NovelToon NovelToon
Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mafia / Time Travel / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: KEMBALI KE AKADEMI

Empat hari perjalanan pulang terasa seperti empat minggu.

Yun-seo tidak pernah membayangkan bahwa menyimpan rahasia bisa seberat ini. Setiap kali Cheol-soo bertanya kenapa ia terlihat lelah, setiap kali murid lain melirik mereka dengan curiga, ia harus berpura-pura biasa saja.

Sementara Yehwa? Ia tetap tenang seperti biasanya. Wajahnya tidak pernah menunjukkan apa yang ia rasakan. Tapi Yun-seo tahu—di balik topeng dingin itu, ada ratu yang baru saja membunuh musuh bebuyutannya dan mendapatkan kembali separuh kekuatannya.

Malam kedua perjalanan, saat yang lain tidur, Yehwa duduk di pinggir tebing sendirian. Yun-seo mendekat, duduk di sampingnya tanpa bicara.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Yun-seo akhirnya.

Yehwa menghela napas. "Aku pikir... setelah dapat kekuatan kembali, aku akan langsung menyerang Lilian. Tapi sekarang, setelah lihat Penguasa Kegelapan mati... aku ragu."

"Ragu kenapa?"

"Dia manusia. Tapi ambisinya menghancurkan banyak nyawa." Yehwa menatap tangannya sendiri. "Apa aku berbeda? Dulu, sebagai ratu iblis, aku juga hancurkan banyak desa manusia. Apakah aku sama jahatnya?"

Yun-seo meraih tangannya. "Kau berbeda."

"Bagaimana kau tahu?"

"Karena kau menyesal. Karena kau bertanya." Yun-seo menatap matanya. "Orang jahat sejati tidak pernah bertanya apakah mereka jahat."

Yehwa menatapnya lama. Lalu tersenyum—senyum kecil yang hanya Yun-seo bisa lihat.

"Kau selalu tahu cara membuatku merasa lebih baik."

"Itu tugasku, kan? Suami."

Yehwa tertawa pelan. "Suami palsu."

"Sekarang masih palsu?"

Yehwa mendekat, meletakkan kepala di bahunya. "Aku tidak tahu. Mungkin tidak."

Mereka diam lagi, menikmati kebersamaan di bawah bintang.

---

Kembali ke akademi disambut dengan lega dan gugup.

Lega karena tidak ada yang tahu apa yang terjadi di Kastel Kegelapan. Gugup karena kini mereka harus menjalani kehidupan normal sambil menyembunyikan rahasia besar.

Hari pertama kembali, Yun-seo hampir ketiduran di kelas teori. Kim Jung-soo menyenggolnya.

"Hei, kau dengar guru bilang apa? Besok ujian tengah semester."

Yun-seo tersentak. "Ujian?!"

"Iya. Ujian teori dan praktik. Nilai di bawah standar bisa dikeluarkan."

Yun-seo menghela napas. Di tengah semua kekacauan ini, ia lupa bahwa mereka masih murid akademi dengan segala kewajibannya.

Sore harinya, ia cerita pada Yehwa di perpustakaan.

"Ujian? Aku lupa." Yehwa mengernyit. "Teori mungkin mudah, tapi praktik?"

"Aku bisa apa? Ki-ku baru sedikit. Jurus baru hafal empat."

Yehwa diam, berpikir. Lalu berkata, "Aku bisa ajarin jurus tambahan. Tapi kau harus siap latihan ekstra."

Yun-seo menghela napas panjang. "Latihan lagi? Kapan capeknya?"

"Capek itu untuk orang yang menyerah." Yehwa tersenyum tipis. "Kau mau menyerah?"

Yun-seo memandangnya. Wanita ini—ratu iblis yang bisa menghancurkan gunung—percaya padanya. Bagaimana mungkin ia mengecewakannya?

"Ayo latihan."

---

Seminggu sebelum ujian, Yun-seo berlatih seperti orang kesurupan.

Bangun jam 3 pagi, lari keliling akademi, latihan jurus sampai siang, ikut kelas teori, lalu latihan lagi sampai malam. Tubuhnya protes, otot-ototnya sakit, tapi ia tidak berhenti.

Cheol-soo heran. "Hyung, kau mau jadi murid teladan atau apa?"

Yun-seo hanya tersenyum lelah. "Ada yang harus kubuktikan."

Yang tidak ia katakan: ia harus membuktikan pada Yehwa—dan pada dirinya sendiri—bahwa ia layak berada di sisinya.

Yehwa sendiri sibuk dengan urusannya. Sebagai murid baru, ia juga harus ikut ujian. Tapi dengan pengalaman 327 tahun, teori dan praktik level akademi terasa mudah. Yang lebih ia pikirkan adalah bagaimana menghubungi tetua-tetua iblis yang masih hidup.

Seo Jung-won membantu mencarikan informasi. Dari arsip rahasia akademi, ia menemukan catatan tentang tiga tetua yang mungkin masih hidup: Tetua Kelima, Ketujuh, dan Kesepuluh.

"Tetua Kelima bersembunyi di Pegunungan Es," jelas Seo Jung-won suatu malam. "Tetua Ketujuh jadi pedagang di Pelabuhan Selatan. Tetua Kesepuluh... tidak ada jejak."

Yehwa mengangguk. "Aku akan cari mereka setelah ujian."

"Aku bisa bantu urus izin perjalanan," tawar Seo Jung-won. "Sebagai asisten guru, aku punya akses."

Yehwa tersenyum. "Terima kasih, Jung-won. Kau benar-benar aset berharga."

Seo Jung-won tersenyum tipis—jarang, tapi tulus. "Kau satu-satunya yang tahu rahasiaku. Aku juga harus jaga kau."

---

Ujian tengah semester tiba.

Hari pertama: ujian teori. Seratus soal tentang sejarah persilatan, teori ki, nama-nama jurus, dan etika pendekar.

Yun-seo berdoa pada dewa mana pun yang mendengar. Ia belajar mati-matian seminggu ini, tapi otaknya tidak secemerlang Kim Jung-soo.

Soal pertama: Sebutkan tiga aliran pedang utama di Murim.

Yun-seo menulis dengan keringat dingin. Hwasan, Keturunan Naga, ... apa lagi? Ah, Shaolin! Meski Shaolin terkenal dengan tinju, mereka punya jurus pedang juga.

Soal kedua: Apa fungsi dari meditasi dalam peningkatan ki?

Ini diajarkan Yehwa. Ia menulis panjang lebar tentang konsentrasi, aliran energi, dan hubungan tubuh-pikiran.

Dan seterusnya. Tiga jam terasa seperti tiga hari. Saat bel berbunyi, Yun-seo hampir pingsan.

"Gimana, hyung?" tanya Cheol-soo di luar.

"Entahlah. Mungkin lulus, mungkin tidak."

Cheol-soo tertawa. "Biasa, hyung! Aku juga nggak tahu jawabannya."

Hari kedua: ujian praktik.

Mereka dipanggil satu per satu untuk menunjukkan jurus wajib akademi di depan para guru. Yun-seo melihat murid lain tampil—beberapa bagus, beberapa biasa, beberapa jelek. Song Ha-na dari kelas Yehwa tampil memukau, dapat tepuk tangan dari guru.

Giliran Yun-seo. Ia melangkah ke tengah lapangan, pedang kayu di tangan. Guru Song, wali kelasnya, duduk di kursi penilai dengan ekspresi datar.

"Mulai."

Yun-seo menarik napas. Ia membayangkan Yehwa di depannya, seperti saat latihan. Gerakan pertama—Naga Terbang. Kedua—Ekor Naga. Ketiga—Cakar Naga. Keempat—Nafas Naga. Ia melakukan semuanya dengan lancar, tanpa kesalahan berarti.

Selesai. Ia berdiri tegak, menunggu penilaian.

Guru Song diam beberapa saat. Lalu mengangguk.

"Cukup baik. Nilai B."

Yun-seo hampir menjerit senang. Ia menahan diri, membungkuk hormat, lalu keluar lapangan dengan langkah terkendali. Di luar, ia melompat kecil.

"Hyung! Dapat apa?" tanya Cheol-soo.

"B!"

"Wah! Aku dapat C—tapi lulus!"

Yehwa keluar beberapa saat kemudian. Ia dapat nilai A, seperti dugaan. Tapi ia tidak terlihat senang—mungkin karena itu sudah biasa.

Malam harinya, di perpustakaan, mereka merayakan dengan camilan curian dari dapur akademi.

"Kita lulus," kata Yun-seo gembira.

"Ini baru ujian tengah semester. Masih ada ujian akhir, ujian kenaikan tingkat, dan seterusnya." Yehwa menggigit kue. "Tapi ya, selamat."

Mereka makan dalam diam. Lalu Yehwa berkata, "Besok aku mulai cari tetua. Mungkin butuh beberapa minggu."

Yun-seo mengangguk. "Aku ikut?"

"Kau harus tetap di sini. Kalau kita berdua pergi, akan mencurigakan." Yehwa meraih tangannya. "Tapi aku akan kembali. Janji."

Yun-seo ingin protes, tapi tahu Yehwa benar. Ia hanya bisa mengangguk.

"Jaga diri."

"Kau juga."

Mereka berciuman—bukan ciuman pertama, tapi kali ini terasa lebih berat. Ada perpisahan di depan mata.

---

Tiga hari kemudian, Yehwa pergi.

Resminya, ia cuti karena urusan keluarga—alasan yang diatur Seo Jung-won. Tidak ada yang curiga.

Yun-seo mengantarnya sampai gerbang akademi. Cheol-soo ikut, berpikir Yehwa pulang kampung.

"Hati-hati, Nyonya Hwang!" serunya.

Yehwa mengangguk, lalu menatap Yun-seo. Di matanya, ada pesan yang hanya mereka berdua mengerti.

"Aku akan kembali."

Yun-seo membalas dengan anggukan kecil.

Kuda Yehwa berlari meninggalkan akademi, membawanya ke petualangan baru. Yun-seo berdiri di gerbang lama, menahan rasa rindu yang sudah mulai menggerogoti.

"Hyung," panggil Cheol-soo. "Kenapa melamun?"

Yun-seo tersenyum getir. "Nggak. Cuma kangen."

"Kangen? Baru juga pergi."

Yun-seo tidak menjawab. Ia hanya menatap jalan kosong di depan, berharap Yehwa cepat kembali.

---

1
Amiera Syaqilla
hello author😄
Q. Zlatan Ibrahim: halo juga terimalasih sudah mampir
total 1 replies
Manusia Biasa
emang manusia kadang lebih dari iblis
Q. Zlatan Ibrahim: seringkali
total 1 replies
Manusia Biasa
wkwkw ngakak gua baca sandiwaranya, lucu🗿😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!