Hanya satu persen dari populasi global, manusia yang memiliki warna mata heterochromia. Lunar salah satunya.
Memiliki warna mata hijau dan biru, Lunar menyembunyikannya ketika hidup di luar Silvanwood yang terisolasi dari teknologi.
Untuk menyambung hidup, Lunar tak menduga menjadi aktris di perusahaan entertainment milik Jackson Adiwangsa dan menjadi kesayangannya.
Hingga kejadian tak terduga membuat apa yang disembunyikan Lunar terkuak. Bagaimana kehidupan Lunar, apakah dia akan tetap tinggal atau kembali ke Silvanwood?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Introvert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua puluh dua
Kurungan Lunar terbuat dari aluminium pipa. Gadis itu duduk ketakutan memeluk dirinya sendiri berharap Jackson atau Naomi datang. Tak seperti manusia pada umumnya, Lunar memiliki lapang pandang 200 derajat.
Bahkan semua yang dituduhkan pada Lunar memang benar. Sebagai putri Kaelix, Lunar memiliki ilmu kebal secara alami.
Gadis itu meneguk ludah ketika seseorang datang. Karena dirinya masih di kawasan rumah Jackson, sudah pasti pria yang dilihatnya tentu Jackson.
"Tu-tuan," suara Lunar bergetar.
Pria itu memunggungi Lunar. Dari perawakannya persis Jackson Adiwangsa. Lunar mendengar pemantik dinyalakan lalu muncul kepulan asap. Secepat kilat, pria itu menghembuskan asap rokok tepat di depan wajah Lunar. Gadis itu terbatuk, matanya sampai berkaca-kaca.
"Kenapa, tuan mengurungku?" tangis Lunar pecah.
"Kau mau kabur, hum? Di luar sangat berbahaya. Terpaksa aku melakukan ini," dia menjawab enteng.
Lunar mengatakan dia harus kembali ke Silvanwood. Lunar berpikir, jika dirinya pergi semua orang akan berhenti memperebutkan dirinya.
Bagi Lunar terlalu ngeri. Dia pun tak menyangka, melihat pertumpahan darah di depan matanya sendiri.
Lunar tak nyaman, karena Jackson tetap memamerkan Lunar dengan mendatangi acara reality show. Kecantikan Lunar yang di luar nalar, apalagi dengan warna mata hijau dan biru semakin melambungkan namanya di kancah internasional. Jackson tak berubah, dia tak melewatkan kesempatan untuk menjadikan Lunar mesin uangnya.
Pria itu meminta maaf dan akan membawa Lunar pergi ke tempat aman. Lunar dikeluarkan dari kurungan lantas digendong. Gadis itu dikembalikan ke tempat semula.
Lunar merasa Jackson terlalu berlebihan. Lunar tahu, Jackson takut kehilangan dirinya. Gadis itu memilih menurut daripada melihat Jackson frustasi.
Jackson menelepon Tom. Lunar mendengar, mereka semakin mengerahkan banyak bodyguard untuk mengamankan rumah Jackson.
"Kau hanya milikku Lunar. Hanya milikku," ucap Jackson menggenggam tangan Lunar.
Gadis itu tersenyum canggung. Jackson sama seperti pria di luar sana yang tergila-gila pada Lunar.
"Tu-tuan, jangan terlalu mencintaiku terlalu dalam. Aku memang mencintaimu, tapi tak mengatakan setuju untuk menikah denganmu!" Lunar berkata serius, dia tak mau gegabah.
Jackson menyelenggarakan perayaan hari jadi perusahaan dengan mewah. Kolega bisnis, para bangsawan dan orang-orang VIP turut hadir. Sebagian orang tak menyukai sikap Jackson yang berlebihan karena membuat kue dengan tinggi dua meter.
Lunar ikut memeriahkan, bahkan gadis itu seperti bayangan Jackson. Lunar dibalut gaun berwarna teal menyesuaikan warna matanya. Cantik sekali. Semua mata di pesta tertuju pada Lunar.
Sosok Lunar di mata mereka semakin istimewa. Gaya berpakaian Lunar menjadi trending di kalangan gadis. Bahkan, banyak bintang di industri hiburan dengan style meniru Lunar. Tak tanggung menggunakan lensa agar semakin mirip. Jackson semakin besar kepala telah memiliki Lunar. Keuntungan yang didapat pria itu membuat perusahaan lain merasa iri.
"Tuan Jackson, izinkan aku pulang sebentar ke Silvanwood," Lunar memberanikan diri untuk izin.
Sebenarnya Lunar pesimis. Apa yang tidak bisa dilakukan Jackson, bahkan sayembara yang dibuat Erina pun digagalkan Jackson.
"Boleh. Tapi, aku ikut bersamamu!" Jawab Jackson.
Lunar menghela napas. Gadis itu akhirnya menggeleng tidak jadi pulang membuat Jackson tersinggung.
"Kenapa tidak jadi? Karena aku ikut?"
Lunar kembali menghela napas. Jackson terlihat menyebalkan baginya. Ketika mengadu pada Naomi, gadis itu hanya menjawab bahwa kakaknya takut kehilangan Lunar. Tapi Lunar merasa tersiksa. Jackson tak membiarkan Lunar ke luar sendirian walau hanya berjalan-jalan di taman.
Jackson dengan tega memecat maid karena membiarkan Lunar merapikan tempat tidurnya sendiri, padahal Lunar yang menginginkan.
Gadis itu resah karena merindukan Aling. Bagaimana dengan kabar wanita tua itu? Lunar takut Aling sendirian di Silvanwood.
Lunar pun berencana untuk kabur lagi. Dia akan pulang ke Silvanwood secara diam-diam. Saat larut malam, Lunar mengendap ke luar. Meski dia putri Kaelix, tapi Lunar tidak bisa menghilang atau menembus dinding.
Gadis itu semakin menyembunyikan wajahnya dengan kerudung. Lunar bersembunyi berulang kali karena Jackson tetap memerintahkan bodyguard untuk berjaga.
Lunar sempat menatap kamar Jackson. Mata gadis itu berkaca-kaca lalu mengucapkan selamat tinggal dengan pelan. Lunar berhasil ke luar. Gadis itu berlari menembus malam tanpa alas kaki.
......................
Lunar tak bisa menahan dirinya ketika melihat rumah pohon tempat tinggal masa kecilnya. Sejak dirinya meninggalkan Silvanwood, tak ada yang berubah sama sekali. Silvanwood masih tetap sama.
Lunar memanggil nama Aling ketika sampai di pintu. Rumah pohon Aling tak pernah dikunci, karena itu Lunar masuk ke dalam.
"Nyonya Aling!"
Lunar menjatuhkan dirinya sembari menangis.
Pandangan wanita itu kabur karena usia. Bahkan Aling tak bisa melihat dengan jelas di mana Lunar berada. Aling hanya mengikuti pendengarannya, meski samar-samar isakan Lunar begitu pilu menyayat hati Aling.
Aling meraba wajah basah Lunar. Gadis itu memeluk Aling. Beruntung, Aling masih mengingat Lunar. Aling sempat terkejut kenapa Lunar bisa kembali ke Silvanwood, padahal Aling meminta Lunar melanjutkan hidupnya tanpa mengingat Silvanwood.
Tak mudah bagi Lunar memendam semuanya seorang diri. Dengan terbata dia berusaha menceritakan pengalamannya selama jauh dari Silvanwood. Aling menyimak, tertegun dia mengetahui perlakukan Erina selama ini.
"Akulah yang patut disalahkan, Lunar. Tak kusangka kau begitu menderita, di sini saja Lunar!" Aling mengusap air mata Lunar.
Gadis itu masih sesenggukan. Lunar merasa jadi buronan karena para pria mencarinya. Ya, Lunar harus menetap di Silvanwood sementara waktu. Meski tak ada benda-benda elektronik, tapi Lunar mendapatkan kedamaian.
Sang fajar menyingsing menandakan malam sudah berlalu. Semalaman Lunar tidak memejamkan mata. Mata Lunar berkaca-kaca ketika membuka jendela kamar. Dia menghirup udara Silvanwood begitu serasi dengan pemandangan air terjun Kaelix.
Lunar jadi ingat, Jackson berencana membuat film dengan Lunar sebagai pemeran utamanya. Kata Jackson, Lunar seperti di negeri fantasi saja..
Jackson membawa Lunar ke ruangan koleksi pribadi. Lunar terkejut melihat lukisan seorang perempuan dan seekor kucing bermata hijau dan biru. Jackson mengatakan, lukisan itu dibuat sebagai Lunar dan Luna.
"Kau seperti Luna kesayanganku. Oh my God, apakah dia reinkarnasi menjadi dirimu?" Jackson tak bisa menahan diri untuk membawa Lunar ke pangkuannya.
Anehnya melihat sikap Jackson, Lunar malah risih lebih tepatnya ketakutan. Gadis itu tak tersinggung disamakan dengan kucing karena memang betul. Tak hanya itu, yang dilakukan Jackson pun terlalu berlebihan. Untuk mengisi acara, Lunar diminta cosplay menjadi manusia kucing.
Lunar mengirup udara Silvanwood sebanyak-banyaknya. Gadis itu berusaha melupakan hal yang terjadi lalu turun ke lantai bawah berniat mencari Aling. Lunar berdecak, padahal sudah dia katakan biar Lunar saja yang ke kebun.
Gadis itu pun bergegas menyusul, tapi ketika membuka pintu Lunar dibuat terkejut.
"Ow, tuan Jackson?!"