NovelToon NovelToon
Satu Di Hati

Satu Di Hati

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: mom fien

Satu di Hati.
Kamu seperti matahari,
Hangat di pagi hari,
Menyengat di siang hari,
Meredup saat senja hari.
Namun kamu tetap satu di hati.
# Red_Dexter (pinterest)

Kisah cinta ringan antara Erick dan Jeny. Bagi Erick, Jeny adalah mataharinya, ia tidak bisa hidup tanpanya.
Keraguan, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Jeny.
Senja, waktu favorit Jeny, dan Erick memastikan bahwa Jeny harus melihat kearahnya saat senja.

Kisah nyata seorang kenalan, dengan bumbu dramatisasi, untuk menemani kamu melepas penat menjelang tidur agar bermimpi indah tentang cinta.

Full of love,
Author ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom fien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertengkaran kedua

Ada apa dengan kak Kairi? sepertinya ia lebih perduli padaku saat ini, disaat aku bilang, aku sudah melupakannya dan memilih kak Erick.

"Jen sudah baca email yang aku kirim?"

"Belum."

"Belum sempat ya Jen? Kamu tertarik dengan bahasan apa, nanti aku bantu pilih jurnal mana yang cocok."

"Bukan belum sempat, aku memang ga baca. Kak terima kasih, tapi aku mau mengerjakannya tanpa bantuan orang lain", ucapku akhirnya mempertegas untuk menolaknya.

"Udah ya kak aku mau makan siang sama mereka.", tunjukku kearah teman-teman yang sudah menungguku.

"Ya udah bareng, aku mau makan sama kalian saja aku juga belum makan siang."

Aku memberi tatapan bingung, tapi yang ditatap sepertinya pura-pura tidak mengerti. Memang sih kak Kairi juga mengenal mereka, dan pernah sekelas atau kerja bareng mereka tapi ini pertama kalinya ia ikut makan siang seperti ini.

Kejadian yang kurang lebih sama terjadi lagi keesokan harinya dan seterusnya selama seminggu. Jika bukan makan siang bareng, maka ia akan menungguku di perpustakaan, lain waktu ia menemaniku di kantin saat menunggu Belva, ada saja alasannya jika aku mempertanyakan keberadaannya, dan berulang kali juga aku menyatakan ketidaksukaan akan sikapnya. Mungkin bagi Jeny yang dulu, sikapnya sekarang adalah sesuatu yang aku harapkan, tapi saat ini itu sangat mengangguku. Aku tidak mengerti harus memperjelas dibagian mananya, kalau aku sudah tidak mengharapkannya lagi dan sudah punya orang lain dihatiku.

Sabtu siang aku berjalan-jalan di mall, kak Erick memintaku membeli baju batik kembaran dengannya untuk acara resepsi nikah minggu depan. Setelah selesai melihat-lihat dan berbelanja, kami masuk ke kedai kopi di mall itu.

Awalnya aku tidak menyadarinya, kemudian sikap kak Erick yang tiba-tiba memelukku saat sedang antri membuatku jadi menyadari keberadaan kak Kairi sebagai salah satu staff yang melayani kami.

"Babe udah ah", ucapku berusaha melepaskan pelukannya.

Kak Erick menurutiku, dan hanya merangkul kali ini. Kemudian tepat 2 baris sebelum giliran kami, kak Erick mencium pipiku. Mataku membulat hendak protes padanya, tapi ia berpura-pura tidak melihat protesku.

"Mau pesan apa?", tanya kak Kairi.

"1 americano double shot, 1 matcha latte less ice, take away ya. Ada tambahan lainnya babe?".

Aku menggelengkan kepalaku.

"Sudah itu saja."

"Saya ulang ya kak, 1 americano double shot dan 1 matcha latte less ice. Ga mau nambah chocolate lava cake mungkin? Lagi promo kak."

Aku membulatkan mataku tidak percaya dengan apa yang aku dengar, semoga kak Erick tidak menyadari maksud perkataan kak Kairi.

"Ga cukup itu saja."

"Baik kak totalnya jadi rp 85.000."

Kak Erick memberikan kartu debitnya, saat ia menyelesaikan transaksi, aku sengaja menyingkir dari tempat itu dan mencari tempat duduk. Tidak lama kak Erick datang dan duduk disampingku sambil merangkulku. Kalau hany sekedar merangkul aku tidak masalah, di menit berikutnya tiba-tiba ia mengecup bibirku.

"Kak!", protesku dengan mendelikkan mataku, memberikan tanda bahwa aku tidak menyukai sikapnya.

Saat nama kak Erick dipanggil untuk mengambil pesanan, aku keluar dari tempat itu dan menunggunya di luar.

"Babe...", aku memanggilnya saat ia melangkah keluar, tampangnya saat itu sangat kusut.

"Maaf, aku sungguh ga tau kalau dia kerja part time disitu."

"Ya aku tau", balasnya pendek.

"Ayo kita pulang", ajakku sambil menggandeng tangannya.

Sesampainya di mobil, kak Erick langsung mengkonfrontasiku.

"Dia sengaja kan tadi nawarin kue coklat itu buat kamu?"

"Mungkin...", jawabku ragu, berpikir apa ada jawaban lain yang bisa menenangkan kak Erick.

"Kamu sebenarnya beneran udah tegas nolak dia atau ga sih Jen?"

"Udah, kenapa kakak ga percaya sama aku."

"Kenapa dia bersikap seperti itu?"

"Entahlah, aku selama ini jujur sama kakak."

"Ya kamu memang jujur, tapi ada kalanya kamu bodoh tidak mengerti sesuatu. Atau ada hal yang kamu belum ceritain ke aku?"

"Bodoh? Maksud kakak apa? Ok mungkin aku memang bodoh tapi aku sudah jelas berkata kalau aku pacaran sama kakak. Entah aku yang bodoh atau dia yang bodoh, memangnya itu penting? Yang pentingkan aku milih kakak, saat ini aku pacarannya sama kakak."

"Aku ga bermaksud bilang bodoh yang seperti itu Jen, tapi aku ga suka sama sikapnya, kadang kamu terlalu naif dan ga enakan orangnya, jadi siapa tau dia belum mengerti dengan jelas dimana posisinya saat ini", ucap kak Erick

"Itu sebabnya kakak cium aku tadi, padahal kakak udah tau aku ga akan suka dicium depan umum seperti itu, tapi tetap aja kakak sengaja buat aku kesal demi ego kakak."

Kemudian kami sama-sama terdiam.

"Kak ayo pulang, kita renungkan dulu daripada kita berantem begini."

"Hmm...", balasnya kemudian ia menjalankan mobilnya pulang ke rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!