NovelToon NovelToon
Asisten Kesayangan Pak Manager

Asisten Kesayangan Pak Manager

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Cinta pada Pandangan Pertama / Office Romance
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Seribu Bulan

Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan Fajar

Langit masih berkabut saat James sudah berdiri di depan pintu kamar kost Felicia. Berbekal negosiasi singkat—dan uang kopi yang James berikan,penjaga kost itu langsung memberikan akses untuknya sehingga ia berhasil berada di depan pintu kamar Felicia saat ini.

Tok! Tok! Tok!

Pintu terbuka sedikit, menampakkan Felicia dengan piyama satinnya dan rambut yang masih sedikit berantakan. Matanya membelalak seketika. "Pak? Bapak ngapain pagi-pagi di sini?!"

James mengernyit. Panggilan ‘Pak’ itu terasa seperti siraman air es di pagi hari, tapi ia sadar ini bukan waktu yang tepat untuk protes soal itu. Ia melirik jam tangannya, lalu menatap Felicia dengan tatapan mendesak.

"Cepat ambil barang-barangmu. Saya cuma dikasih waktu sepuluh menit sama penjaga kost kamu," perintah James tanpa basa-basi.

"Tapi, Pak, saya belum mandi!" Felicia berseru tertahan, panik setengah mati karena tertangkap basah dalam kondisi bangun tidur.

"Nanti saja mandinya. Ayo, cepat. Sebelum saya benar-benar diusir dan dianggap penculik," James mendesak dengan nada otoriter yang tidak bisa dibantah.

Sepuluh menit kemudian, Felicia sudah duduk di kursi penumpang mobil James. Ia membawa tas besar berisi pakaian ganti, pouch makeup, dan perlengkapan lainnya layaknya orang yang hendak mengungsi dari bencana alam. Wajahnya masih ditekuk, menatap ke luar jendela.

"Kita mau ke mana sih, Pak, pagi-pagi begini? Kan bisa kabarin dulu lewat telepon biar saya bisa siap-siap," gerutu Felicia.

James yang tengah memutar kemudi meliriknya tajam. "Pak?"

Felicia mengembuskan napas panjang dan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. "Iya, Mas. Maaf. Masih kaget, jantungku mau copot tadi pas buka pintu."

"Hari ini kita ngedate. Menghabiskan waktu berdua, seperti waktu itu," ucap James, berusaha mencairkan suasana yang terasa kaku.

"Nggak mood ah," sahut Felicia malas, tangannya bersedekap di dada.

James langsung menginjak rem perlahan, menghentikan mobilnya di tepi jalan yang masih sepi. Ia memutar tubuh menghadap Felicia sepenuhnya. "Sebenarnya kamu ini kenapa, Fel? Saya berbuat salah?"

Felicia hanya menggeleng pelan, tetap menolak menatap mata James.

"Lalu kenapa? Saya ini bukan peramal yang bisa membaca isi kepalamu tanpa kamu beri tahu," James mulai kehilangan kesabaran, namun suaranya tetap berusaha lembut.

"Aku nggak apa-apa."

"Nah, ini dia. Kalimat paling berbahaya," James mendengus, menyugar rambutnya dengan tangan kiri. "Kamu itu transparan sekali, Fel. Kalau sedang marah, caramu berbicara dan bersikap langsung berubah drastis. Ada apa?"

"Lagi bad mood saja, Mas. Nggak tahu kenapa," dalih Felicia, padahal di kepalanya masih terbayang-bayang video TikTok Anissa yang tertawa di samping James.

James menatap Felicia lama, mencoba mencari celah di balik wajah ketus itu. Ia menghela napas, menyadari bahwa perjalanan ini mungkin akan lebih panjang dari yang ia kira.

Pria itu membawa Felicia terlebih dahulu ke apartemennya, tentu saja untuk mandi dan bersiap sebelum mereka menghabiskan hari libur ini.

“Saya ikut mandi ya, Mas.” Felicia meraih tas besarnya kemudian masuk ke kamar mandi. sementara itu, James menelfon layanan pengantar makanan untuk memesan beberapa menu sarapan dan juga membuatkan Felicia secangkir coklat hangat.

Setelah mandi dan berganti pakaian, Felicia merasa jauh lebih segar, meski mendung di hatinya belum sepenuhnya sirna. Ia menjatuhkan diri di sofa, lalu mulai sibuk dengan ritual skincare dan polesan makeup tipis. Saat ia meraih sisir untuk merapikan rambutnya yang masih agak lembap, tiba-tiba sebuah tangan besar mengambil alih sisir itu dengan gerakan yang tak terduga.

James berdiri tegak di belakangnya. Tanpa suara, pria itu mulai menyisir rambut Felicia. Gerakannya begitu hati-hati, dan sangat pelan. Berusaha tidak menarik helaian rambut Felicia dengan terlalu kencang.

Felicia hanya bisa mematung. Sensasi dingin dari gerigi sisir yang bertemu dengan kehangatan punggung tangan James yang sesekali menyentuh pelipisnya membuat pertahanannya goyah. Jantungnya berkhianat; ia berdegup kencang hanya karena perlakuan sederhana ini.

Murahan banget sih kamu hati! Baru disisir saja sudah gemetaran, batin Felicia, merutuki dirinya sendiri yang begitu mudah luluh.

Selesai dengan tugasnya, James meletakkan sisir itu kembali ke meja. Ia tidak beranjak jauh, melainkan duduk tepat di samping Felicia. Matanya yang tajam namun penuh selidik menatap profil samping wajah wanitanya, mencoba memecahkan kode dari diamnya Felicia.

"Kamu beneran nggak mau cerita sama aku?" tanya James, suaranya berat dan rendah.

Felicia melirik sekilas lewat sudut matanya. "Nggak ada yang perlu diceritakan, Mas."

Baru saja Felicia hendak berdiri untuk mengakhiri pembicaraan, James bergerak kilat. Kedua lengannya mengurung tubuh Felicia, menumpu pada sandaran sofa di sisi kanan dan kiri gadis itu.

James mencondongkan wajahnya hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. Felicia bisa merasakan hembusan napas James yang hangat dan beraroma mint.

"Mas... katanya mau pergi," bisik Felicia, suaranya sedikit bergetar karena jarak mereka yang terlalu dekat.

"Tidak sebelum kamu jujur tentang apa yang sedang berputar di kepalamu sekarang," tuntut James. Matanya mengunci tatapan Felicia, menuntut kejujuran penuh.

"Aku bilang nggak apa-apa."

"Jangan berbohong, Felicia. Kita tidak akan beranjak satu inci pun dari sini sampai kamu bicara jujur," ancam James dengan nada tenang namun otoriter.

Merasa terdesak, Felicia justru membuang napas kasar dan menyandarkan punggungnya ke sofa, menantang balik tatapan James. "Ya sudah, kalau begitu nggak usah ke mana-mana sekalian."

James menyipitkan mata. "Apa serahasia itu sampai aku tidak boleh tahu?"

"Tanya saja sama asisten kesayangan kamu itu," decak Felicia ketus.

"Aku sedang melakukannya sekarang," sahut James cepat, merujuk pada posisi Felicia sebagai asistennya.

"Bukan aku! Asisten kamu yang lain!"

James mengernyit, benar-benar bingung. "Yang lain? Siapa yang kamu maksud?"

"Anissa. Siapa lagi?"

Mendengar nama itu keluar dari bibir Felicia dengan nada penuh racun, James seolah mendapat satu kepingan puzzle yang hilang. Cemburu? Tapi kenapa harus Anissa?

"Kenapa dia? Apa dia berkata sesuatu yang membuatmu kesal di kantor?"

Felicia tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar sakit. "Kalian ternyata sangat dekat, ya? Kenapa kamu nggak minta dia saja yang jadi istrimu? Kenapa harus repot-repot mengejar saya?"

Pertanyaan itu menghantam James cukup keras. Ia terkejut, bukan karena nama Anissa, tapi karena Felicia menganggap niatnya meminang adalah sesuatu yang bisa dipindah-tangankan dengan mudah.

"Maksud kamu bertanya seperti itu apa, Fel?" James menatapnya dengan pandangan terluka yang disamarkan oleh ketegasan.

"Dia sudah ada di hidup kamu jauh lebih lama, Mas. Dan tampaknya, dia bisa bikin dunia kamu jauh lebih ceria dengan segala tingkahnya. Kalau dia sesempurna itu di mata tim kamu, kenapa bukan dia saja?"

James terdiam sejenak, menatap lekat bibir Felicia yang gemetar saat mengucapkan kalimat itu. Kini ia sadar, tembok es yang dibangun Felicia sejak semalam adalah bentuk pertahanan diri karena rasa takut kehilangan yang amat sangat.

“Aku sudah mengatakan alasannya bukan, jika bukan kamu, maka aku tidak akan menikah.” suara James merendah, getaran ketulusannya memenuhi jarak yang hanya beberapa sentimeter di antara wajah mereka.

Felicia menelan ludah, mencoba mencari kebohongan di mata tajam pria itu. “Kenapa begitu?”

"Karena aku hanya mencintai kamu. Bukankah itu sudah cukup jelas?" James melepaskan satu tangannya dari sandaran sofa, lalu beralih merapikan anak rambut Felicia dengan gerakan yang sangat lembut.

"Apakah semua yang aku lakukan selama ini masih kurang meyakinkanmu tentang keseriusanku?"

“Tapi kalian terlihat sangat dekat,” gumam Felicia, suaranya mulai bergetar.

James menghela napas panjang, tatapannya tidak lepas dari mata Felicia. "Jika kedekatan yang kamu maksud adalah hal yang sama seperti yang kamu lakukan bersama tukang pola kemarin, maka jawabannya iya. Kami memang dekat, tapi sebatas rekan kerja. Tidak pernah lebih dari itu."

“Kamu kelihatan sangat bahagia saat bersama dia,” desis Felicia.

“Kamu menilai saya dari sisi mana Felicia? Bahagia seperti apa maksudnya?”

Ia akhirnya merogoh ponselnya, jemarinya bergerak cepat mencari video lama di akun kedua Anissa. Ia menyodorkan layar itu tepat di depan wajah James—sebuah video yang menampilkan tawa James yang lepas saat menanggapi candaan Anissa.

James terdiam sejenak melihat dirinya sendiri di layar ponsel itu. Bukannya panik, ia justru tersenyum tipis—sebuah senyum yang terlihat lelah sekaligus geli.

"Ada yang namanya tertawa karier, Felicia," ucap James tenang. "Harusnya kamu cukup paham sebagai asistenku. Terkadang, kita harus menghargai rekan kerja yang sedang melontarkan candaan, meski itu tidak lucu sekalipun. Itu bentuk profesionalitas, bukan perasaan."

Felicia terbungkam. Kata-kata James barusan menyerang logikanya sebagai orang kantoran. Ia hanya bisa diam, memalingkan wajah karena merasa harga dirinya sedikit jatuh.

"Kamu cemburu," tuduh James pelan, sudut bibirnya terangkat.

"Tidak!" sangkal Felicia cepat, namun rona merah di pipinya berkata lain.

"Kamu terlihat sangat lucu saat cemburu, sayang," goda James.

"Itu kalimat aku! Jangan tiru-tiru ya!" protes Felicia sambil mencoba mendorong dada James, namun pria itu tidak bergeming sedikit pun.

James justru terkekeh rendah, suara tawa yang jauh lebih tulus daripada yang ada di video tadi. Ia meraih kedua tangan Felicia dan menggenggamnya erat. "Aku senang. Bukan senang karena kamu tersiksa dengan pemikiran kamu sendiri, tapi aku senang karena ternyata perasaanku berbalas sehebat ini."

"Jangan terlalu percaya diri," sinis Felicia, meski kini ia sudah tidak lagi berusaha menjauh.

James tersenyum miring, lalu mengecup kening Felicia cukup lama—sebuah kecupan yang seolah menyerap seluruh rasa ragu yang tersisa di hati gadis itu. "Aku sayang kamu, Fel. Terima kasih sudah menunjukkan 'sisi' ini sama aku. Aku bahagia sekali hari ini."

Helooowww

Gimana ibadah puasanya temen-temen? Semoga lancar selalu yaa ✨

Salam sayang, Seribu bulan 🌛🌛

1
Seribu Bulan 🌙
siap kak makasih yaa😍
Andina Jahanara
lanjut sampe tamat kak 💪
Faidah Tondongseke
Ceritanya seru,Cinta bersemi di kantor,Asiik deh pokoknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!