Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Taman bermain.
"Ambillah sapu tangan ini, Nyonya."
Rania terkesiap mendengar suara baritone seseorang, gegas dia mendongakkan kepala dan terkejut saat melihat seorang lelaki berdiri tegak di sebelahnya.
"Ma-maaf," ucap Rania dengan tergagap, dia bergegas menghapus air matanya sambil kembali berdiri seraya menggendong Dafa.
Sangking buru-burunya, Rania sampai tidak sadar jika ada orang lain di dalam lift. Untung saja hanya ada satu orang di tempat itu, jika tidak maka dia pasti akan sangat malu karena menjadi pusat perhatian orang-orang.
"Tunggu, bukannya dia laki-laki yang tadi?" Rania melirik sekilas ke arah laki-laki yang sedang berdiri di sampingnya, kemudian memalingkan wajah saat laki-laki itu juga melihat ke arahnya. "Benar, dia laki-laki yang tadi." Dia menganggukkan kepala setelah merasa yakin.
Laki-laki yang ada di samping Rania tersenyum tipis, kemudian kembali menyimpan sapu tangan yang sempat dia tawarkan untuk wanita itu.
"Wanita yang menarik." Dia terus melihat ke arah Rania, sampai akhirnya pintu lift terbuka dan wanita itu berlalu pergi.
Rania segera kembali ke mobil bersama dengan Dafa. Untung saja kunci mobilnya berada di saku celana, jika tidak maka dia akan kesusahan untuk pergi dari sana karena tasnya tertinggal di apartemen Vita.
"Bajing*an!" Rania melihat kembali ke arah apartemen sebelum pergi dengan tangan terkepal erat, wajahnya merah padam dengan gigi saling bergesekan menahan rasa marah, benci, dendam, dan sakit yang sedang dirasakan.
Dengan cepat Rania melajukan mobilnya untuk pergi dari tempat itu. Namun, dia memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah.
"Dafa mau ke Skyboom, gak?" tanya Rania seraya melihat sekilas ke arah Dafa.
Dafa yang tengah asyik menonton menoleh ke arah sang mama. "Sekarang, Ma?" Dia menatap mamanya dengan mata berbinar senang.
Rania tersenyum lalu menganggukkan kepala, tentu saja hal itu membuat Dafa langsung bersorak senang karena akan pergi ke tempat wahana bermain kesukaannya.
"Nanti Dapa mau poto sama badut," ucap Dafa dengan semangat. "Mau poto sama Tloy juga, mau poto semuanya jugak." Dia benar-benar sudah tidak sabar.
Rania terkekeh melihat reaksi Dafa, keputusannya untuk membawa sang putra ke wahana bermain ternyata sangat tepat. Dia merasa bersalah karena telah membuat Dafa menangis ketakutan, karena itulah dia memutuskan untuk mengajak putranya bermain agar bocah menggemaskan itu melupakan apa yang tadi terjadi. Meskipun saat ini perasaannya sendiri sedang hancur lebur tak karuan.
"Benar, mereka tidak pantas untuk kupikirkan. Lebih baik aku bersenang-senang bersama anakku." Rania mencengkram erat setir mobilnya, bibirnya kembali bergetar, dadanya bergejolak, tapi sekuat tenaga dia menahan air mata yang kembali akan tumpah.
Beberapa saat kemudian, Rania dan Dafa sudah sampai di tempat tujuan. Terlihat Skyboom belum terlalu ramai karena memang jam masih menunjukkan pukul sebelas kurang.
"Ayo, Sayang!" ajak Rania sembari mengambil dompetnya yang ada di dalam glove box. Kebiasaannya yang suka meletakkan dompet berisi uang di dalam mobil ternyata sangat berguna di saat-saat seperti ini.
"Waaah... " Dafa berteriak heboh saat sudah masuk ke dalam Skyboom, matanya melihat ke sana kemari dengan tidak sabar karena ingin menaiki semua permainan. "Mama, mau itu!" Dia menunjuk ke arah balon bergambar Mickey Mouse.
Rania tersenyum seraya mengangguk. "Ayo, kita beli!" Dia menggandeng tangan Dafa dan mengajak putranya membeli balon itu, tidak lupa mereka juga membeli minuman dan makanan ringan di sana.
Setelah selesai, Rania menemani Dafa ke wahana permainan yang ingin dinaiki putranya itu. Mulai dari komedi putar, bianglala, karavel, mandi bola, dan lain sebagainya. Terlihat Dafa sangat bahagia membuat Rania juga ikut tersenyum senang.
Rania menyandarkan tubuhnya ke bangku yang berada tidak jauh dari Dafa, dia terus menatap putranya yang sedang bermain trampolin kecil. Sejenak Rania melupakan kepahitan yang sedang dirasakan, walau rasa nyeri yang bersarang di dadanya tetap berdenyut ketika bibirnya tertawa.
"Apa yang harus mama lakukan, Dafa," gumam Rania. Perasaannya kembali berkecambuk.
Rania sekilas memejamkan mata, helaan napasnya terasa sangat berat. Lalu tiba-tiba bayangan menjijikkan Rangga dan Vita kembali melintas, menari-nari dalam angan, seolah-olah menertawakan penderitaannya.
"Bajing*an brengs*ek!" umpat Rania, dadanya kembali sesak, air matanya mulai membasahi wajah.
Rania merasa hidupnya benar-benar hancur, pengkhiatan Rangga dan Vita benar-benar membunuhnya secara sengaja. Entah kesalahan apa yang telah dia lakukan sampai mereka sekejam itu padanya, sungguh rasanya dia ingin mati saja sekarang.
"Mama?"
Rania tersentak mendengar suara Dafa, dengan cepat dia mengusap air matanya dan mencoba untuk mengulas senyum seperti biasa.
"Ya, Sayang? udah capek main?" tanya Rania dengan suara parau dan di balas dengan gelengan kepala Dafa, entah kenapa putranya itu seperti tahu bagaimana perasaannya saat ini.
Rania menepuk bangku di sampingnya menyuruh Dafa untuk duduk, kemudian dia mengusap puncak kepala putranya dengan penuh kasih sayang.
Melihat wajah Dafa, ada perasaan bersalah yang hinggap dalam hati Rania. Perasaan bersalah yang harusnya tidak dia rasakan.
"Maafkan mama yah, Sayang," ucap Rania dengan pelan, hampir berbisik.
Dafa tersenyum, kemudian dia mengecup pipi sang mama membuat Rania berkaca-kaca. "Dapa sayang mama," ucapnya dengan riang.
Rania kembali memeluk Dafa. Perasaan yang semula berantakan, kini terasa tenang dan sejuk merasuki jiwa.
"Mama juga sayang sama Dafa, sayang sekali," ucap Rania, dia kembali menangis, tapi dengan cepat menghapus air matanya. Kemudian dia mengajak Dafa untuk makan siang sekalian keluar dari wahana permainan itu.
Setelah selesai makan, Rania memutuskan untuk pulang. Terlihat Dafa sudah tertidur pulas karena kelelahan bermain, membuatnya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Beberapa saat kemudian, sampailah Rania di halaman rumahnya. Tampak mobil Rangga sudah parkir di sana membuatnya langsung menghela napas berat.
"Aku tidak boleh lemah, aku harus kuat demi Dafa," gumam Rania, kedua matanya menajam penuh tekad.
Rania bergegas keluar dari mobil seraya menggendong Dafa, terlihat Rangga sedang duduk di ruang tamu dan langsung berdiri saat melihat kedatangannya.
"Sayang!" panggil Rangga sambil menghampiri Rania, wajahnya tampak cemas. "Kalian dari mana saja? Aku sangat khawatir," sambungnya panik. Dia benar-benar merasa sangat khawatir karena tidak melihat istri dan anaknya di rumah, apalagi mereka juga tidak bisa dihubungi.
Rania hanya diam dan terus melanjutkan langkahnya tanpa sedikit pun melihat ke arah Rangga, dia terus menaiki tangga sampai tiba di kamar Dafa dan membaringkan putranya di ranjang.
"Jawab aku, Rania. Sebenarnya kalian-"
"Bukan urusanmu! Kau urus saja jal*angmu itu!"
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda