Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"
Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku bingung
Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap lewat sela tirai. Aku terbangun lebih cepat dari biasanya, kepala masih berat tapi hatiku terasa ringan, anehnya.
Tanganku meraba ponsel di samping bantal.
Satu notifikasi.
Nama Maya muncul di layar.
Maya:
Ren! Pagi! Jadi ya rencana kita. Besok main ke mall aja. Aku pengen ngobrol banyak sama kamu😆😆
Aku membaca pesannya dua kali. Senyum kecil tanpa sadar muncul di bibirku. Dadaku terasa hangat, seperti ada sesuatu yang hidup kembali di dalam diriku rasa menunggu, rasa punya rencana, rasa keluar dari lingkaran yang sama.
Jariku bergerak cepat.
Aku:
Iya! Aku mau. Besok ya🤭
Pesan itu terkirim, dan untuk sesaat aku hanya menatap layar, tersenyum sendiri. Perasaan senang itu sederhana, tapi sudah lama aku tidak merasakannya.
Aku bangkit dari tempat tidur dengan langkah ringan, hampir melupakan rasa kaku di tubuhku. Begitu keluar kamar, aroma makanan langsung menyambutku.
Arven ada di dapur.
Ia berdiri membelakangiku, mengenakan kaus rumah yang agak longgar, lengan bajunya sedikit digulung. Tangannya cekatan mengaduk sesuatu di wajan. Pagi terasa begitu damai.
Tanpa banyak berpikir, aku melangkah mendekat dan memeluknya dari belakang.
Tanganku melingkar di pinggangnya, wajahku menyandar di punggungnya.
Arven tersentak kecil.
"Eh.." spatulanya berhenti. "Seren?"
Aku bisa merasakan tubuhnya menegang sesaat, lalu perlahan rileks. Bahunya turun sedikit. Tangannya yang bebas menutup tanganku, menahannya di sana.
Aku tersenyum, pipiku menempel di punggungnya. "Pagi."
Ia terkekeh pelan, nada yang jarang keluar pagi-pagi begini. "Pagi."
Ia menoleh sedikit, cukup untuk melirikku. Ada senyum kecil di sudut bibirnya.
"Kamu kenapa?" tanyanya sambil kembali mengaduk masakan. "Enggak kayak biasanya."
Aku mengangkat bahu, masih memeluknya. "Enggak kenapa-kenapa. Lagi mood aja."
Ia terdiam sebentar. Aku tahu ia memperhatikan nada suaraku, gerakku, mungkin mencoba membaca sesuatu di balik sikapku yang tiba-tiba cerah.
"Tidurnya enak?" tanyanya lagi, lebih pelan.
"Iya," jawabku jujur. "Bangun pagi ini rasanya ringan."
Arven mematikan kompor, lalu berbalik menghadapku. Tangannya naik, merapikan rambutku yang berantakan. Sentuhannya lembut.
"Bagus," katanya. "Berarti badan kamu mulai pulih."
Tatapannya turun ke wajahku, lalu ke mataku. Ada kehangatan di sana.
"Kamu keliatan seneng," lanjutnya, seolah sedang memastikan. "Ada sesuatu?"
Aku ragu sepersekian detik.
"Cuma," aku berhenti sebentar, lalu tersenyum lagi. "Aku chat-an sama Maya tadi."
Perubahan itu halus. Hampir tidak terlihat kalau tidak benar-benar memperhatikannya. Arven tidak langsung bereaksi. Senyumnya tetap ada, tapi napasnya tertahan sedikit lebih lama sebelum ia menghembuskannya kembali.
"Oh," ucapnya. Nada suaranya tetap lembut. "Dia ngabarin apa?"
"Ngajak main," jawabku, jujur. "Besok ke mall katanya."
Ia mengangguk pelan. Tidak ada penolakan dia tidak melarangku juga. Hanya anggukan kecil, seperti orang yang sedang memproses sesuatu di kepalanya.
"Besok?," ulangnya.
"Iya."
Ia tersenyum tipis. Tangannya turun ke bahuku, menepuknya ringan. "Oke."
Jawaban itu singkat, terlalu singkat. Tapi caranya mengatakannya terdengar santai.
"Sekarang sarapan dulu," katanya, kembali ke dapur. "Nanti keburu dingin."
Aku menurut, duduk di kursi makan sambil memperhatikannya bergerak. Punggungnya terlihat tenang.
Seharian itu, aku lebih sering menatap layar ponselku daripada biasanya.
Jari-jariku sibuk membalas pesan Maya. Obrolannya ringan, penuh rencana kecil yang entah kenapa membuat dadaku hangat. Aku beberapa kali tersenyum sendiri tanpa sadar, sampai akhirnya aku merasakan sesuatu.
Sebuah tatapan.
Aku melirik ke samping.
Arven ada di sana, duduk tidak jauh dariku. Ia terlihat sibuk dengan halnya sendiri, tapi aku tahu caranya berpura-pura. Setiap kali aku tertawa kecil karena pesan masuk, sudut matanya bergerak ke arahku, lalu kembali lagi ke depan.
Aku mencoba tetap fokus pada layar.
Sampai tiba-tiba ponsel itu hilang dari tanganku.
"Ven?" Aku menoleh cepat.
Arven memegang ponselku sekarang. Bukan dengan kasar, tapi cukup tegas untuk membuatku terkejut. Ia menatap layar sebentar, lalu menatapku.
"Kamu lagi sama aku," katanya pelan, tapi nadanya terdengar terganggu. "Kok fokusnya ke ponsel terus?"
Aku terdiam sejenak, lalu menghela napas kecil.
"Aku cuma ngobrol soal rencana sama Maya," jawabku jujur. "Nggak apa-apa, kan?"
Ia tidak langsung menjawab. Tangannya masih memegang ponsel itu, seolah ragu mau mengembalikannya atau tidak. Aku bisa melihat rahangnya mengeras sedikit.
Entah kenapa, aku merasa ingin menenangkannya.
Aku berdiri sedikit, mendekat, lalu tanpa banyak pikir, aku mencium pipinya.
Cuma sebentar.
Tubuh Arven langsung menegang. Aku bisa merasakan itu bahkan sebelum aku menjauh. Matanya melebar sesaat, seperti orang yang tidak siap, lalu napasnya keluar pelan.
Ia menghela napas kecil, hampir seperti tertawa.
"Oke," katanya akhirnya, sambil mengembalikan ponselku. "Aku cuma nggak mau kamu kecapekan."
Tangannya naik, mengusap pelan sisi kepalaku. Sentuhannya hangat.
"Tapi jangan berlebihan ya," lanjutnya lembut. "Nanti kamu pusing."
Dadaku terasa lebih ringan. Aku mengangguk, lalu duduk kembali di sampingnya. Kali ini ponselku aku letakkan di meja, tidak di tanganku..
Aku mengambil ponselku lagi di meja, lalu menatap Arven.
"Aku ke kamar dulu boleh?" kataku pelan. "Sekalian istirahat. Kamu lagi kerja juga, aku nggak mau ganggu. Nggak apa-apa, kan?"
Arven menatapku beberapa detik lebih lama dari biasanya. Ada keraguan kecil di matanya, cepat sekali muncul lalu disembunyikan sama dia.
"Iya," katanya akhirnya. "Istirahat yang bener ya."
Aku mengangguk, tersenyum kecil, lalu berjalan ke kamar.
Begitu pintu tertutup, suasananya berubah menjadi sunyi. Terlalu sunyi sampai aku bisa mendengar detak jantungku sendiri. Aku duduk di tepi ranjang, menyandarkan punggung ke kepala ranjang, lalu membuka ponsel lagi.
Pesan Maya masih berlanjut.
Kami membicarakan hal-hal ringan. Mall mana yang mau kami datangi, jam berapa, mau nonton atau sekadar makan. Aku tersenyum sendiri, membayangkan keluar tanpa rasa cemas, tanpa harus merasa diawasi.
Lalu satu pesan masuk.
Maya:
Ren, aku masih kepikiran deh kamu sekarang bener-bener beda.
Aku berhenti mengetik, senyumku memudar
Aku:
Beda gimana?
Titik-titik muncul lama. Lebih lama dari biasanya.
Maya:
Dulu kamu tuh nggak bisa diam di rumah. Kamu yang paling anti disuruh istirahat lama. Bahkan waktu kamu sakit dulu aja, kamu masih maksa ke sekolah.
Aku mengernyit.
Itu bukan versi diriku yang Arven ceritakan.
Maya:
Kamu juga dulu kerja sambil sekolah, inget nggak? Kamu selalu bilang nggak mau bergantung sama siapa pun.
Dadaku terasa sedikit mengencang.
Aku menatap layar, lalu ke arah pintu kamar, seolah Arven bisa mendengarku dari balik sana.
Aku:
Kerja? Tapi Arven bilang aku gampang capek, makanya sekarang nggak usah kerja dulu.
Balasan Maya datang cepat.
Maya:
Hah? Kamu justru paling keras kepala soal itu, Ren. Kamu malah marah kalau ada yang nyuruh kamu berhenti.
Aku menelan ludah.
Ada sensasi aneh merambat dari perut ke dada. Bukan panik, rasa bingung yang pelan-pelan membentuk simpul.
Aku:
Mungkin aku berubah?
Maya:
Mungkin. Tapi ada hal lain.
Jeda lagi. Aku memegang ponsel lebih erat. Apalagi kali ini?
Maya:
Pacarmu dulu juga beda.
Aku terpaku. Jari-jariku menggantung di atas layar.
Aku:
Beda gimana?
Pesan itu tidak langsung dibalas.
Aku menunggu. Satu menit. Dua menit. Rasanya jauh lebih lama.
Akhirnya.
Maya:
Bima itu posesif sih, tapi kamu selalu bilang kamu bisa ngadepin. Kamu malah sering ngeluh karena dia terlalu ngatur. Kamu pernah bilang pengen putus.
Jantungku berdetak lebih keras, nama itu lagi.
Bima.
Aku memejamkan mata sebentar. Mengingat wajah Arven. Suaranya. Caranya menatapku dengan perhatian penuh. Semua yang ia lakukan terasa seperti melindungi, bukan mengatur. Tapi di ingatanku tidak terlintas sekalipun nama Bima.
Aku:
Tapi sekarang pacarku Arven.
Maya:
Iya, aku tau. Aku cuma heran aja kamu keliatan jauh lebih nurut dari Seren yang aku kenal.
Kalimat itu terasa seperti sentuhan dingin di tengkukku.
Aku menurunkan ponsel perlahan, menatap kosong ke arah dinding. Ingatanku kosong, tapi kata-kata Maya justru terasa terlalu jelas. Terlalu berlawanan dengan cerita yang selama ini kudengar.
Di luar kamar, terdengar suara samar Arven bergerak. Mungkin mengambil minum. Mungkin berjalan melewati lorong.
Aku menggenggam ponselku lagi.
Untuk pertama kalinya sejak aku sadar di rumah sakit dulu, muncul pikiran kecil yang membuat dadaku sesak.
Bagaimana kalau bukan aku yang berubah? Bagaimana kalau aku hanya percaya pada versi diriku yang diceritakan padaku?
Aku menelan napas, lalu mengunci ponsel.
Langkah kaki Arven mendekat ke arah kamar. Aku bisa melihat kenop pintu berputar pelan, jantungku rasanya hampir copot.
"Ren?" Suara lembut Arven terdengar di balik pintu.
Kalau aku jawab, apa dia akan marah? kalau tahu aku berbohong hanya untuk bermain ponsel? apa dia akan menatapku dengan dingin lagi? atau dia akan bersikap lembut seperti biasa?