Setiap luka punya masa jeda, dan setiap kesabaran punya batas indah yang telah dijanjikan.
Ini adalah kisah tentang perjalanan panjang yang penuh air mata, tentang bagaimana hati dipaksa bertahan di tengah badai yang memilukan. Kadang, hidup terasa begitu tidak adil saat kehilangan dan rasa sakit datang bertubi-tubi tanpa permisi. Namun, Yani dan Ratih membuktikan bahwa ketabahan bukan sekadar menunggu badai berlalu, melainkan tentang bagaimana tetap melangkah meski kaki terasa berat.
Di balik setiap tawa canggung dan momen manis di persimpangan jalan, tersimpan kenangan pahit yang pernah menguji logika dan perasaan. Namun, bagi mereka yang bersedia mendekap luka dengan keikhlasan, semesta selalu punya cara untuk menyembuhkannya. Sebuah narasi tentang perjuangan, keluarga, dan keajaiban yang tumbuh dari benih kesabaran yang paling pedih.
Ternyata, bahagia tidak pernah datang terlambat; ia hanya datang di waktu yang paling tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sherly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian beberapa hari lalu.
Aku hari ini bekerja penuh dengan semangat, tak perlu lagi memikirkan seorang suami. Ya aku pisah ranjang setelah kejadian beberapa bulan lalu.
(Flasback on)
Aku waktu itu masih dalam kondisi masa nifas, suamiku mengajak ku kerumah mertua, dan aku juga mengiyakan karna beberapa hari ini dia bersikap baik. Jadi aku kasih kesempatan buat dia berubah.
"Mak aku pulang dulu ya?." Pamit ku pada mamak juga bapak, sebener nya mereka tak mengikhlaskan aku pergi, tetapi ini sudah menjadi pilihanku.
"Nak sebaik nya kamu pikirkan lagi, dulu apa kamu lupa kata bapak." Ujarnya yang mencoba mengingatkan kata-kata bapak sa'at aku pulang kerumah. ("Udah mulai sekarang kamu nggak usah lagi balik kerumah itu!?.")
Tapi aku masih tetap kekeh ingin pergi.
"Iya mak, nggak apa-apa, nanti saya coba kasih kesempatan lagi. Insya allah nggak terjadi apa-apa." Ucapku lalu pergi meninggalkan mamak
Jujur sebener nya aku masih was was terhadap ahmad, yang akan berubah kapan pun saja.
Perjalanan sebentar terasa lama buatku, hari juga hampir semakin sore, kata orang jaman dulu. (Jangan pernah membawa anak bayi di sa'at sore hari, dan katanya itu akan mengundang mahkluk tak kasat mata) ntah itu benar atau tidak.
Beberapa menit kemudian tibalah aku dirumah mertua, sore harinya aku menyeka anakku kemudian aku berikan asi, sampai aku pun ikut tertidur.
Tibanya malam suamiku tidur diruang keluarga, aku masih tak percaya tumben dia masih waras. Sehingga pagi aku bangun mencuci popok anak, juga baju ku yang kotor kebetulan baju suami juga sedikit, jadi aku nyuci tak terlalu banyak.
Setelah fajar tiba, paginya aku berjemur di terik matahari. Ku gendong anak tersayangku dan tiba tiba kakak ipar pertama datang.
"Sini biar budhe aja yang gendong, aku kangen sama si kecil." Katanya dan ku berikan pada kakak iparku lalu.
"Nih budhe belikan kemarin sepatu, yeee biar nanti langsung berlari ya nak." Katanya sambil menirukan bayi kecil.
Emang ya kata orang dulu jika sudah ada anak pasti semua berubah, cuman aku tidak percaya dengan, kondisi sa'at ini gimana bisa semua berubah?.
Aku hanya melihat dari jarak agak jauh, melihat gimana rasanya itu kebahagia'an sebenernya. Aku setengah sadar melihat suamiku pergi, ia pergi membawa senapan.
"Mau kemana mas." Tanyaku sebelum suamiku jalan dengan mengendarai motornya.
"Mau pergi sebentar, nganterin temenku ini." Ujarnya lalu aku pun mengangguk
Tak ada jawaban lagi yang keluar dari mulutku, sehingga beberapa menit aku berjemur, aku pun mengambil kembali anakku, karna beliau menangis karna lapar. Jadi aku gendong ajak kekamar lalu menyusui.
"Alah, anak mamah kenapa menangis, iya lapar ya sebentar ya sabar." Kataku anakku pun seperti mengerti bahasaku, ia pun menangis kembali ketika sampai di kamar. Namun setelah diberi susu anakku terdiam.
Hari sudah siang menujukan jam 13-29 dan suamiku belum pulang. Namun aku tak memperdulikannya, setelah mengangkan kain jemuran yang kering, kini kembali kekamar untuk melipatnya, hari semakin sore dia pun tak kunjung pulang. Sehingga pulang ia masih dalam kondisi normal, tapi mulut bau dengan minuman.
"Dari mana mas?" Tanyaku ia pun menjawab seadanya.
"Dari rumah temen yang tadi kesini, suruh benerin genteng sekalian tadi." Jawabnya aku pun masih mencoba percaya, dan tak ada pikiranku ke hal yang lain lain.
"Lalu ini mau kemana lagi mas, kamu baru saja pulang loh." Ujarku yag melihat suamiku mengambil jaket dan topi.
"Mau kerumahnya lagi." Katanya sambil mengambil tas di gantungan.
"Lah, ini mau kesana lagi?." Ucapku lalu ahmad pun mengangguk
Aku biarkan dia pergi, aku pun lanjut tidur bersama anakku, namun perut masih terasa lapar jadi ku sempatkan makan terlebih dulu.
*******
Pukul 23:48 malam hari suamiku nggak pulang, sehingga tak terasa hampir matahari akan terbit, ia barulah pulang dengan kondisi mabuk lagi.
"Ya allah mabuk lagi dah dia!?." Gumamku sehingga aku pun melepaskan sepatu, dan melepas celana panjangnya. Lalu aku pun menoleh ke ponselnya, betapa shock nya aku dia bukan main kerumah temannya, akan tetapi dia malah pergi foya-foya
Isi pesan: say nati malam aku tunggu kamu disini ya? Jangan lupa bawain makanan kesuka'an aku lagi ok.
Semua itu terbaca olehku di layar ponselnya, aku pun mengambil anakku karna menangis, sehingga ku gendong mersha hendak aku bawa keluar, suamiku terbangun lalu ia pun menarik bajuku.
"Mas! Apa-apa'an kamu ini, disini ada anak kamu loh! Mas! Kamu ini kenapa?." Pekikku sa'at suamiku hendak menindihku, dan anakku pun menangis sekencang kencangnya.
Sehingga tamparan pun melayang lagi. 2x aku ditampar lalu ponselku di lemparkan kejidatku, hingga kepala cas di pukulkan ke pipi ku dekat mata, beruntung aku tak mengalami cedera sampai mengeluarkan dar*h.
"Angkat anakmu! Susui dia!? jangan sampai dia terluka, berani sekali kamu melawanku?." Bentaknya padahal dia sendiri yang cari perkara, aku memang tak mau melayani dia karna posisiku sedang bersama anakku, dan anakku sedang menangis.
"Cup nak, nih minum ya yang kenyang." Aku berusaha untuk tersenyum di depan anak, sebisa mungkin tak aku tak menangis, tapi apalah dayaku air mataku tak bisa berhenti. Sampai ada ibu-ibu yang datang untuk melihat kesehatan anakku. Cuman aku tetap masih menundukkan kepalaku, tak bisa aku untuk tersenyum dihadapan orang-orang.
"Ya allah aku nuak!? Kondisiku sepeti ini harus bagai mana." Batinku meracau sehingga ibu-ibu pun saling berbisik, lalu pergi begitu saja tanpa bisa melihat wajahku. Aku buang amplop yang habis diberikan ibu-ibu tadi. Lalu aku melihat ponsel suamiku buat musikan.
Kirim pesan: dek jemput aku sekarang penting nanti aku ceritakan." Send
Setelah nya aku kemasin baju-bajuku juga baju anakku. Dan setelah suamiku memanggil karna ada adek, aku pun pergi meninggalkan suamiku yang bertanya-tanya. Aku pergi tanpa berpamitan bersama anakku.
(Flasback off)
Mulai dari itulah kadang banyak yang bilang. 'Carilah laki-laki yang jika marah, tetap bisa lembut sikapnya kepadamu, atau mengalah jika sama-sama marah. Marah itu tidak apa apa, yang penting tidak sampai keras dan kasar, apalagi sampai main tangan,'
Wanita itu pekerja keras namun lemah lembut. Di rumah bisa bekerja urus rumah tangga, di luar bisa bekerja dengan pekerjaannya. Ketika suami datang ia tak merasa superior dan berlaku lemah lembut. Laki-laki yang kasar sudah tak ada tempat untuk dipertahankan. Sehingga aku pun mulai hari ini pisah ranjang, dan lebih fokus untuk bekerja untuk membiayai anakku kelak. Meskipun bayaran tak seberapa yang penting bagiku cukup, tanpa suami wanita itu tidak masalah, karna wanita bisa mencari apa yang ia butuhkan sendiri. Gunanya suami itu mengayomi istri bukan untuk disakiti.
Bersambung....