NovelToon NovelToon
NEGRI TANPA HARAPAN

NEGRI TANPA HARAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Sistem / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:198
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Pelarian Pertama

# BAB 6: PELARIAN PERTAMA

Gudang itu dingin. Dingin dan lembab sampai tulang Arjuna terasa ngilu. Mereka duduk melingkar di lantai beton yang retak, saling berpelukan untuk berbagi kehangatan. Bu Lastri sudah berhenti menangis tapi tubuhnya masih gemetar. Sari memeluk wanita tua itu erat, bisikkan sesuatu yang Arjuna tidak bisa dengar.

Pixel mondar-mandir, tangannya tidak bisa diam, kadang garuk kepala, kadang gigit kuku, kadang pukul udara kosong seperti orang frustrasi berat.

"Gila. Gila. Kita gila," gumamnya terus. "Aku gila ikut kalian. Harusnya aku tolak. Harusnya aku bilang tidak. Sekarang aku buronan. BURONAN! Ibu aku bakal gimana? Adik aku? Mereka bakal dicari juga? Mereka bakal..."

"Pixel, diam," potong Sari, suaranya lelah. "Kau tidak bantu dengan panik begitu."

"Oh maaf ya kalau aku panik! Maaf kalau tadi aku hampir ditembak MATI! Maaf kalau sekarang aku jadi target organisasi kriminal terbesar di negara ini!" Pixel berhenti, tatap mereka dengan mata merah. "Kalian sadar tidak? Kita lawan siapa? Ini bukan preman jalanan. Ini bukan gembong narkoba kelas teri. Ini AXION CORPORATION! Mereka punya uang triliunan! Mereka punya tentara pribadi! Mereka bisa beli siapa saja, bunuh siapa saja, dan tidak ada yang bisa apa-apain mereka!"

"Aku tahu!" Arjuna berdiri, suaranya meledak. "Kau pikir aku tidak tahu?! Desaku dibantai sama mereka! Ayahku dibunuh! Ratusan orang tidak bersalah mati! Dan kau pikir aku tidak sadar kita lawan siapa?!"

"Lalu kenapa kau ajak kami?! Kenapa kau seret kami ke kematian ini?!"

"KARENA AKU TIDAK BISA SENDIRIAN!" Arjuna raung, suaranya memantul di dinding gudang kosong. "Karena aku... aku cuma bocah desa bodoh yang tidak tahu apa-apa! Aku tidak punya uang! Tidak punya kekuatan! Tidak punya siapa-siapa! Yang aku punya cuma flashdisk sialan ini dan dendam yang membakar dada sampai aku tidak bisa tidur! Jadi maaf! Maaf kalau aku egois! Maaf kalau aku bawa kalian ke neraka ini!"

Suaranya pecah di akhir. Ia jatuh berlutut, tangan menutupi wajah. Ia tidak mau menangis. Tidak mau terlihat lemah. Tapi air matanya keluar juga, panas di pipi, mengalir lewat sela-sela jari.

Hening.

Cuma suara sirene di kejauhan yang kadang terdengar, makin dekat, lalu menjauh lagi.

Sari melepaskan pelukan Bu Lastri, berdiri, jalan ke Arjuna. Ia jongkok, tangannya menyentuh bahu pemuda itu pelan.

"Ini bukan salah kau," bisiknya. "Jangan... jangan salahkan diri kau sendiri. Kami ikut kau karena kami mau. Aku yang ajak Pixel. Aku yang bilang ke dia kalau ini penting. Jadi kalau ada yang salah, itu aku."

"Kita semua salah," Pixel duduk, bersandar di dinding dengan kepala menunduk. "Atau kita semua benar. Entahlah. Aku tidak tahu lagi."

Bu Lastri batuk pelan. "Anak-anak," suaranya lemah tapi tetap terdengar. "Anak-anak, dengarkan Bu."

Mereka menoleh. Wanita tua itu tersenyum tipis meski matanya masih basah.

"Bu sudah hidup tujuh puluh dua tahun di dunia ini. Bu sudah lihat banyak hal. Lihat orang baik mati karena kebaikannya. Lihat orang jahat hidup nyaman karena kejahatannya. Dan Bu pernah berpikir... berpikir untuk apa berbuat baik kalau pada akhirnya yang menang tetap orang jahat?"

Ia batuk lagi, Sari cepat ambil botol air dari tasnya, bantu Bu Lastri minum.

"Tapi kemudian Bu ketemu kalian," lanjutnya setelah minum. "Ketemu Sari yang masih ngajari anak-anak padahal tidak dapat bayaran. Ketemu Arjuna yang mau bantu orang yang bahkan baru dikenal. Dan Bu sadar... sadar kalau kebaikan itu bukan soal menang atau kalah. Kebaikan itu soal pilihan. Pilihan untuk tetap jadi manusia di dunia yang pengen jadikan kita binatang."

"Tapi Bu kehilangan rumah karena kami," kata Sari, suaranya bergetar. "Rumah yang sudah Bu tinggali puluhan tahun. Semua kenangan Bu di sana. Semua..."

"Cuma rumah, Nak." Bu Lastri elus pipi Sari. "Rumah bisa dibangun lagi. Tapi nyawa? Nyawa tidak bisa dikembalikan. Kalau kalian tidak lari tadi, kalian yang bakal mati. Dan Bu... Bu tidak sanggup kehilangan kalian."

Sari memeluk wanita tua itu lagi, menangis di bahunya. Arjuna merasa dadanya sesak. Sesak karena rasa bersalah, karena rasa sayang, karena... karena ia tidak paham bagaimana orang-orang ini bisa sebaik ini padanya.

Pixel menarik napas panjang. "Oke. Oke. Kita sudah sampai di sini. Tidak ada gunanya nyesel sekarang. Yang penting... yang penting kita bertahan hidup. Kita pikirin langkah selanjutnya."

"Langkah selanjutnya?" Arjuna usap matanya. "Apa yang bisa kita lakukan? Mereka tahu wajah kita. Mereka punya orang dimana-mana. Kita bahkan tidak bisa keluar dari persembunyian ini tanpa ketahuan."

"Kita harus tahu siapa yang kita lawan," kata Pixel. Ia keluarkan flashdisk dari saku, putar-putar di jarinya. "Kau bilang nama kodenya Kaisar Kelam. Tapi siapa dia sebenarnya? Siapa orang di balik Axion Corporation?"

"Ayahku bilang namanya Adrian Mahendra."

Pixel membeku. Flashdisk nyaris jatuh dari tangannya. "Adrian... Mahendra?"

"Ya. Kenapa? Kau kenal?"

"Kenal?" Pixel tertawa, tapi tawanya terdengar histeris. "Semua orang kenal dia! Dia salah satu miliarder paling terkenal di negara ini! Dermawan besar! Sering muncul di TV! Pernah dapat penghargaan dari presiden karena program bantuan pendidikannya! Dan kau bilang... kau bilang DIA yang di balik semua ini?"

"Itulah yang ayahku bilang. Itulah yang tertulis di dokumen itu."

Pixel langsung buka laptop Sari yang ada di tas. Tangannya gemetar saat mengetik. "Aku cari info dia. Aku harus lihat sendiri."

Mereka mengerumuni laptop. Layar menampilkan halaman pencarian. Pixel ketik "Adrian Mahendra" dan enter.

Hasil pencarian muncul. Ratusan artikel. Foto-foto pria tampan berusia empat puluhan dengan senyum sempurna. Foto dia lagi kasih cek jumbo ke panti asuhan. Foto dia lagi resmikan sekolah gratis. Foto dia jabat tangan dengan presiden.

"Ini tidak masuk akal," gumam Pixel sambil scroll. "Orang ini... orang ini terlihat seperti santo. Bagaimana mungkin dia..."

"Itu yang dia mau kalian pikir," potong Arjuna. "Itu topeng. Semua itu topeng."

Pixel klik salah satu artikel. Artikel panjang tentang biografi Adrian Mahendra. Lahir dari keluarga miskin. Ayahnya meninggal saat dia kecil. Ibunya kerja sebagai buruh cuci. Dia sekolah sambil kerja, dapat beasiswa ke luar negeri, pulang dan dirikan Axion Corporation dari nol. Dalam sepuluh tahun, perusahaannya jadi salah satu yang terbesar di Asia.

"Kisah inspiratif," Sari membaca dengan suara datar. "Dari tidak punya apa-apa jadi miliarder. Orang-orang menyukainya karena dia bukti kalau mimpi itu nyata. Kalau siapa saja bisa sukses kalau bekerja keras."

"Tapi tidak ada yang tahu bagaimana dia benar-benar dapat uang awalnya," tambah Pixel, matanya menyipit membaca artikel lain. "Di semua artikel, bagian itu selalu samar. Cuma bilang dia 'investasi cerdas' dan 'kerja keras'. Tidak ada detail. Tidak ada angka jelas. Seperti... seperti seseorang menghapus jejak."

Arjuna ingat surat ayahnya. Ingat tulisan yang bilang ayahnya dulunya partner Adrian. Partner bisnis kotor.

"Ayahku," katanya pelan. "Ayahku yang bantu dia. Ayahku yang kasih modal awal. Dari uang haram. Dari... dari perdagangan manusia dan senjata."

Hening lagi.

"Jadi Adrian Mahendra," kata Pixel perlahan, seperti mencoba memahami, "membangun kerajaannya dari darah orang-orang tidak bersalah. Lalu setelah kaya, dia bikin topeng dermawan supaya tidak ada yang curiga. Dia beli pejabat, polisi, hakim supaya dia tidak tersentuh hukum. Dan siapa saja yang tahu rahasianya..."

"Dibunuh." Arjuna menyelesaikan kalimat itu. "Seperti ayahku. Seperti ratusan orang di desaku."

Pixel menutup laptop pelan. Wajahnya pucat. "Kita benar-benar lawan monster."

Sari masih menatap layar laptop yang gelap. Ada sesuatu di wajahnya yang aneh. Seperti... seperti dia melihat hantu.

"Sari?" Arjuna menyentuh bahunya. "Kau kenapa? Kau kenal dia?"

"Tidak," jawabnya cepat. Terlalu cepat. "Aku tidak kenal dia. Aku cuma... cuma tidak percaya orang yang kelihatan sebaik itu ternyata monster."

Tapi tangannya gemetar. Dan matanya... matanya tidak fokus. Seperti dia ingat sesuatu yang menyakitkan.

"Sari," Arjuna menatapnya lebih dalam. "Ada yang kau sembunyikan?"

"Tidak ada," Sari berdiri cepat, berjalan menjauh. "Aku cuma... aku butuh udara. Gudang ini pengap."

Ia pergi ke sudut gudang yang ada jendela pecah, berdiri di sana membelakangi mereka. Bahunya naik turun, seperti ia berusaha mengatur napas.

Pixel menatap Arjuna, bisik. "Dia aneh. Ada sesuatu yang dia tidak bilang."

"Aku tahu," bisik balik Arjuna. "Tapi aku tidak mau paksa dia. Kalau dia siap cerita, dia akan cerita."

Tapi di dalam hatinya, Arjuna merasa ada yang tidak beres. Ada sesuatu tentang cara Sari bereaksi saat dengar nama Adrian Mahendra. Sesuatu yang lebih dari sekedar tidak percaya.

Sari berdiri di jendela, tangannya mencengkeram bingkai kayu lapuk. Matanya menatap kosong ke luar, ke gang gelap yang tidak ada apa-apa.

Tapi di kepalanya, ada kenangan yang muncul. Kenangan yang sudah lama ia kubur.

Kenangan tentang seorang pria yang datang ke panti asuhan dua puluh tahun lalu. Pria tampan berjas mahal yang bilang mau adopsi anak. Yang memilihnya dari antara puluhan anak lain. Yang tersenyum lebar dan bilang, "Kau akan jadi putriku. Kau akan hidup bahagia."

Tapi keesokan harinya, pria itu datang lagi. Tanpa senyum. Dengan wajah dingin. Dan bilang ke pengurus panti, "Aku berubah pikiran. Aku tidak jadi adopsi dia. Kembalikan dia."

Sari ingat bagaimana ia menangis. Bagaimana ia peluk kaki pria itu dan minta maaf untuk apapun kesalahan yang ia buat. Tapi pria itu cuma menatapnya dengan mata kosong. Mata yang tidak ada kehangatan. Dan bilang, "Kau bukan anak yang aku inginkan."

Lalu ia pergi. Meninggalkan Sari yang menangis di lantai. Meninggalkan luka yang tidak pernah sembuh.

Dan sekarang ia lihat wajah pria itu di layar laptop. Wajah yang lebih tua, tapi sama. Pasti sama.

Adrian Mahendra.

Pria yang nyaris jadi ayahnya, tapi memilih membuangnya seperti sampah.

"Tidak," bisiknya pelan, suaranya tertelan angin malam. "Tidak. Itu tidak mungkin dia. Itu tidak..."

Tapi di hatinya, ia tahu. Ia tahu itu dia. Wajah yang selama dua puluh tahun menghantuinya. Wajah yang bikin ia merasa tidak berharga. Tidak cukup baik untuk dicintai.

Dan sekarang wajah itu juga wajah pembunuh ayah Arjuna.

Air matanya jatuh. Jatuh diam-diam di kegelapan gudang. Tidak ada yang lihat. Tidak ada yang tahu.

Kalau ayah kandungnya ternyata adalah monster yang mereka buru.

Monster yang harus mereka bunuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!