sebuah kehancuran adalah sebuah derita bagiku, seperti kutukan akan kelakuan berat masa laluku. nyatanya itu hanyalah sebatas prasangka. _Ailavati Keysa Maharani.
wajah datar tampak acuh adalah penguat ku, aku terlalu takut untuk dikasihani sebagai alasan pertemanan ku. hidupku telah luluh lantah atas kehancuran.~Alga Mahensa Putra
Di sinilah kisahku dimulai.
Aku Aila Putri cantika yang memiliki trauma akan masalalu, yang di pertemukan dengannya Alga Mahensa Putra.
Pria yang memiliki parasa tampan dan berwajah datar.
Akankah Aku bisa bersamanya?
Apakah ego kita yang akan sama sama menyakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetya_nv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tanala merencanakan sesuatu
Mentari mulai senyum malu malu. Dan embun itu mulai terlihat di dedaunan yang hijau. Aku terbangun dengan silaunya cahaya mentari. Aku bersiap untuk kembali merajut asaku.
Dengan semangat baru aku mulai melangkah turun seperti biasanya. Menjadi rutinitas setiap hariku.
Hening, tiada sapa pagi ini, hanya sepucuk surat dari mama yang tergeletak di samping makanan yang masih hangat ini.
Aku membacanya, mama pergi. Dan ini adalah ke sekian kali mama meninggalkanku. Aku terbiasa dengan keadaan ini. Tapi aku merasa kosong.
Ting... Tong..
Bel rumah berbunyi, tak seperti biasanya. Selama apapun aku di dalam Alga akan menunggu jika itu dia. Dan Tanala yang datang langsung masuk dan terkadang seperti orang yang ingin melabrak. Aku faham betul kebiasaan itu. Entah ini siapa, aku bangkit memastikan siapa yang ada di sana.
Terlihat seorang laki laki dengan postur tubuh yang ku kenal. Dia mengapa sepagi ini datang ke rumah.
"Lang, lo ngapain? " Aku terheran menggaruk belakang kepala yang tak terasa gatal.
"Yok, gue antar. " Dia tidak menjawabku tetapi mengajakku untuk berangkat. Entah kenapa Nala selalu hilang saat aku membutuhkannya.
Aku memastikan pada Nala mengapa dia belum sampai di rumahku. Aku menelponnya.
Terjawab pangilan telepon ku. Aku mendengar suara Nala di sana.
"Hallo, apa La? " Tanala berdanya dari sebrang sana. Aku ingin menggerutu, tapi sekarang ada Gilang.
"Kemana Lo? Gue tunggu. " Aku dengan gemas bertanya kemana perginya. Mengapa seakan kebetulan Gilang yang datang ke sini.
"Gue gak bisa jemput. Udah gue matiin lagi buru buru" Dia mengakhiri teleponnya denga tiba tiba.
Dengan lemas aku mengiyakan ajakan Gilang. Aku diam tanpa bicara apapun di samping kursi kemudinya. Kali ini dia membawa mobil mewahnya untuk menjemputku. Dalam perjalanan sangat hening terasa. Seakan waktu berdetak lebih lama saat ini.
"Lang, lo mau lanjut di sini? " Aku mencoba mencari pembicaraan. Suasana ini membuatku tidak nyaman.
"Sepertinya aku ingin mengejar cintaku. " Gilang berkata sambil tersenyum aneh.
. "Apa cewek lo ada di sini? " Aku penasaran siapa cintanya Gilang. Secantik apa gadis itu. Gilang hanya tersenyum melihatku. Aku memilih untuk diam tanpa bertanya kembali.
Gerbang sekolahku terlihat malu malu di depan sana membuatku tersenyum. Aku lebah dengan ini semua yang akan berakhir. Saat mobil hitam itu melaju memasuki halaman sekolah aku bernafas lega.
"Lang, turunin gue di sana saja. " Aku menunjuk tempat yang ku minta.
Tiada pertanyaan lanjut, tapi dia menurunkan ku tepat di tempat yang ku minta. Aku segera berlari turun tanpa. Mengucap Terima kasih untuknya.
Dari kejauhan aku berteriak padanya.
"Gilang, terimakasih. " Ucapku dengan senyum tulus. Gilang mengangguk dan melambaikan tangan sambil tersenyum tulus. Aku melanjutkan kembali jalanku.
Gilang dari belakang sana tanpa aku sadari masih melihatku berjalan meninggalkannya sampai aku tidak terlihat.
"Seandainya kamu tahu, cewek itu kamu La. " Batin Gilang dengan tersenyum. Dia meninggalkan sekolah itu dengan perasaan bahagia. Setidaknya dia masih melihat senyum gadis itu.
Kembali denganku kini yang sedang menggerutu pada sahabatku terkasih.
"Kenapa lo selalu tinggalin gue sih. Apa tujuan lo? " Aku bertanya langsung padanya tanpa basa basi. Aku sudah curiga dengan gelagatnya yang sangat kentara. Tanala adalah gadis yang selalu tidak bisa bohong.
"Gue hanya mau lo dekat dengan dia. " Jawabnya dengan sewot. Sepertinya dia mau aku bersama Gilang.
"Itu gak masuk akal. " Aku menjawab dengan frustasi memikirkan apa rencananya selanjutnya. Aku jelas tidak tahu mengapa dia ingin sekali aku dekat dengan Gilang.
" Kita kan sudah dekat Na, bahkan kita sahabatan. " Perlahan aku menjelaskan padanya.
" Gue ingin lo lebih dari itu. Karena dia bisa bikin lo bahagia. "Dia semakin meletup letup tak terkontrol.
" Kenapa dengan Tanala." Batinku saat Tanala mulai membuatku mendekat ke Gilang.
"Gilang itu teman gue. Dan hanya itu, oke. Jadi stop kamu membuat aku dekat dengannya. " Aku melarangnya untuk kembali melancarkan aksi terselubungnya. Aku hanya pura pura tidak mengetahuinya. Tanala punya rencana buatku. Hanya saja perasaan ini tak bisa aku ganti kepada siapa aku memilih.
"Lo jangan tolol. Alga hanya akan nyakitin lo. " Teriak Tanala tepat depan wajahku. Aku yang emosi meninggalkannya tanpa menjawab apapun. Aku takut terseret, sama ikut meledak jika ini berlanjut. Aku pergi ke tempat sepi untuk memenangkan sesuatu dalam diri yang ingin meledak. Nafasku memburu dan jemariku mengepal erat. Aku menahannya.
" Jadi kamu tidak jauh beda dengan sahabatmu? " Suara itu aku sangat faham.
"Sejak kapan dia ada di sini" Pikirku.
Entah sejak kapan dia ada disini membuat aku berpikir. Mengapa dia berada di tempat ini saat bel mendekati bunyi. Kelas dia sangat jauh dari sini.
"Sejak kapan kamu di sini? " Aku menunduk dan mulai bersuara menjawabnya. Tanganku gemetar sesaat, saat mendengar suaranya dari sisi lain dirinya. Tiada jawaban, hanya saja punggung itu kini terlihat mulai menjauh. Aku kecewa, tiada kejelasan darinya.
"Mungkin Tanala benar, tapi hati ini hanya untuknya. " Monolog ku dalam keheningan. Aku terlalu kecewa dengan semua itu. Ini yang aku takutkan, dia akan melangkah pergi tanpa suatu kejelasan. Meskipun aku bisa melihat gelagatnya. Dia menyimpan amarah, entah itu apa tapi aku kecewa.
Seperti biasanya bel sekolah yang membawaku kembali ke tempatku. Aku duduk dengan tenang. Hanya saja kali ini aku masih malas untuk sekedar menyapa Tanala. Sama sepertiku, dia diam tanpa. Menyapaku. Pelajaran kali ini di isi keheningan. Tapi pikiranku kini terlalu berisik. Kepalaku terasa berat untuk itu. Aku muak dengan keadaan ini. Sementara aku tidak bisa untuk sekedar melawannya.
"Aku tahu lo ingin aku bahagia. Tapi cara lo salah. " Aku berkata sambil meninggalkan Tanala setelah pelajaran berakhir. Sepertinya dia mulai berpikir apa kesalahannya. Karena dia hanya duduk diam memandang kosong.
"Maaf caraku salah, gue ingin lo bahagia. " Dia bersuara lirih, namun suara itu cukup ku dengar jelas saat suasana kini hening. Aku berhenti di ambang pintu kelas. Aku berbalik dan memandangnya dengan tersenyum.
"Terimakasih, aku bahagia. " Aku tersenyum menghargai perjuangannya. Aku bahagia, dia sangat peduli.
"Setelah ini kamu jangan melakukan apapun. Aku pasti bahagia Na. " Aku berpesan padanya untuk tidak mengulangi hal ini kembali.
Aku terlalu kalut hingga Tanala mengambil tindakan yang tak seharusnya. Aku takut nantinya Gilang akan jadi tempat pelarianku. Gilang adalah cowok yang baik. Hanya saja hati ini bukan miliknya. Mungkin ada seseorang di luar sana yang bisa bahagiakan seorang Gilang Mahatma Gandi. Pesona cowok pendiam yang selalu menjadi penghibur.
Jika bisa memilih, aku tidak akan mau hati ini bertuan padanya. Aku seperti pelayan yang jatuh cinta pada putra mahkota yang di lindungi.