"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Senyum Sang Patriark
Dunia Alana seolah melambat. Suara tawa anak-anak panti yang tadinya terdengar seperti musik indah, kini berubah menjadi dengungan statis di telinganya. Ia menatap Kakek Arkan—Tuan Besar Arkananta—yang sedang duduk di kursi roda mahoninya, memberikan permen kepada seorang anak kecil dengan senyum yang tampak begitu tulus dan kebapakan.
Kakek? Pembunuh Ibu? Pikiran itu menghantam Alana lebih keras daripada ledakan taksi tempo hari. Ia melirik istri Bayu yang kini menatapnya dengan tatapan iba sekaligus takut.
"Mbak yakin?" bisik Alana, suaranya hampir hilang. "Bayu nggak lagi halu atau mau balas dendam kan?"
Wanita itu menggeleng cepat. "Bayu punya suratnya, Mbak. Surat perintah yang ditandatangani Kakek langsung dua puluh tahun lalu. Bayu menemukannya di brankas lama Tante Sofia. Dia bilang... dia benci Mas Arkan, tapi dia nggak mau Mbak hidup sama orang yang menghancurkan keluarga Mbak sendiri."
Setelah membisikkan itu, wanita itu bergegas pergi, menghilang di antara kerumunan tamu undangan. Alana berdiri mematung. Tangannya gemetar hebat sampai piring plastik berisi kue bolu yang ia pegang miring.
"Lana? Kamu kenapa? Wajahmu pucat banget," Arkan muncul di sampingnya, langsung merangkul pundaknya dengan cemas.
Alana menatap suaminya. Wajah Arkan yang kini tampak lebih cerah dan bahagia... bagaimana reaksi pria ini jika tahu bahwa kakek yang ia hormati sebagai pilar keluarga adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian ibu mertuanya?
"Mas... aku... aku cuma pusing dikit. Mungkin efek lapar," bohong Alana. Sisi julidnya yang biasa sigap kini terasa lumpuh oleh kenyataan pahit ini.
"Ya sudah, makan dulu. Ayo, kita gabung sama Kakek di sana," ajak Arkan.
"Enggak!" Alana menahan tangan Arkan. "Mas, aku mau kita pulang. Sekarang."
Arkan mengerutkan kening. "Pulang? Acaranya baru saja mulai, Lana. Kakek juga baru saja mau mengumumkan dana abadi untuk panti ini."
"Aku nggak peduli soal dananya, Mas! Kita pulang!" suara Alana naik satu oktav, menarik perhatian beberapa tamu.
Dari kejauhan, Kakek Arkan menoleh. Mata tuanya yang tajam menatap Alana. Senyumnya tidak luntur, namun ada kilatan di sana yang tiba-tiba membuat bulu kuduk Alana berdiri. Kakek itu mengangkat gelas minumannya ke arah Alana, seolah sedang melakukan toast kemenangan.
Malam itu di apartemen, suasana sangat tegang. Alana tidak bisa duduk diam. Ia mondar-mandir di ruang tengah sambil menggendong Mochi yang kebingungan. Arkan hanya memperhatikan dari sofa, merasa ada sesuatu yang sangat salah.
"Lana, berhenti. Kamu bikin aku pusing," ucap Arkan akhirnya. "Ada apa sebenarnya? Tadi di panti, istri Bayu bilang apa sama kamu?"
Alana berhenti melangkah. Ia menatap Arkan dengan mata berkaca-kaca. "Mas... kalau aku bilang Kakek Mas itu bukan orang baik, Mas bakal percaya nggak?"
Arkan menghela napas, ia berdiri dan mendekati Alana. "Lana, aku tahu Kakek itu keras. Dia ambisius. Dia mungkin melakukan banyak hal kotor di masa lalu buat bangun Arkananta. Tapi dia keluargaku yang tersisa. Dia yang jaga aku setelah Ayah dan Ibu... tiada."
"Tapi dia yang bunuh Ibu aku, Mas!" teriak Alana akhirnya.
Keheningan yang mematikan jatuh di ruangan itu. Arkan membeku. "Apa kamu bilang?"
Alana menceritakan semuanya. Tentang surat perintah itu, tentang alasan ibunya dibungkam, dan tentang bagaimana Kakek memanipulasi segalanya seolah-olah Sofia-lah satu-satunya penjahat.
"Itu nggak mungkin," suara Arkan bergetar. "Kakek menyayangimu, Lana. Dia yang mendukung pernikahan kita!"
"Dia mendukung pernikahan kita supaya dia bisa mengawasi aku, Mas! Dia tahu aku pemegang kunci dokumen itu. Dia mau aku ada di bawah ketiaknya supaya rahasianya tetap aman!" Alana merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop yang tadi sempat diselipkan istri Bayu ke tangannya tanpa ia sadari.
Di dalamnya ada salinan surat yang sudah menguning. Sebuah perintah untuk "membersihkan hambatan" di jalur logistik utara, lengkap dengan koordinat kecelakaan ibunya dan tanda tangan yang sangat familiar: W. Arkananta.
Arkan mengambil surat itu. Tangannya gemetar. Setiap huruf yang ia baca seolah menjadi pisau yang menyayat harga dirinya.
"Mas..." Alana menyentuh lengan Arkan.
Tiba-tiba, bel pintu apartemen berbunyi. Melalui kamera interkom, mereka melihat Kakek Arkan berdiri di sana bersama dua pengawalnya. Pria tua itu tidak lagi memakai kursi roda; ia berdiri tegak dengan bantuan tongkatnya.
"Buka pintunya, Arkan. Kakek tahu kalian sedang membicarakan Kakek," suara pria tua itu terdengar melalui speaker interkom, dingin dan tanpa emosi.
Arkan menatap Alana, lalu menatap pintu. Ia berjalan perlahan dan membukanya.
Kakek masuk dengan gaya seorang raja yang memasuki wilayah jajahannya. Ia duduk di kursi favorit Arkan dan menatap cucunya serta Alana secara bergantian.
"Jadi, si pecundang Bayu itu akhirnya bicara, ya?" Kakek memulai, suaranya tenang seolah sedang membicarakan cuaca. "Lana, kamu harus mengerti. Ibumu itu terlalu idealis. Dia ingin melaporkan Kakek ke pihak berwenang soal penggelapan dana yayasan. Kalau Kakek tidak bertindak, Arkananta Group tidak akan ada hari ini. Arkan tidak akan punya jas mahal ini, dan kamu... kamu tidak akan pernah bertemu suamimu."
"Jadi itu alasan Kakek?!" suara Arkan menggelegar. "Kakek membunuh orang tua Lana demi uang?!"
"Demi warisan kita, Arkan! Demi masa depanmu!" Kakek memukul lantai dengan tongkatnya. "Sekarang, berikan dokumen asli yang kamu temukan di lonceng kucing itu. Serahkan pada Kakek, dan kita lupakan masalah ini. Kita tetap bisa jadi keluarga yang bahagia."
Alana tertawa sinis, air matanya jatuh namun wajahnya menunjukkan keberanian yang luar biasa. "Keluarga bahagia? Di atas tumpukan mayat? Kakek beneran gila ya. Mas Arkan mungkin sayang sama Kakek, tapi aku... aku nggak punya alasan buat nggak hancurin Kakek malam ini juga."
Alana mengangkat ponselnya. "Masih ingat kebiasaan aku, Kek? Live streaming?"
Kakek Arkan tersenyum licik. "Coba saja, Lana. Kali ini, sinyal di seluruh lantai ini sudah aku blokir. Tidak ada internet. Tidak ada bantuan. Hanya kita... dan pengawalku di luar."
Alana memeriksa ponselnya. No Signal.
"Nah, sekarang," Kakek berdiri perlahan. "Serahkan lonceng itu, atau Arkan akan melihat istrinya menghilang sama seperti ibunya dulu. Pilihan ada di tanganmu, Arkan. Pilih istrimu... atau kakekmu?"
Arkan melangkah maju, berdiri di antara Alana dan kakeknya. Ia meraih sesuatu dari balik pinggangnya—bukan pistol, melainkan sebuah rekaman suara yang sejak tadi menyala di kantong kemejanya. "Kakek lupa satu hal," bisik Arkan dingin. "Apartemen ini terhubung langsung ke pusat server kepolisian sebagai jaminan keamananku. Kakek baru saja memberikan pengakuan paling jujur sepanjang sejarah keluarga kita."
Suara sirine mendadak membahana dari arah bawah gedung. Kakek Arkan tertegun, wajahnya yang tadi angkuh mendadak layu. Namun, pengawal Kakek di luar mulai mendobrak pintu.