Kehilangan anak saat melahirkan adalah penderitaan terbesar bagi Azelva Raquel Shawn. Bak jatuh tertimpa tangga, Azelva diceraikan, diusir dari rumahnya, dan semua hartanya dicuri oleh suami dan selingkuhannya.
Namun di tengah-tengah penderitanya, Kellano Gavintara, hadir menawarkan pekerjaan untuk wanita malang itu.
"Jadilah Ibu susu putraku. Sebagai imbalannya, aku akan membantumu mengambil kembali semua milikmu." Kellano Gavintara.
Tekadnya untuk balas dendam semakin kuat, tapi di sisi lain, Azelva tidak ingin berhubungan lagi dengan Kellano, yang tak lain adalah mantan kekasihnya. Apalagi jika Kellano tahu rahasia yang Azelva sembunyikan selama ini.
Namun setelah menatap baby Arlend, perasaan Azelva mulai goyah.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘭𝘦𝘯𝘥?"
Seiring berjalannya waktu, tabir rahasia mulai terkuak. Identitas Arlend mulai dipertanyakan.
Apa yang akan Kellano lakukan saat mengetahui fakta mengejutkan tentang putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB saat Kellano sampai di rumahnya. Dengan langkah gontai, pria tampan itu masuk ke dalam rumahnya.
Hari ini benar-benar melelahkan untuk Kellano. Setelah pertemuannya dengan Zidan, pria itu langsung pergi menemui pengacara yang mengurus perceraiannya dengan Regita. Awalnya, Kellano membiarkan Zola yang akan mengurus semuanya.
Namun, mengingat betapa liciknya Regita, membuat Kellano harus memastikan sendiri tidak ada kesalahan sedikitpun pada rencananya.
Prang
Saat hendak menaiki tangga, Kellano mendengar suara benda jatuh dari arah dapur. Karena penasaran, Kellano pun memilih untuk melihatnya.
"Zel, Kamu kenapa?" Kellano terlihat panik saat melihat darah di tangan Azelva. "Kamu duduk dulu, aku ambil kotak obat."
Tidak lama kemudian Kellano kembali dengan kotak obat di tangannya.
"Gak usah lebay, Lan. Ini cuma luka kecil," ucap Azelva. Wanita cantik itu merasa tidak enak melihat kepanikan di wajah Kellano. Padahal Azelva hanya tergores pisau saat mengupas buah mangga.
"Luka kecil juga kalau gak diobati bisa infeksi, Azel."
Azelva hanya pasrah sambil mencebikkan bibirnya. Percuma saja membantah Kellano, pria tampan itu sangat keras kepala.
Setelah mengobati luka Azelva, keduanya kini duduk di meja makan. Kellano mengupas kan mangga untuk Azelva, sementara wanita cantik itu hanya diijinkan duduk sambil menikmatinya saja.
"Kamu baru pulang, Lan?" Tanya Azelva. Dengan mulut penuh, wanita cantik itu mencoba mengusir kecanggungan diantara mereka.
Kellano menganggukkan kepalanya sambil mengusap sudut bibir Azelva. "Makan pelan-pelan, Sayang!"
Uhuk... uhuk...
Karena ulah Kellano itu, Azelva sampai tersedak mangga. Ditambah lagi panggilan 'sayang' yang meluncur dari bibir pria tampan itu membuat Azelva semakin salah tingkah.
Azelva meminum air yang diberikan Kellano, dengan wajah memberengut, wanita cantik itu menatap pria di depannya dengan tatapan kesal.
"Maaf... maaf. Aku kira Kamu gak akan se-salting ini," ucap Kellano.
Bukannya mereda, kekesalan Azelva justru semakin menjadi. "Siapa juga yang salting," ucap Azelva tidak terima.
Kellano diam-diam mengulum senyumnya. Ia tahu Azelva salah tingkah, tapi tidak mau mengakuinya. Dasar gengsian, gumam Kellano dalam hatinya.
"Ada sesuatu yang mau aku tunjukkan sama Kamu."
Kellano mengambil berkas dari dalam tas kerjanya, lalu memberikannya pada Azelva.
"Apa ini?" Azelva mengernyitkan keningnya. "Ini---" Azelva menutup mulutnya sendiri saat membaca isi berkas yang diberikan Kellano itu.
Dalam berkas itu tertera dengan jelas jika 50% saham Shawn Lane, sudah kembali atas nama Azelva.
Setelah mendapatkan tandatangan Zidan, rupanya Kellano langsung mengubah namanya menjadi nama Azelva. Itu artinya mulai saat ini Azelva kembali menjadi pemegang saham di perusahaannya.
"Terima kasih, Lan."
Deg
Jantung Kellano berdebar kencang saat Azelva tiba-tiba memeluknya. Ini pertama kalinya Azelva memeluknya kembali. Walaupun Azelva melakukannya tanpa sadar, tapi Kellano sangat bahagia. Ia pun membalas pelukan wanitanya dengan erat.
"Tidak perlu berterima kasih, aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikmu," ucap Kellano. Keduanya masih sama-sama saling memeluk.
Astaga, apa yang aku lakukan, Azelva menjerit dalam hatinya saat menyadari apa yang sedang ia lakukan.
"Ehem... ma-maaf. Aku gak sengaja."
Wajah Azelva memerah. Sungguh, ia benar-benar sangat malu, sampai-sampai rasanya ia ingin menghilang dari bumi saat ini juga.
"Sengaja juga gak apa-apa, Zel. Mau lebih dari peluk juga aku ikhlas," ucap Kellano dengan cengiran khasnya.
Plak
Azelva melotot sambil memukul lengan Kellano cukup keras.
Ahhh...
Alih-alih meringis, Kellano justru mendesah membuat Azelva semakin melotot.
"Kellano!"
Kellano tidak berhenti tertawa, ekspresi Azelva benar-benar sangat menggemaskan, membuatnya tidak tahan untuk tidak memeluknya.
"Lan---"
"Sebentar saja, Zel. Biarkan aku memelukmu."
Azelva hanya bisa pasrah membiarkan Kellano memeluknya. Ia merasakan tubuh Kellano bergetar. Apa dia menangis? Batin Azelva. Entah Azelva memiliki keberanian dari mana, namun dengan sadar ia membalas pelukan pria itu, bahkan mengusap punggung Kellano.
"Semua akan baik-baik saja," ucap Azelva.
Ucapan Azelva benar-benar seperti sihir, Kellano bahkan merasa tenang setelah mendengar ucapannya.
"Terima kasih. Pelukanmu selalu membuatku tenang," ucap Kellano sambil menyunggingkan senyumnya.
Azelva hanya menganggukkan kepalanya. Sebenarnya Azelva ingin sekali mendengar penjelasan Kellano tentang Regita. Namun, melihat kondisi Kellano saat ini membuat Azelva urung menanyakan. Azelva tahu, pasti Kellano sedang banyak pikiran saat ini.
"Besok, Kamu harus ikut ke pengadilan!"
"Kenapa?" Tanya Azelva. Wanita cantik itu mengernyitkan keningnya.
"Aku akan memberimu kejutan."
...----------------...
Sementara itu, Regita baru saja pulang dari club malam milik temannya. Ia sering sekali pergi ke tempat itu untuk bersenang-senang menghabiskan waktu malamnya.
"Dari mana saja Kamu?"
Regita menghentikan langkahnya saat mendengar suara ayahnya.
"Aku habis ketemu pengacara, Yah."
Wajah Regita terlihat frustasi. Mengingat besok adalah sidang perceraian pertamanya, membuat Regita sedikit khawatir.
"Sampai jam segini?"
Regita menganggukkan kepalanya. Ia memang sengaja bertemu dengan pengacaranya di tempat itu, karena kebetulan club itu memang milik temannya yang adalah pengacaranya.
"Iya, Yah."
"Lalu, kenapa wajahmu masam begitu?" Tanya ayah Regita. Pria paruh baya itu tidak tega melihat wajah kacau putrinya. Ia juga khawatir kesehatan mental Regita akan kembali memburuk karena perceraian ini.
"Aku takut, Yah. Bagaimana kalau Kellano---"
"Kamu tidak perlu mencemaskan apa pun, Kamu jangan lupa, kita punya video yang akan menjadi senjata untuk menghancurkan nama baik Kellano dan keluarganya."
Regita menganggukkan kepalanya. Satu-satunya yang membuat Regita tenang hanyalah video itu. Dan Regita sudah bertekad, jika Kellano tidak bisa kembali padanya, maka tidak boleh ada seorang pun yang memiliki Kellano, apalagi Azelva.
"Ayah benar, dengan video itu aku yakin Kellano dan keluarganya akan kehilangan kepercayaan publik."
Ayah Regita mengangguk setuju. Ia cukup lega melihat putrinya kembali bangkit dan tidak terpuruk seperti tadi pagi.
Namun ada satu hal yang membuat Regita sedikit khawatir, kenapa Kellano tiba-tiba ingin menceraikannya padahal sudah terbukti Arlend adalah putranya.
"Apa jangan-jangan Kellano sudah tahu semuanya, Yah?" Gumam Regita. Jantungnya berdebar kencang saat pikiran buruk itu kembali menghantamnya.
To be continued