Di khianati tunangan sampah, eh malah dapat pamannya yang tampan perkasa!
Cerita berawal dari Mayra andini kusumo yang mengetahui jika calon suaminya Arman, berselingkuh dengan kakak tirinya sendiri.
Di hari pernikahannya mayra mengajak Dev-- paman dari Arman untuk menikah dengan nya, yang kebetulan menjadi tamu di pernikahan keponakannya. Dan mayra juga membongkar perselingkuhan arman dan Zakia yang di lakukan di belakangnya selama ini.
Cerita tidak sampai di situ, setelah menikah dengan Dev, Mayra jadi tahu sisi lain dari pria dingin itu.
Dapatkan mayra meluluhkan hati Dev yang sekeras batu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETEGANGAN KELUARGA
Kamis sore, seminggu sebelum pernikahan, Dev sedang bekerja di home office saat ponselnya berdering. Nama "Hendra" muncul di layar.
Dev menatap ponsel itu dengan perasaan berat. Sudah dua hari sejak dia memutuskan untuk mengundang kakaknya ke pernikahan, tapi belum sempat menelepon.
Dengan napas dalam, Dev mengangkat. "Halo."
"Dev, ini aku," suara Pak Hendra terdengar berbeda. Lebih rendah, lebih rendah hati. "Apa aku mengganggu?"
"Tidak. Ada apa?" tanya Dev dengan hati-hati.
"Aku dapat undangan pernikahan kamu dari Marco kemarin. Dan aku ingin bilang terima kasih. Terima kasih sudah memberi aku kesempatan untuk hadir," kata Hendra dengan suara yang terdengar emosional.
Dev terdiam sebentar. "Kamu kakak kandungku, Hendra. Meskipun hubungan kita rusak, darah tetaplah darah."
"Aku tahu aku tidak pantas," lanjut Hendra. "Setelah semua yang terjadi, bagaimana aku dan keluargaku memperlakukanmu, bagaimana Arman mengkhianati Mayra, semua drama itu, aku mengerti kalau kamu memutuskan untuk memutus hubungan sepenuhnya."
"Tapi?" Dev bisa mendengar ada 'tapi' di sana.
"Tapi aku benar-benar menyesal, Dev. Aku sudah banyak berpikir sejak kejadian di gereja itu. Aku menyadari betapa egois dan arogannya aku selama ini. Aku terlalu fokus pada reputasi dan harga diri sampai lupa bahwa keluarga seharusnya lebih penting dari semua itu," kata Hendra dengan jujur.
Dev berdiri dan berjalan ke jendela, menatap keluar dengan pikiran berkecamuk.
"Arman sekarang bagaimana?" tanya Dev, lebih karena sopan santun daripada benar-benar peduli.
"Dia lebih baik. Masih dalam terapi, tapi sudah bisa berfungsi normal. Dia bahkan sudah mulai kerja lagi, bukan di perusahaan keluarga, tapi di perusahaan rintisan kecil. Dia bilang dia perlu membuktikan dirinya tanpa nama keluarga," jelas Hendra.
"Itu bagus untuk dia," kata Dev dengan tulus. "Semua orang pantas mendapat kesempatan kedua."
"Termasuk aku?" tanya Hendra dengan hati-hati.
Dev menghela napas panjang. "Hendra, aku mengundang kamu ke pernikahan karena aku ingin mulai sembuh. Aku ingin pernikahan dengan Mayra dimulai tanpa kepahitan dari masa lalu. Tapi aku tidak bisa janji bahwa hubungan kita akan langsung kembali seperti dulu."
"Aku mengerti. Dan aku tidak mengharapkan itu juga," kata Hendra cepat. "Aku hanya ingin ada di hari bahagiamu. Dan semoga perlahan kita bisa membangun kembali hubungan kita."
"Kita lihat nanti. Satu langkah pada satu waktu," kata Dev.
"Tentu saja. Dev, sekali lagi terima kasih. Dan aku ingin minta maaf. Untuk semua yang pernah aku lakukan yang menyakitimu. Aku tidak pernah benar-benar bilang itu sebelumnya," kata Hendra dengan suara bergetar.
Dev merasakan sesuatu yang lembut di dadanya. "Terima kasih. Maaf itu berarti banyak."
Setelah menutup telepon, Dev duduk kembali di kursi kerjanya dengan perasaan campur aduk. Dia mendengar pintu terbuka, Mayra baru pulang dari kantor.
"Dev? Kamu di mana?" panggil Mayra.
"Di home office!" jawab Dev.
Mayra masuk dengan senyum, tapi senyum itu memudar saat melihat ekspresi Dev. "Ada apa? Kamu terlihat gelisah."
Dev menceritakan percakapan dengan Hendra. Mayra mendengar dengan seksama sambil duduk di tepi meja kerja Dev.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Mayra setelah Dev selesai.
"Bingung," jawab Dev jujur. "Bagian dari diriku ingin percaya bahwa Hendra benar-benar berubah. Tapi bagian lain masih waspada, masih ingat semua yang terjadi."
"Itu normal," kata Mayra sambil memegang tangan Dev. "Kepercayaan tidak dibangun dalam satu percakapan telepon. Butuh waktu dan konsistensi."
"Kamu yakin baik-baik saja dengan dia datang ke pernikahan kita?" tanya Dev. "Ini hari kita. Kalau kamu tidak nyaman..."
"Dev," potong Mayra dengan lembut. "Seperti yang kamu bilang, dia kakak kandungmu. Dan kalau kamu merasa ini langkah yang perlu kamu ambil untuk sembuh, aku mendukung sepenuhnya. Lagipula, kita akan dikelilingi oleh orang-orang yang kita cintai. Satu atau dua orang yang situasinya rumit tidak akan mengurangi kebahagiaan kita."
Dev menarik Mayra ke dalam pelukannya. "Apa yang aku lakukan untuk pantas mendapatkanmu?"
"Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri," jawab Mayra sambil tersenyum.
***
Sabtu pagi, tiga hari sebelum pernikahan, Mayra sedang sarapan dengan Dev saat ponselnya berdering. Papa Bambang.
"Papa? Pagi-pagi begini, ada apa?" tanya Mayra sambil mengangkat.
"Mayra, sayang," suara Bambang terdengar lelah. "Ada situasi yang perlu kamu tahu."
Mayra langsung tegang. "Apa yang terjadi?"
"Siska dan Zakia, mereka tahu tentang pernikahan kamu minggu depan. Entah dari mana, mungkin media sosial atau gosip. Dan mereka," Bambang berhenti sebentar. "Mereka menuntut untuk diundang."
"Apa?" Mayra hampir berteriak. Dev yang duduk di seberangnya langsung waspada.
"Siska bilang sebagai ibu tirimu, dia punya hak untuk hadir. Dan Zakia bilang sebagai kakak tirimu, dia juga seharusnya ada di sana. Mereka membuat kekacauan besar di rumah tadi pagi," jelas Bambang dengan suara lelah.
"Papa, aku dan Dev sudah jelas tidak akan mengundang mereka. Setelah semua yang mereka lakukan..." mulai Mayra dengan marah.
"Aku tahu, sayang. Aku sudah bilang itu. Tapi Siska sangat keras kepala. Dia bilang kalau tidak diundang, dia akan datang saja dan membuat kekacauan di pernikahan nanti, " potong Papa.
Mayra menutup matanya dengan frustrasi. "Dia mengancam untuk merusak pernikahan aku?"
"Iya,tapi papa tidak akan biarkan itu terjadi," kata Bambang dengan tegas. "Tapi aku ingin papa tahu situasinya, supaya kamu bisa memutuskan bagaimana menangani ini."
"Papa, tolong katakan pada mereka bahwa ini pernikahan pribadi dan intim. Daftar tamu sudah final. Dan kalau mereka mencoba datang tanpa undangan, maka security akan menolak mereka masuk," kata Mayra dengan tegas.
"Papa akan sampaikan. Tapi Mayra, Siska tidak akan diam saja. Kamu tahu dia," kata Papa dengan khawatir.
Setelah menutup telepon, Mayra menceritakan semuanya pada Dev.
Dev langsung mengambil ponselnya. "Aku akan telepon keamanan tempat pernikahan sekarang. Mereka perlu tahu untuk tidak membiarkan siapapun yang tidak ada di daftar tamu masuk, tidak peduli alasan apapun."
"Ini konyol," kata Mayra dengan frustrasi sambil mengusap wajahnya. "Kenapa mereka tidak bisa membiarkan aku sendiri dan bahagia?"
Dev selesai memberikan instruksi ke keamanan, lalu duduk di samping Mayra dan memeluknya.
"Karena mereka iri. Mereka melihat kamu bahagia, sukses, dan akan menikah dengan pria yang mencintaimu. Sementara kehidupan mereka terhenti. Tapi kita tidak akan biarkan mereka merusak hari kita," kata Dev dengan tenang tapi tegas.
"Tapi bagaimana kalau mereka benar-benar datang dan membuat kekacauan?" tanya Mayra dengan khawatir.
"Maka keamanan akan mengawal mereka keluar. Aku sudah menyewa tim keamanan profesional khusus untuk ini, bukan hanya untuk mereka, tapi untuk memastikan privasi kita secara umum. Jangan khawatir," jamin Dev.
Mayra menghela napas dan bersandar di bahu Dev. "Aku hanya ingin satu hari yang sempurna tanpa drama."
"Dan kamu akan mendapatkannya. Aku janji," kata Dev sambil mencium puncak kepala Mayra.
***
Senin sore, dua hari sebelum pernikahan, Mayra sedang mengikuti fitting terakhir untuk gaun pengantin saat ponselnya berdering lagi.
Kali ini nomor tidak dikenal.
Dengan ragu, dia mengangkat. "Halo?"
"Mayra, ini Zakia."
Mayra hampir langsung menutup telepon, tapi sesuatu menahannya.
"Apa maumu, Zakia?" tanya Mayra dengan dingin.
"Aku tahu kamu pasti marah tentang Mama yang minta diundang ke pernikahan kamu. Dan aku mau bilang aku tidak ada hubungannya dengan itu," kata Zakia dengan cepat.
"Aku tidak percaya padamu,kau tahu itu." jawab Mayra terus terang.
"Aku tahu. Tapi ini benar. Bahkan aku sudah bilang ke Mama bahwa dia harus menghormati keputusan kamu untuk tidak mengundang kami. Tapi dia tidak mau dengar," jelas Zakia.
Mayra terdiam, mencoba mendeteksi apakah Zakia berbohong atau tidak.
"Mayra, aku tidak telepon untuk minta diundang. Aku telepon untuk bilang aku tidak akan datang ke pernikahan kamu, bahkan kalau entah bagaimana aku dapat undangan. Karena aku tahu kehadiranku akan membuat kamu tidak nyaman. Dan setelah semua yang aku lakukan padamu, yang paling sedikit bisa aku lakukan adalah menghormati itu," lanjut Zakia.
"Kenapa tiba-tiba kamu jadi berubah begini? " tanya Mayra dengan curiga.
"Karena terapi," jawab Zakia dengan jujur. "Aku sudah enam bulan dalam terapi, dan aku perlahan belajar untuk tidak selalu mementingkan diri sendiri dan merasa berhak. Aku belajar untuk menghormati batasan orang lain. Dan batasanmu jelas, kamu tidak mau aku di hidupmu dan aku menerimanya."
Mayra tidak tahu harus bilang apa.
"Aku juga mau bilang selamat untuk pernikahan kamu. Dengan Dev. Aku lihat beberapa postingan di media sosial, dan kamu terlihat benar-benar bahagia. Aku senang untukmu," kata Zakia, dan mengejutkan, terdengar tulus.
"Terima kasih," kata Mayra pelan, masih terkejut dengan percakapan ini.
"Dan aku akan bicara lagi dengan Mama. Aku akan coba buat dia mengerti bahwa dia harus berhenti dengan ancaman-ancaman ini. Tapi aku tidak bisa janji apapun, kamu tahu seberapa keras kepalanya dia," tambah Zakia.
"Aku menghargai usahamu," kata Mayra, dan mengejutkan, dia benar-benar menghargainya.
"Oke. Itu saja yang aku mau bilang. Sekali lagi, selamat ya, Mayra. Dan maaf. Untuk semuanya," kata Zakia sebelum menutup telepon.
Mayra menatap ponselnya dengan ekspresi rumit. Apa yang baru saja terjadi?
***
Malam itu, Mayra berbaring di tempat tidur dengan Dev, menceritakan percakapan dengan Zakia.
"Kamu pikir dia tulus?" tanya Dev sambil mengusap rambut Mayra.
"Aku tidak tahu," jawab Mayra jujur. "Bagian dari diri ku mau percaya bahwa dia benar-benar berubah. Tapi bagian lain masih ingat semua yang dia lakukan."
"Itu wajar," kata Dev. "Tapi setidaknya, dia bilang dia tidak akan datang dan akan coba menghentikan Siska.Itu poinnya. "
"Ya," setuju Mayra. "Aku hanya berharap Siska benar-benar berhenti dengan drama ini. Aku sudah terlalu lelah dengan semua ini."
"Dua hari lagi," kata Dev sambil memutar Mayra untuk menghadap ke arahnya. "Dua hari lagi dan kita akan resmi menikah lagi, dikelilingi oleh orang-orang yang benar-benar mencintai dan mendukung kita. Dan semua drama ini akan jadi masa lalu."
Mayra tersenyum dan mencium Dev. "Aku tidak sabar."
"Aku juga," bisik Dev. "Aku tidak sabar untuk melihat kamu berjalan menuju aku di altar. Untuk mengucapkan janji kita. Untuk memulai hidup kita bersama secara resmi, dan dengan benar."
"Kita sudah memulainya," kata Mayra sambil tersenyum.
"Benar. Tapi ini akan membuatnya lebih spesial lagi," kata Dev sebelum mencium Mayra dengan lembut.
Dan meskipun masih ada ketegangan dengan keluarga, meskipun masih ada kekhawatiran tentang kemungkinan drama, Mayra merasa tenang.
Karena ada Dev yang selalu disampingnya.
*****
BERSAMBUNG
pembelajaran juga .. komunikasi yg baik adalah solusi dr setiap masalah yg datang.
👍👍
menunggu mu update lagi