Menceritakan kisah seorang pemuda desa yang tidak bisa berbicara atau bisu... kehidupannya yang miskin secara perlahan berubah setelah menemukan sebuah batu mustika indah berwarna jingga. bisu yang di alami pemuda itu seketika sembuh tidak hanya itu batu itu juga memiliki kekuatan yang di idam idamkan kebanyakan laki-laki yaitu membuat tubuh penggunanya tak dapat terlihat atau kasat mata.. namun di balik semua keistimewan batu jingga itu menyimpan sebuah misteri dan kutukan yang secara perlahan mendorong pemuda tersebut memasuki dunia gelap yang sesungguhnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buku Diary
Hari hari Sugeng berjalan mulus tanpa hambatan... kecurigaan polisi terhadapnya semakin menurun, namun Sugeng semakin merasa aneh dengan sikap Isna yang seolah ketakutan dan menjauhi dirinya.
Pekerjaan Sugeng hanya memberi makan hewan ternaknya dan mencari rumput untuk sapi dan kambingnya.
Pagi itu Sugeng mengaduk semen hendak mencetak batako. Ia ingin merenovasi kamar mandi. Sembari mencetak batako Sugeng berpikir.
"Apa sekalian aja ya rehap rumah, tapi di curigai warga ngga ya?" Batin Sugeng dia memang sedikit bingung dengan hal itu. Dia sudah memakai cukup banyak uang, apakah warga akan curiga jika dirinya tiba tiba mampu merenovasi rumah?
Hari itu pekerjaan Sugeng hanya mencari rumput, memberi makan ternak dan mencetak batako. Sore harinya ia menemani kakaknya yang sedang menjaga warung.
Sugeng hendak meminta saran kepada Kakaknya bagaimana agar ia bisa dekat dengan Isna.
"Makasih ya geng! Mbak ngga nyangka kamu beneran kasih warung ini buat mbak!" ucap Sekar yang tak henti hentinya berterimakasih.
"Iya mbak. Bilang makasih terus ngga cape apa." Ucap Sugeng sembari duduk di kursi plastik napoli kemudian menaruh secangkir kopi di atas rak.
Sugeng kemudian menyalakan rokoknya dan menghisapnya dalam dalam.
"Akhirnya.." ucap Sekar bersyukur..
"Akhirnya kenapa Mbak?" Tanya Sugeng heran.
"Emm... anu geng sebenarnya Isna minta di beliin motor. Soalnya angkot sekarang jarang ada, ojek mahal. Dia jadi sering telat masuk sekolahnya. Kalau kamu kasih mbak warung ini, geng. Mbak bisa nabung dikit dikit buat kredit motor." Ucap Sekar penuh syukur.
"Lah? Aku anterin aja kenapa Mbak? Aku udah siap anter, tapi dianya pergi duluan terus... ya susah aku ngomongnya mbak."
"Mungkin malu geng.. atau bisa jadi dia takut di kira ya engga engga sama temen temannya. Kamu kan masih muda, di kiranya kamu pacarnya lagi."
"Eh.. iya juga ya.. Isna bisa pake motor gigian ngga mbak?"
"Nggak bisa kayaknya geng. Dia cuma bisa pake motor matic."
"Waduh, tau gini aku belinya motor matic mbak.."
"Udah ngga papa... kamu ngga usah mentingin Isna geng, dia anak mbak. Bukan tanggung jawab kamu juga."
Sugeng hanya diam..
Ketika Sugeng hendak bertanya tentang cara agar bisa dekat dengan Isna, tiba tiba ia merasa ingin buang air kecil.
Sugeng pun memutuskan untuk bangkit dan menuju ke kamar mandi sebentar.
Ia lewat di depan kamar Isna dan melihat Isna tertidur di atas kasur sembari memeluk buku bergambar putri disney bergaun biru.
Sugeng tak terlalu menghiraukannya, ia menuju ke kamar mandi dan segera menuntaskan keinginannya.
Setelah itu ia hendak kembali ke warung... namun entah mengapa pikirannya tertuju kepada buku yang di peluk oleh Isna.
Sugeng pun masuk ke kamar Isna. Membenahi selimutnya kemudian secara perlahan mengambil buku tersebut.
Isna tampak sama sekali tak terusik. Mungkin akibat kelelahan berativitas di sekolah membuat tidurnya tampak nyaman.
Sugeng pun membuka dan membaca buku tersebut. Ya itu adalah buku diary Isna. Sugeng duduk di pinggiran kasur seraya terus membaca isi buku tersebut.
Sugeng tampak terkejut sekaligus kasihan ketika membaca halaman demi halaman dari buku tersebut.
Sekar yang merasa haus hendak mengambil air minum di dapur, namun ekor matanya melihat Sugeng yang sedang membaca buku di kamarnya.
Sekar langsung menghampiri Sugeng.
"Ngapain geng?" Tanya Sekar kepada Sugeng lirih takut anaknya terbangun.
Sugeng hanya diam termenung dan tidak menjawab. Ia tampak sedih membaca tulisan di buku diary tersebut.
Sekar yang penasaran pun ikut duduk di pinggiran kasur dan mulai membaca buku tersebut.
"Ayo mbak... ikut aku bentar." Bisik Sugeng sembari beranjak pergi meninggalkan Sekar yang masih diam membaca buku diary anaknya.
Sekar tampak sangat sedih membaca isi di dalam buku tersebut. Ia merasa gagal menjadi seorang ibu karena anaknya harus melewati semua itu.
Isi di dalam buku diary itu tak lain adalah keluh kesah kehidupan Isna sehari hari. Ia menulis semua keluh kesahnya dibuku itu. Isna anak yang manis dan juga cantik, hanya saja sifatnya yang cenderung introvert atau sulit bergaul. Jika tak ada yang mengajaknya mengobrol ia tidak akan bicara.
Ia anak yang pendiam dan sulit berkomunikasi duluan. Di tambah lagi halaman terakhir buku diary itu Isna menuliskan kesedihannya karena ponselnya pecah dan mustahil untuk bisa di betulkan, ia juga tak tega meminta ponsel baru kepada ibunya karena ia paham dengan kondisi ekonomi keluaganya.. tidak hanya itu di dalam buku Diary itu Isna juga menuliskan tekadnya yaitu setiap hari menabung 5 ribu demi membeli ponsel baru.
Ia pun sering mengeluhkan dirinya yang sering terlambat kesekolah lantaran angkot yang terlalu lama menunggu penumpang dan berakhir ia harus di hukum berlari atau mungkin mencabuti rumput di halaman karena terlambat.
"Maafin ibu ya na.." ucap Sekar sembari menaruh buku diary itu di atas kasur dan mengelus pucuk kepala anaknya.
Setelah itu Sekar beranjak berdiri dan hendak ke dapur. Namun dia kembali berhenti melihat Sugeng duduk di kursi ruang tamu sembari menghitung uang yang kira kira berjumlah 3 juta.
Sugeng yang menyadari kakaknya yang memperhatikannya berucap, "mbak, besok kan tanggal merah, sekolah libur. Ajak Isna beli hape.. ini duitnya kasihan dia gadis masa ngga pegang hape." Ucap Sugeng lirih.
Sekar tampak ragu menerima uang tersebut, tak di pungkiri ia memang sangat kasihan dengan Isna, namun ia tak ingin merepotkan adiknya terlalu jauh... apalagi akhir akhir ini Isna kerap menjauhi Sugeng dan seolah ketakutan dengannya.
"Nggak... nggak usah geng, mba udah repotin kamu terlalu banyak..."
"Nggak papa mbak. Sugeng masih punya tabungan, lagian Isna udah Sugeng anggap adik sendiri... terima aja mbak, kasihan dia kalau nanti ada tugas sekolah yang harus lewat hape gimana? Masa dia harus minjem hape temennya, malulah... apalagi mbak tahu sendirikan dia anaknya intovert."
"Tapi... emmm kamu aja yang beliin hapenya geng.."
"Kok aku mbak?"
"Emm... semenjak mbak sama Isna tinggal di sini, jujur mbak jarang banget lihat kalian berdua saling ngobrol. Anak itu emang pendiem geng, maaf ya geng... apalagi akhir akhir ini dia kayak kesannya takut sama kamu. Dia kemarin cerita sama mbak geng... emm sekali lagi maaf ya geng, dia cerita kalau dia pernah mimpi di perk*sa kamu geng."
Deg!
Jantung Sugeng seolah berhenti berdetak, ekspresinya tampak tidak percaya, "Isna mimpi aku perk*sa dia? Apa jangan jangan itu yang membuat dia takut sama aku akhir akhir hari ini? Tapi aku masih waras, aku ngga mungkin perk*sa dia... apa mimpi Isna cuma kebetulan aja? Atau ini pertanda buruk?" Sugeng bertanya tanya dalam hatinya.
kalo bisa up nya jgn lama2 ya min