NovelToon NovelToon
Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:557
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."

Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.

"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."

Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.

---

Suara Nurani Halimah

Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.

"Suamiku... kau membunuh ayahku?"

Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:

"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"

Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.

"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: AKHIR DARI KISAH SURAT MENYURAT

---

Halimah terjaga sebelum fajar.

Bukan karena mimpi buruk. Bukan karena suara azan. Tapi karena di dadanya, ada getar yang berbeda. Getar yang tidak bisa dijelaskan.

Ia duduk di tepi ranjang. Memandangi jendela yang masih gelap. Di luar, langit mulai memutih pelan.

Hari ini. Aku merasa hari ini akan terjadi sesuatu.

Tapi sesuatu itu apa? Kabar baik? Kabar buruk? Atau tidak ada kabar sama sekali?

Ia menghela napas. Jantungnya berdebar tidak karuan.

---

Pagi beranjak siang. Halimah tidak bisa tenang.

Ia mondar-mandir di kamar. Duduk sebentar, lalu berdiri lagi. Membaca buku, tapi matanya kosong. Memejamkan mata, tapi yang terbayang hanya wajah Maringgih.

Apakah suratku sudah sampai? Apakah sudah dibaca?

Ia pergi ke dapur. Mak Ijah sedang memasak.

"Nyai..." panggilnya ragu.

Mak Ijah menoleh. "Neng, belum ada kabar. Sabar."

Halimah mengangguk. Tapi kakinya kembali mondar-mandir.

---

Setiap kali mendengar suara langkah di luar, jantungnya berdebar. Ia berlari ke jendela, mengintip. Tapi setiap kali itu hanya tetangga yang lewat. Atau pedagang keliling. Bukan Mak Ijah.

Kenapa lama sekali?

Ia kembali ke kamar. Mengambil surat-surat lama yang pernah ia tulis. Membaca ulang. Tertawa kecil sendiri.

Dulu aku seberani itu ya? "Kenapa tidak halalin saya saja."

Tapi tawanya segera berubah jadi cemas.

Sekarang... apa ia masih mau membaca surat dariku?

---

Siang semakin panas. Halimah duduk di beranda belakang. Matanya terus melihat ke jalan setapak tempat Mak Ijah biasa pulang.

Mungkin ia sedang ngobrol dengan tetangga. Mungkin ia mampir ke pasar. Mungkin...

Seribu alasan ia ciptakan untuk menenangkan diri. Tapi seribu alasan itu tidak cukup.

Tangannya berkeringat. Jantungnya berdebar kencang. Ia menarik napas dalam-dalam. Lalu menghela. Lalu menarik lagi. Tapi tidak membantu.

Ya Allah, tolong... tenangkan aku.

---

Menjelang sore, Mak Ijah muncul di ujung jalan setapak.

Halimah melihatnya dari jauh. Langsung berdiri. Tangannya gemetar.

Mak Ijah berjalan mendekat. Wajahnya... tersenyum.

Tersenyum! Berarti kabar baik!

Halimah hampir berlari menyambut.

"Nyai!" suaranya hampir berteriak, tapi cepat-cepat ia tahan.

Mak Ijah sampai di depannya. Ia mengeluarkan amplop putih dari balik bajunya.

"Ini, Neng. Dari Datuk Maringgih."

Halimah menerima amplop itu. Tangannya gemetar hebat. Amplop itu hampir jatuh.

"Ini... ini balasannya, Nyai?"

"Iya, Neng."

Halimah memeluk amplop itu. Menempelkannya di dada. Matanya basah.

"Terima kasih, Nyai. Terima kasih."

Mak Ijah tersenyum. "Neng baca dulu. Mak Ijah tinggal."

Ia pergi. Meninggalkan Halimah dengan surat di tangan.

---

Halimah duduk di bangku kayu. Amplop itu ia pandangi lama. Tulisan di luar: Untuk Halimah.

Ini tulisan tangannya. Ini surat dari dia.

Ia ingin membuka, tapi tangannya gemetar. Takut. Cemas. Bahagia. Semua campur aduk.

Bagaimana kalau isinya marah? Bagaimana kalau ia bilang "jangan ganggu aku lagi"?

Ia menarik napas panjang. Menguatkan hati.

Apa pun isinya, aku harus terima.

Ia membuka amplop. Perlahan. Hati-hati.

Kertas itu ia keluarkan. Dilipat rapi. Huruf-hurufnya tegas, jelas, maskulin.

Ia mulai membaca.

---

Kepada Halimah,

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Halimah,

Suratmu sudah kubaca. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Setiap kali membaca, aku melihat kejujuran yang jarang kudapatkan dari orang dewasa, apalagi dari seorang gadis seusiamu.

Halimah tersenyum. Air matanya jatuh.

Ia membaca suratku berkali-kali.

Tentang kejadian di kebun pala—aku tahu kau menyaksikan semuanya. Aku juga tahu, kau bukan pelakunya. Maka jangan sekali-kali kau merasa bersalah atas apa yang tidak kau lakukan.

Yang bersalah adalah yang memukul. Yang bersalah adalah yang merebut. Dan itu—maafkan aku—adalah ayahmu.

Tapi aku tidak membenci ayahmu, Halimah. Aku tidak membencinya sebagai manusia. Yang aku benci adalah sifat yang menempel di kepalanya—keserakahan, ketakutan kehilangan jabatan, dan kelupaan dari mana ia datang.

Itu yang aku lawan. Bukan dirinya.

Dan tentang dirimu—aku tidak pernah membencimu. Sekali pun tidak. Bahkan saat aku melihatmu di pinggir kebun, yang aku rasakan bukan benci. Tapi sedih. Sedih karena kau harus menyaksikan semua itu.

---

Halimah menangis. Tapi ia terus membaca.

Ada satu hal yang mungkin kau tidak tahu. Saat aku memarahi ayahmu di kebun, aku melakukannya dalam bahasa Belanda.

Kenapa? Bukan karena aku ingin menyombongkan diri. Tapi karena aku tidak ingin warga kampung mengerti apa yang aku katakan.

Aku memarahinya dengan keras. Tapi aku lakukan itu dalam bahasa yang hanya ia dan kau pahami. Karena meskipun ia salah, ia tetap seorang Datuk. Ia tetap ayahmu. Dan aku tidak ingin ia jatuh martabatnya di depan semua orang.

Maafkan aku jika kata-kataku terlalu keras.

Halimah terisak. Ia tidak menyangka.

Halimah, aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Tapi satu hal yang aku tahu: kau tidak sendiri.

Jika kau butuh tempat bicara, aku di sini. Bukan sebagai Datuk. Bukan sebagai musuh ayahmu. Tapi sebagai seseorang yang peduli.

Karena jujur saja, Halimah—kau telah membuat hati ini bergerak lagi. Setelah sekian lama mati rasa, setelah Aminah pergi, kau datang dengan keberanian dan kejujuran yang membuatku tidak bisa berpaling.

Perlahan, bayangan masa lalu mulai tergantikan. Bukan karena aku lupa. Tapi karena aku belajar bahwa hidup harus terus berjalan. Dan kau—kau membuatku ingin terus berjalan.

Terima kasih sudah menulis. Terima kasih sudah percaya padaku.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Maringgih

---

Halimah meletakkan surat itu. Menangis. Bukan sedih. Tapi bahagia. Lega. Haru.

Ia tidak membenciku. Ia mengerti. Ia peduli.

Ia membaca ulang. Sekali lagi. Dua kali. Tiga kali. Sampai hampir hafal.

"Kau telah membuat hati ini bergerak lagi."

Ia tersenyum di tengah tangis.

Perlahan, bayangan masa lalu mulai tergantikan.

Ia memeluk surat itu erat-erat. Menempelkannya di dada.

Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia merasa tenang.

---

Halimah duduk lama di beranda. Memandangi langit yang mulai jingga. Surat itu masih di tangannya.

Sekarang apa? Haruskah aku membalas?

Ia mengambil kertas dan pena. Menaruhnya di pangkuan. Tapi tangannya tidak bergerak.

Apa yang harus kutulis? "Terima kasih"? "Aku juga merasakan hal yang sama"?

Semua terasa kurang. Semua terasa klise.

Ia meletakkan pena. Menarik napas.

Tidak. Tidak perlu menulis. Cukup ini. Cukup merasakan.

Untuk pertama kalinya, ia memilih diam. Menikmati. Tidak perlu tergesa membalas.

---

Mak Ijah datang lagi. Melihat Halimah duduk tenang dengan surat di tangan, ia tersenyum.

"Neng, surat balasannya?"

Halimah menggeleng. "Tidak, Nyai. Aku tidak akan menulis lagi."

Mak Ijah terkejut. "Kenapa, Neng?"

"Kata-katanya sudah cukup, Nyai. Aku ingin menikmati perasaan ini dulu." Halimah tersenyum. "Untuk pertama kalinya, aku merasa tenang."

Mak Ijah memeluknya. "Neng dewasa. Neng mengerti."

Mereka berpelukan lama. Tanpa kata. Tapi semua rasa sampai.

---

Matahari mulai tenggelam. Langit jingga. Halimah duduk di jendela kamarnya, memandang ke luar. Surat Maringgih masih di dadanya.

Dari surat pertama yang berani—"kenapa tidak halalin saya saja"—hingga surat ketiga yang memohon. Kini semuanya terbayar.

Bukan hanya surat yang sampai, tapi hati yang terbuka.

Ia tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia tidak cemas menunggu. Ia hanya ingin menikmati.

Kadang, cinta tidak perlu diteriakkan. Cukup dirasakan, dalam diam yang paling sunyi.

Di saat Halimah tenggelam dalam kebahagiaannya, dua ketukan terdengar dari pintu depan.

Tok. Tok. Tok.

Bukan ketukan biasa. Terlalu rapi. Terlalu formal.

Halimah mengintip dari balik jendela. Dua pria berpakaian rapi berdiri di depan pintu. Seragam VOC. Laras panjang di samping—tidak diacungkan, tapi jelas terlihat.

Mereka mengetuk lagi. Lebih sopan dari biasanya.

Tok. Tok. Tok.

Pintu terbuka. Datuk Sulaiman muncul.

"Tuan Datuk Sulaiman?" salah satu petugas bertanya dengan hormat.

"Benar."

"Kami datang membawa pesan dari Tuan Van der Berg. Beliau meminta Tuan datang ke kantor. Ada urusan penting."

Sulaiman diam. Wajahnya pucat. Tapi ia mengangguk.

"Tunggu sebentar."

Ia masuk, mengambil topi. Siti dan Zubaidah menatap cemas dari dalam.

Sulaiman keluar. Mengikuti kedua petugas itu. Tanpa perlawanan. Tanpa banyak kata.

Halimah melihat dari jendela. Surat Maringgih di dadanya terasa berat.

Ayah... apa yang akan terjadi padamu?

---

[Bersambung ke Bab 35...]

---

1
Ayaelsa
/Smile//Silent//Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!