Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...
Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?
Baca ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasutan Mbah Suro
Kabut pagi di desa itu terasa lebih dingin bagi Ratih. Ia baru saja kembali dari rumah mendiang ibunya di kampung sebelah, tempat di mana ia merenung dan mengumpulkan kembali sisa-sisa amarahnya. Namun, begitu ia melangkah menuju gudang kayu milik bapak Bimo, ia mendapati tempat itu telah kosong. Hanya ada tumpukan jerami yang acak-acakan dan aroma busuk yang mulai memudar, tertiup angin pegunungan.
Ratih segera menghampiri seorang tetangga yang sedang menjemur kerupuk di halaman. "Mbah, lihat laki-laki yang di gudang itu? Yang baunya anyir?"
"Oh, si Bimo? Tadi pagi-pagi sekali saya lihat dia menyeret kaki ke arah selatan. Sepertinya menuju rumah si Teguh," jawab nenek itu sambil menutup hidungnya, seolah bayangan bau Bimo masih tertinggal di sana.
Mendengar nama Teguh, jantung Ratih berdegup kencang. Ia tahu siapa Teguh. Pria itu adalah satu-satunya orang di desa ini yang tidak pernah silau oleh harta Bimo, dan satu-satunya orang yang memiliki batin yang bersih. Ratih segera melangkah terburu-buru, mengikuti jalan setapak di pinggir sawah. Ia merasa seperti seorang pemburu yang takut mangsanya melepaskan diri dari jerat yang sudah dipasang bertahun-tahun.
Energi yang Menggetarkan Dendam
Ketika jaraknya hanya tinggal seratus meter dari rumah gubuk Teguh, langkah Ratih mendadak terhenti. Bulu kuduknya berdiri bukan karena dingin, melainkan karena sebuah getaran aneh yang menghantam dadanya.
Dari kejauhan, rumah Teguh yang sederhana itu tampak diselimuti oleh aura yang berbeda. Ratih, yang sejak melakukan ritual dengan Mbah Suro menjadi lebih peka terhadap hal-hal gaib, melihat seolah-olah ada cahaya putih tipis yang memayungi atap rumbia rumah itu. Aroma rempah-rempah yang direbus Teguh serai, sirih, dan pandan menguar kuat, namun ada sesuatu yang lebih dari sekadar bau tanaman. Ada energi ketenangan, sebuah frekuensi doa yang sangat kuat yang terpancar dari dalam rumah.
"Kenapa kakiku gemetar?" gumam Ratih. Ia mencoba melangkah maju, namun setiap kali ia mendekat, rasa mual dan pusing menyerangnya.
Ratih tersentak. Ia menyadari sebuah ancaman besar. "Kalau Bimo sadar... kalau dia benar-benar bertaubat di bawah bimbingan Teguh, santet ini bisa luntur. Kekuatan Mbah Suro bisa terpental oleh doa orang jujur itu!"
Rasa takut mulai menggerogoti hati Ratih. Bukan takut akan hukum manusia, tapi takut jika dendamnya gagal terselesaikan. Ia tidak sudi melihat Bimo sembuh sebelum pria itu merasakan kehancuran yang setara dengan penderitaan ibunya. Ia tidak boleh membiarkan Bimo menemukan kedamaian di rumah Teguh.
Perjalanan Menuju Lereng Gelap
Tanpa membuang waktu, Ratih berbalik arah. Ia berlari menuju jalan raya kecamatan, debu jalanan menempel di gamis hitamnya. Ia tidak peduli dengan rasa lelahnya. Ia harus segera berkonsultasi dengan sumber kekuatannya: Mbah Suro.
Ia naik bis antarkota yang menuju ke arah lereng gunung di perbatasan provinsi. Perjalanan itu ditempuh selama tiga jam yang menyiksa. Pikiran Ratih berkecamuk. Ia teringat bagaimana Mbah Suro pernah berpesan bahwa santet Ulat Sengkolo adalah santet yang dipicu oleh nafsu dan emosi negatif korban. Jika korban menemukan ketenangan sejati dan pengampunan, maka ulat-ulat itu tidak akan punya "makanan" lagi untuk tumbuh.
"Jangan sampai... jangan sampai Bimo sujud di depan Tuhan sebelum dia sujud di kakiku," desis Ratih sambil menatap ke luar jendela bis yang mulai mendaki perbukitan kabut.
Sesampainya di terminal kecil di kaki gunung, Ratih menyewa ojek untuk naik lebih tinggi lagi, ke sebuah gubuk yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon kamboja tua dan batu-batu besar yang dikeramatkan. Tempat itu sunyi, hanya terdengar suara burung gagak dan gemericik air sungai yang dingin.
Pertemuan dengan Mbah Suro
Mbah Suro sedang duduk di atas dipan kayu, mengisap rokok klobot yang baunya sangat khas—campuran kemenyan dan tembakau keras. Matanya yang buta sebelah tampak berkilat saat merasakan kehadiran Ratih.
"Kamu datang dengan kegelisahan, Ratih," suara Mbah Suro parau, seperti gesekan batu. "Umpanmu mulai lepas?"
Ratih langsung bersujud di depan pria tua itu. "Mbah, Bimo... dia sekarang di rumah seorang teman bernama Teguh. Ada energi di rumah itu yang membuat saya takut. Ulat-ulat itu sepertinya tidak bekerja saat Bimo di sana. Doa-doa pria itu... apakah bisa menghancurkan kiriman kita?"
Mbah Suro terdiam lama. Ia mengembuskan asap rokoknya ke udara, membentuk gumpalan hitam yang aneh. Ia kemudian mengambil sebuah cawan berisi air hitam dan menjatuhkan beberapa butir bunga kantil ke dalamnya.
"Doa orang yang tulus memang musuh utama bagi ilmu hitam, Ratih," ujar Mbah Suro dingin. "Teguh itu bukan orang sakti, tapi hatinya tidak punya celah untuk dimasuki setan. Itu yang membuat energinya memayungi si Bimo. Selama Bimo di sana, ulat-ulat itu akan 'puasa'. Mereka tidak bisa makan daging Bimo jika hati Bimo sedang tenang dan tak bernafsu."
Ratih mengepalkan tangannya. "Lalu apa yang harus saya lakukan, Mbah? Saya tidak mau dia sembuh hanya karena bersembunyi di rumah orang itu!"
Mbah Suro terkekeh, suara tawanya membuat bulu kuduk Ratih berdiri. "Ilmu hitam tidak bisa melawan cahaya secara langsung, tapi ilmu hitam bisa menghasut kegelapan di sekitar cahaya itu. Jika kamu tidak bisa menembus doa Teguh, maka hancurkanlah ketenangan di desa itu."
Hasutan Sang Dukun
Mbah Suro mengambil sebuah botol kecil berisi cairan merah kental darah gagak yang sudah dimantrai selama empat puluh malam.
"Bawa ini. Taburkan di empat penjuru rumah Teguh pada jam tiga pagi. Cairan ini tidak akan menyakiti Teguh, tapi akan membangkitkan fitnah di hati warga desa. Mereka akan melihat rumah Teguh sebagai sarang wabah. Mereka akan mencium bau bangkai Bimo seratus kali lebih tajam daripada biasanya."
Ratih menerima botol itu dengan tangan gemetar. Ada rasa ragu sejenak di hatinya ia tahu Teguh adalah orang baik namun bayangan ibunya yang meninggal dalam kemiskinan karena dikhianati Bimo menghapus segala belas kasihannya.
"Saya mengerti, Mbah. Saya akan buat seluruh desa membenci rumah itu," ucap Ratih mantap.
"Pergilah. Malam ini bulan mati. Waktu yang paling tepat untuk menabur duri di ladang orang yang suci," pungkas Mbah Suro.
Kembali dengan Kebencian Baru
Ratih turun dari lereng gunung saat senja mulai merah. Ia kembali ke desa dengan sebuah misi baru. Ia tidak lagi mengejar Bimo secara fisik, melainkan ia akan menghancurkan perlindungan spiritual Bimo.
Di dalam bus kepulangannya, Ratih menggenggam botol merah itu dengan erat. Ia menyadari satu hal: pertarungan ini bukan lagi sekadar antara dia dan Bimo, tapi antara dendamnya melawan ketulusan Teguh. Namun bagi Ratih, tidak ada jalan kembali. Baginya, kebaikan Teguh adalah penghalang yang harus disingkirkan demi tercapainya keadilan versi dirinya.
Malam itu, Ratih tidak langsung menuju rumah Teguh. Ia menunggu di kegelapan, di bawah pohon beringin besar dekat balai desa. Ia melihat warga desa yang mulai berbisik-bisik tentang kembalinya "Bimo si anak terkutuk". Ia hanya perlu menyulut sedikit api, dan seluruh desa akan terbakar oleh fitnah.
"Maafkan aku, Teguh," gumam Ratih dingin. "Tapi Bimo adalah milikku. Dia tidak pantas mendapatkan doa-doamu."