
Nicholas tertegun. Ia tahu itu Serena. Hanya Serena yang tahu bahwa ia masih menyimpan nomor itu sebagai satu-satunya "kotak hitam" dari masa lalu mereka yang paling indah. Rasa bersalah, rindu, dan hasrat yang bercampur aduk tiba-tiba meledak di dadanya.
Tanpa memikirkan Valerie, tanpa memikirkan ayahnya, Nicholas langsung menyambar kunci mobilnya. Dalam perjalanan, ia mampir ke sebuah pasar swalayan organik, membeli pasta buatan tangan, saus tomat premium, bawang putih, dan sebotol wine yang dulu sering mereka minum saat masih bersama.
Ia melesat menuju apartemen Serena. Dengan kode akses yang ternyata masih sama, Deg! tanggal jadian mereka tujuh tahun lalu, Nicholas masuk ke dalam penthouse mewah itu.
Ia menemukan Serena masih terduduk lesu di lantai dapur, tampak begitu rapuh di tengah kemewahan yang ia bangun. Serena mendongak, matanya yang sembab membelalak kaget melihat Nicholas berdiri di sana dengan kantong belanjaan di tangannya.
"Kau... bagaimana kau bisa masuk?" tanya Serena terbata.
Nicholas tidak menjawab. Ia menaruh kantong belanjaan di atas meja island, melepas jas mahalnya hingga hanya tersisa kemeja putih yang lengannya ia gulung hingga siku. Ia menatap Serena dengan seringai tipis yang penuh kerinduan.
"Kau mengirim pesan, dan aku datang untuk memasak. Bukankah itu yang kau minta?" ujar Nicholas dengan suara rendah yang menenangkan.
Sambil mulai mengiris bawang putih dengan cekatan, Nicholas bergumam pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri namun cukup keras untuk didengar Serena. "Melihat betapa keras kepalanya kau sekarang, terkadang aku menyesal kenapa dulu tidak kubuat kau hamil saja. Mungkin kalau ada Nicholas kecil di antara kita, kau tidak akan punya pilihan selain tetap berada di sisiku, dan kita tidak perlu membuang waktu tujuh tahun untuk berpura-pura menjadi asing."
Mendengar itu, Nicholas tertawa kecil, tawa yang tulus, bukan tawa sinis aktor yang biasa ia tunjukkan.
Serena terpaku. Wajahnya memerah bukan karena marah, tapi karena bayangan yang dilemparkan Nicholas. "Kau benar-benar gila, Nicholas Feng."
"Memang. Dan kau adalah alasan kegilaanku," sahut Nicholas tanpa menoleh, fokus pada saus yang mulai menebarkan aroma harum.
"Sekarang bangun dari lantai itu, Serena. Ambilkan aku dua gelas. Kita akan makan, dan malam ini, tidak ada Valerie, tidak ada karier, hanya ada kita dan rasa rindu yang memuakkan ini."
Serena berdiri perlahan, mendekati Nicholas. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, dapur itu tidak lagi terasa dingin. Aroma masakan dan kehadiran Nicholas seolah menyembuhkan retakan di hatinya, meskipun ia tahu hari esok mungkin akan kembali rumit.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍😍😍