NovelToon NovelToon
DONOR DARI MASA LALU

DONOR DARI MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Hamil di luar nikah / Cintapertama
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDML 5: JANJI DAN DUSTA

Layar ponsel Rafa terus menyala dalam gelap.

Notifikasi dari istrinya, Laras, sudah menumpuk menjadi 17 pesan dan 5 panggilan tak terjawab. Setiap getarannya seperti alarm dosa di saku celana chino-nya, tapi Rafa tidak bergerak. Matanya tertambak pada Arka yang gelisah tidur, pada monitor yang memantau detak jantung tidak stabil anak itu. Pada kenyataan yang datang terlalu tiba-tiba dan terlalu berat.

Aisha, di seberang tempat tidur, akhirnya tertidur lelah di kursi plastik. Kepalanya menempel ke dinding, wajahnya masih basah oleh bekas air mata. Delapan tahun. Delapan tahun ia membawa beban ini sendirian. Dan sekarang, beban itu atau lebih tepatnya, anak itu terbaring di antara mereka.

Ponsel Rafa bergetar lagi. Kali ini bukan notifikasi. Telepon. Nama "Laras" berkedip hijau. Rafa melihatnya, jantungnya sesak. Ia mengambil ponsel, berjalan pelan keluar ruangan ke koridor yang sepi.

Ia menerima panggilan tepat sebelum masuk voicemail.

"Rafa! Kamu di mana?! Sudah hampir tengah malam! Nadia nangis terus, cari Ayah. Aku khawatir, kamu tidak bales pesan sama sekali!" Suara Laras tegang, hampir panik.

Rafa menarik napas dalam. Suara istrinya yang biasanya menenangkan, kini terasa seperti jarum-jarum kecil di telinganya. Bagaimana menjelaskan ini? Bagaimana mengatakan "Maaf sayang, aku di rumah sakit menemui anak laki-lakiku yang berusia delapan tahun yang tidak pernah kuketahui, dan dia sekarat butuh ginjalku"?

"Laras, aku... ada di rumah sakit," kata Rafa akhirnya, suara serak.

"Rumah sakit? Kenapa? Kamu kenapa? Kecelakaan?" kekhawatiran di suara Laras bertambah.

"Bukan aku. Aku baik-baik saja. Ini... tentang seseorang. Seseorang yang... butuh bantuanku."

"Hati-hati, Raf. Bukan masalah keluarga lagi kan? Papa kamu sudah stabil, kan?" Laras mengira ini tentang ayah Rafa yang memang baru-baru ini dirawat.

"Bukan Papa. Ini... lebih rumit." Rafa menutup mata, kepalanya pusing. Dusta. Ia harus memulai dengan dusta. Karena kebenaran terlalu besar untuk diucapkan lewat telepon. "Ini teman lama, Laras. Anaknya sakit kritis. Aku kebetulan bisa membantu."

"Dengan apa? Kamu dokter? Apa kamu mau donor darah lagi?" Laras terdengar sedikit lega, tapi masih bingung.

"Semacam itu. Tapi... lebih dari itu." Rafa menelan ludah. "Aku mungkin harus sering ke rumah sakit beberapa hari ke depan. Untuk tes-tes."

"Tes? Tes apa? Kamu sakit apa?"

"Bukan aku yang dites, sayang. Aku... calon donor. Untuk transplantasi."

Hening di seberang sana. Laras sedang mencerna.

"Transplantasi apa? Hati? Sumsum?"

"Ginjal." Kata itu keluar dengan berat.

"GINJAL?!" Laras nyaris berteriak. "Rafa, kamu serius? Kamu mau mendonorkan GINJALMU untuk TEMAN LAMA? Kamu kenapa sih? Itu organ vital! Kamu punya keluarga! Punya Nadia! Kalau terjadi sesuatu padamu, kami bagaimana?!"

"Laras, tolong..." Rafa memegangi dahinya yang mulai berdenyut. "Ini bukan teman biasa. Ini... orang yang sangat berarti di masa laluku. Dan anaknya... anak itu sangat butuh."

"Lebih butuh daripada anakmu sendiri? Lebih butuh daripada istrimu?" Suara Laras mulai bergetar, marah yang terluka. "Rafa, pulang sekarang. Kita bicara baik-baik."

"Aku tidak bisa. Aku harus menunggu di sini."

"UNTUK APA? Untuk anak orang?!"

Untuk anakku. Kalimat itu hampir terucap. Tapi Rafa menggigit bibirnya sendiri hingga berasa logam darah. "Untuk kemanusiaan, Laras. Untuk menyelamatkan nyawa."

"Kemanusiaan? Kamu mau jadi pahlawan dengan mengorbankan keluarga sendiri? Gila kamu!" Laras menangis sekarang. "Pulang, Rafa. Atau aku yang datang ke sana. Rumah sakit mana?"

"Jangan!" Rafa buru-buru menjawab, terlalu cepat, terlalu tegas. "Aku... aku janji besok pagi pulang. Aku akan jelaskan semuanya. Tapi malam ini, aku harus di sini."

"Kenapa? Kenapa malam ini harus di sana?" kecurigaan di suara Laras mulai tumbuh.

"Karena... karena anaknya lagi kritis. Dan aku janji padanya." Janji pada Arka. Janji yang baru beberapa jam lalu ia ucapkan. Janji yang lebih kuat dari segalanya saat ini.

Laras terdiam lama. Kemudian, dengan suara datar, dingin, penuh kekecewaan: "Baik. Tapi ingat, Rafa. Kamu punya keluarga di rumah yang juga butuh kamu. Kamu punya anak perempuan yang nangis-nangis cari ayahnya. Pikirkan itu."

Telepon diputus.

Rafa berdiri membeku di koridor yang dingin. Dusta pertamanya pada Laras. Dusta yang akan diikuti oleh dusta-dusta lain. Dan rasa bersalah yang baru mulai menggerogoti hatinya, bergabung dengan rasa bersalah lama pada Aisha dan Arka.

---

Ketika ia kembali ke ruangan, Aisha sudah terbangun. Matanya merah, memperhatikan Rafa dengan tatapan yang penuh pertanyaan.

"Istrimu?" tanya Aisha pelan.

Rafa mengangguk, tidak bisa berkata-kata. Ia duduk kembali di kursinya, menatap lantai.

"Aku minta maaf," bisik Aisha. "Aku membuat hidupmu berantakan."

"Ya," jawab Rafa pendek. "Tapi bukan cuma hidupku yang berantakan. Hidupmu juga. Hidup Arka terutama."

"Kamu harus pulang. Ke keluargamu. Arka sudah stabil. Aku bisa jaga."

"Tidak." Rafa menggeleng. "Aku janji padanya aku tidak pergi. Dan... besok pagi kita harus mulai proses tes. Dokter bilang waktu sangat terbatas."

"Tapi istrimu..."

"Aku akan atasi itu." Rafa menatap Aisha, matanya lelah tapi penuh tekad. "Tapi kamu harus bersiap, Aisha. Ini tidak akan mudah. Laras... dia bukan orang yang mudah menerima kejutan seperti ini."

Aisha mengerti. Ia adalah kejutan itu. Arka adalah kejutan yang lebih besar. Dan permintaan donor ginjal adalah puncak gunung es kejutan.

"Kalau... kalau dia tidak mengizinkan?" tanya Aisha, takut dengan jawabannya sendiri.

Rafa menatap Arka yang tertidur. "Maka aku harus memilih. Dan pilihanku sudah jelas."

Kata-kata itu seharusnya menghibur. Tapi Aisha justru merasa lebih bersalah. Ia tidak hanya mengambil delapan tahun pertama Arka dari Rafa. Kini, ia mungkin juga mengambil kebahagiaan keluarga Rafa yang sekarang.

---

Pukul 04.30.

Fajar belum muncul, tapi langit sudah mulai terang di ufuk timur. Arka terbangun lagi, kali ini karena haus.

"Bunda... air."

Aisha buru-buru mengambilkan air dari teko. Rafa membantu mendudukkan Arka dengan pelan.

Arka minum, matanya masih berkaca-kaca. Tapi kali ini, pandangannya lebih jernih. Dia melihat Rafa yang masih duduk di sampingnya. "Ayah masih di sini."

"Masih," kata Rafa, mencoba tersenyum. "Ayah janji kan?"

Arka mengangguk kecil. "Ayah... kerja apa?"

Pertanyaan sederhana. Tapi Rafa tersentak. Anaknya tidak tahu apa pekerjaan ayahnya. Tidak tahu apa warna kesukaannya. Tidak tahu cerita sebelum tidur favoritnya. Delapan tahun kekosongan.

"Ayah kerja di perusahaan konstruksi. Bikin gedung-gedung tinggi."

"Keren," bisik Arka, ada sedikit cahaya di matanya. "Arka juga suka lihat gedung tinggi. Tapi dari jendela rusunawa aja. Tidak pernah dekat-dekat."

Rafa merasa dadanya seperti dihantam. Rusunawa. Aisha dan Arka tinggal di rusunawa. Ia yang selama ini hidup nyaman di perumahan menengah, punya mobil, bisa liburan keluarga kecil... sementara anak kandungnya hanya bisa melihat gedung tinggi dari jauh.

"Kalau Arka sembuh, Ayah ajak keliling lihat gedung-gedung tinggi. Naik ke lantai paling atas. Mau?" tawar Rafa, suara serak.

Arka mengangguk, senyum kecil muncul lagi. "Mau. Tapi... Arka bisa sembuh, ya? Kata Bunda butuh ginjal baru. Ginjal Ayah bisa dipakai?"

Pertanyaan polos itu langsung mengubah suasana. Aisha menatap Rafa, menunggu.

"Ayah belum tahu, sayang. Tapi Ayah akan tes. Kalau cocok, Ayah mau kasih."

"Tapi... sakit ga, Ayah? Kalau ambil satu ginjal?"

"Tidak sakit. Dokter yang baik yang akan ambil. Dan Ayah masih punya satu ginjal lagi yang sehat. Jadi Ayah baik-baik saja."

Arka memperhatikan wajah Rafa, seperti mencari kebohongan. "Beneran? Ayah tidak bohong?"

"Beneran." Rafa mengulurkan kelingkingnya. "Ayah janji."

Arka mengaitkan kelingkingnya yang kecil dan pucat dengan kelingking Rafa yang besar dan kuat. Janji. Janji antara ayah dan anak yang baru saja bertemu.

"Arka sayang Ayah," ucap Arka tiba-tiba, spontan, polos.

Dan kalimat itu kalimat pertama yang Rafa dengar dari anaknya membuat semua pertahanannya runtuh. Air mata yang ia tahan sepanjang malam akhirnya meledak. Ia menarik Arka dalam pelukan yang sangat hati-hati takut menyakiti, takut mematahkan tapi penuh dengan semua rasa sayang yang tertahan delapan tahun.

"Sayang juga," bisik Rafa, suara hancur. "Ayah sayang Arka. Sangat."

Aisha menyaksikan dari kejauhan, tangisnya sendiri tak terbendung. Ini yang seharusnya terjadi delapan tahun lalu. Pelukan pertama antara ayah dan anak. Bukan di ruang rumah sakit yang berbau antiseptik, dengan selang infus dan monitor. Tapi terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali.

---

Pukul 06.00.

Perawat pagi masuk untuk ganti shift. "Oh, masih ada ayahnya ya? Bagus, bisa nemenin."

Kata "ayahnya" itu membuat Rafa dan Aisha saling pandang. Di mata dunia, mereka sekarang adalah orang tua dari anak yang sakit. Kenyataan yang harus mereka jalani, meski di baliknya ada laut masalah yang lebih dalam.

"Bu Aisha, nanti jam 9 ada jadwal konsultasi dengan dokter spesialis ginjal. Bapak juga ikut ya? Untuk bahas rencana tes donor."

Rafa mengangguk. "Saya ikut."

Setelah perawat pergi, Aisha mendekati Rafa. "Kamu harus pulang dulu. Ganti baju, urus keluargamu. Jam 9 kembali ke sini."

Rafa melihat jam. Laras dan Nadia pasti sudah bangun. Konfrontasi yang tidak bisa dihindari menunggunya di rumah.

"Baik," katanya. "Tapi kamu... janji telepon aku kalau ada perubahan."

Aisha mengangguk. "Janji."

Rafa berdiri, mendekati Arka sekali lagi. Anak itu tertidur lagi, tapi kali ini wajahnya lebih tenang. Rafa membelai rambutnya yang tipis. "Ayah pulang sebentar, ya? Nanti siang kembali."

Arka tidak bangun, tapi tangannya bergerak, memegangi tangan Rafa. "Jangan lama-lama, Ayah."

"Tidak lama. Janji."

---

Perjalanan pulang terasa seperti perjalanan ke pengadilan. Setiap lampu merah, setiap kemacetan, memberi Rafa waktu untuk memikirkan kata-kata. Apa yang akan ia katakan pada Laras? Seberapa banyak kebenaran yang harus ia ungkap? Dan bagaimana dengan Nadia? Anak perempuannya yang berusia lima tahun, yang selama ini adalah cahaya hidupnya... bagaimana menjelaskan bahwa ia punya kakak laki-laki?

Rumahnya, rumah yang ia bangun dengan susah payah bersama Laras terasa seperti rumah orang lain saat ia memarkir mobil. Lampu teras masih menyala. Laras pasti menunggu.

Dia masuk. Laras sedang duduk di meja makan, tangan melingkari secangkir teh yang sudah dingin. Matanya bengkak, merah. Dia menangis sepanjang malam.

"Laras..."

"Jangan 'Laras' aku," potong istrinya, suara datar tapi bergetar. "Jelaskan. Dari awal."

Rafa duduk di depannya, menatap tangannya sendiri. Dari mana mulai?

"Delapan tahun lalu," mulainya, pelan, "sebelum aku kenal kamu... aku punya pacar. Namanya Aisha."

Laras tidak bereaksi, tapi tangannya mengepal di atas meja.

"Kami putus... atau lebih tepatnya, dia menghilang. Tiba-tiba. Aku tidak tahu kenapa. Sampai kemarin."

Laras mengangkat wajah. Matanya seperti pisau. "Dan?"

"Dan kemarin... dia menghubungiku. Bilang... bilang kita punya anak. Anak laki-laki. Umur delapan tahun."

Denting cangkir jatuh ke lantai, pecah. Laras berdiri, tubuhnya gemetar hebat. "APA?!"

"Namanya Arka. Dan dia... dia sakit ginjal parah. Butuh transplantasi. Aku... calon donor terbaik."

Laras tertawa. Tertawa pahit, hysteris. "Jadi... jadi selama ini kamu punya anak lain? Selama delapan tahun? Dan kamu tidak tahu? ATAU KAMU BOHONG PADAKU?!"

"Aku tidak tahu! Aku bersumpah, Laras! Aku baru tahu kemarin!"

"LALU KENAPA DIA BARU SEKARANG BILANG?!"

"Karena... karena anaknya sakit! Karena butuh ginjalku!" Rafa berdiri juga, merasa terpojok. "Dia takut, Laras! Dia sendiri waktu itu! Dia pikir aku tidak mau bertanggung jawab!"

"JADI SEKARANG KAMU MAU BERTANGGUNG JAWAB? DENGAN CARA MENGHANCURKAN KELUARGA KITA? DENGAN CARA MENGAMBIL GINJALMU UNTUK ANAK YANG TIDAK PERNAH KAMU KENAL?!"

"BUKAN TIDAK KENAL! ITU ANAKKU, LARAS! DARAH DAGINGKU!"

"NADIA JUGA ANAKMU! DAN DIA BUTUH AYAH YANG UTUH, BUKAN AYAH YANG HIDUP DENGAN SATU GINJAL UNTUK MENEBUS DOSA MASA LALU!"

Teriakan mereka membangunkan Nadia. Gadis kecil itu muncul di tangga, mengucek mata, menangis. "Ayah... Mama... kenapa bertengkar?"

Laras cepat mendekat, menggendong Nadia. "Tidak ada, sayang. Mama dan Ayah cuma... bicara."

Tapi Nadia sudah melihat air mata di wajah ibunya. "Mama nangis. Ayah bikin Mama sedih?"

Pertanyaan polos itu membuat Rafa hancur. Dia membuat istrinya sedih. Dia membuat anak perempuannya menangis. Semua karena masa lalu yang kembali mengetuk pintu.

"Sayang," Rafa mendekati Nadia, tapi gadis kecil itu memeluk ibunya lebih erat, memandangi Rafa dengan ketakutan.

"Ayah... Ayah mau pergi lagi?"

"Tidak, sayang. Ayah tidak pergi."

"Tadi malam Ayah tidak pulang. Nadia tungguin sampai tidur, Ayah tidak datang."

Rafa tidak punya kata-kata. Ia telah melukai keluarganya. Dan ia baru saja mulai.

---

Pukul 08.15.

Rafa kembali ke rumah sakit dengan pakaian yang sama, wajah yang lebih lelah, dan hati yang lebih berat. Laras mengunci diri di kamar. Nadia tidak mau bicara padanya. Rumahnya yang dulu hangat, kini dingin seperti kuburan.

Tapi ketika ia masuk ke ruangan 307, Arka yang sedang sarapan bubur tiba-tiba berseri. "Ayah! Ayah datang!"

Dan di senyum itu, di cahaya di mata anaknya itu, Rafa menemukan alasan untuk terus berjalan. Meski jalannya penuh duri. Meski ia harus melukai orang-orang yang ia cintai.

Aisha memperhatikan Rafa. "Tidak baik?" tebaknya.

"Tidak," jawab Rafa pendek. "Tapi tidak penting sekarang. Yang penting Arka. Yang penting tes kita."

Dokter masuk tepat pukul 09.00. "Keluarga Arka? Mari kita bahas rencana tindakan."

Dan di ruang konsultasi itu, sebuah perjalanan panjang dimulai. Tes darah. Pencitraan. Evaluasi psikologis. Dan yang paling menakutkan: kemungkinan penolakan dari tubuh Arka, atau ketidakcocokan dari tubuh Rafa.

"Kami akan mulai dengan tes HLA hari ini," kata dokter. "Hasilnya 3-5 hari. Tapi saya harus ingatkan... bahkan jika cocok, ada risiko. Untuk pendonor dan penerima."

"Risiko apa?" tanya Aisha tegang.

"Untuk Bapak: risiko operasi, hidup dengan satu ginjal, kemungkinan komplikasi jangka panjang. Untuk Arka: risiko penolakan organ, infeksi, bahkan... kegagalan transplantasi."

Kegagalan transplantasi. Artinya Arka tetap tidak sembuh. Artinya ginjal Rafa terbuang percuma. Artinya semua pengorbanan sia-sia.

Tapi Rafa melihat Aisha. Lalu melihat brosur rumah sakit yang ada gambar anak sehat tersenyum. Arka berhak tersenyum seperti itu. Arka berhak hidup.

"Kami siap," kata Rafa, suaranya kuat. "Lakukan tes."

---

Saat jarum suntik masuk ke lengan Rafa untuk pengambilan sampel darah pertama, pikirannya melayang ke dua tempat: ke rumahnya yang sekarang dingin, dan ke ruang rumah sakit ini di mana anak laki-lakinya terbaring.

Darahnya mengalir ke tabung. Darah yang sama yang mengalir di tubuh Arka. Darah yang menghubungkan mereka, meski dipisahkan oleh waktu dan kesalahan.

Di seberangnya, Aisha memegangi tangan Arka yang juga sedang diambil darahnya. Mata ibu dan anak itu memandangi Rafa. Ada harapan di sana. Ada ketakutan. Dan ada pertanyaan yang belum terucap: "Apakah ini akan berhasil?"

Tabung pertama penuh. Tabung kedua. Proses telah dimulai. Tidak bisa mundur lagi.

Dan di luar, Laras sedang duduk di kamar, memandangi foto pernikahan mereka, bertanya-tanya apakah kehidupan perkawinannya akan selamat dari badai ini.

---

(Sementara darah Rafa dan Arka dibawa ke laboratorium untuk dicocokkan, sebuah pesan masuk ke ponsel Rafa dari Laras: "Aku ingin ketemu dia. Ketemu Aisha. Hari ini.")

1
ilonksrcc
hello 🙏😍
Amiera Syaqilla
hello author🥺
ilonksrcc: hello..😍😍
total 1 replies
Nindya Sukma
menegangkan dan seru
Dian Fitriana
up next lg
Ummi Rafie
semoga aja Rafa segera merespon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!