NovelToon NovelToon
Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."

Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.

"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."

Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.

---

Suara Nurani Halimah

Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.

"Suamiku... kau membunuh ayahku?"

Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:

"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"

Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.

"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: MENUNGGU DI PERSIMPANGAN

Pagi itu datang tanpa ampun.

Matahari naik perlahan, menyinari kamar Halimah yang berantakan oleh kertas-kertas bekas tulisan. Tapi Halimah sendiri masih terlelap—kelelahan setelah semalaman bergulat dengan pikirannya sendiri.

Ia tidak tahu, bahwa hari ini akan jadi hari terpanjang dalam hidupnya.

---

Pagi setelah malam panjang itu, Halimah terbangun bukan karena suara azan, tapi karena sinar matahari yang menusuk matanya. Ia tersentak. Melihat ke luar jendela—matahari sudah naik setinggi tombak.

Astaghfirullah... jam segini?

Ia bangkit dengan tubuh terasa berat. Mata sembab. Kepala pusing. Tapi yang pertama kali ia cari adalah amplop di meja belajarnya.

Amplop itu sudah tidak ada.

Sudah dikirim. Sudah di tangan Mak Ijah.

Jantungnya berdebar.

---

Di meja makan, sarapan sudah tersedia. Siti, Zubaidah, Usman, dan Hasan sudah duduk. Hanya satu kursi kosong—milik Datuk Sulaiman.

"Bangun, Nak?" sapa Siti lembut. "Kelihatannya capek. Tidur larut?"

Halimah mengangguk pelan. "Iya, Bu. Tidak bisa tidur."

Ia duduk. Memandang makanan di depannya. Nasi, sayur, lauk—semua seperti biasa. Tapi matanya kosong. Tangannya memegang sendok, tapi tak kunjung menyuap.

Usman menatapnya. "Kak, kenapa kakak murung? Dari kemarin-kemarin."

Halimah tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Dik. Cuma kurang tidur."

Hasan ikut nimbrung. "Kakak mimpi buruk ya?"

Zubaidah menyela. "Sudah, sudah. Makan dulu. Jangan ganggu kakak."

Halimah memaksakan diri makan sedikit. Tapi makanannya terasa hambar. Pikirannya ada di tempat lain—di gudang Maringgih. Apakah suratnya sudah sampai? Apakah sudah dibaca?

Siti memperhatikannya. "Nak, kamu yakin nggak papa? Wajahmu pucat sekali."

"Papa kok nggak sarapan?" Halimah mengalihkan topik.

Siti menghela napas. "Ayahmu lagi banyak pikiran. Sejak kejadian di kebun itu, dia jarang keluar kamar."

Zubaidah menambahkan, "Kita doakan saja semoga semuanya cepat baik."

Halimah diam. Dalam hati, ia bertanya: Baik? Apa mungkin semua jadi baik setelah apa yang terjadi?

---

Usai sarapan, Halimah bergegas ke dapur belakang. Ia harus tahu apakah suratnya sudah disampaikan.

Mak Ijah sedang mencuci piring. Tangannya terampil menggosok, tapi wajahnya tenang seperti biasa.

"Nyai," panggil Halimah pelan.

Mak Ijah menoleh. "Neng, udah sarapan?"

"Udah, Nyai." Halimah ragu. "Nyai... suratnya...?"

Mak Ijah mengelap tangan ke kain. "Neng, baru pagi. Sabar. Belum waktunya. Mak Ijah belum ke mana-mana."

Halimah menghela napas. "Iya, Nyai. Maaf, saya cemas."

Mak Ijah mendekat. Meraih tangan Halimah. "Neng, dengerin Mak Ijah. Surat udah ditulis, udah dikasih ke Mak Ijah. Sekarang tinggal doa. Jangan keburu cemas. Belum waktunya."

Halimah mengangguk. Tapi di dadanya, debar tetap tak karuan.

---

Sepanjang pagi itu, Halimah tidak bisa tenang.

Ia mondar-mandir di kamar. Membaca buku, tapi matanya kosong. Memejamkan mata, tapi yang terbayang hanya wajah Maringgih membaca suratnya.

Apakah ia tersenyum? Apakah ia menghela napas? Apakah ia marah?

Ia ingat percakapan di mushola. Ingat tatapan Maringgih yang hangat meski menjaga jarak. Ingat surat balasannya yang jujur tentang masa lalu.

Lelaki itu... apa yang ia pikirkan tentangku sekarang?

Setiap kali mendengar langkah kaki di luar, jantungnya berdebar. Mungkin Mak Ijah pulang. Mungkin ada kabar. Tapi setiap kali itu hanya Siti atau Zubaidah atau pembantu lain.

Ya Allah, kenapa lama sekali?

---

Menjelang siang, Mak Ijah pamit mau ke pasar.

"Nyai mau beli sayur buat lodeh. Neng suka lodeh, kan?" katanya sambil merapikan selendang.

Halimah mengangguk. Tapi matanya berkata lain. Tolong, Nyai. Jangan lupa singgah.

Mak Ijah mengedip. "Neng tenang aja. Mak Ijah jagain semuanya."

Halimah tersenyum tipis. Satu-satunya orang yang tahu kegelisahannya. Satu-satunya tempat bersandar.

---

Siang berjalan lambat. Halimah duduk di beranda belakang, memandangi pepohonan. Pikirannya melayang ke gudang Maringgih. Ke Dullah. Ke suratnya.

Seandainya aku bisa terbang. Seandainya aku bisa melihat sendiri.

Ia teringat Mak Ijah yang pernah bilang: "Neng, kalau jodoh nggak akan ke mana. Tapi kalau bukan jodoh, dipaksa juga nggak akan sampai."

Tapi ini bukan soal jodoh, Nyai. Ini soal harga diri. Ini soal ingin dimengerti.

Angin siang berdesir. Hangat. Tapi hatinya dingin.

---

Sore hari, Mak Ijah pulang. Halimah sudah menunggu di dapur belakang.

Begitu melihat wajah Mak Ijah, ia langsung tahu. Belum ada balasan. Wajah Mak Ijah berkata: Maaf, Neng. Belum.

"Nyai..." suara Halimah hampir putus asa.

Mak Ijah menghela napas. Ia meletakkan belanjaan, lalu meraih tangan Halimah.

"Neng, Mak Ijah udah ke sana. Surat udah disampaikan kemarin. Tapi belum ada jawaban."

Halimah menunduk. Matanya basah.

"Mungkin ia butuh waktu, Neng. Kejadian kemarin itu berat. Semua orang masih kalut." Mak Ijah mengusap punggung tangan Halimah. "Mak Ijah yakin, Datuk Maringgih itu orang baik. Ia pasti baca. Ia pasti pikirkan."

"Tapi Nyai, kalau ia marah? Kalau ia muak?"

"Kalau ia marah, itu haknya. Tapi Neng udah ngelakuin yang benar. Neng udah jujur. Sisanya serahin ke Allah."

Halimah menangis. Pelan. Tidak ingin didengar orang lain.

Mak Ijah memeluknya. "Sabar, Neng. Sabar."

---

Malam turun lagi.

Halimah di kamar. Lampu minyak menyala redup. Tapi ia tidak menulis. Tidak ada lagi kertas kosong yang dirobek. Ia hanya duduk, memeluk lutut, memandangi dinding.

Hari ini adalah hari terpanjang dalam hidupku.

Pikirannya berputar. Skenario demi skenario.

Bagaimana kalau ia tidak membalas? Bagaimana kalau ia memang membenciku?

Ia ingat surat yang ia tulis. Kata-katanya. Kejujurannya. Kerapuhannya.

Apakah itu cukup? Apakah ia bisa menerima aku apa adanya?

Tidak ada jawaban. Hanya gelap.

Tapi aku harus siap. Apa pun yang terjadi, aku harus siap.

Ia berbaring. Memeluk bantal. Matanya basah, tapi tidak menangis.

Besok mungkin akan lebih berat. Atau mungkin lebih baik. Entahlah.

---

Pagi kedua datang. Sama seperti pagi sebelumnya. Sarapan. Wajah-wajah yang sama. Ayahnya masih tidak keluar kamar.

Halimah makan sedikit. Lalu bergegas ke dapur belakang.

Mak Ijah sudah bersiap. Selendangnya sudah terpasang.

"Nyai mau ke pasar lagi?" tanya Halimah.

Mak Ijah tersenyum. "Iya, Neng. Ada yang kurang."

Tapi matanya berkata lain. Mak Ijah mengedip.

Halimah mengerti. Ini bukan ke pasar. Ini ke gudang.

"Nyai..." Halimah meraih tangan Mak Ijah. "Tolong katakan... katakan saya tidak akan memaksa. Saya hanya ingin tahu. Apa pun jawabannya, saya akan terima."

Mak Ijah memandangnya. Mata tua itu berkaca-kaca.

"Neng, Neng dewasa. Neng kuat. Mak Ijah bangga."

Halimah tersenyum tipis. Tapi di dalam hatinya, ia hancur.

Mak Ijah pergi. Meninggalkan Halimah yang berdiri di ambang pintu dapur, menatap kepergiannya dengan hati berdebar.

---

Di gudang Maringgih, pagi itu tenang.

Mak Ijah tiba dengan langkah gontai. Dullah menyambutnya di depan pintu.

"Mak Ijah? Ada surat lagi?"

Mak Ijah menggeleng. "Tidak, Dullah. Hanya pesan lisan dari Neng Halimah."

Dullah mengerutkan dahi. "Tunggu di sini. Saya panggil Tuan."

Mak Ijah menunggu. Hatinya berdebar. Ia sudah tua, sudah banyak melihat hidup. Tapi momen ini terasa berbeda.

Maringgih keluar. Wajahnya tenang, tak terbaca.

"Mak Ijah."

"Datuk." Mak Ijah membungkuk hormat. "Neng Halimah titip pesan. Ia bilang, ia tidak akan memaksa. Ia hanya ingin tahu. Apa pun jawabannya, ia akan terima."

Maringgih diam. Lama.

Mak Ijah menunggu. Detik terasa seperti jam.

Lalu Maringgih berkata. Suaranya pelan.

"Sampaikan... aku akan balas."

Mak Ijah tersentak. Hampir tidak percaya.

"Benarkah, Datuk?"

Maringgih mengangguk. "Tapi butuh waktu. Katakan padanya, sabar."

Mak Ijah menangis. Tua itu menangis di depan Maringgih.

"Terima kasih, Datuk. Terima kasih."

Maringgih tersenyum tipis. "Pulanglah, Mak. Jaga dia."

Mak Ijah pergi. Langkahnya ringan, meski usianya tua.

---

Maringgih berbalik, masuk ke dalam. Dullah mengikuti.

"Tuan, Tuan benar-benar mau balas?"

Maringgih tidak menjawab. Ia hanya duduk di kursinya. Memandangi tumpukan surat di meja—termasuk surat Halimah yang belum sempat ia balas.

Anak ini... ia menderita. Ia hancur. Tapi ia tetap berusaha.

Ia mengambil pena. Kertas kosong di depannya.

Dullah tersenyum. Ia keluar, meninggalkan tuannya.

Di dalam, Maringgih mulai menulis.

---

Mak Ijah tiba di rumah. Halimah sudah menunggu di dapur belakang.

Begitu melihat wajah Mak Ijah yang berbeda—tidak lagi cemas, tapi berseri—Halimah langsung tahu.

"Nyai...?"

Mak Ijah memeluknya. "Neng, ia akan balas! Datuk Maringgih akan balas!"

Halimah terisak. Menangis di pelukan Mak Ijah.

"Benar, Nyai? Benar?"

"Benar, Neng. Ia bilang, sabar. Ia butuh waktu. Tapi ia akan balas."

Halimah menangis bahagia. Untuk pertama kalinya dalam dua hari, ia merasa lega.

Tapi di dalam hatinya, pertanyaan itu masih ada.

Kapan? Apa isinya? Apakah baik?

Ia tidak tahu. Tapi setidaknya, ada harapan.

Malam itu, Halimah tidur lebih nyenyak.

Tapi di luar sana, di gudang Maringgih, lampu masih menyala.

Dan pena masih bergerak.

---

[Bersambung ke Bab 33...]

--

1
Ayaelsa
/Smile//Silent//Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!