NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pendekar Bintang

Bangkitnya Pendekar Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Reijii

mengisahkan perjalanan Liu Wei, seorang pemuda yang kehilangan desa dan keluarga karena serangan kelompok jahat Pasukan Bayangan Hitam. Setelah bertemu Chen Mei dari Sekte Bintang Penyusun, ia mengetahui bahwa dirinya adalah salah satu dari enam Pendekar Bintang terpilih yang bertugas menjaga keseimbangan alam semesta.

Dengan membawa Pedang Angin Biru pusaka keluarga dan Kalung Panduan Bintang, Liu Wei harus mencari Pendekar lainnya sebelum Pasukan Bayangan Hitam yang dipimpin oleh Zhang Feng menangkap mereka semua dan mendapatkan Lima Batu Kekuatan yang bisa menghancurkan dunia. Perjalanan penuh bahaya menantinya, di mana ia harus menguasai kekuatan batinnya dan menyatukan kekuatan rekan-rekannya untuk menghadapi ancaman kegelapan yang semakin besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluatan Tanah Di Desa Batu besar

Jalan menuju Desa Batu Besar penuh dengan medan yang berat—jalur berliku melalui hutan lebat dan bukit-bukit yang tandus. Udara panas menyengat di siang hari, sementara malamnya sangat dingin hingga membuat tubuh menggigil. Liu Wei masih merasakan efek energi gelap dari pertempuran dengan Zhao Hu beberapa hari yang lalu; terkadang dia merasakan rasa sakit yang menusuk di bahunya, dan pandangannya sesekali menjadi kabur.

“Kamu harus istirahat sebentar, Liu Wei,” ucap Chen Mei dengan suara penuh perhatian saat mereka berhenti di tepi sumber air kecil. “Kekuatan gelap yang disuntikkan Zhao Hu tidak bisa dianggap remeh. Kita bisa sampai lebih lambat tapi selamat.”

Zhou Yu sedang mengisi kantong air untuk semua orang, sementara Wu Jing membakar kayu untuk membuat makanan panas. “Dia benar,” tambah Wu Jing sambil membalik daging burung yang sedang dipanggang di atas bara api. “Kita tidak bisa melanjutkan jika pemimpin kita dalam kondisi lemah.”

Liu Wei menggeleng kepalanya dengan lembut. “Kita tidak punya waktu untuk berhenti. Setiap hari yang kita tunda adalah kesempatan bagi Pasukan Bayangan Hitam untuk menemukan Pendekar lainnya terlebih dahulu. Saya bisa bertahan.”

Meskipun begitu, dia tahu bahwa teman-temannya benar. Energi gelap itu seperti racun yang perlahan menyebar di dalam tubuhnya. Saat dia menyentuh Kalung Panduan Bintang di lehernya, cahaya kalung itu menjadi redup sejenak sebelum kembali bersinar dengan terang—seolah-olah kalung itu sedang berjuang untuk melawan racun di dalam dirinya.

Setelah menyelesaikan makan siang yang sederhana, mereka melanjutkan perjalanan. Saat matahari mulai merunduk ke arah barat, mereka akhirnya melihat Desa Batu Besar yang terletak di lembah luas yang dikelilingi oleh tebing-tebing besar berbentuk aneh. Tanah di sekitar desa terlihat subur, dengan ladang-ladang padi yang hijau segar dan kebun sayuran yang terawat dengan baik.

Namun suasana desa terasa sangat sunyi. Tidak ada suara anak-anak yang bermain atau orang-orang yang bekerja di ladang seperti biasanya ada di desa-desa lainnya. Pintu setiap rumah tampak terkunci rapat, dan tirai jendela tertutup rapat.

“Ada sesuatu yang tidak benar di sini,” bisik Zhou Yu sambil mengamati sekeliling dengan waspada. “Saya tidak merasakan adanya keberadaan manusia, tapi ada energi kuat yang mengelilingi desa ini.”

Wu Jing mengangguk. “Energi itu berasal dari tanah sendiri. Seolah-olah seluruh desa ini sedang dalam keadaan berjaga-jaga.”

Mereka berjalan dengan hati-hati menuju tengah desa, di mana sebuah rumah besar dengan atap jerami berdiri megah di antara rumah-rumah lain yang lebih kecil. Di depan rumah itu, sebuah patung batu yang bentuknya seperti bintang enam sisi berdiri kokoh di atas pijakan tinggi. Ketika mereka mendekat, tanah di sekitar patung mulai bergetar lembut.

Tiba-tiba, dari balik rumah besar muncul seorang wanita dengan rambut hitam panjang yang diikat dengan tali kayu. Badannya dibaluti baju kerja berwarna coklat tua dengan aksen hijau, wajahnya cantik namun penuh ketegasan. Tangannya yang kuat dan penuh dengan bekas luka menunjukkan bahwa dia terbiasa bekerja keras dengan tanah. Dia membawa sebuah cangkul kayu besar yang terlihat sangat berat, namun dia mengangkatnya dengan mudah seperti hanya sebuah ranting kecil.

“Siapa kalian dan apa maksud kalian datang ke desa kami?” tanyanya dengan suara yang dalam namun jelas, menyebar ke seluruh desa seolah diperkuat oleh kekuatan tanah.

Kekuatan yang dikeluarkannya membuat tanah di bawah kaki mereka bergoyang sedikit. Liu Wei merasakan bahwa wanita ini adalah orang yang mereka cari—Xie Lan, Pendekar Tanah.

“Kami tidak bermaksud menyakiti siapapun,” jawab Liu Wei dengan sopan sambil melangkah maju sedikit. “Nama saya Liu Wei, Pendekar Bintang Utama. Kami datang dari Sekte Bintang Penyusun untuk mencari Pendekar Tanah—Xie Lan. Apakah kamu dia?”

Wanita itu mengangkat alisnya dengan heran, kemudian melihat ke arah masing-masing dari mereka. Matanya berhenti di tangan Liu Wei yang sedang menunjukkan tanda bintang yang bersinar lembut. Setelah beberapa saat, dia menghela napas dan meletakkan cangkulnya di tanah dengan lembut.

“Ya, saya adalah Xie Lan,” ucapnya dengan suara yang lebih lembut. “Saya sudah menunggu kedatangan kalian. Tapi bagaimana kalian bisa menemukan saya di sini?”

“Kalung ini menunjukkan jalan kami padamu,” jawab Liu Wei sambil menyentuh kalung di lehernya. “Kita sedang dalam bahaya besar. Pasukan Bayangan Hitam telah menyerang markas kita dan menangkap dua Pendekar lainnya. Mereka mencari Lima Batu Kekuatan yang bisa menghancurkan dunia.”

Xie Lan mengangguk perlahan. “Saya sudah merasakan datangnya bahaya itu. Energi tanah di seluruh desa ini telah memberi peringatan. Pasukan Bayangan Hitam pernah datang ke sini beberapa hari yang lalu, mencari saya dan Batu Kekuatan Tanah yang saya jaga.”

“Mereka sudah datang ke sini?” tanya Chen Mei dengan wajah serius.

“Ya,” lanjut Xie Lan. “Mereka dipimpin oleh seorang wanita bernama Lin Xiao, salah satu pemburu bayangan terbaik mereka. Saya berhasil mengusir mereka dengan kekuatan tanah, tapi saya tahu mereka akan kembali dengan pasukan yang lebih banyak. Saya sudah menyuruh seluruh penduduk desa pergi bersembunyi di gua rahasia di belakang bukit agar tidak terluka.”

Saat dia berbicara, suara deru kuda yang semakin dekat terdengar dari arah jalan masuk desa. Xie Lan segera mengambil cangkulnya kembali, dan ekspresinya menjadi tegas.

“Mereka sudah datang lebih cepat dari yang saya duga,” katanya dengan tenang. “Kita harus siap menghadapi mereka.”

Tidak lama kemudian, rombongan Pasukan Bayangan Hitam muncul di ujung jalan desa. Ada sekitar lima puluh orang, dipimpin oleh seorang wanita cantik namun wajahnya penuh dengan kesadisan. Rambut hitamnya diikat rapi dengan ikat kepala berwarna hitam, dan pakaiannya yang ketat memungkinkan dia bergerak dengan sangat gesit. Di tangannya, dia membawa dua tombak kecil yang berkilau dengan warna hitam pekat—dia adalah Lin Xiao.

“Xie Lan,” ucap Lin Xiao dengan senyum jahat. “Kita bertemu lagi. Kali ini kamu tidak akan bisa melarikan diri lagi.”

“Saya tidak pernah berniat melarikan diri,” jawab Xie Lan dengan tegas. “Saya akan melindungi desa ini dan Batu Kekuatan yang saya jaga dengan nyawa saya!”

Tanpa basa-basi lagi, Lin Xiao memberi isyarat dan beberapa anggota Pasukan Bayangan Hitam menyerang dengan cepat. Namun saat mereka mendekati, tanah di bawah kaki mereka tiba-tiba melorot, membuat mereka jatuh ke dalam liang yang tiba-tiba terbentuk. Xie Lan mengayunkan cangkulnya ke arah tanah, dan beberapa tiang batu besar muncul dari bawah tanah seperti penjaga yang siap melindungi desa.

Zhou Yu segera mengendalikan air dari sumur desa untuk membentuk seperti tembok yang melindungi sisi lain desa, sementara Wu Jing membakar tanah di sekitar musuh yang mencoba mendekati dari belakang, membuat tanah menjadi panas dan tidak bisa dilalui. Chen Mei mengeluarkan peluru kristalnya yang menembus perisai musuh dengan mudah, sementara Liu Wei menghadapi mereka yang berhasil melewati pertahanan teman-temannya dengan Pedang Angin Birunya.

Namun Lin Xiao adalah lawan yang jauh lebih tangguh dari Zhao Hu. Dia bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, menghindari setiap serangan dengan mudah dan menyerang balik dengan tombaknya yang tajam. Saat Liu Wei mencoba menyerangnya, dia dengan cepat menghindari dan menusuk bahu Liu Wei yang sudah terluka sebelumnya.

“Aduh!” teriak Liu Wei sambil terpental mundur. Rasa sakit yang luar biasa menyambar seluruh tubuhnya, dan energi gelap yang sudah ada di dalam dirinya semakin kuat. Pandangannya menjadi semakin kabur, dan dia merasa tubuhnya semakin berat.

Melihat Liu Wei dalam bahaya, Xie Lan segera menghentikan serangan terhadap musuh lainnya dan fokus pada Lin Xiao. Dia mengangkat kedua tangannya ke atas, dan tiba-tiba sebuah gundukan batu besar muncul dari tanah, menghalangi Lin Xiao yang siap menyerang Liu Wei dengan serangan mematikan.

“Sekarang!” teriak Xie Lan kepada teman-temannya.

Zhou Yu mengirimkan aliran air yang kuat ke arah gundukan batu, sementara Wu Jing membakar batu itu dengan api yang sangat panas. Dalam waktu singkat, batu itu menjadi seperti batu bata yang panas dan kuat, membentuk seperti penjara yang mengurung Lin Xiao di dalamnya. Meskipun begitu, Lin Xiao masih bisa menyerang dari dalam dengan energi gelapnya, membuat penjara itu mulai retak-retak.

Sementara itu, Chen Mei mendekati Liu Wei yang sedang terbaring lemah di tanah. Dia segera menarik ramuan khusus dari tasnya dan mengoleskannya pada luka Liu Wei. Saat ramuan menyentuh kulitnya, rasa sakit yang menusuk mulai mereda, dan pandangannya kembali menjadi jelas.

“Terima kasih,” bisik Liu Wei sambil mencoba berdiri dengan bantuan Chen Mei. “Saya tidak bisa membiarkan diri saya menjadi beban bagi kalian.”

Xie Lan mendekat dengan ekspresi penuh pengertian. “Kamu tidak pernah menjadi beban, Liu Wei. Kita adalah satu tim. Setiap orang memiliki saat di mana mereka lemah, dan saat itulah teman-teman ada untuk membantu.”

Dia menarik bagian bajunya yang terbuka, menunjukkan tanda bintang berwarna coklat tua yang bersinar kuat di bagian punggungnya. Tanda itu segera bersatu dengan cahaya dari tanda teman-temannya, dan energi kuat menyebar ke seluruh desa. Tanah yang tadinya rusak karena pertempuran mulai pulih dengan sendirinya, dan ladang-ladang yang terinjak rata kembali menjadi rata dan subur.

Lin Xiao yang masih terkurung di dalam penjara batu melihatnya dengan wajah penuh kemarahan. “Ini belum selesai! Pimpinan kita akan datang dan menghancurkan kalian semua!”

Setelah itu, dia mengeluarkan energi gelap yang sangat kuat hingga membuat penjara batu itu hancur berkeping-keping. Namun sebelum dia bisa menyerang lagi, Xie Lan mengangkat tangannya dan tanah di bawah kaki Lin Xiao melorot lagi, membuatnya jatuh ke dalam liang yang dalam. Xie Lan kemudian menutup liang itu dengan batu besar, menyembunyikannya dari pandangan.

“Kita harus pergi dari sini segera,” kata Xie Lan dengan serius. “Meskipun saya telah mengurungnya, dia pasti akan menemukan cara untuk keluar. Selain itu, energi pertempuran kita pasti telah menarik perhatian Pasukan Bayangan Hitam lainnya.”

Chen Mei mengangguk. “Kamu benar. Sekarang kita sudah menemukan empat Pendekar Bintang. Yang berikutnya adalah Yang Fei, Pendekar Angin yang berada di Pegunungan Awan Tinggi. Dan yang terakhir adalah Su Yin, Pendekar Cahaya yang tinggal di Kuil Bintang di atas gunung tertinggi.”

Liu Wei merasakan kekuatan kembali mengalir ke tubuhnya. Dengan adanya Xie Lan yang bergabung dengan mereka, kekuatan mereka semakin besar. Namun dia juga tahu bahwa tantangan terbesar masih ada di depan mereka. Zhang Feng pasti sudah mengetahui bahwa sebagian besar Pendekar Bintang sudah bersatu, dan dia akan melakukan segala cara untuk menghentikan mereka sebelum mereka menemukan Pendekar terakhir dan mendapatkan semua Batu Kekuatan.

Saat mereka berjalan meninggalkan Desa Batu Besar yang mulai pulih, matahari terbenam di belakang bukit, memberikan warna jingga dan oranye yang indah pada langit malam yang sudah mulai muncul. Empat bintang dalam pola Bintang Penyusun bersinar dengan sangat terang, sementara dua lainnya masih tampak samar—menunggu saat mereka akan bersatu dengan yang lain untuk menghadapi kegelapan yang akan datang.

1
andikubro
🫡🫡
andikubro
✊️✊️
bakacimpuang
lumayan bagus👍
bakacimpuang
shap
songcu
shap,lanjutkan
songcu
bagus👍
songcu
😍😍
songcu
hmm lumayan bagus
onymus
gas lanjut👍
onymus
nice👍
onymus
👍👍
onymus
keren👍
jarot
keren
fajar
😄😄
Tomiyama Choji
kuy lanjut
Tomiyama Choji
😄😄
dfos
mantap
zaka
lanjuy
adul
gaskan lanjuty
bagas
mantapp lanjutkan💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!