Marvel Dewangsa sadar bahwa hatinya sudah lama mati. Mungkin dari pengkhianatan oleh wanita yang ia sayangi, ditambah ia yang berkecimpung di dunia bawah yang tidak memerlukan simpati untuk bertahan hidup. Ia akhirnya percaya bahwa hidupnya akan seallau gelap sampai mati.
Namun, entah keajaiban apa, di hari itu seorang wanita yang bernama Elara , datang dan perlahan selalau ada di kehidupannya. Apakah marvel Dewangsa akan menerima Elara di kehidupannya dan hatinya akan luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu
Dingin, tajam, dan tak tersentuh. Itulah Marvel Dewangsa. Sebagai kepala sindikat La Corona, dunianya hanya berisi bau mesiu, angka-angka pencucian uang, dan jeritan musuh yang memohon ampun. Di matanya, cinta adalah kelemahan fatal yang hanya layak dimiliki orang mati.
Malam itu, di sebuah gang sempit di Palermo, Marvel sedang menyeka noda darah di ujung sepatunya setelah sebuah "negosiasi" yang gagal. Namun, langkahnya terhenti. Di sudut gang, di bawah lampu jalan yang berkedip, ia melihat seorang gadis duduk bersimpuh, mencoba membalut sayap seekor burung merpati yang patah dengan sobekan kain bajunya.
Namanya Elara. Ia hanyalah seorang pelukis jalanan yang tinggal di apartemen kumuh. Ia tidak takut saat melihat pria dengan jas ribuan dolar dan pistol yang menyembul dari balik pinggangnya itu.
"Kau akan membuatnya mati jika menarik perbannya terlalu kencang," suara Marvel berat, memecah kesunyian.
Elara mendongak, matanya yang jernih menatap langsung ke pupil mata Marvel yang sekelam malam. "Setidaknya aku mencoba menyelamatkannya, bukan membiarkannya mati sendirian di kegelapan."
Kalimat sederhana itu menghantam Marvel lebih keras daripada peluru kaliber .45.
Sejak malam itu, "Sang Iblis Marvel Dewangsa " berubah. Marvel mulai sering terlihat duduk di kafe seberang tempat Elara melukis. Ia mengirimkan pengawal-pengawal terbaiknya—secara sembunyi-sembunyi—hanya untuk memastikan tidak ada berandal yang mengganggu gadis itu.
Suatu hari, musuh Marvel dari klan saingan mengetahui titik lemah ini. Mereka menculik Elara untuk memancing Marvel ke sebuah gudang tua tanpa senjata.
Marco datang. Sendiri.
"Lepaskan dia," ucap Marvel datar, meski urat lehernya menegang.
"Sang algojo jatuh cinta? Ironis," tawa pimpinan musuh pecah. "Berlutut, Marvel, dan mungkin aku akan membunuhnya dengan cepat."
Tanpa ragu, pria yang tak pernah tunduk pada siapapun itu menjatuhkan lututnya ke lantai yang kotor. Namun, di balik punggungnya, tangan Marvel telah memberi isyarat pada tim penembak jitu yang sudah mengepung tempat itu. Dalam hitungan detik, kekacauan pecah.
Setelah debu mereda, Marvel menerjang ke arah Elara yang gemetar. Ia memotong tali pengikatnya dengan pisau kecil. Ia mengira Elara akan lari ketakutan melihat sosok aslinya yang penuh darah dan kekejaman.
Namun, Elara justru memeluknya erat. "Tanganmu dingin sekali, Marvel," bisiknya.
Marvel tertegun. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, ia merasakan jantungnya berdetak bukan karena adrenalin perang, melainkan karena kehangatan yang asing.
"Aku adalah monster, Elara," gumam Marvel, suaranya parau.
Elara melepaskan pelukannya, menangkup wajah pria yang ditakuti seluruh Italia itu, dan tersenyum tipis. "Maka biarkan aku menjadi rumah bagi monstermu."
Dunia Marvel tetaplah gelap dan penuh bahaya, namun kini ada satu cahaya kecil yang membuatnya ingin terus pulang, meski ia harus membakar seluruh dunia untuk melindunginya.
" apakah kamu bersedia terus berada disampingku,? Jika terjadi sesuatu yang kau tidak pernah kira " bisik Marvel , walaupun begitu Marvel masih memikirkan keselamatan Elara , ia tidak mau gadis yang secara tidak langsung menenangkan hatinya
Elara tidak dapat langsung menjawab, tapi tiba-tiba ia berkata " Aku bersedia dan aku tidak takut selagi kamu berada di sampingku Marvel , kan kamu monster hahah " tanggapi Elara sambil tertawa
" baikLa jika itu maumu , jangan pernah menyesal jika suatu saat nanti , setidaknya aku sudah memperigatimu " gumang Marvel tenang
" ia Marvel " yakin Elara