tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: RESONANSI YANG TERFRAGMENTASI
Sosok di pintu itu tidak bergerak. Ia berdiri diam seperti patung yang dipahat dari bayangan dan debu, sementara melodi "About You" terus meraung dari speaker tua di langit-langit Velvet Basement. Cahaya dari jalanan di atas kepala sosok itu menciptakan lingkaran cahaya (halo) yang kabur, membuat wajahnya tetap tersembunyi dalam kegelapan yang pekat. Elara merasa oksigen di paru-parunya menipis. Setiap detak jantungnya terasa seperti pukulan palu di atas landasan besi.
"Arlo?" suara Elara nyaris tidak terdengar, kalah telak oleh distorsi gitar yang memenuhi ruangan.
Sosok itu melangkah maju. Satu langkah. Suara sepatunya di atas lantai semen yang retak terdengar begitu nyata, begitu solid. Itu bukan suara hantu. Elara bisa mencium aroma itu lagi—aroma hujan, tembakau, dan melati yang memuakkan sekaligus dirindukannya. Namun, saat sosok itu masuk ke dalam jangkauan cahaya senter ponsel Elara yang tergeletak di lantai, napas Elara tersangkut di tenggorokan.
Pria itu bukan Arlo.
Dia lebih muda, mungkin baru awal dua puluhan, dengan struktur wajah yang memiliki kemiripan yang menghantui dengan Arlo, namun matanya—mata itu tidak memiliki api kegilaan yang sama. Ada kesedihan yang lebih dingin di sana.
"Kau bukan dia," bisik Elara, setengah lega namun setengah hancur. Harapan yang sempat membumbung tinggi jatuh berdebum ke lantai basement yang kotor.
"Aku Jamie," suara pria muda itu berat dan sedikit bergetar. "Adik Arlo. Kita pernah bertemu sekali, Elara. Tapi saat itu aku masih sangat kecil, dan kau... kau terlalu sibuk menatap kakakku untuk menyadari keberadaanku."
Elara terpaku. Jamie. Ia samar-samar mengingat seorang anak laki-laki pendiam yang selalu bersembunyi di balik pintu kamar Arlo saat mereka sedang latihan band. "Jamie... apa yang terjadi? Di mana Arlo? Dan kenapa lagu ini... kenapa ada suaraku di dalam lagu ini?"
Jamie tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju meja mixing tua yang tertutup plastik di sisi panggung, menekan sebuah tombol, dan seketika musik berhenti. Keheningan yang menyusul terasa lebih memekakkan telinga daripada kebisingan tadi.
"Arlo tidak pernah berhenti merekammu, Elara," kata Jamie sambil menatap pemutar piringan hitam yang masih berputar tanpa suara. "Bahkan setelah kau pergi ke London. Dia punya ribuan jam rekaman suaramu. Saat kau tertawa, saat kau mendengkur pelan, saat kau protes karena dia terlalu banyak merokok, bahkan saat kau menangis di telepon sebelum kau memutus sambungan untuk selamanya."
Jamie mengambil kaset yang baru saja dilepaskan dari amplifier. "Dia mengambil fragmen-fragmen suaramu, membedahnya frekuensi demi frekuensi, dan menyusunnya kembali menjadi melodi. Dia bilang, itu satu-satunya cara agar dia bisa tetap berbicara denganmu tanpa perlu mendengarmu mengatakan 'selamat tinggal'."
Elara merasa mual. Gagasan bahwa suaranya telah dicuri, dibedah, dan dijadikan instrumen musik selama sepuluh tahun terasa seperti pelanggaran privasi yang paling intim, sekaligus bukti cinta yang paling mengerikan. "Itu gila, Jamie. Itu benar-benar gila."
"Arlo memang gila sejak kau pergi," Jamie menatap Elara dengan tatapan menuduh. "Dia terobsesi untuk menciptakan 'lagu yang sempurna'. Lagu yang bisa memanggilmu pulang. Dia menghabiskan tujuh tahun di basement ini, mengisolasi diri dari dunia, hanya ditemani oleh rekaman suaramu dan distorsi gitarnya. Dia menyebutnya 'Resonansi Elara'."
Elara mendekati Jamie, mencoba mencari kejujuran di mata pemuda itu. "Lalu di mana dia sekarang? Kenapa dia mengirimkan link itu padaku? Kenapa dia menyuruhku ke sini?"
Jamie tertunduk. Tangannya mencengkeram pinggiran meja mixing hingga gemetar. "Bukan dia yang mengirimnya. Aku yang mengirimnya."
Petir menyambar di luar, suaranya teredam oleh dinding bawah tanah, namun getarannya terasa hingga ke kaki Elara. "Apa maksudmu?"
"Arlo menghilang tiga bulan lalu," suara Jamie nyaris pecah. "Dia tidak meninggalkan pesan, tidak membawa gitarnya, bahkan tidak membawa kaset-kaset rekamanmu yang sangat dia puja. Dia hanya pergi. Tapi sebelum dia pergi, dia menyelesaikan lagu itu. Versi yang kau dengar tadi. Dia meninggalkannya di sini, di meja ini, dengan sebuah instruksi tertulis: 'Jika aku tidak kembali dalam seratus hari, panggil Elara pulang'."
Elara mundur selangkah, menabrak dudukan mikrofon yang jatuh dengan suara dentang yang nyaring. "Seratus hari? Kenapa?"
"Aku tidak tahu!" Jamie berteriak, frustrasinya akhirnya meledak. "Dia terobsesi dengan angka, dengan pola, dengan frekuensi. Dia yakin bahwa jika lagu ini diputar di tempat ini, di frekuensi yang tepat, sesuatu akan terjadi. Dia bilang dia menemukan 'jalan keluar' dari kebisingan dunia ini."
Elara menatap ruangan bawah tanah yang suram itu. Segala sesuatu di sini terasa seperti jebakan waktu. Ia datang mencari penutupan (closure), tapi yang ia temukan justru misteri yang lebih dalam. Arlo tidak hanya meninggalkannya; Arlo seolah-olah telah melenyapkan dirinya sendiri ke dalam karya seninya.
"Jamie, kita harus melapor ke polisi jika dia hilang," kata Elara, mencoba mengembalikan logika akuntannya yang teratur.
Jamie tertawa pahit. "Polisi? Apa yang akan kukatakan pada mereka? Bahwa saudaraku menjadi hantu dalam mesin musiknya sendiri? Mereka tidak akan peduli, Elara. Di kota ini, musisi yang menghilang adalah hal biasa. Tapi kau... kau berbeda. Kau adalah kuncinya."
Jamie menyodorkan kaset portable yang tadi ditemukan Elara dalam kotak logam. "Ada koordinat lain di dalam rekaman kedua ini. Arlo tidak hanya diam di Manchester. Sebelum dia hilang, dia mengikuti jejak suara yang dia klaim sebagai 'gema masa depan'. Dia pergi ke sebuah tempat di pesisir, sebuah mercusuar tua yang sudah tidak beroperasi."
Elara menerima kaset itu. Tangannya masih dingin, tapi sebuah tekad mulai tumbuh di hatinya. Ia tidak bisa kembali ke London sekarang. Ia tidak bisa kembali ke kehidupannya yang steril dan membosankan sementara Arlo—pria yang menghancurkannya namun juga satu-satunya yang benar-benar mengenalnya—mungkin sedang dalam bahaya atau lebih buruk lagi.
"Kenapa kau memberikan ini padaku?" tanya Elara pelan.
"Karena kau satu-satunya orang yang bisa mendengarnya," jawab Jamie. "Maksudku, benar-benar *mendengarnya*. Bagi orang lain, lagu itu hanyalah musik indie yang melankolis. Tapi bagimu, itu adalah peta, bukan?"
Elara menatap foto lama mereka di dalam kotak logam. Di sana, Arlo tersenyum, sebuah senyuman yang kini terasa seperti teka-teki. Elara menyadari bahwa lagu "About You" bukan hanya tentang masa lalu. Lagu itu adalah sebuah dialog yang masih berlangsung, sebuah percakapan yang belum selesai antara dua jiwa yang terpisah oleh ruang dan kewarasan.
"Aku akan mencarinya," kata Elara tegas. Ia tidak tahu apakah ia melakukannya untuk Arlo, atau untuk dirinya sendiri yang tertinggal di Manchester sepuluh tahun lalu.
"Hati-hati, Elara," Jamie memperingatkan saat Elara mulai melangkah menuju tangga. "Arlo selalu bilang bahwa distorsi itu menular. Jika kau terlalu lama mendengarkannya, kau tidak akan tahu lagi mana suara yang asli dan mana yang hanya pantulan."
Elara tidak menoleh. Ia menaiki tangga besi itu, keluar dari kegelapan Velvet Basement menuju malam Manchester yang basah. Di kepalanya, suara vokal dirinya sendiri yang menyatu dengan suara Arlo terus berputar. Sebuah harmoni yang mustahil, namun nyata.
Ia masuk ke mobilnya, meletakkan kaset kedua di kursi penumpang. Ia tahu tujuannya selanjutnya. Bukan ke apartemen mewahnya, bukan ke kantornya yang penuh angka, tapi menuju pesisir utara yang liar, tempat di mana gema Arlo mungkin akan menampakkan wujudnya yang asli.
Malam itu, di bawah langit Manchester yang tak pernah memiliki bintang, Elara Vance akhirnya berhenti melarikan diri. Ia menekan pedal gas, membiarkan distorsi musik Arlo menjadi pemandunya menembus badai.
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐