Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.
Di sanalah Qing Lin tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3 - darah yang tidak diinginkan
Hujan turun tanpa tanda sejak sore.
Tidak deras, namun cukup untuk membuat tanah di pinggir hutan berubah lembek dan licin. Udara membawa bau tanah basah bercampur daun busuk, aroma yang bagi penduduk Desa Qinghe menandakan satu hal: binatang liar akan lebih aktif dari biasanya.
Qing Lin berjalan menyusuri jalur sempit dengan keranjang setengah penuh kayu bakar.
Ia sebenarnya berniat pulang lebih awal. Tubuhnya terasa lelah dengan cara yang berbeda—bukan lelah fisik, melainkan kelelahan halus yang datang dari terlalu lama berkonsentrasi pada napas dan aliran qi tipis di dalam tubuhnya.
Namun hujan membuat langkahnya melambat.
Dan saat itulah ia mendengarnya.
Geraman rendah.
Qing Lin berhenti.
Tangannya refleks menggenggam gagang kapak. Detak jantungnya sedikit lebih cepat, tapi pikirannya tetap jernih. Ia tidak panik. Ia hanya waspada.
Dari balik semak basah, sepasang mata kuning menatapnya.
Seekor Serigala Abu Bertaring muncul perlahan.
Tubuhnya lebih besar dari serigala biasa. Otot-ototnya menonjol, dan di sekitar taringnya terdapat jejak merah kecokelatan—darah yang belum sepenuhnya kering.
Binatang iblis.
Qing Lin pernah melihat bangkainya dari jauh, tapi ini pertama kalinya ia berhadapan langsung.
Serigala itu pincang.
Salah satu kakinya terluka parah, dagingnya robek seolah digigit makhluk lain. Namun justru karena itulah matanya tampak lebih ganas. Hewan yang terluka adalah yang paling berbahaya.
Qing Lin mundur setengah langkah.
Jika ia berbalik dan lari, ia tidak yakin bisa menang. Tanah licin. Jarak ke desa masih jauh.
Serigala itu menggeram lagi.
Lebih dekat.
Qing Lin menelan ludah.
"Tenang…" bisiknya, entah pada dirinya sendiri atau binatang itu.
Ia memusatkan napas.
Tarik.
Hembuskan.
Qi tipis di dalam tubuhnya bergerak, mengikuti siklus kasar yang sudah mulai terbentuk sejak beberapa hari terakhir. Tidak memperkuat otot secara nyata, namun cukup membuat pikirannya lebih stabil.
Serigala itu melompat.
Segalanya terjadi cepat.
Qing Lin menghindar ke samping. Cakar tajam menyambar udara, hanya sejengkal dari dadanya. Ia terjatuh ke tanah berlumpur, punggungnya menghantam keras.
Rasa sakit menjalar.
Namun ia tidak sempat menjerit.
Serigala itu berbalik, membuka rahang, taringnya mengarah ke leher Qing Lin.
Kapak terangkat.
Bukan karena keberanian.
Melainkan karena naluri bertahan hidup.
Ayunan pertama meleset.
Yang kedua mengenai bahu binatang itu, membuatnya meraung keras.
Qing Lin merasakan darah hangat memercik ke wajahnya.
Matanya melebar.
Serigala itu menggila.
Ia menubruk Qing Lin, membuat mereka berguling di tanah. Nafas panas binatang itu menghantam wajahnya. Taring hampir menembus kulit.
Qing Lin berteriak tertahan.
Ia mendorong kapak ke depan dengan sekuat tenaga.
Bilah kapak menancap di leher serigala.
Sekali.
Lalu lebih dalam.
Tubuh binatang itu menegang, bergetar hebat, lalu perlahan kehilangan tenaga.
Geraman berubah menjadi desahan pendek.
Hujan terus turun.
Qing Lin terdiam, tubuhnya menindih bangkai serigala.
Tangannya gemetar.
Dadanya naik turun cepat.
Beberapa detik berlalu sebelum ia benar-benar menyadari—
binatang itu sudah mati.
"Aku…" suaranya tercekat. "Aku membunuhnya…"
Ia tidak merasa bangga.
Tidak merasa kuat.
Yang ia rasakan hanyalah mual dan dingin yang merayap dari perut ke dada.
Namun tepat saat itu—
sesuatu terjadi.
Dari tubuh serigala, muncul kabut merah tipis, hampir tak terlihat. Kabut itu berputar sejenak, lalu menyusup ke tubuh Qing Lin melalui pori-porinya.
Qing Lin tersentak.
Rasa hangat menyebar cepat.
Bukan menyenangkan.
Lebih seperti beban yang tiba-tiba ditambahkan ke tubuhnya.
Qi di dalam dirinya bergerak kacau, lalu perlahan… menjadi lebih padat.
Di kedalaman tubuhnya, sesuatu yang tertidur lama berdenyut.
Bukan bangun.
Hanya merespons.
Qing Lin terduduk lemas.
Ia menatap tangannya yang berlumuran darah, lalu bangkai serigala di depannya.
"Maaf…" ucapnya pelan.
Ia menggali tanah dengan kapak, mengubur bangkai itu seadanya. Tangannya gemetar sepanjang waktu.
Saat semuanya selesai, hujan sudah mereda.
Langit mulai gelap.
Qing Lin berdiri tertatih, membawa keranjang kosong.
Tubuhnya terasa berbeda.
Sedikit lebih kuat.
Sedikit lebih berat.
Namun di dalam dadanya, ada rasa asing—seperti garis yang telah dilintasi tanpa izin.
Malam itu, saat ia duduk bersila di rumah, qi di tubuhnya tidak lagi mudah tercerai.
Ia tidak tahu alasannya.
Ia hanya tahu satu hal:
> Darah itu tidak diinginkan.
Namun dunia tidak peduli pada keinginannya.
Dan jalannya—
telah menuntut harga pertamanya.