Seorang murid sekte luar yang dianggap tidak berguna karena memiliki "Akar Spiritual Terkutuk" tanpa sengaja membangkitkan jiwa seorang jenius dari era kuno yang terperangkap dalam artefak misterius. Bersama, mereka merintis teknik kultivasi kuno yang membutuhkan perpaduan dua elemen yang saling bertentangan, menuntut mereka untuk menyatukan kekuatan dan hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Labirin Kegelapan dan Bisikan Jiwa Pedang
Langkah kaki Li Jian bergema melintasi ambang pintu Gerbang Makam. Udara di dalam seketika berubah; tidak ada lagi angin tajam yang menyayat kulit, melainkan keheningan absolut yang menekan gendang telinga hingga terasa sakit.
Xiao Ling melangkah masuk dengan ragu-ragu, tangannya menggenggam erat busur kayunya hingga buku-buku jarinya memutih.
BUMMM!
Tanpa peringatan, gerbang batu raksasa di belakang mereka bergeser menutup dengan sendirinya. Suara benturannya menggetarkan lantai, memutus satu-satunya sumber cahaya dari dunia luar. Kegelapan total menyelimuti mereka seketika.
"Li Jian..." suara Xiao Ling bergetar, kegelapan ini terasa hidup, merayap di kulitnya seperti ribuan serangga tak kasat mata.
"Tetap di dekatku," ucap Li Jian tenang.
Ia mengalirkan setitik cairan Qi peraknya ke dalam Gerhana. Pedang hitam tumpul itu merespons dengan memancarkan pendaran cahaya perak kebiruan, menerangi area sejauh sepuluh meter di sekeliling mereka.
Pemandangan yang terungkap oleh cahaya itu membuat napas Xiao Ling tercekat.
Mereka tidak berada di dalam sebuah gua biasa. Di hadapan mereka terbentang sebuah jurang tanpa dasar yang luar biasa luas. Di atas jurang tersebut, melayang jembatan-jembatan batu hitam yang saling silang-menyilang membentuk sebuah labirin tiga dimensi yang rumit.
Namun yang paling mengerikan adalah dinding-dinding jurang itu. Jutaan pedang dari berbagai era, bentuk, dan ukuran tertancap di sana. Beberapa memancarkan pendaran hantu berwarna hijau, merah, atau ungu redup. Ini adalah pusara raksasa bagi senjata-senjata yang ditinggalkan oleh sejarah.
"Tempat ini dibangun di atas titik temu urat bumi beraliran Yin," suara Yueyin menggema di benak Li Jian, nadanya penuh ketertarikan. "Niat Pedang di sini tidak lagi menyerang fisik seperti di luar, melainkan menargetkan lautan kesadaran. Mereka adalah Jiwa Pedang yang lapar akan raga baru."
Tepat saat Yueyin menyelesaikan kalimatnya, puluhan pedang berkarat di dekat mereka mulai bergetar.
Trang... Trang...
Suara bisikan mulai memenuhi kepala. Bukan satu atau dua, melainkan ribuan suara yang merintih, menangis, dan mengutuk secara bersamaan.
"Darah... beri kami darah..."
"Pengkhianat! Kenapa kau meninggalkanku di medan perang?!"
"Pinjamkan tubuhmu... aku ingin membalas dendam..."
Xiao Ling menjerit tertahan. Ia menjatuhkan busurnya dan jatuh berlutut sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Darah segar menetes dari hidung dan sudut bibirnya. Kultivasinya yang terlalu lemah membuat pertahanan mentalnya robek seketika oleh invasi Jiwa Pedang.
"Pergi... keluar dari kepalaku!" rintih Xiao Ling, matanya mulai kehilangan fokus, perlahan berubah menjadi kelabu mati. Jika dibiarkan, ia akan menjadi boneka tak berjiwa yang dikendalikan oleh pedang-pedang rongsok ini.
Li Jian mendengus dingin. Matanya memancarkan kilatan perak yang tajam.
"Berani sekali kalian mencoba merebut mangsa di hadapanku?"
Li Jian memutar Gerhana, menancapkan ujung pedang tumpul itu ke lantai jembatan batu dengan keras.
"Domain Es Cermin Bintang: Pemurnian Pikiran!"
Gelombang kejut berupa hawa Yin yang sangat murni meledak dari pedangnya, menyapu radius dua puluh meter. Suhu anjlok seketika. Niat Pedang dan bisikan hantu yang mencoba merasuki Xiao Ling langsung membeku dan hancur menjadi serpihan cahaya yang berhamburan di udara.
Li Jian menarik lengan Xiao Ling, memaksanya berdiri, lalu menarik gadis itu hingga punggungnya menempel pada dada Li Jian.
"Jangan melawan hawa dinginku," bisik Li Jian di telinga gadis itu. Ia mengalirkan selapis tipis Qi peraknya untuk menyelimuti tubuh Xiao Ling, membentuk perisai mental yang tak bisa ditembus oleh Jiwa Pedang mana pun.
Gadis itu terengah-engah, kesadarannya kembali. Ia bersandar pada tubuh Li Jian yang sedingin es, namun saat ini, rasa dingin itu adalah hal yang paling aman di seluruh dunia. "Terima kasih... aku hampir..."
"Simpan napasmu. Labirin ini sadar kita ada di sini," potong Li Jian, matanya menatap tajam ke ujung jembatan.
Cahaya perak dari Gerhana memperlihatkan pergerakan di depan mereka. Ratusan pedang hantu—yang hanya berupa bentuk energi tanpa wujud fisik—mulai berkumpul, menghalangi jembatan batu yang harus mereka lewati. Pedang-pedang itu berputar membentuk pusaran badai logam bercahaya hijau kemerahan yang memancarkan aura setara dengan kultivator Tingkat Delapan.
"Inti Netherworld yang kucari ada di dasar jurang ini, bocah," instruksi Yueyin. "Jembatan itu adalah satu-satunya jalan turun. Badai Jiwa Pedang di depanmu tidak memiliki bentuk fisik, jadi tebasan murni tidak akan menghancurkan mereka. Kau harus menelannya."
Li Jian menyeringai tipis. "Menelan badai pedang? Seni Bintang Pemakan Langit benar-benar diciptakan untuk orang gila sepertiku."
Li Jian memegang Gerhana dengan erat, urat-urat biru pada pedangnya berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Badai Jiwa Pedang di ujung jembatan mulai melesat ke arah mereka, membawa jeritan ribuan roh yang siap mencabik-cabik jiwa Li Jian dan Xiao Ling.
novel silat dari author yg kereen kapan nyambung nya
ayo ... semangat doong thor
semangat & lanjuuuut thor
pinginnya dihancurin pusat meridiannya kyk suruhannya biar jd sampah selama hidupnya
nanya bukan protes loo.. 🤭🙏