NovelToon NovelToon
Gelang Giok Pembawa Rezeki

Gelang Giok Pembawa Rezeki

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Romantis / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir / CEO / Ruang Ajaib
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Latihan Intensif

Sabtu pagi, Suyin terbangun dengan badan pegal semua. Jam di meja menunjukkan pukul lima pagi—terlalu pagi bahkan untuk hari kerja. Tapi dia ingat Xiao Zhen bilang latihan kultivasi dimulai lebih awal hari ini.

Dengan setengah mengantuk, Suyin berpakaian dengan baju olahraga yang sudah disiapkan—entah siapa yang belikan, tapi ukurannya pas sempurna.

Di taman belakang, Xiao Zhen sudah menunggu. Pria itu mengenakan pakaian latihan serba hitam yang membuatnya terlihat seperti instruktur bela diri profesional.

"Pagi," sapa Suyin sambil menguap.

"Pagi. Masih mengantuk?" tanya Xiao Zhen dengan sedikit senyum.

"Sedikit. Tapi tidak apa-apa."

"Bagus. Karena hari ini akan berat." Xiao Zhen berjalan ke tengah area terbuka yang sudah ditandai dengan lingkaran kapur. "Kemarin kita fokus pada meditasi dan merasakan aliran Qi. Hari ini, kita akan belajar mengalirkan Qi itu untuk memperkuat tubuhmu."

Suyin melangkah ke dalam lingkaran, berdiri menghadap Xiao Zhen.

"Kultivasi pertahanan dasar ada dua komponen—kekuatan fisik yang diperkuat Qi, dan barrier spiritual. Kita mulai dari yang pertama dulu." Xiao Zhen mengambil posisi kuda-kuda. "Ikuti gerakanku."

Selama satu jam berikutnya, Suyin mengikuti gerakan-gerakan yang diajarkan Xiao Zhen. Mirip tai chi tapi lebih cepat dan lebih dinamis. Setiap gerakan dirancang untuk membuat Qi mengalir ke bagian tubuh tertentu—tangan untuk menyerang, kaki untuk kecepatan, dada untuk pertahanan.

"Rasakan Qi mengalir dari pusat energimu—dua jari di bawah pusarmu—ke seluruh tubuh," instruksi Xiao Zhen sambil mengoreksi postur Suyin. "Jangan dipaksa. Biarkan mengalir seperti air."

Suyin mencoba fokus. Awalnya sulit—tubuhnya tidak terbiasa dengan gerakan rumit ini. Tapi perlahan, dia mulai merasakan aliran hangat yang familiar—Qi yang mulai mengikuti kehendaknya.

"Bagus! Sekarang coba pukul pohon ini dengan tangan kananmu. Fokuskan semua Qi ke kepalan tanganmu sebelum memukul," perintah Xiao Zhen sambil menunjuk pohon besar di pinggir taman.

"Memukul pohon? Bukankah itu—"

"Percaya padaku. Kalau kamu lakukan dengan benar, kamu tidak akan terluka."

Suyin mengambil napas dalam, memposisikan diri di depan pohon. Dia merasakan aliran Qi di dalam tubuhnya, lalu dengan sengaja mengarahkannya semua ke tangan kanan—seperti air yang dialirkan melalui selang.

Tangannya terasa hangat, lalu panas, lalu seperti ada kekuatan besar yang berkumpul di sana.

Suyin memukul!

THUD!

Pohon bergetar. Beberapa daun berjatuhan.

Suyin menatap tangannya dengan tidak percaya—tidak ada rasa sakit sama sekali! Bahkan kulitnya tidak lecet!

"Aku... aku melakukannya!" serunya girang.

Xiao Zhen tersenyum bangga. "Lihat? Kamu lebih cepat belajar daripada kultivator pemula manapun yang pernah kutemui. Gelang dimensimu benar-benar mempercepat pertumbuhan spiritualmu."

"Ini luar biasa!" Suyin menatap tangannya dengan takjub.

"Itu baru dasar. Sekarang kita latihan barrier spiritual—ini yang akan melindungimu dari serangan langsung."

Xiao Zhen membimbingnya ke tengah lingkaran lagi.

"Barrier spiritual dibentuk dengan memproyeksikan Qi keluar dari tubuhmu, menciptakan lapisan pelindung tak kasat mata. Bayangkan seperti gelembung sabun yang mengelilingi tubuhmu." Xiao Zhen mengangkat tangannya, dan tiba-tiba ada cahaya hijau samar yang muncul di sekelilingnya—sebuah perisai tembus pandang yang berkilauan. "Seperti ini."

Suyin ternganga. "Cantik sekali..."

"Sekarang giliranmu. Tutup mata, rasakan Qi di dalam tubuhmu, lalu bayangkan kamu mendorongnya keluar—membentuk lapisan pelindung di sekitarmu."

Suyin menutup mata, berkonsentrasi penuh. Dia merasakan Qi yang mengalir di dalam tubuhnya—hangat dan kuat. Lalu dia coba mendorongnya keluar...

Tidak terjadi apa-apa.

"Jangan paksa. Biarkan mengalir sendiri," bisik Xiao Zhen dari dekatnya.

Suyin mencoba lagi. Kali ini dia tidak memaksa—hanya membayangkan Qi mengalir keluar seperti air terjun yang lembut...

Tiba-tiba, dia merasakan sesuatu berubah. Udara di sekitarnya terasa berbeda—lebih padat, lebih hangat.

"Buka matamu."

Suyin membuka mata—dan terkejut melihat cahaya hijau keemasan yang samar mengelilingi tubuhnya! Barrier spiritual pertamanya!

"Aku berhasil!" teriaknya senang.

Tapi saat konsentrasinya buyar, barrier langsung menghilang.

"Wajar. Barrier spiritual butuh konsentrasi terus-menerus untuk pemula. Tapi dengan latihan, nanti bisa dipertahankan otomatis tanpa pikir lagi." Xiao Zhen menepuk bahu Suyin. "Kamu hebat, Suyin. Ini baru hari kedua latihanmu, tapi kamu sudah bisa bentuk barrier—walau cuma beberapa detik."

Suyin tersenyum lebar, merasa bangga pada dirinya sendiri.

"Istirahat dulu sepuluh menit, lalu kita lanjut latihan kecepatan gerak," ucap Xiao Zhen sambil melempar botol air mineral pada Suyin.

Latihan berlanjut sampai jam sembilan pagi. Suyin belajar teknik "langkah kilat"—cara mengalirkan Qi ke kaki untuk bergerak lebih cepat dari mata normal bisa lihat.

Awalnya dia hanya bisa berlari sedikit lebih cepat dari biasa. Tapi setelah puluhan kali mencoba, akhirnya dia berhasil—berlari dari satu ujung taman ke ujung lain dalam waktu yang sangat singkat, meninggalkan bayangan samar di belakangnya.

"Sempurna!" puji Xiao Zhen. "Kalau kamu dalam bahaya dan tidak bisa lawan, lari dengan teknik ini. Bahkan kultivator tingkat rendah akan kesulitan mengejarmu."

Setelah latihan pagi selesai, Suyin ambruk di rumput dengan napas terengah-engah. Seluruh tubuhnya lelah tapi ada sensasi puas yang luar biasa.

Xiao Zhen duduk di sampingnya, memberikan handuk.

"Terima kasih," ucap Suyin sambil mengusap keringat.

"Kamu luar biasa hari ini," ucap Xiao Zhen dengan nada yang hangat. "Aku tidak berbohong—kamu memang punya bakat alami untuk kultivasi. Nenek kamu pasti akan sangat bangga."

Mendengar nama nenek, hati Suyin mencelos. "Aku harap dia bisa lihat ini semua."

"Aku yakin dia melihat. Dari surga sana." Xiao Zhen menatap langit yang cerah. "Dan dia pasti tersenyum."

Mereka duduk dalam keheningan yang nyaman, menikmati semilir angin pagi.

"Xiao Zhen..." Suyin memecah keheningan. "Kenapa kamu begitu baik padaku? Maksudku, aku tahu soal hutang keluarga dan semua itu. Tapi rasanya... kamu melakukan lebih dari sekadar kewajiban."

Xiao Zhen terdiam lama. Ekspresi wajahnya sulit dibaca.

"Kamu benar," ucapnya akhirnya. "Awalnya memang karena kewajiban keluarga. Tapi sekarang..." Dia berbalik menatap Suyin. "...sekarang bukan lagi soal kewajiban."

"Lalu soal apa?"

Xiao Zhen menatap mata Suyin dalam-dalam. "Soal perasaan yang seharusnya tidak kumiliki."

Jantung Suyin berhenti sebentar. "Perasaan apa?"

Tapi sebelum Xiao Zhen sempat menjawab, ponselnya berdering keras—memecah momen itu.

Xiao Zhen mengeluarkan ponsel dengan wajah kesal. "Maaf, aku harus angkat. Ini kantor."

Dia berdiri, berjalan menjauh sambil menjawab telepon dengan nada bisnis yang formal.

Suyin duduk sendirian di rumput, jantung masih berdebar keras.

Perasaan yang seharusnya tidak dimiliki? Apa maksudnya?

Apa Xiao Zhen... juga merasakan sesuatu seperti yang Suyin rasakan?

Siang itu, setelah mandi dan makan siang, Suyin memutuskan masuk ke ruang dimensi. Sudah beberapa hari dia tidak cek tanaman-tanamannya dengan teliti.

WUSH!

Begitu mendarat di rumput ruang dimensi, Suyin langsung tersenyum lebar.

Semua tanaman tumbuh dengan luar biasa subur! Bedengan yang ditanam sebelum dia pindah ke villa Xiao Zhen sekarang sudah siap panen lagi.

Tomat, sawi, kangkung, bayam, selada—semuanya sempurna.

Tapi yang paling mengejutkan adalah Pohon Kehidupan.

Pohon yang terakhir kali dilihat Suyin setinggi pinggang, sekarang sudah setinggi dua meter! Batangnya kokoh, cabang-cabangnya banyak dengan daun-daun hijau lebat yang berkilauan seperti giok.

"Pohon Kehidupan!" panggil Suyin sambil berlari mendekat.

Suara lembut langsung menjawab di kepalanya. "Selamat datang kembali, Pemilik Ruang. Aku merindukanmu."

"Aku juga rindu! Maaf baru bisa kesini lagi—banyak yang terjadi di luar."

"Aku tahu. Aku bisa merasakan emosimu bahkan saat kamu di luar. Kamu sedang belajar kultivasi, kan? Aku merasakan energi spiritualmu meningkat drastis."

"Iya! Xiao Zhen mengajariku. Dan aku berhasil buat barrier spiritual tadi pagi!" Suyin tidak bisa menyembunyikan kebanggaannya.

"Luar biasa! Dengan kecepatan ini, kamu akan mencapai Level 2 lebih cepat dari perkiraanku." Suara pohon terdengar senang.

"Ngomong-ngomong soal itu, berapa progress-ku sekarang?"

"Kamu sudah menanam 65 jenis tanaman berbeda. Masih butuh 35 jenis lagi. Dan kamu sudah panen total 850 kilogram hasil. Masih butuh 150 kilogram lagi."

Suyin menghitung. "Berarti tinggal sedikit lagi!"

"Ya. Mungkin dua minggu lagi kalau kamu tetap produktif seperti ini. Dan ada yang mau kuberitahu—saat mencapai Level 2, ada hadiah spesial untukmu."

"Hadiah apa?"

"Kejutan. Tapi aku yakin kamu akan suka." Pohon Kehidupan terdengar seperti sedang tersenyum—kalau pohon bisa tersenyum.

Suyin menghabiskan beberapa jam—waktu dimensi—untuk panen, menyortir hasil, menyimpan di gudang, lalu menanam benih baru. Kali ini dia tanam varietas yang belum pernah dia coba: terong ungu, paprika merah, buncis, kacang panjang, dan beberapa jenis herbal seperti kemangi dan daun bawang.

Saat selesai, dia duduk di dekat mata air—ritual favoritnya.

Minum air ajaib selalu membuat tubuh dan pikiran segar. Apalagi setelah latihan kultivasi yang melelahkan tadi pagi.

"Pohon Kehidupan," panggil Suyin sambil menatap pantulannya di air. "Boleh aku tanya sesuatu?"

"Tentu. Apapun."

"Nenek meninggalkan surat yang bilang akan ada seseorang yang ditakdirkan membantuku—seseorang dengan jiwa yang beresonansi denganku." Suyin berhenti sejenak. "Apa maksudnya Xiao Zhen?"

Pohon terdiam sebentar sebelum menjawab. "Ya. Xiao Zhen adalah pasangan resonansimu."

Jantung Suyin berdebar. "Pasangan resonansi... seperti jodoh?"

"Lebih kompleks dari itu. Di dunia kultivator, pasangan resonansi adalah dua jiwa yang energi spiritualnya cocok sempurna. Kalau mereka berkultivasi bersama, kekuatan mereka akan meningkat jauh lebih cepat dari berkultivasi sendiri. Mereka saling melengkapi—kekuatan satu menjadi kekuatan yang lain."

"Jadi... kami ditakdirkan bersama?"

"Secara spiritual, ya. Tapi apakah itu akan berkembang menjadi cinta atau hanya kemitraan... itu tergantung pilihan kalian berdua."

Suyin merenungkan kata-kata itu. Jadi tidak otomatis jadi pasangan romantis—tapi potensinya ada.

Dan mengingat bagaimana jantungnya selalu berdebar saat dekat Xiao Zhen, rasanya... potensi itu sudah mulai berkembang.

"Terima kasih sudah kasih tahu," ucap Suyin pelan.

"Sama-sama. Dan Suyin... jaga hatimu baik-baik. Xiao Zhen adalah pria baik. Tapi dia juga pria yang telah menutup hatinya untuk waktu yang lama. Bersabarlah dengannya."

"Menutup hatinya? Kenapa?"

"Itu bukan ceritaku untuk diceritakan. Suatu hari nanti, dia akan cerita sendiri kalau sudah siap."

Suyin mengangguk mengerti. Setiap orang punya masa lalu yang belum siap dibagikan.

Setelah puas di ruang dimensi, Suyin keluar dengan membawa beberapa keranjang hasil panen untuk stok pesanan minggu depan.

Malam hari, setelah makan malam, Xiao Zhen kembali melatih Suyin—kali ini fokus pada mempertahankan barrier spiritual lebih lama.

Mereka berlatih di ruang bawah tanah villa yang ternyata dirancang khusus untuk latihan kultivasi—dinding diperkuat dengan formasi spiritual agar tidak rusak kalau ada ledakan energi.

"Serang aku," perintah Xiao Zhen tiba-tiba.

"Apa?!" Suyin terkejut.

"Kamu harus belajar mempertahankan barrier saat dalam tekanan. Serang aku dengan pukulan yang sudah kau pelajari tadi pagi. Aku akan serang balik—dan kamu harus pertahankan barrier-mu."

"Tapi aku takut menyakitimu—"

Xiao Zhen tersenyum. "Jangan khawatir. Kamu tidak akan bisa sakiti aku. Ayo, serang!"

Dengan ragu-ragu, Suyin mengalirkan Qi ke tangannya dan memukul ke arah Xiao Zhen.

Xiao Zhen menghindari dengan mudah—gerakannya seperti air yang mengalir.

"Lebih cepat!" teriaknya.

Suyin mencoba lagi, kali ini lebih cepat. Xiao Zhen masih menghindar dengan santai.

"Gunakan langkah kilatmu! Jangan biarkan aku prediksi gerakanmu!"

Suyin mengalirkan Qi ke kaki, meluncur cepat dengan langkah kilat—muncul di samping Xiao Zhen dan memukul!

Kali ini pukulannya hampir kena—tapi Xiao Zhen menangkap pergelangan tangannya dengan cepat.

"Bagus! Sekarang aku serang balik. Pertahankan barrier-mu!"

Xiao Zhen mendorong Suyin mundur dengan kekuatan terkontrol. Suyin langsung mengaktifkan barrier spiritual—cahaya hijau keemasan muncul mengelilingi tubuhnya.

Dorongan Xiao Zhen mengenai barrier—dan terpental!

"Sempurna! Pertahankan!" Xiao Zhen menyerang lagi, kali ini dengan beberapa pukulan ringan dari berbagai arah.

Suyin berkonsentrasi penuh mempertahankan barrier-nya. Keringat mulai mengucur—mempertahankan barrier sambil diserang ternyata jauh lebih sulit dari latihan diam tadi pagi.

Tapi dia tidak menyerah. Barrier tetap bertahan—walau mulai berkedip-kedip menandakan konsentrasinya goyah.

"Bertahan sepuluh detik lagi!" teriak Xiao Zhen sambil terus menyerang.

Suyin menggigit bibir, memaksakan konsentrasi. Sembilan... delapan... tujuh...

Barrier mulai melemah. Cahayanya meredup.

Enam... lima... empat...

"BERTAHAN!" Suyin berteriak pada dirinya sendiri.

Tiga... dua... satu...

"CUKUP!"

Xiao Zhen berhenti menyerang. Suyin langsung membiarkan barrier runtuh dan ambruk ke lantai dengan napas terengah-engah.

"Kamu... sadis..." keluhnya sambil berbaring di lantai.

Xiao Zhen tertawa—tawa tulus yang jarang Suyin dengar. Dia duduk di samping Suyin yang masih tergeletak.

"Kamu luar biasa. Bertahan tiga puluh detik di bawah serangan terus-menerus—itu pencapaian yang bahkan kultivator dengan latihan enam bulan belum tentu bisa lakukan."

"Benaran?" Suyin melirik Xiao Zhen.

"Benaran. Kamu memang spesial, Suyin."

Cara Xiao Zhen mengucapkan kata "spesial" membuat jantung Suyin berdebar lagi.

Mereka terdiam, hanya terdengar napas Suyin yang masih terengah.

"Xiao Zhen..." panggil Suyin pelan.

"Ya?"

"Tadi pagi kamu bilang punya perasaan yang seharusnya tidak kamu miliki. Apa maksudnya?"

Xiao Zhen terdiam. Ekspresinya berubah—dari santai menjadi serius.

"Suyin... ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan ini."

"Kapan waktu yang tepat? Seminggu lagi aku akan dikejar kultivator jahat. Siapa tahu aku tidak selamat—"

"JANGAN BICARA SEPERTI ITU!" Xiao Zhen tiba-tiba berteriak, membuat Suyin terlonjak. "Kamu akan selamat. Aku akan pastikan itu. Apapun yang terjadi."

Intensitas di mata Xiao Zhen membuat Suyin tidak bisa bicara.

Xiao Zhen menarik napas dalam, menenangkan diri. "Maaf. Aku tidak bermaksud berteriak."

"Tidak apa-apa. Aku yang salah bicara sembarangan."

Hening lagi.

Lalu Xiao Zhen bicara dengan suara yang sangat pelan. "Perasaan yang kumaksud... adalah perasaan yang tidak seharusnya dimiliki seorang pelindung terhadap yang dilindungi. Perasaan yang bisa mengaburkan penilaianku. Perasaan yang... berbahaya."

"Berbahaya bagaimana?"

Xiao Zhen akhirnya menatap Suyin—tatapan yang begitu intens sampai Suyin merasa seperti tersedot masuk ke dalamnya.

"Karena kalau aku membiarkan perasaan ini tumbuh, aku akan melakukan apapun untuk melindungimu—bahkan hal-hal bodoh yang bisa membahayakan diriku sendiri atau orang lain. Dan itu... bukan yang seharusnya dilakukan seorang kultivator."

Suyin duduk perlahan, menghadap Xiao Zhen.

"Bagaimana kalau... aku juga punya perasaan yang sama?" bisiknya berani.

Mata Xiao Zhen melebar.

"Suyin..."

"Aku serius. Aku tidak tahu kapan tepatnya, tapi aku... aku mulai merasakan sesuatu setiap kali dekat denganmu. Sesuatu yang lebih dari sekadar terima kasih atau rasa aman. Sesuatu yang membuat jantungku berdebar, yang membuat aku ingin selalu dekat denganmu."

Xiao Zhen menutup mata, seperti sedang berjuang dengan dirinya sendiri.

"Kamu tidak tahu apa yang kamu katakan."

"Aku tahu persis apa yang aku katakan."

"Suyin, ini bukan waktu yang tepat. Kamu dalam situasi berbahaya, emosi kamu tidak stabil—"

"Emosiku sangat stabil!" Suyin memotong. "Dan justru karena situasi berbahaya ini, aku ingin jujur. Siapa tahu ini kesempatan terakhirku—"

Sebelum dia selesai bicara, Xiao Zhen tiba-tiba meraih wajah Suyin dengan kedua tangan dan menciumnya.

Suyin membeku—tidak siap dengan aksi tiba-tiba ini.

Tapi perlahan, dia memejamkan mata dan membalas ciuman itu.

Ciuman pertama mereka lembut, hati-hati, penuh dengan emosi yang sudah ditahan terlalu lama.

Saat akhirnya berpisah, mereka berdua terengah-engah—bukan karena lelah fisik, tapi karena emosi yang meluap.

"Maaf," bisik Xiao Zhen dengan kening menempel di kening Suyin. "Aku tidak seharusnya—"

"Jangan minta maaf," potong Suyin. "Aku senang kamu melakukannya."

Xiao Zhen tersenyum tipis—senyum tulus yang membuat wajahnya terlihat lebih muda dan lebih lembut.

"Kamu benar-benar spesial, Suyin."

"Kamu juga spesial bagiku, Xiao Zhen."

Mereka duduk berdekatan, tangan saling menggenggam, dalam keheningan yang kini terasa berbeda—lebih hangat, lebih intim.

Apapun yang akan terjadi minggu depan, setidaknya sekarang mereka tahu—mereka tidak sendirian.

Mereka punya satu sama lain.

Dan entah bagaimana, itu membuat segalanya terasa sedikit kurang menakutkan.

1
Andira Rahmawati
nemu cerita bagus nihhh paling suka baca novel yg fantasi apalagi yg ada ruang ajaibnya👍👍👍
Diah Susanti
diatas dibilang 'putri adik nenek' yang menurutku maknanya 'bibinya suyin'. tapi disini dia menyebutkan dirinya 'cucunya juga'🤔🤔🤔🤔
Wahyu🐊: Anda Terlalu Teliti😅🙏 Nanti Aku Revisi Kalau Udah Tamat Masih Panjang Perjalanan nya
total 1 replies
Wahyu🐊
Nanti aku Revisi Oke
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!